Spondilolistesis Adalah Penyebab Nyeri Tulang Belakang

Bergesernya ruas tulang belakang spondilolistesis adalah salah satu penyebab timbulnya nyeri punggung bawah atau pinggang. Spondilolistesis terjadi saat sebagian ruas tulang belakang mengalami pergeseran dari titik semula. Kata spondilolistesis ini terdiri dari kata ‘spondylo’ artinya tulang belakang dan ‘listhesis’ yang artinya bergeser. Spondilolistesis berasal dari bahasa Yunani. Jadi spondilolistesis adalah bergesernya korpus vertebra (biasanya ke arah depan) dari tulang belakang di bawahnya. Pergeseran tulang belakang ini biasanya terjadi di area bertemunya tulang lumbar (pinggang) dan sacrum atau lumbosacral yaitu tulang belakang L4-L5 dan/atau L3-L4 di atas ruas tulang S1. Seringnya di area tersebut karena beban aktivitas paling besar ada di persendian ini. Namun pergeseran ini dapat terjadi di ruas tulang belakang mana saja, bahkan dapat terjadi sekaligus pada dua atau tiga ruas dalam waktu yang bersamaan. Ruas tulang leher juga kadangkala tidak luput dari pergeseran ini. Kenali Gejala Bergesernya Tulang Belakang Bergesernya tulang belakang ini menimbulkan keluhan utama berupa: Nyeri punggung bawah atau pinggang hingga ke kedua paha belakang atau nyeri bokong Kelemahan otot tungkai bawah atau kaki. Punggung terasa kaku. Nyeri saat membungkuk. Otot hamstring terasa kaku. Kaki terasa kebas/ baal atau kesemutan. Tidak dapat duduk/ berdiri dalam waktu lama dan berjalan jauh. Keluhan ini terasa lebih ringan atau reda saat beristirahat. Keluhan ini bila dibiarkan dapat mengganggu kenyamanan Anda dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas harian Anda. Kebanyakan kasus spondilolistesis tidak menimbulkan gejala. Jika Anda merasakan nyeri yang menjalar hingga kaki kemungkinan bisa karena adanya kompresi atau jepitan saraf di tulang belakang akibat bergesernya tulang belakang. Penyebab Spondilolistesis Itu Apa? Akibat terlalu bekerja berat merupakan salah satu penyebab utama timbulnya spondilolistesis pada atlet muda misalnya gymnastic, angkat besi, pemain bola. Seiring dengan proses penuaan, tulang belakang dapat mengalami degenerasi sehingga tulang belakang menipis dan rentan bergeser. Jenis spondilolistesis: Kongenital atau genetik, bila ada kelainan bawaan bentuk tulang belakang sejak bayi, misalnya tulang belakang yang tidak sejajar dapat meningkatkan risiko mengalami pergeseran di kemudian hari. Ismus yang terjadi akibat spondilolisis atau adanya fraktur atau keretakan pada tulang belakang. Degeneratif adalah jenis spondilolistesis yang paling sering terjadi. Jenis ini penyebabnya adalah proses penuaan atau usia karena kadar air bantalan sendi akan semakin berkurang atau menurun. Traumatik, akibat cedera. Patologis bila bergesernya tulang belakang oleh adanya tumor atau kerapuhan tulang (osteoporosis). Pascaoperasi tertentu sehingga menyebabkan pergeseran tulang belakang. Pemeriksaan yang Dilakukan Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang akan dibantu dengan hasil pemeriksaan radiologis seperti MRI. MRI dapat membantu dokter menentukan penyebabnya jika ada kerusakan pada bantalan tulang antarruas tulang belakang atau bergesernya tulang belakang ini menjepit atau menekan saraf di sekitarnya sehingga menyebabkan syaraf kejepit yang menjadi penyebab nyeri yang Anda rasakan. Pengobatan Spondilolistesis Pengobatan atau penanganan kondisi ini bergantung pada derajat atau berat ringannya pergeseran, gejala, usia dan kesehatan Anda secara keseluruhan. Penanganannya dapat meliputi: