Dokter Spesialis Tulang Belakang di Jakarta

Dokter spesialis tulang belakang

Menjadi dokter spesialis tulang belakang butuh perjuangan. Seorang dokter spesialis tulang belakang harus menempuh pendidikan dari mulai dokter umum selama 5 tahun lebih, hingga meneruskan program pendidikan dokter spesialis atau PPDS. Dan yang paling berkesan ketika mereka para dokter ini harus rela belajar di rumah sakit yang di tunjuk oleh kampusnya sebagai tempat mereka praktek. Setelah lulus PPDS, dokter ini terkadang harus mengabdikan diri di daerah. Sebelum di perbolehkan bekerja sebagai syarat mendapatkan ijin praktek. Terkait masalah kesehatan tulang belakang, saat ini pelayanan ini dapat ditangani oleh beberapa dokter spesialis, mulai dari dokter bedah saraf, dokter orthopaedi, dan dokter rehabilitasi medik. Masalah tulang belakang umumnya disebabkan beberapa hal mulai dari saraf terjepit, osteoporosis, arthritis sendi tulang belakang dan masalah otot penyangga di bagian tulang belakang. Dulu untuk mengatasi beberapa kondisi diatas, dokter spesialis harus melakukan pembedahan tulang belakang. Saat ini dengan semakin maju nya teknologi kedokteran, masalah tulang belakang bisa diatasi menggunakan metode minimally invasive spine surgery (MISS). Beberapa keuntungan yang di dapat dengan metode ini adalah; Sayatan minimal Proses pemulihan lebih cepat Dalam beberapa kasus tidak perlu dilakukan rawat inap, sehingga biaya lebih minimal Efektivitas terapi menggunakan modalitas minimally invasive spine surgery sama dengan modalitas terapi terbuka. Apakah semua kasus tulang belakang bisa ditangani menggunakan terapi minimally invasive oleh spesialis tulang belakang? Tentu tidak. terapi minimally invasive untuk masalah tulang belakang harus dilihat kasus dan tingkat keparahannya. Pada beberapa kasus pasien yang sudah cukup berat dokter bedah saraf atau dokter orthopaedi akan merekomendasikan terapi menggunakan bedah terbuka. Modalitas terapi menggunakan minimally invasive memang lebih disarankan pada beberapa kondisi seperti pasien dengan usia lanjut hingga pasien yang sebelumnya telah melakukan terapi bedah terbuka tapi tidak memberikan hasil maksimal. Untuk memastikan diagnosis tidak menutup kemungkinan dokter akan melakukan pemeriksaan radiologi tulang belakang. Salah satu pemeriksaan yang paling sering dianjurkan adalah CT Scan dan MRI tulang belakang. Kapan Datang ke Dokter Spesialis Tulang Belakang Saat Anda mengalami masalah nyeri tulang belakang Sudah dilakukan terapi obat dengan dokter umum belum memberikan hasil Nyeri kronik pada tulang belakang yang sudah lebih dari 3 bulan lamanya Nyeri yang disertai dengan komplikasi seperti hilangnya massa otot hingga turunnya berat badan Gangguan gerak hingga kelumpuhan Lamina Pain and Spine Center memiliki dokter-dokter tulang belakang yang handal, mulai dari dokter bedah saraf, dokter rehabilitasi medik, dokter anastesi, dokter saraf yang secara professional menangani kasus tulang belakang secara maksimal. untuk informasi terkait layanan apa saja yang diberikan pada masalah tulang belakang Anda bisa menghubungi care line officer kami atau dokter umum kami untuk terapi lebih lanjut. Lamina pain and Spine center hadir di 4 lokasi yakni di Mampang, Cibubur, Menteng dan Pulo Mas.

Myalgia Adalah Nyeri Pada Otot, Ini Gejala, Terapi Dan Pencegahan

Myalgia adalah nyeri pada otot

Myalgia adalah istilah yang menggambarkan rasa nyeri otot baik yang bersifat ringan maupun berat. Nyeri otot ini bisa muncul di area tubuh mana pun, seperti leher, pundak, lengan, punggung, pinggang, paha hingga betis sekalipun. Ada yang merasakan nyeri otot selama atau setelah menjalani aktivitas tertentu, misalnya pada lengan saat seusai angkat beban berat. Nyeri pada leher, pundak dan pinggang setelah duduk lama dalam posisi yang salah. Walaupun kebanyakan nyeri otot biasanya hilang dalam waktu singkat, dalam beberapa kasus dapat berlangsung dalam waktu yang lebih lama. Myalgia sendiri berasal dari bahasa Yunani, myo artinya adalah otot dan algos artinya nyeri.   Gejala Myalgia Adalah Nyeri yang terasa pada pasien myalgia adalah seperti ada otot yang tertarik, dan nyeri ini berlangsung baik saat istirahat atau pun aktivitas. Kadangkala keluhan dengan pembengkakan, gejala myalgia lainnya antara lain adalah : Nyeri otot di  satu titik atau menyebar Rasa sakit yang terasa tumpul atau tajam Nyeri ringan hingga berat bisa berlangsung singkat atau menetap Bila dengan demam, kemungkinan ada infeksi Disertai dengan nyeri sendi Fatigue/ kelelahan sehingga sulit melakukan aktivitas harian Depresi akibat nyeri nya menetap Penyebab Nyeri Otot Mylagia Penyebab paling sering myalgia adalah penggunaan otot yang berlebihan, cedera, dan ketegangan otot. Ini merupakan kondisi kesehatan yang bisa bersifat akut maupun kronis. Myalgia akut biasanya muncul oleh karena: Cedera misalnya jatuh, terbentur. Tidak melakukan pemanasan sebelum olahraga. Pemakaian otot berlebihan. Nyeri biasanya terasa di satu tempat dan mengenai beberapa otot dan area di sekitarnya. Influenza, yang mungkin bisa menimbulkan nyeri otot – namun jarang. Penyakit Lyme, oleh karena gigitan kutu. Defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral, misalnya vitamin D dan kalium. Myalgia kronis seringkali menjadi gejala atau tanda utama adanya masalah pada musculoskeletal dan penyakit autoimun, seperti: Fibromyalgia, yang ditandai dengan nyeri otot menyebar dan nyerinya tajam dan/atau seperti ditusuk Rheumatoid arthritis, yang menyebabkan peradangan pada sendi-sendi dan nyeri otot Multiple sclerosis, yang ditandai dengan spasme otot Depresi, yang bisa menimbulkan gejala fisik seperti nyeri otot tanpa penyebab pasti Myalgia juga bisa merupakan tanda efek samping dari obat-obatan tertentu, misalnya adalah antimikroba, obat antikolesterol, dan glukokortikoid. Selain itu, henti obat dosis tinggi secara mendadak juga bisa memicu timbulnya myalgia, misalnya adalah opioid, benzodiazepine, alkohol, kafein. Walau jarang, kadangkala myalgia bisa menjadi tanda adanya kegawatdaruratan bila disertai dengan beberapa tanda berikut: Adanya retensi cairan atau tidak dapat berkemih Mengalami gangguan menelan Sulit bernapas Kekakuan leher Kelemahan otot Tidak dapat menggerakkan bagian yang nyeri atau kelumpuhan (paralisis) Pemeriksaan Myalgia Adalah Myalgia merupakan gejala bukan sebuah diagnosis. Untuk mendapatkan diagnosis penyebab dan pengobatannya, dokter akan melakukan pemeriksaan: Fisik untuk mengetahui lokasi nyeri, melihat kekakuan dan kelemahan otot dan menilai adanya gangguan saat berjalan dan postur tubuh Pemeriksaan darah untuk mengetahui kemungkinan adanya kerusakan otot, peradangan dan penyakit penyebabnya bila ada Pencitraan seperti rontgen dan MRI yang menggambarkan jaringan di area yang nyeri sehingga dapat membantu dokter untuk menentukan penyebabnya. Tes konduksi saraf untuk menilai apakah saraf-saraf yang membawa sinyal listrik ke otot berfungsi normal atau tidak, misalnya dalam kasus myositis (peradangan pada jaringan otot).   Cegah dan Atasi Myalgia Sebagian besar myalgia dapat ditangani dengan pengobatan di rumah, misalnya: Mengistirahatkan area yang nyeri Mengonsumsi obat pereda nyeri Secara bergantian kompres area yang terasa nyeri dengan kompres dingin dan hangat Lakukan peregangan otot secara perlahan Tidak melakukan atau hindari aktivitas tinggi hingga nyeri sudah mereda Lakukan latihan seperti yoga atau meditasi untuk membantu mengatasi ketegangan otot Tidur yang cukup

