Lordosis Bisa Sebabkan Nyeri Punggung Bawah/ Pinggang

Lordosis adalah kondisi tulang belakang punggung bawah (lumbar/pinggang) melengkung ke dalam secara berlebihan atau bengkok ke depan. Posisi lengkungan alami pada tulang belakang ini memposisikan kepala dan bekerja juga sebagai peredam kejut guna mendistribusikan tekanan mekanis saat tubuh melakukan pergerakan. Kondisi ini tidak memandang usia atau dapat terjadi di semua kelompok umur. Biasanya lordosis mengenai punggung bawah, tetapi dapat terjadi di leher (servikal). Ketika ditemukan di tulang belakang lumbar, sehingga tampak bokong lebih menonjol. Namun kondisi ini kadang menimbulkan nyeri dan memengaruhi gerakan. Hiperlordosis adalah bentuk lengkung yang terlalu jauh dan berlebihan ke dalam pada tulang belakang bagian bawah. Kondisi ini menyebabkan bokong menjadi lebih menonjol dan perut mencuat. Ketika berbaring telentang, seseorang dengan hiperlordosis mungkin memiliki kurva berbentuk C yang terlihat atau celah besar di punggung bawahnya. Lordosis Apa Sebabnya? Beberapa proses terjadinya penyakit dapat berpengaruh terhadap integritas struktur tulang belakang sehingga menimbulkan lordosis. Beberapa hal yang diduga sebagai faktor penyebabnya, antara lain: Postur tubuh yang salah. Ini penyebab tersering hiperlordosis. Ketika dalam posisi duduk, otot-otot di bagian lumbar akan menegang karena otot ini bekerja menstabilkan dan menopang tulang belakang. Secara bertahap hal ini dapat menyebabkan ketidaksejajaran sehingga kelengkungan tulang belakang dapat bertambah. Obesitas akibat adanya lemak dalam tubuh yang berlebihan sehingga menimbulkan beban berlebihan pada punggung bawah sehingga bagian lumbar akan membengkok. Kurang berolahraga. Karena meningkatnya risiko obesitas, kurang olahraga dapat melemahkan otot-otot inti yang berada di sekitar tungkai dan panggul. Otot-otot yang lemah kurang mampu menyangga tulang belakang sehingga nantinya berisiko membuat tulang belakang melengkung berlebihan. Kondisi tulang belakang. Pada beberapa kasus, kondisi hiperlordosis bisa diakibatkan oleh beberapa masalah yang ada pada tulang belakang, seperti kifosis, spondilolistesis, dan discitis (peradangan pada diskus). Pada anak dan dewasa atau saat hamil, lordosis ini disebabkan oleh buruknya postur tubuh, tindakan operasi tulang belakang, cedera panggul, kongenital, genetik, dan gangguan tulang belakang lainnya. Apa Saja Gejala Lordosis? Lordosis dapat menimbulkan tanda-tanda berikut: Bagian bokong lebih menonjol Saat berbaring, terdapat gap atau lengkungan antara punggung bawah dengan permukaan rata Rasa tidak nyaman atau nyeri punggung/pinggang Sulit menggerakkan tubuh ke arah tertentu Lordosis sering muncul dengan tanda ringan yaitu nyeri pada otot. Akibat ekstremnya kelengkungan tulang belakang (leher atau punggung bawah) otot-otot sekitar akan menyesuaikan dan pada akhirnya menegang berlebihan sehingga gerakan bagian leher, bahu, dan punggung menjadi terbatas. Gejala Lordosis Perlu Perhatian Ada juga sejumlah gejala lordosis yang lebih serius, yang berpotensi melibatkan saraf terjepit atau bantalan tulang yang mulai bermasalah dan membutuhkan penanganan segera, seperti: gejala neurologis: mati rasa atau kesemutan atau nyeri seperti ditusuk-tusuk pada tungkai bawah (paha hingga kaki) inkontinensia atau tidak dapat mengontrol gerakan kandung kemih dan usus besar kelemahan otot dan tidak bisa mengatur koordinasi otot Peningkatan lengkungan punggung bawah atau pinggang dapat memberikan tekanan tertentu akibat postur yang buruk sehingga nyeri bisa timbul. Baca juga : Hiperlordosis Namun beberapa penelitian telah menyimpulkan bahwa nyeri punggung bawah atau nyeri pinggang tidak secara langsung dikaitkan dengan kondisi hiperlordosis lumbar. Jenis Lordosis Postural Lordosis Biasanya, berasal dari kelebihan berat badan dan lemahnya otot perut dan otot punggung. Ketika seseorang memiliki beban berlebih di bagian depan (area perut), akan menarik tulang belakang ke depan. Ketika otot perut dan punggung lemah, mereka tidak dapat menopang tulang belakang dan tarikan dari berat menyebabkan tulang belakang melengkung ke depan. Lordosis Kongenital / Trauma Lordosis bawaan (kongenital) disebabkan oleh kelainan genetik yang dapat diwariskan dari salah satu orangtua (ayah atau ibu) atau karena terjadi mutasi gen yang terjadi selama perkembangan janin. Lordosis trauma diakibatkan oleh penghubung tulang belakang yang mengalami cedera dapat mengalami fraktur sehingga tulang belakang terasa sakit. Pasca-operasi Laminektomi Laminektomi adalah prosedur pembedahan di mana bagian vertebra (tulang belakang) diangkat untuk memberikan akses ke sumsum tulang belakang atau akar saraf. Ketika hal ini dilakukan pada beberapa tingkat di tulang belakang, itu dapat menyebabkan tulang belakang menjadi tidak stabil dan meningkatkan kurva normal ke posisi Hiperlordosis (terlalu melengkung). Lordosis neuromuskuler Jenis ini mencakup berbagai macam kondisi / kelainan yang dapat menyebabkan berbagai jenis masalah kelengkungan tulang belakang. Untuk setiap gangguan yang berbeda ada opsi perawatan yang berbeda. Lordosis Sekunder Lordosis jenis ini dapat terjadi karena otot yang tidak seimbang karena gangguan yang berbeda-beda. Bahkan cedera dan infeksi dapat menyebabkan kontraktur tersebut. Pemeriksaan Apa yang Diperlukan? Guna membantu mendiagnosis lordosis, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang yaitu rontgen dan CT scan atau MRI. Lordosis derajat ringan mungkin tidak memerlukan pengobatan atau penanganan, karena bila dialami pada masa kanak-kanak masih dapat tumbuh. Beberapa pengobatan berikut dapat membantu mengoreksi kondisi lordosis: Obat-obatan Latihan terapi fisik rutin Menurunkan berat badan bila Anda obesitas Penggunaan korset Suplementasi dengan vitamin D Tindakan bedah Lordosis lumbar ini kelanjutannya bergantung pada derajat ringan atau berat tanda yang dialami penderitanya dan penyebab utamanya. Lordosis lumbar mungkin juga bisa dicegah misalnya dengan mencegah kegemukan, perbaikan postur tubuh. Namun bila disebabkan oleh keturunan, lordosis kemungkinan tidak dapat dicegah. Bagaimana Jika Tidak Segera Ditangani? Jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan beberapa risiko pada penderitanya yaitu ketidaknyamanan pada tulang belakang dalam jangka panjang. Pada dasarnya tak sampai mengakibatkan gangguan kesehatan yang mengancam jiwa penderitanya. Untuk itu, segeralah lakukan konsultasi dengan dokter jika memiliki keluhan agar dapat diberikan penanganan yang sesuai.