Istirahat tidak melakukan aktivitas atau olahraga berat. Obat anti nyeri anti inflamasi yang telah diresepkan dokter. Injeksi steroid. Program terapi fisik atau rehabilitasi medik. Latihan fisik ini dapat membantu memperkuat otot-otot di perut dan punggung bawah/pinggang. Latihan secara rutin setiap hari dapat juga membantu meredakan nyerinya setelah beberapa minggu. Korset yang dapat membantu tulang belakang lebih stabil dan dapat membatasi gerakan yang berlebihan agar tidak memperburuk pergeseran tulang. Korset yang sesuai, sebaiknya setelah melakukan konsultasi dengan dokter. Bila keluhan Anda masih berlangsung, kemungkinan memerlukan penanganan lebih lanjut yang bertujuan untuk menghilangkan nyeri akibat syaraf kejepit dan menstabilkan ruas tulang belakang sehingga aktivitas Anda menjadi nyaman kembali. Teknologi endoskopi PELD dapat menjadi salah satu opsi untuk menangani syaraf kejepit. Percutaneous endoscopic lumbar discectomy atau PELD ini dapat dilakukan tanpa rawat inap dan proses pemulihannya lebih cepat karena hanya memerlukan sayatan sekitar 7 mm dan dilakukan dengan bius lokal saja. Program latihan fisik atau rehabilitasi medik akan disusun oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (SpKFR) dan akan disesuaikan dengan kondisi pasien masing-masing. Untuk membantu meredakan nyeri, dokter rehab medik kemungkinan akan menganjurkan untuk beberapa hal berikut : Kompres hangat. Kompres hangat dapat membantu memperbaiki aliran darah ke tempat yang terasa nyeri sehingga dapat membantu meredakan nyeri. Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) yang akan menstimulasi otot-otot dengan arus listrik sehingga dapat memberikan manfaat dalam kekakuan otot. Ultrasound, dengan alat ini dapat membantu meningkatkan atau memperbaiki aliran darah, mengurangi kekakuan otot, pembengkakan dan nyeri. Alat ini bekerja dengan mengirimkan gelombang suara ke dalam jaringan otot sehingga memperbaiki sirkulasi darah dan membantu proses pemulihan. Cegah Spondilolistesis Terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya spondilolistesis, beberapa hal tersebut antara lain adalah ; Lakukan olahraga secara teratur untuk membantu memperkuat otot-otot punggung dan perut. Menjaga berat badan tetap seimbang karena berat yang berlebihan dapat membebani tulang belakang. Agar tulang tetap sehat dan kuat, makan makanan sehat yang mengandung keragaman nutrisi dan vitamin untuk tubuh.
Saraf Terjepit Di Pinggang, Beda Gejala Kejepit Di Punggung Atau Leher

Saraf terjepit yang tidak segera tertangani dapat menyebabkan beragam gejala, gejala di pinggang berbeda dengan di leher, bergantung lokasinya. Susunan tulang belakang (vertebra) membentuk suatu rangkaian dari leher sampai ke tulang ekor. Di antara ruas tulang belakang satu dengan lainnya, terdapat bantalan tulang atau diskus intervertebralis. Diskus intervertebralis merupakan suatu jaringan yang terdiri dari selaput pembungkus yang kuat yang disebut annulus fibrosus dan isinya (intinya) adalah jaringan berupa jelly yang lunak yang disebut nukleus pulposus. Jelly tersebut berfungsi sebagai shock absorber atau peredam kejut. Nukleus pulposus atau bantalan tulang ini dapat pecah atau robek sehingga menonjol ke area terdapatnya cabang-cabang saraf sehingga saraf tersebut kemungkinan menjadi tertekan atau terjepit. Kata lain kondisi ini adalah herniasi nukleus pulposus (HNP) atau saraf terjepit. Penyebab Syaraf Terjepit? Saraf terjepit atau HNP ini dapat karena beberapa faktor, misalnya adanya faktor degenerasi atau proses