Intra Artikular Adalah Terapi Injeksi Bantu Obati Radang Sendi

Injeksi intra artikular adalah

Injeksi intra artikular atau injeksi sendi adalah salah satu bentuk pengobatan tambahan untuk membantu mengatasi nyeri sendi akibat peradangan atau pengapuran sendi (osteoarthritis/OA). Kurangnya aktivitas fisik yang disertai kelebihan berat badan berpotensi menimbulkan pembebanan sendi yang semakin besar, terutama sendi-sendi penyangga tubuh, khususnya sendi lutut. Keadaan ini akan semakin buruk bila terjadi pada usia lanjut akibat terjadinya perubahan hormonal yang memicu semakin cepatnya proses degenerasi struktur persendian.   Osteoartritis dan Dampaknya OA adalah penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan: Kerusakan kartilago (tulang rawan) sendi yang seringnya dialami oleh tulang belakang (vertebra), panggul, lutut, dan pergelangan kaki. Dapat memberatkan kehidupan penderitanya karena dapat berisiko mengalami kesulitan hariannya, misalnya saat bangkit dari duduk, jongkok, berdiri, atau pun berjalan, naik-turun tangga, dan berbagai aktivitas yang terutama membebani lutut. Ditandai dengan hilangnya lapisan tulang rawan (kartilago), terbentuknya taji tulang, perubahan pada membran sinovial dan meningkatnya cairan sinovial disertai dengan viskositas yang menurun sehingga tidak mampu lagi melumasi area tersebut. Untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup penderitanya, maka OA ini perlu mendapatkan terapi yang tepat untuk membantu: Meredakan nyeri Mengoptimalkan fungsi sendi Mengurangi ketergantungan kepada orang lain Menghambat progresivitas penyakit Mencegah terjadinya komplikasi Injeksi Intra Artikular Adalah Bila OA Anda tidak respons dengan pengobatan sebelumnya, mungkin dokter akan memberikan pilihan terapi lainnya adalah dengan injeksi intra artikular atau suntik. Sebelum dilakukan penyuntikan injeksi intra artikular, area yang dituju akan dibersihkan dan diberikan anestesi lokal. Pada beberapa kasus, dokter akan menggunakan USG untuk membantu memandu arah jarum injeksi. Atau pada kasus tertentu, sebelum injeksi intra artikular dokter mungkin akan menyedot sebagian cairan lutut terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan injeksi. Pada dasarnya ada dua jenis suntikan/ injeksi intra artikular yang dapat membantu mengatasi OA. Yakni dengan injeksi intra artikular steroid dan viscosuplementasi dengan asam hyaluronat. 1. Injeksi steroid Diberikan jika ada satu atau dua sendi yang mengalami nyeri dan inflamasi yang kurang responsif terhadap pemberian obat anti nyeri (obat anti inflamasi non steroid/ OAINS) atau penderitanya tak dapat minum obat ini atau adanya penyakit tertentu yang kontra indikasi terhadap pemberian OAINS ini. Injeksi steroid ini dapat membantu meredakan nyeri dan bengkak serta membantu memperbaiki mobilitas sendi. Namun ada beberapa kondisi yang kontra indikasi untuk diberikan injeksi steroid, antara lain: Adanya fraktur Alergi terhadap obat ini Kehamilan atau menyusui Adanya infeksi sistemik yang masih berlangsung 2. Injeksi dengan asam hyaluronat (viscosuplementasi) Asam hyaluronat yang di suntik kan dapat menggantikan asam hyaluronat alami sehingga dapat mencegah tulang saling bergesekan yang menimbulkan nyeri. Injeksi ini bermanfaat dalam memperbaiki viskositas cairan sinovial sendi dan berperan dalam pembentukan matriks tulang rawan melalui agregasi dengan proteoglikan serta membantu proses perbaikan tulang rawan. Namun perlu di informasi kan kepada dokter bila Anda alergi dengan bahan dasar hyaluronan, misalnya alergi terhadap telur. Sebuah studi yang dipublikasikan di konferensi European League Against Rheumatism (EULAR, 2019) menemukan ada beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan atau tidak ada perbaikan dengan injeksi asam hyaluronat ini, yaitu obesitas (kelebihan berat badan), radang sendi yang berat, dan usia lebih dari 65 tahun. Manfaat asam hyaluronat ini jangka panjang dan membantu mengendalikan gejala klinis lebih lama. Pasca Injeksi Intra Artikular Setelah tindakan injeksi intra artikular, dokter akan menyarankan beberapa kegiatan untuk Anda, diantaranya adalah:  Istirahat 12-24 jam Mengurangi kegiatan yang membebani lutut, misalnya squat, jongkok, naik turun tangga Mengurangi aktivitas olahraga Tidak boleh mengangkat beban berat Melakukan fisioterapi sesuai dengan program yang disusun oleh dokter secara teratur Bila terasa nyeri atau terasa panas pada titik injeksi intraartikular, bisa dilakukan kompres dingin dan tetap mengistirahatkan sendi tersebut.   Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi care line officer Lamina Pain and Spine Center melalui Hp/WA tertera.