Kriteria ICD 10 HNP atau Masyarakat Kenal Syaraf Terjepit

Seperti halnya nyeri punggung, Herniated Nucleus Pulposus atau HNP paling sering terjadi pada daerah punggung bawah atau disebut HNP Hernia Nukleus Pulposus lumbalis (90 persen). Mengenai diskus intervertebralis L5-S1 dan L4-L5. HNP di daerah punggung atas sampai leher jarang terjadi hanya sekitar 8 persen dari seluruh kasus HNP. Berdasarkan kriteria ICD 10 HNP adalah gangguan kesehatan akibat merembes (menonjol) atau melelehnya (hernia) bantalan permukaan ruas tulang belakang (nuckleus pulposus). ICD merupakan singkatan dari International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems. Klasifikasi internasional ICD X atau 10 merupakan versi yang sudah ada sejak tahun 1983 dan terus mengalami perbaikan hingga muncul versi 2016 yang terbaru. ICD 10 HNP seperti keterangan di atas merupakan versi tahun 2016. Dan akan pembaharuan kembali oleh Badan Kesehatan Dunia WHO untuk klasifikasi kesehatan dan penyakit ICD-11 di tahun 2022 nanti. Berdasarkan kriteria ICD 10 HNP Hernia Nukleus Pulposus, nyeri ini dapat timbul setiap saat tidak terbatas apakah sedang beraktivitas atau istirahat. Berbeda dengan nyeri akibat gangguan di saluran kemih. Jika hambatan ada di ginjal, nyeri terasa lebih di atas pinggang, kemeng dan penderita merasa sebatas tidak nyaman saja. Kalau hambatan berada di dalam saluran bagian bawahnya dapat menimbulkan nyeri kolik, kumat-kumatan, saat parah hingga menimbulkan muntah dan susah melokalisir asal nyeri. Penyebab HNP Berdasarkan ICD 10 Penyebab HNP berdasarkan ICD-10 ini, berbagai macam. Faktor risiko utamanya adalah merokok, batuk lama, cara duduk yang salah, menyetir terlalu sering, dan cara mengangkat barang yang salah. Seiring bertambahnya usia, kemampuan bantalan sendi untuk menjalankan fungsinya juga menurun. Faktor-faktor di atas dapat menyebabkan terjadinya herniasi, yaitu keluarnya bagian tubuh melalui celah dalam tubuh. HNP dapat seperti terjadinya “turun berok”, tetapi pada daerah tulang belakang. Nukleus pulposus yang merupakan inti dari bantalan sendi keluar melalui dinding bantalan sendi yang lemah. Selanjutnya inti bantalan sendi masuk ke dalam rongga ruas tulang belakang. Kondisi inilah yang disebut hernia nukleus pulpolus HNP sesuai klasifikasi ICD-10. Gejala Klinis HNP Berdasar ICD 10 Gejala klinis HNP berbeda-beda tergantung lokasinya. HNP di daerah leher lazim menimbulkan gejala berupa nyeri saat leher gerak, nyeri leher di dekat telinga atau di sekitar tulang belikat, dan nyeri yang menjalar ke arah bahu, lengan atas, lengan bawah dan jari-jari. Selain nyeri, juga terdapat rasa kesemutan dan tebal di daerah yang kurang lebih sama dengan rasa nyeri tersebut. Di daerah punggung bawah, gejala klinis HNP menyerupai HNP leher. Rasa nyeri terasa di daerah pinggang, pantat dan menjalar ke arah betis dan kaki. Seringkali juga terasa sensasi kesemutan dan tebal pada salah satu atau kedua tungkai bawah. Gejala-gejala HNP tersebut lazim timbul perlahan-lahan dan semakin terasa hebat jika duduk atau berdiri dalam waktu lama, pada waktu malam hari, setelah berjalan beberapa saat, saat batuk atau bersin, serta ketika punggung membungkuk ke arah depan. Gejala klinis pada setiap pasien berbeda-beda tergantung pada lokasi dan derajatnya. Gejala-gejala tersebut juga memiliki ketidakmampuan menahan kencing (mengompol) dan buang air besar. Sindrom ini merupakan suatu keadaan yang serius dan gawat, serta membutuhkan tindakan pembedahan secepatnya. Diagnosis HNP Selain berdasarkan gejala, cara terbaik mengetahui HNP adalah melakukan pemeriksaan MRI dan EMG (pemeriksaan fungsi hantaran saraf yang terjepit). MRI tulang belakang sangat penting, mengingat HNP tidak terlihat pada foto rontgen biasa. Pada pasien HNP, foto rontgen untuk menentukan ada tidaknya HNP, tetapi untuk mengesampingkan kelainan-kelainan lain (selain HNP) yang dapat menyebabkan nyeri punggung. Baca juga : Pentingnya Pemeriksaan MRI Tulang Belakang Terapi HNP Sebagian besar HNP dapat sembuh tanpa operasi, terutama jika terdiagnosis secara dini. Kasus yang telah lama dan berat biasanya memerlukan tindakan operasi. Pengobatan non-bedah meliputi istirahat berbaring jika nyeri benar-benar berat. Istirahat sebaiknya tidak lebih dari 2 hari karena jika lebih lama akan memperlemah otot-otot punggung. Selain istirahat, nyeri dapat berkurang dengan obat-obat anti nyeri. Fisioterapi bermanfaat, khususnya pada keadaan nyeri akut (mulai timbul atau bertambah berat secara mendadak). Fisioterapi dapat berupa diatermi untuk membuat otot punggung rileks dan TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) untuk mengurangi nyeri. Para ahli sepakat bahwa waktu untuk menilai apakah pengobatan non-bedah berhasil atau tidak adalah 3-6 minggu. Jika fisioterapi atau obat nyeri tidak berhasil, maka pembedahan perlu untuk menyembuhkan HNP berdasarkan kriteria ICD 10. Dewasa ini, para ahli di bidang bedah sedang berlomba-lomba untuk menciptakan suatu teknik operasi yang menghasilkan suatu sayatan atau minimal, atau bahkan tanpa sayatan. Teknik berupa minimally invasive surgery seperti teknologi laser PLDD dan Endoskopi PELD/PSLD/PECD. Teknik ini memungkinkan masa perawatan yang jauh lebih cepat daripada operasi terbuka. Dan bagi pasien yang mengutamakan segi estetik sangat tepat, karena teknik ini hanya dengan sayatan dan bekas luka kecil. Bagi Anda yang sangat terganggu dengan nyeri pinggang oleh HNP, Anda dapat memikirkan untuk menjalani operasi ini di Lamina Pain and Spine Center. Tetapi tentunya anda harus menemui dokter spesialis bedah saraf terjepit terlebih dahulu untuk mendiskusikan tentang teknik yang akan Anda gunakan serta mengetahui keuntungan dan risiko dari operasi itu. Kode ICD 10 HNP Untuk Para Koder Rekam Medis Berikut ini beberapa kode ICD 10 HNP untuk para koder, terkait rekam medis yang harus diisikan sebagai klaim Jaminan Kesehatan Nasional BPJS, antara lain adalah; Cervical disc disorders M50 Cervical disc disorder dengan mielopati M50.0 Masalah bantalan sendi servikal dengan radikulopati M50.1 Other cervical disc displacement M50.2 Cervical disc degeneration lainnya M50.3 Other cervical disc disorders M50.8 Cervical disc disorder, unspecified M50.9 Thoracic, thoracolumbar, and lumbosacral intervertebral disc disorders M51 Gangguan diskus torakus, torakolumbal, dan lumbosakral dengan myelopathy M51.0 Thoracic, thoracolumbar and lumbosacral intervertebral disc disorders with radiculopathy M51.1 Other thoracic, thoracolumbar and lumbosacral intervertebral disc displacement M51.2 Degenerasi bantalan sendi thoracic, thoracolumbar and lumbosacral tulang belakang M51.3 Schmorl’s nodes M51.4 Other thoracic, thoracolumbar and lumbosacral intervertebral disc disorders M51.8 Unspecified thoracic, thoracolumbar and lumbosacral intervertebral disc disorder M51.9
Ini Adalah Penyebab HNP atau Saraf Terjepit