penuaan, cedera baik akibat olahraga atau kecelakaan, sering angkat beban berat dan lainnya. Saraf terjepit bisa terjadi di leher, pinggang, dan punggung (walau lebih jarang). Walaupun gejalanya mirip, namun secara umumnya berbeda karena anatomi sarafnya pun berbebda. Yuk kenali gejalanya gejala saraf terjepit baik di leher, pinggang hingga punggung dengan baik. Saraf Terjepit Di Leher Saraf terjepit di leher paling sering mengenai ruas C6-C7 selanjutnya ruas C5-6 karena ruas ini merupakan bagian yang paling sering bergerak, berbeda dari pinggang. Saraf terjepit di leher biasanya nyeri akan terasa pada area leher, bahu, belikat, lengan hingga jari-jari tangan jarang hingga ke pinggang. Jari-jari tangan yang biasanya kena dampak saraf kejepit leher adalah ibu jari dan jari telunjuk. Syaraf mana yang kejepit di leher, juga akan menimbulkan nyeri yang berbeda jalurnya. C4-C5, akan menyebabkan nyeri bahu, lengan atas. C5-C6 menyebabkan kelemahan otot, baal dan kesemutan, dan nyeri yang menjalar hingga ke sisi ibu jari tangan. C6-C7 menyebabkan baal, kesemutan, nyeri dari lengan atas hingga jari tengah. Saat menekan saraf C7-T1 menyebabkan gangguan fungsi menggenggam, serta baal dan kesemutan hingga jari kelingking. Syaraf Terjepit Di Punggung Syaraf kejepit di area toraks atau punggung atas, dampaknya bisa mencapai ke bawah atau kaki, dan khasnya terasa pada kedua kaki. Saraf terjepit di punggung atas ini nyerinya menjalar ke dada dan nyeri ini biasanya timbul berbarengan dengan nyeri yang terasa di punggung atas bahkan hingga pinggang. Nyeri di punggung atas akan memburuk saat batuk, bersin, atau mengejan saat buang air besar. Namun nyeri yang terasa di dada dapat memburuk saat meregangkan atau memutar tubuh atau membungkuk. Nyeri terasa tajam atau seperti tertusuk benda. Syaraf kejepit punggung tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga kadang menimbulkan rasa seperti ‘terikat’ di bagian perut atau di area pusar dan perut bagian bawah. Dapat juga muncul gejala baal dan mengalami kesulitan saat melangkahkan kaki. Saraf Terjepit Di Pinggang Nyeri akan terasa hingga bokong hingga ke bawah, paha, atas lutut, sampai ke tulang kering, mata kaki dan ibu jari kaki. Bergantung syaraf mana yang terjepit. Bila L4-L5 yang mengalami jepitan, maka gejalanya akan timbul rasa baal dan kesemutan yang menjalar hingga bagian sisi betis. Bila L5-S1, nyeri akan terasa hingga ke bawah mata kaki dan ibu jari kaki. Syaraf terjepit pinggang memiliki karakteristik nyeri yang khas, yaitu timbulnya hanya di satu sisi tubuh. Namun bila kondisi jepitan ini terabaikan, lambat laun nanti dapat menjadi terasa di kedua sisi tubuh. Selain berdasarkan gejala-gejala tersebut, cara terbaik untuk mengetahui ada tidaknya HNP dan di area mana, adalah dengan melakukan pemeriksaan penunjang radiologis yaitu MRI. Tuntaskan Saraf Terjepit Di Pinggang Tanpa Operasi Ketakutan masyarakat akan kemungkinan terjadinya kelumpuhan pasca operasi saraf terjepit sering muncul dalam perbincarangan penderita saraf terjepit saat berkonsultasi dengan dokter. Kini teknologi pun semakin berkembang, dan untuk saraf terjepit sudah dapat lenyap tanpa operasi yaitu dengan teknologi endoskopi. Endoskopi leher (percutaneous endoscopic cervical discectomy/PECD) untuk saraf terjepit di leher. Sedangkan endoskopi lumbar atau pinggang (percutaneous endoscopic lumbar discectomy/PELD) untuk membebaskan saraf terjepit di area pinggang. Teknologi endoskopi ini sudah terdapat di Indonesia, yaitu di Lamina Pain and Spine Center.