Arthralgia Adalah Nyeri Sendi Dengan Banyak Gejala dan Penyebabnya

arthralgia adalah nyeri pada sendi

Arthralgia atau dalam bahasa Indonesia artinya atralgia adalah nyeri pada sendi. Kata ini berasal dari Yunani (arthro = sendi dan algos = nyeri). Terdapat beberapa kondisi yang dapat menimbulkan Arthralgia, antara lain adalah: Cedera Infeksi Masalah pada sistem imun tubuh Penyakit degeneratif Namun menurut United States National Library of Medicine, istilah Arthralgia ini sebaiknya tidak digeneralisir untuk semua kondisi. Dan sebaiknya digunakan saat mendeskripsikan nyeri sendi tanpa adanya proses peradangan yang mengenai sendi. Bila disertai dengan peradangan atau inflamasi maka dikenal dengan istilah artritis. Selain itu, Crohn’s & Colitis Foundation of America (CCFA) mengartikan Arthralgia adalah nyeri pada persendian (tanpa disertai pembengkakan). Beda dengan artritis yakni peradangan sendi disertai dengan nyeri dan bengkak. Atralgia ini bisa terjadi di berbagai sendi di tubuh termasuk tangan, lutut dan pergelangan kaki. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA 0811 1443 599   Mirip dengan ulasan dari Johns Hopkins Medicine yang mengartikan Arthralgia adalah kaku sendi, sedangkan artritis sebagai peradangan sendi yang menimbulkan nyeri, kekakuan, dan bengkak pada sendi, otot, tendon, ligamen atau tulang. Penyebab Arthralgia Adalah Atralgia dapat dikelompokkan sebagai berikut: Nyeri pada satu sendi (nyeri monoartikular) Nyeri lebih dari satu sendi (nyeri poliartikular) Rasa sakit yang memerlukan perawatan segera Nyeri punggung atau pinggang Nyeri non spesifik atau nyeri otot Rasa sakit pada satu sendi biasanya nyeri timbul saat beraktivitas, mereda saat beristirahat dan tidak disertai dengan bengkak, rasa hangat dan kemerahan di sendi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh: Cedera sendi Infeksi sendi Rotator cuff syndrome Bursitis (area olekranon, patella, trochanter) Plantar fasciitis Tendonitis Achilles Bila nyeri dirasakan di lebih dari satu sendi, penyebabnya terdiri dari inflamasi dan non inflamasi. Untuk non inflamasi yang tersering disebabkan oleh osteoarthritis dan fibromialgia (ditandai dengan nyeri di seluruh tubuh disertai dengan kelelahan berat dan gangguan tidur). Sedangkan penyebab inflamasi adalah rheumatoid arthritis, asam urat, lupus eritematosus sistemik (SLE), artritis psoriatik, dan lainnya. Penyebab nyeri sendi yang memerlukan perawatan segera mencakup infeksi misalnya pada artritis septik dan osteomielitis (infeksi pada tulang), cedera atau fraktur, dislokasi, kerusakan pada pembuluh darah di area sendi dan saraf yang bisa disebabkan oleh cedera atau kanker.  Kondisi ini biasanya ditandai dengan nyeri dan sendi terkunci tidak dapat bergerak. Penyebab Non Spesifik Atralgia Adalah Terdapat beberapa penyebab nyeri yang mengenai punggung secara keseluruhan atau punggung bawah khususnya. Nyeri bisa mereda dalam beberapa hari atau memanjang bila sering berdiri lama. Nyeri pada sendi area ini bisa juga disebabkan oleh adanya masalah pada saraf yang disertai dengan gejala lain seperti kesemutan, mati rasa pada anggota tubuh bagian bawah (tungkai). Penyebabnya antara lain cedera berulang, cedera whiplash, sciatica, osteoporosis yang berpeluang sebabkan patah tulang belakang, menonjolnya bantalan ruas tulang belakang (hernia nukleus pulposus/HNP atau saraf terjepit). Penyebab nyeri sendi nonspesifik adalah fibromyalgia yang dapat mengganggu aktivitas, fatigue/kelelahan dan depresi. Selain itu, arthralgia bisa timbul akibat kesalahan saat bergerak (keseleo), atau penyakit infeksi misalnya adalah influenza, demam rematik, hipotiroid, dislokasi sendi dan lainnya. Terapi Arthralgia Tujuan dilakukannya terapi pada nyeri sendi atau atralgia adalah memperbaiki atau meningkatkan fungsi sendi dan meredakan nyeri sendi agar kualitas hidup Anda menjadi lebih baik. Melakukan peregangan otot untuk membantu memperkuat otot dan gerakan sendi. Untuk itu, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai latihan yang tepat sesuai dengan kondisi Anda. Dokter akan meresepkan obat-obatan tertentu seperti anti nyeri sendi atau antiradang. Injeksi kortikosteroid yang dapat membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri sendi. Menerapkan gaya hidup sehat seperti makanan bergizi, menurunkan berat badan bila Anda termasuk obesitas atau mempertahankan berat badan ideal. Melakukan olahraga di air misalnya water therapy atau berenang. Menggunakan brace/korset atau alat bantu lainnya untuk membantu memperbaiki mobilitas sendi. Kompres sendi, baik dengan dingin atau hangat. Istirahat yang cukup. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA 0811 1443 599   Lamina Pain and Spine Center merupakan pusat terapi nyeri sendi dan tulang belakang termasuk diantaranya adalah arthralgia. Dengan dukungan dokter spesialis handal, siap membantu Anda. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi care line officer kami melalui HP/Wa tertera.