Penyebab Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau syaraf kejepit perlu Anda ketahui, ini adalah untuk memahami masalah yang Anda alami di ruas tulang belakang. Karena diagnosis segera HNP mentukan terapi dan masa depan Anda. HNP Bulging disc adalah penonjolan bantalan sendi di diskus intervertebralis baik pada punggung bawah (lumbal), toraks (dada) atau pun pada leher (cervical). Apabila tonjolan tersebut terlihat signifikan hingga bagian nukleus pulposusnya keluar dari annulus fibrosus. Adalah disebut herniated nucleus pulposus (herniasi nukleus pulposus/HNP) atau penyakit saraf terjepit. Bantalan sendi tulang belakang terdiri dari 2 bagian utama yaitu; annulus fibrosus yang merupakan bagian luar yang keras dan nukleus pulposus bagian dalam bantalan sendi (seperti jelly) dengan komposisi utamanya adalah air, kolagen, dan proteoglikan. Biasanya HNP atau saraf terjepit atau syaraf kejepit karena melemahnya jaringan bantalan tulang di tulang belakang, atau adanya tekanan mendadak atau tiba-tiba. Jika bantalan yang mengalami kerusakan atau bergeser namun tidak sampai menjepit saraf di area tulang belakang, keluhannya berupa nyeri/sakit punggung ringan atau bahkan bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali. Namun bila sampat menekan atau menjepit saraf tulang belakang (kompresi saraf), gejala yang muncul bergantung pada lokasi dan banyaknya saraf yang terjepit. Saraf terjepit biasanya menimbulkan gejala nyeri, kesemutan, baal, mati rasa, hingga kelumpuhan. Penyebabnya HNP Adalah? Penyebab cedera pada tulang belakang yang selanjutnya dapat menyebabkan HNP dapat karena beberapa hal, antara lain adalah : Akumulasi cedera kecil yang terus berulang dalam jangka panjang dapat menyebabkan cedera pada diskus/bantalan sendi tulang belakang. Contohnya postur tubuh yang selalu kurang baik saat bekerja atau beraktivitas harian, seperti duduk membungkuk. Tekanan beban mendadak pada tulang belakang, misalnya kecelakaan, terjatuh, benturan di tulang belakang, mengangkat beban berat, dapat berisiko merobek anulus fibrosus dan cedera pada diskus. Faktor genetik, seperti kebanyakan kondisi cedera, tulang belakang memiliki kecenderungan genetik misalnya rendahnya kepadatan serat fibrokartilago. Proses penuaan atau bertambahnya usia, dapat mengurangi daya lentur bantalan tulang belakang sehingga bantalan tulang akan rentan terhadap cedera. Faktor-faktor lain yang mungkin berperan adalah lingkungan, seperti kelebihan lemak perut, stabilitas inti yang buruk, atau rendahnya kekuatan anggota tubuh bagian bawah. Pasien dengan menonjolnya bantalan sendi biasanya memiliki keluhan seperti nyeri punggung yang memburuk ketika duduk, membungkuk, batuk, atau mengangkat barang yang berat. Penyebab Lain Saraf Kejepit Penyebab lainnya HNP adalah: Berat badan yang berlebihan Mengangkat beban berat dengan posisi dan tumpuan yang salah Sering memutar badan secara mendadak Jika nyeri tersebut tak tertahankan, segera melakukan konsultasi dengan dokter. Dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti MRI, agar dapat jelas penyebabnya. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik. Untuk penanganannya sesuai dengan kondisi masing-masing pasien dan mungkin dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan anti nyeri dan mungkin dengan program rehabilitasi fisik atau program fisioterapi. Tindakan operasi bukan merupakan pilihan pertama kecuali pasien dengan indikasi keadaan tertentu. Mengenai proses penyembuhan, cedera tulang belakang membutuhkan waktu hingga beberapa pekan. Namun, waktu penyembuhan ini dapat berbeda-beda pada setiap kasus, bergantung pada kondisi setiap pasien. Metode terkini untuk atasi HNP ini adalah metode endoskopi atau percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD), tanpa operasi, tindakan hanya berlangsung 45 menit, dan proses pemulihan cepat. Bila HNP terjadi di leher, maka dapat dengan endoskopi leher atau percutaneous endoscopic cervical discectomy (PECD). Pencegahan HNP Adalah dengan? Berolahraga secara teratur, terutama yang dapat menguatkan otot serta sendi di tungkai dan punggung, misalnya berenang. Menjaga postur tubuh yang baik, seperti duduk dengan punggung yang tegak, atau mengangkat beban dengan posisi yang benar. Mempertahankan berat badan ideal, untuk mencegah tekanan berlebih pada tulang belakang. Berhenti merokok, karena kandungan di dalam rokok bisa mengurangi suplai oksigen ke bantalan tulang belakang. Luangkan waktu untuk melakukan peregangan atau istirahat jika pekerjaan mengharuskan Anda untuk duduk dalam waktu yang lama.
Gaya Renang untuk Penderita Syaraf Kejepit

Renang gaya tertentu atau olahraga di air direkomendasikan oleh dokter dan ahli terapi fisik sebagai salah satu terapi untuk penderita syaraf kejepit. Pada awalnya, saraf terjepit membuat Anda membatasi aktivitas harian dan memperbanyak beristirahat atau berbaring di tempat tidur. Anda yang sedang mengalami nyeri punggung bawah atau pinggang, mungkin hanya ingin beristirahat sambil menghindari olahraga. Padahal istirahat yang terlalu lama dapat membuat otot-otot penyangga punggung bawah atau pinggang akan menjadi lemah. Bila otot-otot ini melemah, maka otot ini tidak dapat menjaga kestabilan tulang belakang dengan baik sehingga dapat saja kemungkinan membuat kondisi Anda semakin lemah. Itu sebabnya, para pakar meyakini dengan melakukan latihan-latihan yang dapat membantu memperkuat otot sangat diperlukan guna menjaga sehatnya tulang belakang. Yuk Renang Olahraga yang dilakukan di permukaan tanah dapat membebani tulang belakang. Sedangkan aktivitas yang dianjurkan untuk membantu mengatasi nyeri akibat syaraf kejepit adalah melakukan aktivitas fisik di air, misalnya renang gaya tertentu. Ini dapat membantu memperkuat otot-otot tulang belakang tanpa membebaninya. Daya apung tubuh di air dapat membuat Anda terasa lebih ringan sehingga mengurangi beban tubuh yang biasanya terserap oleh sendi-sendi selama berolahraga. Menggali Manfaat Gaya Renang Untuk Penderita Syaraf Kejepit Berenang dapat bermanfaat membantu: Menguatkan otot-otot tulang belakang dan bantalan sendi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri akibat saraf terjepit Membuat sistem saraf menjadi relaks. Otot-otot yang tegang juga dapat memicu timbulnya nyeri punggung atau memicu masalah pada tulang belakang sehingga nyeri bisa memburuk. Berenang dapat menghasilkan endorfin, hormon yang membuat Anda senang. Mengurangi tekanan pada sendi-sendi dengan adanya daya apung tubuh dalam air Membangun kekuatan otot-otot untuk menopang tulang belakang Untuk Penderita Syaraf Kejepit Lakukan Aktivitas di Kolam Renang dengan Gaya Posisi dan gerakan/gaya renang dapat berdampak pada tulang belakang dengan cara berbeda, misalnya: Gaya kupu-kupu dan gaya dada dapat membuat tulang belakang melengkung ke belakang. Sehingga dapat berisiko menambah beban pada sendi facet di tulang belakang sehingga kemungkinan dapat memperburuk nyeri dari waktu ke waktu. Gaya bebas dan gaya punggung, bisa membuat nyeri. Jadi pada dasarnya gaya renang tidak bisa menjadi patokan. Semuanya bergantung pada beberapa faktor misalnya penyebab nyeri punggung/nyeri pinggang, dan kemampuan berenang Anda yang mencakup intensitasnya. Bagi Anda yang belum siap berenang atau tidak bisa berenang, masih ada opsi lain yaitu aerobik air atau mulai dengan berjalan di air yang juga dapat membantu memperkuat otot-otot inti dan otot punggung bawah atau pinggang. Sebelum memulai aktivitas fisik atau olahraga, Anda harus berkonsultasi dengan dokter agar disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Berikut latihan atau aktivitas yang bisa dilakukan di air: Berjalan di air, walaupun secata teknis ini tidak sama dengan berenang tetapi berjalan di air juga baik untuk nyeri. Resistensi akan memperkuat otot. Aerobik air yang juga membantu membangun kekuatan beragam otot di saat yang sama guna memperkuat atau menjaga otot Anda menjadi lebih fleksibel. Berenang. Jika Anda bukan perenang, coba mulai secara perlahan berenang karena dengan gaya renang tertentu dapat membantu memperkuat otot paha, dada, dan punggung dan bisa lebih fleksibel. Hindari olahraga atau aktivitas fisik yang bersifat high impact seperti jogging, lompat atau silat, karena dapat memicu nyeri akibat bantalan sendi yang sudah rusak tidak mampu lagi bekerja sebagai alat peredam kejut. Saraf Terjepit atau HNP Saraf terjepit akibat adanya penonjolan bantalan tulang di antarruas tulang belakang atau dikenal dengan herniasi nukleus pulposus (HNP) dapat terjadi akibat cedera, mengangkat beban berat, tekanan mendadak pada tulang belakang, atau aktivitas berat yang berulang dalam waktu lama. Gejalanya bergantung pada lokasi saraf yang mengalami kompresi atau jepitan. Namun biasanya menimbulkan nyeri, rasa kebas, kesemutan, hingga kelemahan otot pada kaki.