Pengobatan CTS Tanpa Operasi Adalah Dengan Hidrodiseksi

Hidrodiseksi pada CTS adalah solusi pengobatan tanpa operasi tuntaskan nyeri yang terasa akibat jepitan pada saraf medianus pergelangan tangan. Pada pergelangan tangan terdapat rongga atau terowongan yang lewat saraf medianus. Saraf ini memanjang hingga ke ujung jari-jari tangan. Selain saraf dalam terowongan tersebut juga terdapat tendon yang bekerja sama menggerakkan jari-jari tangan. Saraf pada pergelangan tangan ini bisa terjepit. Terjepitnya syaraf dapat terjadi akibat pekerjaan yang mengharuskan melakukan gerakan menekuk pergelangan tangan yang berulang-ulang dan dalam waktu lama, misalnya mengetik, menjahit, pemain musik, montir, koki, dan mencuci baju dengan tangan. Selain itu bisa juga karena masalah yang lebih serius, misalnya penumpukan cairan, pembengkakan tendon, otot, atau tumor yang menjepit saraf medianus. Jepitan saraf pada pergelangan tangan ini nama lainnya adalah carpal tunnel syndrome (CTS). Terdapat banyak faktor fisik lain pada tangan yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya CTS, beberapa diantaranya, gerakan berulang, kekuatan, postur, getaran, lingkungan, dan tekanan. Faktor risiko untuk terjadinya CTS meliputi jenis kelamin (perempuan), obesitas, kehamilan, dan penyakit lain seperti diabetes, hipotiroidisme, rheumatoid arthritis Pada tangan, CTS ini akan menimbulkan beberapa gejala, seperti: Kesemutan Baal, Nyeri terutama pada area jempol, telunjuk, jari tengah dan setengah sisi jari manis. Memburuk setelah bekerja misalnya mencuci piring, memotong sayuran, mengetik dan lain sebagainya Bila kondisi ini teracuhkan, dapat memburuk bahkan Anda akan kesulitan menggenggam sesuatu, nyeri dan kram pada jari tangan. Ibu jari juga tidak bisa berfungsi dengan baik. Hidrodiseksi Adalah Pengobatan CTS Tanpa Operasi CTS yang sudah sangat mengganggu aktivitas harian Anda, dapat teratasi dengan pengobatan injeksi tanpa tindakan bedah atau operasi untuk membebaskan jepitan pada saraf medianus. Bila jepitan sudah tidak ada lagi, maka tanda-tanda seperti baal, mati rasa atau nyeri yang tak tertahankan, dapat tuntas. Steroid diberikan ke dalam terowongan karpal dapat membantu meredakan peradangan dan bengkak akibat jepitan pada saraf medianus. Selain injeksi dengan steroid, kini terdapat teknik pengobatan CTS tanpa operasi yakni metode hidrodiseksi saraf. Hidrodiseksi merupakan terapi tanpa rawat inap dan dipandu dengan USG agar dapat menemukan lokasi saraf yang tertekan. Melalui USG, area jepitan saraf dapat tervisualisasi dengan baik dan kemudian dapat memulai prosedur hidrodiseksi ini. Cairan tertentu akan terinjeksi ke area jepitan saraf. Cairan ini akan membentuk semacam bantalan sehingga lambat laun akan membebaskan saraf dari apa pun yang menekannya atau menjepitnya. Pasca-hidrodiseksi ini, Anda dapat kembali melakukan aktivitas seperti biasa dalam waktu dua hari. Injeksi harus pada sekitar saraf (perineural) bukan pada saraf (intraneural) untuk melepaskan perlekatan atau jepitan sekitarnya. Cairan suntikkan bisa berupa cairan garam fisiologis, obat antiradang dan bisa juga zat yang merangsang perbaikan jaringan saraf. Hidrodiseksi ini bisa menjadi pilihan alternatif lain dari operasi pada kasus CTS. Manfaat Tindakan Hidrodiseksi Dapat menuntaskan nyeri secara signifikan dan jangka panjang Perbaikan fungsi dan perbaikan lingkup gerak area pergelangan tangan Mengurangi konsumsi obat antinyeri Komplikasi minimal Proses pemulihan cepat Kondisi lain yang dapat teratasi dengan hidrodiseksi saraf, adalah bila ada jepitan saraf area siku, belikat, dan ibu jari. Jangan biarkan nyeri akibat CTS ini mengusik kerja harian Anda. Luangkan waktu untuk berkonsultasi dengan tim dokter Lamina Pain and Spine Center karena kami tahu solusi terbaik untuk nyeri Anda.