Ligamen Cedera? Ini Gejala Hingga Cara Pencegahannya

Cedera ligamen

Ligamen adalah jaringan ikat fibrosa yang menghubungkan tulang dengan tulang. Salah satu fungsi penting dari ligeman adalah menahan struktur dan menjaga tulang dalam posisi stabil. Saat beban yang ditumpukan pada sendi terlalu berlebih ligamen dapat mengalami peregangan, bahkan kemungkinan terjadi cidera. Salah satu contoh di bagian lutut kita. Ada setidaknya 4 ligamen utama yang ada di lutut, diantaranya; Anterior curciate ligament (ACL). Merupakan ligamen yang berada di bagian tengah dari lutut kita, fungsinya mengkontrol rotasi dan gerakan ke bagian depan dari tibia atau kita sebut sebagai tulang kering. Posterior curciate ligament (PCL). Merupakan ligamen yang terletak di bagian belakang lutut yang bertugas mengkontrol gerak dari tibia ke bagian belakang. Medial collateral ligament (MCL). Merupakan ligamen yang memberikan stabilitas pada lutut bagian dalam. Lateral collateral ligament (LCL). Merupakan ligamen yang memberikan stabilitas pada lutut bagian luar. Ligamen ACL paling Sering Cedera Cidera ACL umum terjadi pada atlet yang ikut dalam olahraga dengan intensitas tinggi, seperti sepak bola dan basket. Sekitar 80 percent kasus cedera ligamen lutut ini terjadi pada atlet. Selain itu, kondisi ini lebih banyak terjadi pada individu berjenis kelamin perempuan dibanding dengan laki-laki. Meskipun belum diketahui penyebab pastinya, perempuan memiliki kesempatan 2 hingga 4 kali lipat mengalami cedera di lututnya daripada laki-laki. Baca juga : Cedera otot biceps dan triceps Diduga perbedaan tersebut berkaitan dengan bentuk tubuh perempuan yang berbeda dengan laki-laki, misalnya bentuk panggul perempuan yang lebih lebar, otot perempuan yang cenderung lebih elastis, serta faktor hormonal yang memengaruhi elastisitas otot perempuan. Kondisi cedera ini dapat diatasi dengan cara mengenali apa saja faktor-faktor risiko yang ada. Gejala Cedera Ligamen Nyeri yang bertambah ketika Anda menggerakkan area yang sakit Kaku pada area yang terkena, yang dapat memburuk di pagi hari Terdapat sensasi berderak ketika tendon bergerak Terdapat pembengkakan, terkadang terasa hangat hingga berwarna kemerahan Benjolan pada area yang mengalami nyeri Bila ligamen Anda sobek, Anda akan merasakan nyeri hebat yang muncul tiba-tiba, yang pada akhirnya akan menjadi nyeri tumpul yang dirasakan terus menerus, atau tidak nyeri sama sekali. Pergerakan pada area yang sakit juga akan menjadi lebih sulit hingga kemungkinan Anda tidak dapat berjalan atau berlari. Pencegahan Cedera Ligament Terkadang kita melupakan atau menganggap remeh pentingnya pemanasan. Padahal pemanasan bertujuan untuk meningkatkan aliran darah, oksigen dan nutrisi, sehingga otot, tendon, ligamen dan sendi akan lebih lentur dan siap untuk meregang. Jangan lakukan peregangan hingga Anda merasa sakit, dan jangan melompat menggunakan otot yang teregang sepenuhnya. Hal lain yang dapat mencegah terjadinya cidera pada ligament diantaranya; Selalu gunakan alas kaki yang sesuai ukuran dan penggunaannya. Jangan melakukan aktivitas melebihi kemampuan Anda. Sebaiknya Anda tidak melakukan banyak aktivitas dalam waktu yang bersamaan. Anda juga dapat berkonsultasi kepada instruktur olahraga untuk mengetahui olahraga yang tepat untuk Anda. Atau melakukan konsultasi ke dokter spesialis Lamina Pain and Spine Center. Pendinginan, seperti halnya pemanasan sebelum olahraga, Anda juga harus melakukan pendinginan. Lakukan gerakan melambat dan dengan intensitas yang berkurang selama setidaknya 10 menit sebelum Anda berhenti sepenuhnya. Hindari gerakan berulang. Jika pekerjaan Anda melibatkan gerakan berulang, mintalah kepada atasan Anda untuk memberikan waktu istirahat yang cukup. Cobalah untuk mengubah aktivitas atau cara Anda melakukan sesuatu. Misalnya, jika Anda cedera akibat berlari, Anda dapat menggantinya dengan berenang.

Elektromiografi Alat Bantu Ketahui Fungsi Otot dan Saraf

Elektromiografi

Elektromiografi (EMG) merupakan suatu teknik untuk mengevaluasi dan merekam sinyal aktivitas otot. Mungkin bagi sebagian orang pemeriksaan penunjang ini terdengar sedikit asing, untuk memahami lebih jelas simak paparan lengkap mengenai EMG berikut. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat elektromiograf dan hasil aktivitas rekaman ini disebut dengan elektromiogram. Teknik ini dapat mendeteksi aksi potensial dari sel-sel otot saat berkontraksi dan relaksasi dengan menggunakan elektroda yang ditempel di atas jaringan otot. Pemeriksaan ini dapat membantu untuk membedakan apakah kondisi medis yang Anda alami berasal dari otot atau saraf. Mengapa Perlu EMG? Biasanya, pemeriksaan ini dilakukan atas rekomendasi dokter berdasarkan gejala yang kemungkinan mengindikasikan adanya kelainan saraf atau otot, yang dapat berupa: Kesemutan Kebas Kelemahan otot Nyeri otot Kram Rasa tidak nyaman atau nyeri di sendi lainnya Tics atau seperti kedutan Baca juga : Pentingnya pemeriksaan MRI tulang belakang Hasil dari elektromiografi dibutuhkan untuk membantu dokter menegakkan diagnosis atau menentukan penyakit utama yang menyebabkan gejala seperti di atas. Penyebabnya bisa berupa: Kelainan otot atau muscular dystrophy Gangguan yang memengaruhi kemampuan neuron motorik untuk menghantarkan sinyal-sinyal listrik ke otot, misalnya miastenia gravis Radikulopati Carpal tunnel syndrome Gangguan saraf seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS) Neuropati Periferal Neuropati Diabetes Sciatica Pleksopati Persiapan Pemeriksaan Elektromiografi Pada dasarnya bukan prosedur yang berisiko tinggi. Jarang ditemukan komplikasi setelah elektromiografi dilakukan. Namun ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum melakukan prosedur elektromiografi, dan sebaiknya informasikan ke dokter mengenai: obat-obatan yang tengah Anda konsumsi atau sedang dalam pengobatan tertentu memiliki gangguan perdarahan atau kelainan pembekuan darah menggunakan pacemaker menderita penyakit tertentu jangan merokok minimal 3 jam sebelum dilakukannya EMG mandi jangan gunakan body lotion setelah mandi gunakan pakaian yang nyaman Bagaimana Cara Pemeriksaan EMG? Memberikan rangsangan listrik pada saraf yang dicurigai adanya kelainan dengan arus listrik kecil. EMG ini juga dapat mengetahui atau menilai derajat penyakit atau gejala yang dikeluhkan. Bila dicurigai adanya kerusakan lebih lanjut, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan EMG dilakukan baik dengan maupun tanpa jarum. Saat pemeriksaan tanpa jarum, pasien relaks dan dokter akan mencari sumber saraf yang dicurigai ada kelainan. Bila perlu pemeriksaan lanjut dengan jarum, pasien diminta menggerakkan otot yang diperiksa, kemudian jarum ditusukkan ke dalam otot tersebut untuk melihat aktivitas listrik pada otot itu Elektromiografi ada dua jenis. Pertama dengan menggunakan jarum yang dimasukkan langsung pada otot. Kedua, menggunakan elektroda yang ditempelkan di kulit. Baca juga : Operasi HNP Elektroda ini akan mengevaluasi seberapa baik sel saraf motorik ‘berkomunikasi’ dengan otot. Setelah itu mungkin dilanjutkan dengan yang menggunakan jarum. Jarum ini juga mengevaluasi aktivitas listrik otot saat kontraksi atau relaksasi. Selama dilakukan elektromiografi keduanya, elektroda akan mengirimkan sinyal listrik kecil ke saraf Anda. Kemudian komputer akan menerjemahkan sinyal-sinyal ini ke dalam grafik atau nilai numerik yang dapat ditafsirkan oleh dokter. Seluruh prosedur hanya berkisar antara 30 hingga 60 menit. Dokter akan menilai hasil EMG. Bila terjadi aktivitas listrik pada otot yang sedang istirahat, kemungkinan Anda mengalami: kelainan otot masalah pada saraf-saraf yang menghubungkan ke otot peradangan yang disebabkan oleh cedera Jika hasil elektromiografi menunjukkan adanya aktivitas listrik abnormal saat otot berkontraksi, kemungkinan Anda mengalami kondisi saraf terjepit atau masalah saraf lainnya misalnya CTS. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi customer relation officer Lamina Pain and Spine Center. Terimakasih.