Facet Joint Bermasalah Adalah Penyebab Nyeri Leher dan Punggung

Facet joint adalah salah satu sendi kecil yang berada di antara dan di sepanjang tulang belakang. Masalah kesehatan sendi facet atau facet joint dapat timbul di area leher (servikal), dada (torakal), dan punggung bawah atau pinggang yang kita ketahui sebelumnya adalah lumbar. Nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) dapat disebabkan oleh kerusakan sendi ini yang bisa menimbulkan rasa nyeri yang bergantung lokasi. Nyerinya bisa terjadi di leher bila sendi facet joint area ini mengalami kerusakan, begitu pula nyeri akan terasa di punggung bawah kemungkinan adalah sendi facet area inilah yang mengalami kerusakan. Jadi gejalanya sesuai dengan area yang mengalami kerusakan. Penyebab nyeri LBP, leher maupun nyeri pinggang bisa ditimbulkan oleh kerusakan sendi facet saja atau bisa juga merupakan gabungan dengan kelainan atau kerusakan jaringan-jaringan lain dari area tulang belakang. Kondisi inilah adalah yang sering dikenal facet joint syndrome (sindrom sendi facet). Apa Fungsi Facet Joint? Sendi ini bekerja untuk membatasi gerakan berlebihan (seperti memutar tubuh), dan mempertahankan rangkaian tulang belakang, serta membantu mencegah gerakan tulang belakang terlalu ke depan (maju) atau ke belakang (mundur) dari posisi semula. Sendi inilah yang menjaga gerakan tubuh agar dapat bergerak membungkuk baik ke depan maupun ke belakang, serta ke kanan dan kiri. Gerakan memutar misalnya saat leher menengok kanan kiri juga menjadi salah satu fungsinya. Kenali Gejalanya Nyerinya bergantung sendi ini yang mengalami kerusakan, bisa nyeri leher, LBP atau nyeri pinggang. Umumnya nyeri terasa di salah satu sisi atau kedua sisi tulang belakang, bukan di bagian tengah Nyeri leher atau LBP akan bertambah berat ketika leher atau tubuh membungkuk ke belakang (menengadah), atau pada gerakan memutar, karena posisi ini akan mempersempit celah sendi dan menekan sendi facet. LBP yang nyerinya seringkali menjalar hingga bokong dan kaki bagian atas. Nyeri jarang terasa di kaki bagian depan atau menjalar hingga ke lutut atau kaki seperti nyeri yang diakibatkan oleh menonjolnya bantalan sendi di antar ruas tulang belakang atau HNP. Perubahan posisi atau berdiri lama dapat meningkatkan nyeri LBP karena posisi ini dapat menekan sendi ini. Nyeri leher atau LBP kadang memburuk di pagi hari dan membaik setelah bergerak atau aktivitas. Namun nyeri punggung bawah akan dirasakan sepanjang hari pada orang-orang yang bekerja dengan posisi duduk lama seharian dengan postur tubuh yang buruk. Bila sendi facet leher yang mengalami kerusakan, nyeri bisa terasa hingga pangkal tulang tengkorak, punggung atas dan bahu, punggung tengah atau leher. Bahkan ada yang merasakan hingga sakit kepala dan telinga berdenging. Selain itu, ada juga yang merasakan nyeri ini menjalar hingga ke lengan atau jari seperti nyeri akibat HNP. Kerusakan sering terjadi di leher dan pinggang. Untuk area dada agak jarang karena pergerakan di area dada terbatas. Baca juga : Leher Terasa Sakit? Apa Yang Perlu Dilakukan Penyebab Nyeri Facet Joint Adalah Dari beberapa kepusatakaan yang ada penyebab nyeri facet joint syndrome sangat beragam, beberapa hal termasuk diantaranya adalah; Proses degenerasi Proses ini dapat menyebabkan beragam perubahan pada ruas tulang belakang termasuk sendi ini, baik bentuk, ketebalannya, ruang antar-sendi, penipisan tulang rawan, atau tumbuhnya taji tulang. Faktor usia Usia diketahui dapat menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi facet sehingga menipis atau ‘aus’ sehingga saat bergerak tulang-tulang ini dapat bergesekan sehingga sendi facet semakin rusak. Gerakan berulang dengan beban tinggi, misalnya posisi menengadah yang dilakukan berulang. Cedera pada tulang belakang dan sendi facet, misalnya kecelakaan (whiplash). Pada kasus-kasus tertentu, peradangan sendi (arthritis) dapat menimbulkan kista sehingga menekan sendi facet. Adanya infeksi atau peradangan di ruas tulang belakang. Selain itu, ada beberapa faktor yang kemungkinan meningkatkan risiko Anda mengalami sindrom sendi ini yaitu: Pernah mengalami cedera pada tulang belakang Pernah melakukan operasi pada tulang belakang Melakukan banyak aktivitas fisik dengan gerakan berulang yang melibatkan tulang belakang Ini Adalah Penanganan Nyeri Facet Joint Beberapa pilihan mengatasi nyeri akibat sindrom ini antara lain: Menjaga postur tubuh yang baik dengan menjaga lengkungan (kurvatura) tulang belakang dengan baik, misalnya duduk tegak, menekuk lutut saat mengambil benda dari lantai Kompres hangat (misalnya dengan mandi air hangat) atau kompres dingin yang dapat membantu meredakan nyeri Melakukan istirahat sesering mungkin bila Anda sedang bekerja Minum obat pereda nyeri yang diresepkan oleh dokter Melakukan olahraga yang dianjurkan oleh fisioterapis atau oleh dokter Metode tanpa operasi lainnya yang dapat membantu menuntaskan nyeri facet joint sindrom adalah dengan radiofrekuensi ablasi (RFA). Metode ini dilakukan dalam waktu singkat (sekitar 20-45 menit) dan menggunakan bantuan gelombang. Bertujuan untuk menghentikan/memblokir cabang saraf medial yang mengalirkan sinyal rasa sakit/nyeri dari sendi facet yang rusak ke otak. Keberhasilan tindakan ini bergantung pada keakuratan diagnosis (yang perlu dipastikan dengan pemeriksaan penunjang), anatomi saraf, dan teknik yang digunakan. Dari beberapa hasil riset, nyeri berkurang pada sekitar 45-60% pasien dengan nyeri akibat sendi ini mengalami kerusakan. Pasca-RFA, Anda sebaiknya tidak menyetir atau mengoperasikan mesin dalam waktu 24 jam setelah tindakan dan tidak melakukan aktivitas berat. Untuk membantu menjaga sehatnya tulang belakang dan sendi facet Anda. Jangan lupa selalu untuk lakukan gaya hidup sehat dan olahraga yang sesuai serta menjaga postur tubuh Anda.