Cedera Otot Biceps dan Triceps pada Lengan

Cedera otot biceps dan triceps pada lengan

Secara anatomi, ada 2 jenis otot pada lengan, yaitu biceps dan triceps. Biceps adalah otot pada bagian depan lengan atas. Saat berkontraksi, biceps menarik lengan bawah ke atas dan merotasi lengan bawah ke arah luar. Dilain sisi, fungsi dari otot triceps adalah untuk ekstensi (meluruskan) lengan di siku (berlawanan dengan kerja otot biceps). Cedera atau robekan otot pada lengan ini dapat menimbulkan nyeri bagi penderitanya. Nyeri tajam yang tiba-tiba pada lengan atas (depan — biceps; belakang — triceps) saat berolahraga — paling sering dirasakan pada aktivitas  mengangkat berat dan kemungkinan disertai dengan sensasi “letupan”.   Penyebab Cedera Otot Biceps dan Triceps pada Lengan Robekan otot paling sering terjadi akibat kontraksi eksentrik. Kontraksi ini terjadi ketika otot menegang di satu arah dan pada saat yang bersamaan terdapat gaya yang melawan tegangan tersebut. Baca juga : Senam Syaraf Terjepit Robeknya otot biceps secara umum terjadi ketika otot biceps ekstensi penuh dan menerima terlalu banyak tegangan. Aktifitas pekerjaan atau di gym terutama menggunakan beban yang sangat berat, tanpa melakukan pemasanan dengan mencukupi memicu terjadinya robekan tersebut. Seperti halnya cedera biceps, cedera triceps dapat terjadi pada semua orang terutama ketika olahraga dengan beban yang terlalu berat tanpa pemanasan yang cukup. Cedera dapat disebabkan karena satu kejadian (misalnya menahan beban terlalu berat) atau secara perlahan-lahan seiring waktu. Berikut ini sejumlah penyebab lain tertariknya otot biceps atau triceps, diantaranya: Kurangnya fleksibilitas otot Tekanan akibat gerakan berulang (misalnya melempar atau memukul bola) Kekuatan otot yang buruk Meregangkan otot secara berlebihan (mendorong otot hingga melewati ambang tegangannya) Tekanan tiba-tiba pada lengan bawah ketika lengan atas berkontraksi Benturan dari luar Pembagian Keparahan Cedera Otot Biceps dan Triceps pada Lengan Otot pada lengan yang mengalami cedera dalam bidang kedokteran terbagi menjadi beberapa tingkatan berikut ini: Grade 1 Rasa tegang di lengan atas bagian depan (biceps atau belakang (triceps). Umumnya masih mampu melakukan gerakan fleksi dan ekstensi di siku, tetapi ada rasa tidak nyaman. Ada kemungkinan pembengkakan minimal. Otot menjadi sakit terutama saat melawan tahanan. Grade 2 Terdapat robekan sebagian pada serat otot. Gejalanya dapat berupa nyeri spontan saat beraktivitas. Pembengkakan, dan rasa sakit ketika diberikan tekanan, kemerahan, dan rasa hangat pada lengan atas. Kemampuan melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada siku terganggu. Nyeri ketika otot berkontraksi, terutama ketika melawan tahanan. Grade 3 Serat otot robek sepenuhnya (rupture). Dengan gejala seperti nyeri berat, terutama ketika otot berkontraksi dengan atau tanpa tahanan. Terjadi pembengkakan secara cepat. Kontraksi menyebabkan nyeri dan spasme otot yang menimbulkan keterbatasan gerak. Ketika cedera terjadi berulang kali selama beberapa bulan hingga tahun, ini menunjukan kerusakan di bagian dalam yang tidak dapat diatasi tubuh secara alami. Terapi segera pada kasus ini sangat dibutuhkan, untuk mencegah kemungkinan kecacatan atau kelemahan permanen.   Modalitas Terapi Terapi pada cedera otot lengan yang pasling sederhana adalah dengan melakukan teknik RICE (Rest, Ice, Compress, Elevate). Tidak menutup kemungkinan didampingi konsumsi obat anti inflamasi non steroid. RICE teknik, baik dilakukan pada 36 jam pertama pasca cedera. Pada kasus robekan otot lengan yang ringan, terapi adalah dengan melakukan beberapa gerakan spesifik ringan. Sementara pada kasus berat, diperlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki cedera otot. Konsultasikan dengan dokter Lamina Pain and Spine Center bila memiliki gejala robekan otot biceps atau triceps. Tidak disarankan melanjutkan kegiatan karena dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otot lengan. Pencegahan Untuk membantu mempercepat penyembuhan dan mencegah cedera otot pada lengan di masa yang akan datang, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut: Tidak disarankan mengkompensasi satu kelompok otot yang terasa nyeri atau lemah dengan menggunakan otot lain secara berlebihan. Biceps dan triceps adalah kelompok otot yang berlawanan, dan penting untuk menjaga keduanya tetap seimbang. Jangan mengutamakan kekuatan dibandingkan fleksibilitas, atau sebaliknya. Keseimbangan penting untuk keduanya. Selalu awali kegiatan olahraga dengan pemanasan yang baik. Seperti otot lain, biceps dan triceps akan lebih fleksibel setelah pemanasan. Berhenti beraktivitas saat Anda merasakan nyeri pada lengan. Selama latihan kekuatan seperti dalam gym untuk pembentukan otot. Pastikan Anda memulai latihan dengan beban yang lebih ringan. Pastikan Anda mempelajari teknik olahraga atau latihan yang Anda pilih. Lakukan relaksasi setelah kegiatan olahraga dengan peregangan ringan. Peregangan akan lebih efektif bila dilakukan setelah berkeringat. Otot lebih elastis dan reseptif.

Kaki Sakit Seperti Ditusuk Jarum, Ini Kemungkinan Penyebabnya

kaki seperti ditusuk jarum

Kaki seperti ditusuk jarum seringkali membuat penderitanya nyeri dan tak nyaman beraktivitas. Apa penyebabnya? Nyeri pinggang atau punggung bawah kadangkala muncul dengan timbulnya kaki nyeri seperti ditusuk jarum. Hal ini yang kadang membuat pasien datang berkonsultasi dengan dokter. Nyeri yang terasa umumnya hingga kaki ini bisa terjadi pada berbagai usia namun yang paling sering adalah usia produktif. Penyebab Kaki Nyeri Seperti Ditusuk Jarum Terdapat 4 hal yang muncul sebagai penyebabnya, yaitu: Adanya infeksi atau peradangan pada otot-otot punggung bawah akibat pemakaian yang berlebihan atau cedera/kecelakaan yang bisa menyebabkan gangguan pada otot yang parah sehingga dapat timbul nyeri panggul dan kaki. Adanya proses degenerasi ruas tulang belakang yang menimbulkan tumbuhnya tulang baru yang abnormal sehingga menjepit saraf di area tersebut. Kondisi ini biasanya muncul pada orang-orang berusia lanjut. Penonjolan bantalan yang ada di antara tulang belakang yang kemungkinan muncul oleh pecahnya bantalan tersebut. Biasanya terjadi pada para pekerja. Kondisi ini menimbulkan nyeri punggung bawah/pinggang kronis dan jika isi bantalan tulang tersebut sampai bocor keluar dan menjepit saraf yang ada di sepanjang tulang belakang, maka timbullah nyeri yang tidak hanya dirasakan di punggung bawah namun bisa menjalarhingga ke kaki. Adanya tumor, fraktur di tulang belakang juga bisa menekan/menjepit saraf. Kaki nyeri atau punggung bawah/pinggang nyeri yang kemungkinan karena menonjolnya bantalan tulang (herniasi nukleus pulposus/HNP) dirasakan seperti ditusuk-tusuk atau seperti kesetrum. Bantalan sendi yang menonjol ini menekan/menjepit saraf, makanya nyeri seperti itu terasa hingga ke kaki. Penonjolan Bantalan Tulang Mungkin sebagian orang akan berpikir kalau nyeri/sakit itu terlokasi di punggung saja. Padahal bisa menjalar ke kaki. Gejala menjalarnya nyeri sampai kaki ini cukup spesifik sehingga dapat membantu para dokter untuk memberikan diagnosis secara akurat mengenai penyebab nyeri. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA 0811 1443 599   Tekanan/jepitan pada saraf tulang belakang ini bertautan ke kaki. HNP menimbulkan gejala nyeri tajam dan mendadak akibat adanya proses infeksi. Baca juga : Kaki kesemutan dan nyeri ini beberapa penyebabnya Di punggung bawah/pinggang: Nyeri bisa terjadi di salah satu sisi atau kedua sisi Nyeri timbul terasa saat duduk atau saat duduk membungkuk ke depan. Dalam postur seperti ini dapat menekan ruas tulang belakang Di kaki: Nyeri Kaki terasa ditusuk jarum hingga kebas/kesemutan Kelemahan otot-otot kaki Nyeri atau rasa kebas yang diakibatkan oleh HNP akan menjalar/ mengalir sepanjang jalur sistem saraf dari punggung bawah ke paha, pergelangan kaki, hingga ke telapak kaki dan jari kaki sakit seperti tertusuk jarum. Otot-otot yang berhubungan ke saraf yang terjepit juga akan melemah dan bila tidak ditangani dengan baik atau dini kemungkinan bisa menimbulkan kelumpuhan. Biang Keladi HNP Banyak faktor yang dapat menyebabkan HNP, seperti berikut: Mengangkat beban berat dengan postur tubuh yang salah dan dilakukan dalam waktu yang lama dan berulang Obesitas atau kelebihan berat badan Posisi/postur duduk yang salah dalam waktu yang lama Kecelakaan atau cedera yang mengenai tulang belakang Nyeri di punggung bawah biasanya berasal dari adanya gangguan atau masalah pada ruas tulang lumbar (L1-L5 dan S1). Tingkat keparahan HNP Anda bergantung pada seberapa berat saraf di area tersebut yang terjepit/tertekan. Jika masih ringan atau sedikit jepitannya, nyeri yang dirasakan hanya seperti kesetrum pada kaki atau sedikit kebas/baal. Namun jika jepitannya ini parah, bisa menimbulkan kelumpuhan. Diagnosis Kaki Seperti Ditusuk Jarum Dokter akan melakukan pemeriksaan berdasarkan gejala yang dirasakan dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang lainnya yang mungkin diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah rontgen, CT scan atau MRI. Tidak Berani Operasi? Dulu, cedera HNP atau saraf terjepit perlu diatasi dengan tindakan pembedahan yang risikonya lumayan tinggi dan tentu dengan biaya yang tidak sedikit pula. Namun kini tidak usah khawatir. Masalah salah terjepit Anda sudah dapat diatasi dengan laser atau percutaneous laser disc decompression (PLDD) yang memiliki risiko minimal. Baca juga : Kram pada kaki apa penyebab dan solusinya PLDD ini memiliki beberapa keunggulanya itu hanya memerlukan sayatan yang kecil (kira-kira 7 mm); proses pemulihan lebih cepat; tidak perlu rawat inap; proses tindakan lebih singkat; dan biaya lebih terjangkau dibandingkan dengan teknik bedah konvensional. Cara Mengobati Kaki Seperti Ditusuk Jarum di Klinik Lamina Klinik ini memiliki teknologi PLDD untuk mengatasi saraf terjepit. Tidak itu saja, teknologi PELD, PECD dan radiofrekuensi ablasi juga ada di Klinik Lamina Pain and Spine Center untuk membantu menuntaskan nyeri Anda terkait dengan saraf terjepit. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA 0811 1443 599   Selama  pandemi COVID-19 ini kami tetap beroperasi dan menerapkan beberapa langkah standar guna mencegah penularan penyakit ini, antara lain pengukuran suhu pada setiap tamu yang datang; mewajibkan pemakaian masker; penyemprotan disinfektan di setiap ruangan; menyediakan hand sanitizer; social distancing saat berada dalam lift. Baca juga : Nyeri pada bokong sampai ke kaki apa penyebabnya Tidak  itu saja, para staf dan para dokter kami juga menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap sesuai dengan standar. Jika nyeri Anda sangat mengganggu aktivitas dan terkendala oleh jarak atau adanya program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak masalah. Konsultasikan saja keluhan nyeri kaki seperti tertusuk jarum Anda dengan kami via online atau via whatsapp.