Yoga untuk Syaraf Kejepit, Benarkah Bermanfaat?

Sakit punggung adalah salah satu keluhan yang banyak dirasakan masyarakat. Tidak dipungkiri bahwa kegiatan yang padat dan berat merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya nyeri punggung. Tidak hanya pada orang lanjut usia, di umur-umur produktif pun banyak yang mengeluhkan sakit punggung. Saraf terjepit adalah salah satu penyebab nyeri punggung. Yoga untuk syaraf kejepit apakah memberikan manfaat, berikut penjelasannya. Salah satu jenis olahraga yang semakin populer saat ini, yaitu yoga. Ternyata yoga dapat dijadikan sebagai pilihan untuk meredakan sakit punggung. Termasuk nyeri punggung yang disebabkan oleh saraf terjepit atau kita mengenalnya dengan instilah herniated nucleus pulposus (HNP). Baca juga : Obat Syaraf Kejepit Tanpa Operasi Mengatasi saraf terjepit dengan yoga adalah salah satu terapi yang layak Anda coba. Jika syaraf terjepit yang terjadi karena posisi membungkuk ke depan yang mengakibatkan nyeri karena ada bagian yang menekan menekan syaraf, maka melalui yoga akan meringankan nyeri melalui relaksasi otot, atau menguatkan struktur jaringan di sekitar saraf yang mengalami masalah. Berikut adalah sederet pose-pose yoga yang akan meringankan gejala HNP. Trikonasana Yoga untuk Syaraf Kejepit Pose yoga ini dilakukan jika problem syaraf terjepit belum terlalu parah atau telah mereda. Gerakana trikonasana akan menyelaraskan tulang punggung, susunan syaraf, fleksibilitas pinggul, dan lain-lain. Lakukan selama 15 detik pada setiap gerakan dan ulangi hingga 3-4 kali. Ustrasana Pose ini akan membebaskan syaraf serta melatih kelenturan tulang punggung, pingggang, serta kekuatan paha untuk menopang tubuh lebih kuat dan berdiri tegak. Lakukan selama 30-45 detik. Upavistha konasana Yoga untuk Syaraf Kejepit Pose ini akan membuat pinggang menjadi lebih fleksibel, serta memberi sensasi lengkungan yang tepat bagi areal punggung bawah. Lakukan pose ini selama 60 detik. Bharadvajasana kursi Pose ini akan melembutkan otot latisimus dorsi yang membantu menopang tubuh terutama bagi mereka dengan postur membungkuk. Lakukan selama 15-30 detik pada setiap gerakan. Setu bandha sarvangasana Pose ini akan membantu membuat tulang punggung kembali ke lengkungan awalnya. Hal ini akan membuat syaraf siatika terasa nyaman akibat tekanan yang dialami mereda. Lakukan pose ini selama 3-5 menit. Savasana Pose ini merupakan gerakan penutup yang wajib dilakukan untuk memberi kesempatan tubuh merangkum seluruh manfaat dari ‘reparasi’ yang dilakukan. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Lamina Pain and Spine Center. Terimakasih.
Cauda Equina, Penyebab, Gejala, Faktor Risiko dan Terapinya

Sindrom cauda equina terjadi ketika sekumpulan akar saraf tulang belakang tertekan. Istilah cauda equina dalam bahasa Latin yang artinya ‘ekor kuda’, karena daerah ini berada di ujung bawah yang bentuknya mirip dengan ekor kuda. Cauda equina dapat mengganggu fungsi motorik dan sensorik terutama pada ekstremitas bawah atau tungkai bawah hingga ke fungsi kandung kemih sehingga menimbulkan inkontinensia (gangguan berkemih) dan bahkan kelumpuhan permanen. Penyebab Cauda Equina Sindrom cauda equina paling sering disebabkan oleh penonjolan bantalan sendi atau herniated nucleus pulposus (HNP) di daerah lumbar atau pinggang. Baca juga : Pengobatan Syaraf Kejepit HNP ini bisa timbul akibat tekanan atau cedera yang berlebihan sehingga bantalan sendi antarruas tulang belakang menonjol. Namun HNP ini bisa juga bisa disebabkan materi bantalan sendi yang mengalami perubahan akibat proses penuaan, dan ligamen penahannya juga mulai melemah. Proses ini dikenal dengan proses degenerasi. Selama proses degenerasi tersebut, tekanan yang kecil saja atau gerakan memutar tubuh dapat menyebabkan bantalan sendi tersebut pecah dan merembes ke luar dari tempat yang semestinya. Penyebab lainnya dapat berupa: Tumor di ruas tulang belakang Infeksi atau peradangan Stenosis (penyempitan) ruas tulang belakang Cedera hebat di area punggung bawah (kecelakaan, terjatuh, olahraga) Cacat lahir Fraktur (patah tulang belakang) Kelainan bentuk (malformasi) pembuluh darah di tulang belakang (arteriovenosus malformation/AVM) Pendarahan tulang belakang Komplikasi pascatindakan Anestesi spinal Gejala Cauda Equina Gejala yang ditimbulkan cauda equina ini menyerupai kondisi gangguan saraf lainnya. Gejalanya juga bervariasi, baik intensitas dan juga berubah secara perlahan seiring dengan waktu. Keparahan gejalanya bergantung pada tingkat kompresi (penekanan) pada saraf. Selain gejalanya mirip dengan gejala akibat HNP, kondisi lainnya yang mirip dengan cauda equina termasuk gangguan saraf tepi, sindrom conus medullaris, kompresi sumsum tulang belakang, dan iritasi atau kompresi saraf yang berjalan hingga panggul. Bila Anda mengalami nyeri punggung bagian bawah atau area pinggang, perlu mewaspadai tanda-tanda berikut ini yang mungkin mengindikasikan dengan cauda equina antara lain: Sangat nyeri di punggung bawah Kelemahan motorik dan kehilangan sensorik atau nyeri pada salah satu atau kedua kaki Tidak dapat merasakan apa pun di area bokong, paha bagian dalam, dan kaki bagian belakang hingga tumit Terjadinya disfungsi (gangguan fungsi) kandung kemih Terjadinya gangguan gerakan usus besar Disfungsi seksual Hilangnya refleks di ekstremitas (tungkai) Faktor Risiko Terdapat beberapa faktor risiko yang kemungkinan memperbesar risiko Anda mengalami sindrom ini, yaitu: Orang-orang dengan kelebihan berat badan (obesitas) Orang-orang dengan pekerjaan yang mengharuskan mengangkat benda berat, memutar badan, mendorong benda berat dan menekuk badan ke samping Adanya riwayat HNP di keluarga Pernah mengalami cedera berat pada tulang belakang, misalnya kecelakaan Mengalami infeksi berat pada ruas tulang belakang Beberapa pemeriksaan penunjang agar dokter dapat membuat diagnosis sindrom ini adalah dengan Magneting Resonance Imaging (MRI) dan myelogram (untuk melihat kemungkinan adanya perubahan letak saraf tulang belakang yang diakibatkan oleh HNP, taji tulang, tumor, dan sebagainya. Ketika datang konsultasi dengan dokter, Anda perlu mempersiapkan riwayat medis. Begitu pula, anda perlu menceritakan secara detail termasuk kapan mulai nyeri dan tingkat keparahannya. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik yang akan menilai stabilitas, kekuatan, kesejajaran dan refleks-refleks di tungkai dan kaki. Anda mungkin diminta untuk melakukan beberapa gerakan seperti: Duduk Berdiri Berjalan dengan tumit Berjinjit Mengangkat kaki sambil berbaring Membungkuk ke depan, ke belakang, dan menekuk badan ke samping Terapi Bila sindrom ini disebabkan oleh terjepitnya saraf tulang belakang, maka salah satu penanganannya adalah dengan menghilangkan jepitan tersebut. Untuk penanganan saraf terjepit bisa dengan metode terkini endoskopi PELD (percutaneous endoscopic lumbar discectomy) yang dilakukan hanya 45 menit.