Kenali Dampak Negatif Text Neck Syndrome

text neck syndrome

Kepala menunduk terlalu lama, terutama saat menggunakan gadget, dapat mengusik kesehatan tulang belakang terutama leher. Oleh para ahli kondisi ini disebut sebagai text neck syndrome. Kondisi ini merupakan gaya hidup dan kondisi kesehatan yang terus tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi yang diiringi dengan tingginya pertumbuhan populasi pengguna gadget yang menghabiskan waktunya telalu lama. Kepala Menunduk Terlalu Lama Selama berada di rumah saat pandemi COVID-19 ini membuat Anda semakin sering menggunakan berbagai gadget, seperti ponsel, laptop untuk melakukan berbagai keperluan, baik tugas sekolah maupun untuk bekerja. Waktu yang digunakan untuk menggunakan perangkat-perangkat tersebut bisa memakan waktu yang lama dalam posisi yang sama. Terkadang seseorang lupa beristirahat dan melakukan peregangan. Posisi saat menggunakan gadget tanpa disadari kepala dalam keadaan menunduk dalam waktu lama sehingga berisiko mengalami ‘text neck syndrome’. Sindrom’ text neck’ dapat menyerang berbagai usia dari anak-anak hingga dewasa yang memiliki kebiasaan sering menggunakan telepon seluler (ponsel) untuk membalas pesan, bermain games atau untuk pekerjaan. Baca juga : Corona Virus Sebuah studi menemukan fakta bahwa anak-anak dan remaja rerata menghabiskan 5-7 jam sehari hanya dengan membaca pesan atau chat pada ponsel mereka. Semua kegiatan ini dilakukan dalam posisi leher yang menunduk. Jika kondisi ini terus saja berlangsung maka saat anak-anak berusia sekitar 20 atau 30 tahun nanti, kemungkinan akan terjadi perubahan degeneratif pada postur tubuh mereka. Kemungkinan yang terjadi adalah postur bungkuk pada usianya yang relatif masih muda di masa mendatang Text Neck Syndrome Sindrom ‘text neck’ ini ditemukan oleh pakar chiropractic asal Amerika Serikat, dr. DL Fishman. Sindrom ‘text neck’ adalah dampak adanya tekanan yang berlebihan pada sekitar leher akibat terlalu lama menunduk atau menekuk leher ke depan saat menggunakan perangkat seluler/gadget. Studi menunjukkan posisi kepala yang menunduk atau condong ke depan saat menggunakan gadget bisa membebani ruas tulang belakang. Hal ini diperkuat studi oleh dr. Kenneth K Hansraj yang baru saja diterbitkan di National Library of Medicine. Dalam studinya dikatakan, postur tubuh atau kepala yang buruk dapat memberikan tekanan beban hingga 30 kilogram pada ruas tulang belakang bagian atas. Dalam posisi netral, kepala manusia beratnya sekitar 4,5-5 kg.  Posisi kepala menunduk sekitar 15 derajat, beban akan bertambah hingga tiga kali lipat di ruas tulang belakang bagian atas. Bila mencapai 30 derajat beban semakin bertambah hingga 18 kg. Apalagi sampai 60 derajat yang bebannya mencapai 27 kg. Dari studi tersebut, posisi kepala saat menggunakan gadget rerata 60 derajat, dan bayangkan beban yang ditanggung oleh ruas tulang belakang tersebut. Rerata orang-orang menghabiskan waktu 2-4 jam sehari untuk membaca chat di gadget. Secara kumulatif bisa mencapai 700-1400 jam per tahun. Hasil lainnya juga menunjukkan, para murid bisa menghabiskan waktu lebih dari ratusan jam dengan posisi membungkuk. “Akumulasi beban tekanan ini kemungkinan berisiko timbulkan penipisan, robekan dan proses degeneratif pada tulang belakang,” jelas Hansraj. Bila hal ini tidak dikoreksi, beban akan terus terakumulasi hingga nantinya dapat menimbulkan masalah pada ruas tulang belakang. Pada beberapa kasus, posisi leher menunduk yang berlebihan dalam waktu lama kemungkinan dapat memicu timbulnya proses degeneratif pada ruas tulang leher, seperti osteoartritis leher. Kenapa Sampai Membebani Tulang Leher? Berikut beberapa alasan mengapa menundukkan kepala dalam waktu lama berpotensi membebani ruas tulang belakang: Buruknya sudut leher saat melihat layar. Dibandingkan dengan televisi dan komputer pribadi, layar telepon selular/tablet seringnya dilihat dalam posisi mendatar di atas meja, sehingga sudut leher dan gadget lebih besar. Dengan demikian, posisi leher dan kepala cenderung maju ke depan/menunduk. Elemen layar sentuh juga cenderung membuat posisi bahu akan lebih maju ke depan. Dalam jurnal Ergonomics, posisi kepala subjek dalam penelitian yang mengirim teks via gadget akan lebih maju dibandingkan dengan saat hanya browsing atau menonton video. Karena saat menulis pesan singkat perlu melibatkan kedua tangan lebih sering dibandingkan saat menyentuh layar yang hanya memerlukan perubahan posisi bahu ke depan. Tetapi beberapa aktivitas lain seperti membaca buku atau mencuci piring, kepala juga dalam posisi miring. Namun hal ini berbeda dengan saat menggunakan gadget karena waktu yang lebih lama dan kecil kemungkinan penggunanya mengubah posisi kepalanya. Gejala Syndrome Text Neck Kerusakan akibat sindrom ini bisa dikatakan mirip dengan cedera akibat penggunaan secara berlebihan dan berulang. Gejalanya antara lain: Leher kaku: leher terasa kaku dan sulit bergerak yang sering terasa saat mengubah/menggerakkan leher Nyeri: bisa terasa di satu titik saja atau bisa tersebar di area sekitarnya, biasanya di bagian leher bawah. Nyerinya bisa terasa tumpul atau tajam seperti ditusuk pada kasus yang sudah berat. Nyeri menyebar, hingga terasa di bahu dan lengan Kelemahan otot-otot bahu (trapezius, rhomboids dan rotator bahu) Sakit kepala akibat otot-otot sub-oksipital menegang Gerakan leher, punggung atas, dan bahu terganggu Nyeri lebih terasa saat leher menunduk Nyeri atau kesemutan, kebas, yang menjalar hingga bahu, lengan, tangan, dan/atau jari tangan Lakukan Ini Supaya Terhindar Text Neck Syndrome 1.Batasi penggunaan gadget Khususnya anak-anak yang lebih sering menggunakan gadget sebagai media e-learning selama pandemi. Pembatasan ini bermanfaat agar ruas tulang belakang tidak terbebani terlalu lama. 2.Pertahankan posisi ponsel sejajar dengan mata Artinya, hindari posisi menunduk pada saat melihat, membaca bahkan mengetik pesan di ponsel/gadget. 3.Istirahat atau jeda waktu dan lakukan peregangan otot Sebaiknya, lakukan istirahat setelah 20-30 menit, bisa dengan berbaring sekitar 5-10 menit. Cara ini cukup mampu membantu mengurangi nyeri pada area leher, bahu dan punggung. Letakkan gadget selama 2-3 menit untuk memberikan kesempatan otot leher, punggung dan bahu untuk berelaksasi. Cara yang cukup mudah untuk meregangkan otot adalah dengan menundukkan dan mendongakkan kepala secara bergantian. Lalu gelengkan kepala ke arah kanan dan kiri. Jangan lupa untuk memutar bahu searah dan berlawanan arah jarum jam secara bergantian untuk meregangkan otot bahu. Eksplore Lebih Lanjut 4.Manfaatkan fitur suara pada gadget 5.Jangan memegang atau  menahan gadget yang besar atau berat di salah satu telapak tangan dalam waktu yang lama. 6. Jaga postur tubuh tetap tegak 7.Buat jadwal untuk mengecek pesan singkat atau surat elektronik (email) beberapa jam sekali dibandingkan menjawab semuanya sekaligus dalam waktu yang lama. 8.Olahraga teratur karena dapat membantu membuat otot-otot punggung dan leher menjadi lebih fleksibel dan dapat menahan tekanan beban lebih baik. Selain berisiko ‘text neck syndrome’, kondisi leher saat melihat gadget juga dapat menimbulkan beberapa hal berikut, antara lain: Radikulopati leher. Gejala nyeri seperti kesetrum, ditusuk