Endoskopi PELD Metode Terbaru Tuntaskan Saraf Kejepit Tanpa Operasi

Metode endoskopi PELD (Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy) dapat menuntaskan saraf terjepit atau herniated nucleus pulposus (HNP) tanpa operasi. Endoskopi PELD adalah tindakan medis yang bertujuan menghilangkan tekanan yang diakibatkan penonjolan bantalan tulang (herniasi diskus) pada saraf sekitar tulang belakang. Prosedur ini hanya menimbulkan sayatan kecil pada kulit, sehingga dapat memberikan manfaat dan kenyamanan pada pasien secara lebih baik dibanding dengan teknik bedah konvensional. Selain luka sayatan yang minimal, pada pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan bius total, endoskopi PELD ini dapat dilakukan dengan menggunakan bius lokal. Dengan teknik itu, pasien juga tidak harus berlama-lama di rumah sakit atau klinik atau rawat inap karena dapat juga dilakukan one day care. Seperti namanya, PELD dilakukan melalui prosedur endoskopi sehingga juga dikenal sebagai metode endoskopi PELD. Dokter akan membuat sayatan kecil di kulit sebesar 7 mm, selanjutnya masuk ke dalam menuju foramen. Foramen merupakan area yang kaya akan persarafan dan menjadi tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf sehingga timbul rasa nyeri pada pasien. Endoskopi PELD juga biasa disebut dengan teknik stitchless surgery, karena teknik ini tidak membutuhkan jahitan setelah prosedur dilakukan. Metode endoskopi PELD ini sudah dapat dilakukan di Indonesia, yaitu di Klinik Lamina Pain and Spine Center. Metode ini dilakukan untuk membantu menghilangkan rasa nyeri dengan cara mengambil bantalan tulang yang menjepit saraf. Lihat video penjelasan mengenai teknik terbaru endoskopi PELD berikut ini; Jepitan saraf inilah yang menimbulkan nyeri. Jika tonjolan bantalan tulang itu diambil dengan metode endoskopi PELD maka saraf pun terbebas dari jepitan dan nyeri pun akan berangsur hilang. Nyeri Saraf Terjepit Bisa Sembuh dengan Endoskopi PELD Saraf kejepit menimbulkan rasa nyeri luar biasa yang bisa membuat aktivitas penderitanya terganggu. Terdapat beberapa jenis obat saraf kejepit dengan cara kerja yang berbeda. Agar hasilnya maksimal, pengobatan saraf kejepit kadang perlu dikombinasikan dengan pengobatan lainnya. Saraf kejepit adalah kondisi medis ketika saraf tertekan oleh jaringan di sekitar, seperti tulang, tulang rawan, tendon, ligamen, hingga otot. Baca juga : Endoskopi PECD Hal tersebut tentu mengganggu fungsi saraf dan menimbulkan berbagai macam gejala, seperti nyeri, kesemutan, atau bahkan mati rasa di bagian tubuh tertentu. Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko saraf kejepit, diantaranya berat badan berlebih, kehamilan, cedera akibat kecelakaan atau olahraga, peradangan sendi, dan tekanan pada bagian tubuh tertentu yang disebabkan gerakan berulang atau kurang tepatnya posisi tubuh. Penyebab Saraf Kejepit Saraf kejepit salah satu penyebabnya adalah perubahan struktur tulang akibat usia atau proses penuaan. Namun demikian ada juga pasien yang masih berusia muda yang melakukan metode endoskopi saraf kejepit ini. Saraf kejepit bisa jadi merupakan penyakit degeneratif yang muncul akibat faktor usia. Penggunaan otot punggung untuk beban yang terlalu berat (misalnya sering memaksakan mengangkat benda berat) juga dapat menimbulkan nyeri akibat perubahan bantalan tulang di ruas tulang belakang. Apalagi kalau jarang berolahraga. Selain itu, trauma kecelakaan, baik kecelakaan kendaraan bermotor atau cedera akibat berolahraga; dan terjadi benturan langsung pada pinggang bisa sebabkan bantalan tulang rusak. Pekerjaan, posisi duduk terlalu lama juga bisa menjadi faktor risiko saraf kejepit. Gejala yang ditimbulkan bergantung dimana lokasi saraf terjepit. Gejala Saraf Kejepit Bila terdapat penonjolan bantalan tulang (herniasi) pada diskus L5-S1 (area pinggang) biasanya akan menekan saraf S1. Gejalanya nyeri menjalar ke bokong, paha bagian belakang, tungkai bawah, dan hingga turun sampai ke tumit. Mati rasa atau kebas/baal juga kadang terasa di betis. Jika berlanjut, maka dapat menyebabkan kesulitan berjalan. Bila herniasi ada pada ruas L4-L5 biasanya akan menekan saraf L5, nyeri juga sampai area bokong, paha bagian belakang, hingga kaki (bagian bawah dan atas). Jika berlanjut, dapat mengganggu gerakan pergelangan kaki atau dikenal dengan foot drop. Foot drop adalah ketidakmampuan mengangkat kaki bagian depan sehingga saat melangkah kaki akan terseret. Rasa kebas atau mati rasa akan terasa di sisi kaki bagian bawah. Bila L3-L4 kemungkinan menekan saraf L4, dan timbul nyeri pada bokong, sisi paha dan bagian depan tungkai bawah. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kelemahan dalam menekuk kaki dan meluruskan lutut dan mati rasa di bagian depan kaki. Relatif jarang terjadi herniasi L1-2 dan L2-3; terasa nyeri dan mati rasa di paha bagian samping depan dan kelemahan otot paha bagian depan. Dalam kasus ekstrem, saraf terjepit ini dapat mengenai sekelompok saraf di bagian bawah hingga menyebabkan “sindrom cauda equina”. Ketika hal ini terjadi, kontrol usus dan kandung kemih dapat terganggu disertai dengan nyeri, kelemahan kaki, mati rasa dan bahkan kelumpuhan kaki. Sindrom ini memerlukan penanganan segera. Sembuhkan Saraf Terjepit dengan Endoskopi PELD Teknologi percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD) berbeda dari disektomi endoskopi saraf kejepit perkutan lain. Karena tindakan dibantu dengan penggunaan guiding C-arm agar lebih akurat. Ini merupakan cara sembuh dari HNP yang saat ini benar-benar diharapkan oleh pasien. Keunggulan endoskopi PELD adalah sebagai berikut : Waktu pelaksanaan singkat, yakni sekitar 45 menit. Dilakukan dengan anestesi lokal. Tidak merusak struktur anatomi jaringan yang ada di sekitar saraf, yakni otot, ligament, tendon, tulang Proses pemulihan cepat Tanpa rawat inap Pascatindakan endoskopi PELD, dokter merekomendasikan untuk menghindari melakukan aktivitas di bawah ini dalam waktu tertentu, yaitu menyetir, duduk dalam waktu yang lama, mengangkat beban berat, dan membungkuk atau memungut benda-benda yang jatuh. Lamina Pain and Spine Center Menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19 Lamina Pain and Spine Center di Jakarta menerapkan dan melakukan protokol kesehatan Covid-19 karena kami peduli dengan kesehatan baik para pengunjung/pasien dan para pekerjanya. Mengharuskan penggunaan masker atau face shield Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer Mengukur suhu tubuh Membatasi pendamping pasien hanya diperbolehkan 1 (satu) orang Menerapkan jaga jarak juga berlaku di dalam lift dan ruang tunggu Menyemprotkan ruangan dengan cairan disinfektan setiap 1 jam sekali Para dokter dan perawat mengenakan masker/face shield, alat pelindung diri (APD) Melakukan rapid test Lamina Pain and Spine Center tetap buka melayani Anda dan tetap mendukung usaha pemerintah dalam mencegah penularan Covid-19.
Sakit Pinggang Terus Menerus

Sakit pinggang terus menerus mungkin seringkali menjadi keluhan banyak orang. Sakit ini biasanya dialami oleh orang tua, sekarang ini, banyak juga anak muda yang sudah merasakan sakit punggung dan penyebabnya pun pasti berbeda-beda. Sakit merupakan sensorik yang tidak menyenangkan berhubungan dengan kemungkinan adanya kerusakan atau masalah pada jaringan di sepanjang tulang belakang, hal ini bisa berasal dari dasar leher hingga ke tulang ekor. Gejalanya dapat berupa rasa sakit yang datang dan pergi dan cenderung memburuk pada malam hari. Sakit pinggang terus menerus dapat terpicu oleh posisi postur tubuh yang tidak ideal saat duduk, berdiri, maupun membungkuk. Kondisi sakit tersebut dapat diakibatkan oleh efek mengangkat benda yang terlalu berat. Kadangkala sakit yang timbul biasanya tidak disebabkan oleh hal serius dan dapat ditangani dengan mengubah posisi postur tubuh dan mengonsumsi obat pereda rasa sakit. Namun, pada beberapa orang terdapat sakit yang sangat menyiksa dan menimbulkan sakit tidak tertahankan hingga menghambat aktivitas sehari-hari. Sakit Pinggang Terus Menerus Gejalanya Seperti Apa? Beberapa gejala umum yang dirasakan saat sakit punggung atau pinggang adalah: Merasa sakit dan kaku pada punggung bagian bawah/pinggang Sakit cenderung ringan tapi bertahan dan berkepanjangan Sakit biasanya dapat membaik maupun timbul pada malam hari atau saat beristirahat. Sakit punggung atau pinggang tersebut dapat muncul karena adanya tekanan saraf. Gejala-gejala yang dapat timbul antara lain: Rasa sakit yang menyebar sampai pinggang dan pinggul Kesemutan dan mati rasa pada kaki Kesulitan untuk bergerak sakit terasa memburuk saat berjalan atau berolahraga. Penyebab Sakit Pinggang Terus Menerus Sakit dapat timbul karena adanya masalah pada salah satu bagian tulang-tulang yang menyatu dengan otot, tendon, ligamen, saraf, serta cakram sebagai bantalan tulang yang bekerja sebagai peredam benturan. Penyebab dari sakit pinggang terus menerus yang paling umum adalah keseleo, cedera ringan, saraf terjepit atau teriritasi, dan ketegangan otot. Namun, terkadang dapat terjadi secara mendadak tanpa sebab yang jelas. Misalnya, pada sebagian orang yang bangun di pagi hari tiba-tiba dapat merasa sakit punggung tanpa tahu penyebabnya. Berikut ini beberapa hal lain yang dapat menyebabkan sakit pada punggung, antara lain: Posisi tubuh yang salah pada saat sedang mengangkat, membawa, atau menarik suatu benda Peregangan tubuh yang berlebihan dan terlalu kuat Duduk dengan posisi yang tidak baik Berkendara dalam waktu yang lama atau posisi membungkuk tanpa jeda. Terdapat banyak penyebab sakit punggung atau pinggang, salah satunya tekanan pada saraf. Orang lanjut usia mungkin juga menderita sakit punggung karena arthritis (radang sendi) tulang punggung. Wanita lanjut usia sering mengalami osteoporosis yang mungkin mengakibatkan tulang punggung keropos hingga retak sehingga menimbulkan sakit punggung. Terkadang, sakit atau penyakit pada anggota tubuh lainnya macam bahu atau pinggul juga bisa menyebabkan sakit punggung. Kenali Faktor Risiko dan Pencegahannya Kondisi-kondisi berikut ini juga dapat membuat Anda berisiko mengalami sakit, antara lain stres atau depresi berat; berat badan yang berlebihan (membuat tulang belakang bekerja lebih keras untuk menopang tubuh); dan perokok aktif juga akan cenderung mengalami sakit punggung lebih buruk dibandingkan bukan perokok Beberapa kondisi yang lebih serius, namun termasuk jarang juga dapat memicu terjadinya sakit pada punggung atau pinggang, antara lain kemungkinan infeksi pada ginjal/saluran kemih, kerusakan pada tulang rawan di sendi (akibat artritis), dan tulang keropos (osteoporosis). Pada umumnya tanpa berkunjung ke dokter, sakit punggung Anda akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 4-6 minggu. Namun, apabila rasa sakitnya tidak kunjung hilang dan sudah tidak tertahankan, maka Anda dapat melakukan konsultasi pada dokter. Adapun beberapa cara dalam mencegah sakit punggung dan pinggang, yaitu: Mengubah gaya hidup agar berat badan tetap terjaga dan menjaga postur tubuh yang baik. Posisi tidur. Apabila Anda terbiasa tidur telentang, maka tempatkan bantal di bawah lutut. Sedangkan, apabila Anda biasa tidur dengan posisi menyamping, maka angkat sedikit kaki Anda ke arah dada, kemudian tempatkan sebuah bantal di antara kedua kaki. Posisi-posisi tidur tersebut akan membantu menjaga postur punggung bawah tetap pada posisi normal. Pengubahan posisi tidur juga dapat membantu mengurangi rasa sakit dan meredakan tekanan pada punggung. Hindari stres dengan merelaksasi otot dan pikiran Olahraga teratur Bagaimana penanganannya? Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda. Terdapat beberapa langkah penanganan yang dapat dilakukan supaya rasa sakit menjadi tidak berkepanjangan, antara lain dengan kompres. Lakukanlah kompres panas atau dingin sehingga dapat membantu meredakan sakit. Bentuk-bentuk pengobatan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan terapi di klinik atau rumah sakit, misalnya pada fisioterapi. Penanganan sakit punggung atau sakit pinggang yang kronis juga dapat meliputi kombinasi obat pereda sakit dan salah satu dari terapi-terapi manual, akupunktur, dan mulai mengikuti kelas-kelas latihan fisik. Bila sakit ini disebabkan oleh saraf terjepit, namun Anda takut akan operasi, maka salah satu tindakan untuk mengatasinya adalah dengan metode endoskopi PELD (percutaneous endoscopic lumbar discectomy), yang dilakukan tanpa operasi dan hanya dalam waktu 45 menit. Namun untuk mendiagnosis penyebab sakit punggung atau sakit pinggang, dokter akan bertanya tentang riwayat pengobatan, gejala, pekerjaan, dan aktivitas fisik Anda. Bila dokter mencurigai sakit disebabkan oleh deformasi tulang punggung (skoliosis misalkan) atau gejala kondisi lainnya seperti saraf terjepit, dokter mungkin menggunakan X‐ray, CT scan, atau MRI. Dengan menggunakan hasil pemeriksaan penunjang tersebut, dapat membantu dokter menemukan penyebabnya dan menentukan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi Anda. Hubungi dokter jika Anda mengalami cedera atau jika sakit punggung atau pinggang tidak sepenuhnya pulih setelah 2 minggu perawatan, juga jika Anda mengalami demam dan menggigil; sakit yang amat sangat di malam hari atau menyebar hingga kaki; kaki kesemutan dan mati rasa atau melemah; sakit memburuk; dan gangguan fungsi berkemih. Untuk informasi sakit pinggang yang terus menerus lebih lanjut bisa menghubungi Lamina Pain & Spine Center sebagai satu-satunya klinik syaraf kejepit terlengkap di Indonesia.