Apa Itu Corona Virus, Gejala Hingga Komplikasinya

corona virus

Corona merupakan golongan virus yang menginfeksi saluran pernapasan. Ada tiga gejala awal ketika virus corona sudah menginfeksi tubuh. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ciri awalnya demam, batuk, dan sesak napas atau sulit bernapas. Gejala bisa timbul setelah 2-14 hari terpapar oleh virus. Gejala yang paling awal didapatkan mulai dari demam lebih dari 37,5°C, batuk kering, sakit tenggorokan, kelemahan. Dan untuk kasus berat bisa menyebabkan gangguan pernapasan berat yang berisiko kematian. Seperti pneumonia, dan kondisi ini mirip dengan kasus infeksi virus Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pernah pandemi di banyak negara di dunia beberapa waktu lalu. Walaupun didapatkan kasus berat yang dikenal dengan gejala sindrom distres pernapasan yang terutama dialami oleh mereka dengan kondisi medis tambahan. Ataupun ada penyakit penyerta, juga pada orang lanjut usia, seperti orang dengan kondisi imun yang lemah, HIV, atau pasien dengan hipertensi dan diabetes. Cara Penularan Penularan COVID-19 dapat melalui berbagai cara, seperti tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita COVID-19. Memegang mata, mulut, atau hidung saat di luar rumah tanpa mencuci tangan terlebih dulu yang mungkin telah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita COVID-19. Hingga kontak jarak dekat dengan penderita, misalnya bersentuhan atau berjabat tangan. Demam, batuk, sesak napas adalah beberapa tanda utama yang disebabkan oleh infeksi virus corona. Namun laporan terbaru dari Cina mengatakan, beberapa pasien yang terinfeksi virus tersebut juga bisa mengalami gejala-gejala saraf (neurologis). Baca juga : Lordosis Studi baru dipublikasikan di jurnal medis JAMA Neurology (2020), pasien juga akan mengalami gangguan atau kehilangan indera perasa dan penciuman. Yang menjadi lebih jelas virus corona secara signifikan dapat menimbulkan masalah neurologis pada orang-orang tertentu. Gejala Neurologis Virus Corona Gejala terseringnya adalah sakit kepala dan nyeri pada saraf. Studi tersebut mengobservasi 214 pasien yang hasil tes COVID-19 positif. Menunjukkan pasien yang terinfeksi ini mengalami gejala neurologis sebagai efek tambahan dan juga gejala di saluran pernapasan secara independen. Dalam kelompok studi tersebut, sekitar 36% mengalami gejala neurologis. Gejala ringan ada gangguan pada indera perasa dan penghidu. Sedangkan sakit kepala dialami oleh 13%  pasien, 17% merasakan pusing, dan peradangan pada otot serta nyeri saraf dialami sekitar 19% pasien. Secara umum, bila infeksi ini memburuk, maka komplikasi neurologis juga akan semakin sering dan berat (kejang, dan stroke). Kadangkala gejala-gejala ini timbul berbarengan dengan gejala saluran napas, seperti batuk atau demam. Tetapi di lain hal, ada juga yang merasakan gejala neurologis saja tanpa adanya gejala gangguan saluran pernapasan. Beberapa pakar medis mengatakan virus corona ini akan berinteraksi dengan sistem saraf. Lihat saja SARS, MERS, yang juga mengenai sistem saraf tepi/perifer (mengenai saraf dan otot) selain itu juga ke sistem saraf pusat atau (otak). Sehingga dapat berisiko kemungkinan terjadi komplikasi neurologis yang mengancam jiwa, misalnya stroke, kejang, ensefalitis dan meningitis. Komplikasi, misalnya sakit kepala, sulit berkonsentrasi hingga stroke dan kejang, dialami oleh pasien dengan penyakit saluran pernapasan lainnya misalnya flu atau pneumonia. Hal ini bisa juga terjadi pada penyakit COVID-19. Beberapa Teori Alasannya Pakar Igor Koralnik (Kepala Bagian Infeksi Saraf dan Neurologi Global di Universitas Feinberg Northwestern, Amerika Serikat), saat seseorang mengalami infeksi primer, virus corona ini menginfeksi bagian belakang hidung (nasofaring) dan mengarah ke atas atau otak. Dua bagian tersebut sangat berdekatan. Menurut Rohan Arora (Direktur Program Stroke di salah satu rumah sakit di Queens, New York) menjelaskan, virus corona ini dapat menyebar ke dalam tubuh baik melalui darah atau jalur lain yang membuat sel-sel otak dapat berkomunikasi satu dengan lainnya. Mekanisme lainnya yang berpotensi menimbulkan gejala neurologis ini adalah infeksi sekunder, saat seseorang saluran napasnya terinfeksi maka kemungkinan dapat memicu masalah neurologis. “Jika seseorang mengalami sesak napas dan tidak mendapatkan oksigen yang cukup baik di tubuh dan otaknya, maka fungsi mental juga akan terkena dampaknya.” Pneumonia dan sindrom distres respiratorik akut (acute respiratory distress syndrome/ARDS) merupakan komplikasi infeksi virus corona terberat yang tampak pada pasien COVID-19 mengakibatkan kegagalan fungsi organ secara multipel, yang berisiko merusak otak. Otak inilah yang akan menderita bila terjadi kekurangan oksigen. Gejala-gejala neurologis lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki masalah kesehatan kronik lainnya atau memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi atau penyakit jantung. COVID-19 ini juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya sehingga dapat memicu gangguan kesadaran, kejang atau bahkan stroke. Berkaitan dengan Bekuan Darah Data sebelumnya dari Cina dan Singapura, bekuan darah merupakan salah satu kondisi komplikasi infeksi corona yang mengancam jiwa, termasuk stroke. Penderitanya bertambah di beberapa rumah sakit di Amerika Serikat dengan fenomena ini. Karena ini adalah masalah neurologis, beberapa pakar medis belum mengetahui dengan pasti penyebab utama terjadinya stroke pada pasien COVID-19. Salah satunya kemungkinan dipicu oleh dampak infeksi virus corona ini terhadap sistem pembekuan darah tubuh. Sementara yang lain mungkin disebabkan oleh keparahan penyakit, karena penyakit kritis dan infeksi parah memang berperan pada seseorang untuk berisiko terkena stroke. Usia dan penyakit penyerta sebelumnya juga berperan penting dalam hal ini yang kemungkinan meningkatkan risiko stroke. Virus Corona Bisa Menginfeksi Mata Mata menjadi salah satu sumber penularan COVID-19. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan di Cina, walau angka kejadian penularan (transmisi) sangat rendah, virus corona dapat menembus permukaan mata, karena virus ini mampu menembus lapisan membran mukosa, seperti pada hidung dan mulut. Jika Anda sakit, Anda bisa menularkan infeksi ini ke mata melalui kontak fisik, misalnya saat menutup mulut saat bersin dengan tangan kemudian tangan mengusap mata. Itu sebabnya sangat dianjurkan untuk mencuci tangan sesering mungkin dan tidak menyentuh wajah. Agar Tak Tertular Virus corona terbungkus oleh lapisan lemak, nah sabun dapat melarutkan virus ini seperti saat mencuci piring dengan sabun agar lapisan minyaknya hilang. Ketika mencuci tangan dengan sabun dan air hangat (jika memungkinkan), anda tidak hanya menurunkan peluang penularan, tetapi juga bisa membunuh virus. Lakukan ini saat menggunakan masker: Jangan menyentuh masker saat menggunakannya. Jika tak sengaja menyentuhnya, cuci tangan dan ganti masker karena mungkin bagian luar sudah terkontaminasi. Jika ingin mengubah posisi masker, cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh masker kain. Gunakan masker untuk sekali pakai, saat melepas masker jangan pernah menyentuh bagian depan, dan sentuhlah bagian belakang atau dalam masker. Setelah selesai digunakan, lepaskan masker dan cuci