Kaku Kuduk Bisa Jadi Gejala Saraf Leher Terjepit

Leher yang kaku, kadang kita kenal dengan kaku kuduk. Kaku kuduk sering dirasakan di leher belakang dan biasanya ditandai dengan rasa sakit atau nyeri sehingga sulit digerakkan. Terutama ketika mencoba memutar kepala ke salah satu sisi. Padahal leher ini membantu menyangga dan menggerakkan leher serta melindungi saraf tulang belakang. Sakit kepala, nyeri/sakit leher, nyeri pada bahu dan/atau nyeri pada lengan kadangkala menyertai kaku kuduk. Untuk menengok pun, seseorang perlu membalikkan seluruh tubuh ke arah yang dituju karena begitu nyerinya atau kakunya leher saat menengok. Kaku kuduk bervariasi dalam intensitas nyerinya, dari rasa tidak nyaman biasa hingga nyeri ekstrem, seperti ditusuk, dan terbatas di area tersebut. Biasanya, bila dipaksakan menengok akan timbul nyeri yang luar biasa. Penyebab Kaku Kuduk Penyebab tersering antara lain otot sekitar leher kaku. Di area leher, terdapat otot levator scapula yang cukup rentan dengan cedera. Otot ini terletak di belakang dan sisi leher, yang menghubungkan tulang leher dengan tulang bahu dan dikontrol oleh saraf cervical III dan IV (C3 dan C4). Baca juga : Skoliosis adalah Otot levator scapula dapat menjadi kejang atau kaku akibat kegiatan harian yang Anda lakukan, misalnya: Saat tidur dengan posisi yang salah Jatuh atau terdorong ke samping secara dadakan, misalnya cedera saat olahraga Menengok ke kiri dan kanan secara berulang selama aktivitas, misalnya berenang dengan gaya dada Duduk merosot (tidak dengan posisi tegak) di kursi saat menonton televisi atau saat melihat handphone dalam waktu lama Mengalami kecemasan atau stres secara berlebihan, sehingga menyebabkan ketegangan otot di leher Menahan leher dengan posisi tertentu dalam waktu lama, misalnya berbicara di telepon dengan posisi telepon dijepit di leher dan bahu Kaku kuduk juga kadangkala disebabkan oleh adanya masalah lain di tulang leher. Beberapa penyebab lainnya adalah: Penonjolan bantalan ruas tulang leher yang disebabkan pecahnya bantalan tulang sehingga isi bantalan tulang ini bocor dan menekan jaringan sekitar sehingga menimbulkan peradangan di bagian tersebut. Penyakit degeneratif, akibat proses penuaan sehingga bantalan sendi kehilangan kandungan cairan sehingga menekan jaringan sekitarnya seperti sendi, saraf, dan jaringan lunak (ligamen, otot) sehingga leher menjadi nyeri dan kaku. Peradangan sendi (arthritis) yang kemungkinan dapat merusak sendi facet di ruas tulang belakang yang biasanya terjadi bersamaan dengan proses degeneratif, misalnya stenosis, dan adanya perubahan anatomi tulang leher (tumbuhnya taji tulang). Baca juga : Leher Terasa Sakit? Apa Yang Perlu Dilakukan Kenali Gejalanya Kaku Kuduk Nyeri pada leher menimbulkan beberapa gejala antara lain: Kaku kuduk, sehingga sulit menggerakkan leher Nyeri tajam yang biasanya terasa di satu titik, seperti ditusuk/kesetrum dan jenis ini biasanya terjadi di leher bagian bawah Nyeri seperti pada umumnya, seperti pegal Nyeri radikuler, nyerinya menjalar sepanjang saraf dari leher ke bahu hingga lengan. Intensitasnya bervariasi hingga seperti terasa terbakar. Radikulopati servikal, merupakan gangguan neurologis yang mengganggu fungsi refleks, dan mengganggu kekuatan otot yang menjalar hingga lengan akibat terjepitnya saraf. Radikulopati ini seringkali bersamaan dengan nyeri radikuler. Kesulitan menggenggam atau mengangkat benda, jika rasa kebas atau lemahnya otot ini menjalar hingga lengan dan jari tangan Sakit kepala. Disebabkan oleh adanya iritasi pada leher sehingga mengenai otot dan saraf yang terhubung dengan kepala, contohnya sakit kepala oksipital. Perawatan Kaku Kuduk di Rumah Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu meredakan nyeri pada leher: Beristirahat, misalnya perenang bisa menggunakan gaya renang lainnya. Batasi aktivitas. Kompres dingin dan/atau hangat/panas. Kompres dingin dapat membantu meredakan nyeri atau kaku leher. Sementara itu kompres hangat dapat membantu memperbaiki aliran darah. Obat-obatan yang tergolong dalam pereda nyeri dan diresepkan oleh dokter. Melakukan peregangan secara perlahan untuk membantu meredakan kekakuan otot agar leher dapat bergerak dengan bebas. Konsultasikan dengan dokter untuk program ini. Lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki yang dapat membantu oksigen dapat bersirkulasi dengan baik ke jaringan-jaringan lunak tulang belakang sehingga dapat membantu proses pemulihan. Menggunakan neck collar atas rekomendasi dokter. Membiasakan diri selalu menjaga postur tubuh tetap baik agar meminimalkan tekanan pada leher misalnya duduk tegak. Melakukan latihan fisik untuk menjaga otot leher tetap kuat dan fleksibel. Mewaspadai Nyeri Leher Nyeri leher yang disertai dengan gejala di bawah ini, perlu diwaspadai. Demam, yang kemungkinan menunjukkan adanya infeksi Sakit kepala, terutama jika berbeda dalam durasi (lamanya), intensitas, atau menyertai kaku kuduk Mual atau muntah Kelelahan atau merasa pusing Kesemutan dari lengan hingga kaki Gangguan keseimbangan Perubahan status mental, seperti kebingungan atau perubahan mood Perubahan koordinasi, misalnya pusing atau gangguan saat berjalan atau menulis Berat badan menurun yang bukan akibat perubahan diet atau asupan makanan Kaku kuduk ini juga sering menjadi penanda adanya kondisi yang lebih serius, misalnya: Meningitis, merupakan peradangan akibat adanya infeksi bakteri pada lapisan pelindung otak dan kondisi ini disertai kaku kuduk Tumor, terutama bila berada pada bagian serebelum (otak kecil) atau di ruas tulang leher. Terganggunya gerakan otot (distonia) servikal, merupakan gangguan neurologis atau disebut juga dengan tortikolis. Saraf terjepit akibat penonjolan bantalan tulang belakang, terutama leher Dokter akan melakukan pemeriksaan berdasarkan keluhan dan nyeri yang dirasakan serta merekomendasikan pemeriksaan penunjang, seperti MRI untuk memastikan penyebab nyeri. Bila dari hasil MRI terdapat jepitan saraf di leher, maka kemungkinan dokter akan melakukan tindakan antara lain percutaneous endoscopic cervical discectomy (PECD). Teknologi ini memiliki beberapa keunggulan yaitu sayatan minimal, tindakan hanya sekitar 45 menit, dan proses pemulihannya lebih cepat. Untuk perbaikan nyeri yang diakibatkan saraf terjepit leher, bergantung pada sudah berapa lama kondisi jepitannya. Bila sudah terjadi lama, maka proses pemulihan akan membutuhkan waktu yang agak lebih lama dibandingkan dengan yang baru saja terjepit. Pascatindakan, sebaiknya tidak melakukan aktivitas yang harus menundukkan kepala dalam waktu lama misalnya saat menggunakan handphone, dan tidak dianjurkan untuk mengangkat benda berat. Klinik Lamina Pain and Spine Center memiliki teknologi terkini (endoskopi leher atau percutaneous endoscopic cervical discectomy/PECD) untuk atasi saraf terjepit di leher dan memiliki pakar nyeri dan tulang belakang yang sudah berpengalaman.