Terapi Sakit Pinggang Karena Syaraf Terjepit

Sakit pinggang karena syaraf kejepit menimbulkan gejala yang khas, dan bisa mengakibatkan kelumpuhan bila tidak mendapatkan terapi yang tepat. Pinggang atau punggung bawah menjadi lokasi tersering munculnya nyeri. Mengingat area ini menjadi penopang berat badan, terutama saat beraktivitas harian, baik duduk maupun berdiri hingga berjalan kaki sekalipun. Sakit Pinggang Apa Penyebabnya? Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang nyeri area punggung bawah ini, Anda perlu tahu penyusun struktur tulang belakang adalah tiga struktur yang kompleks yaitu bantalan tulang dan dua sendi facet di setiap level. Jadi jika salah satu elemen ini mengalami perubahan, maka dua elemen lainnya akan terkena dampak. Contohnya begini. Ketika Anda dalam posisi santai dan berdiri tegak, tulang belakang dengan posisinya yang saling bertumpuk satu sama lain. Namun bila ada perubahan atau gangguan dari salah satu struktur penyusunnya, maka otot-otot sekitarnya akan berkontraksi dan akan menjadi semacam bebat yang akan melindungi area tersebut bila terjadi ketidakstabilan pada area itu. Bila hal ini berlangsung terus tanpa penanganan, kemungkinan dapat menyebabkan otot kontraksi berkepanjangan sehingga suatu saat bisa menimbulkan nyeri, tonus otot juga menurun dan akhirnya atrofi. Kenali Tipe Nyeri atau Sakit Pinggang Hingga Terapi Gejala atau tanda utama adanya masalah pada tulang belakang adalah sakit pinggang yang selanjutnya membutuhkan terapi medikamentosa. Nyeri merupakan sinyal paling umum yang terkirim tubuh untuk memberitahukan otak tentang kemungkinan adanya cedera atau masalah/kerusakan pada tulang belakang. Terdapat beberapa klasifikasi nyeri dalam dunia medis, antara lain : 1. Nyeri lokal atau hanya di titik tertentu Penyebab nyeri ini biasanya iritasi pada ujung-ujung saraf pada area yang bermasalah. Nyeri ini biasanya stabil, terus menerus terutama pada saat menggerakkan area yang bermasalah. Nyeri lokal ini berkaitan dengan nyeri tekan dan mudah menemukan lokasi nyeri relatif mudah dan dokter lebih mudah mendiagnosis. Misalnya adanya tumor atau tulang keropos akibat osteoporosis yang terutama mengenai tulang belakang. Bila ada masalah pada bantalan tulang antara ruas tulang belakang juga menjadi penyebab nyeri lokal saat dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan menekan area ligamentum longitudinal posterior. Penyebab Mekanis Biasanya sebagian besar nyeri pada area tulang belakang penyebabnya adalah mekanis, misalnya penonjolan bantalan sendi atau hernia nukleus pulposus (HNP), baik yang terjadi pada area leher maupun punggung bawah atau pinggang karena dua area ini lebih banyak bergerak sehingga lebih rentan mengalami cedera. HNP ini adalah syaraf kejepit. Karakter nyeri yang bersifat lokal ini seringkali membantu dalam menemukan diagnosis. Misalnya nyeri akibat adanya masalah otot, ligamen atau syaraf kejepit yang akan hilang bila Anda berbaring atau beristirahat. Nyeri saraf terjepit di pinggang terasa memburuk bila Anda duduk dan merasa baikan saat berdiri atau berjalan. Namun sebaliknya, nyeri akibat menyempitnya ruas tulang belakang (stenosis spinal) terjadi justru saat berjalan. Nyeri mereda saat berbaring atau duduk. Terkadang, dengan adanya kompresi atau penekanan saraf tulang belakang yang mengakibatkan nyeri, penderita seringkali memilih tidur dengan posisi duduk. Walau nyeri hilang saat berbaring, nyeri ini dapat muncul saat berubah posisi/membalikkan badan atau saat mau bangun. 2. Nyeri alih (referal), radikuler dan funikuler Nyeri referal atau nyeri yang menjalar dari area lain yang dapat berasal dari organ atau jaringan yang kemudian pindah ke suatu area pada permukaan tubuh atau tempat lainnya yang tidak tepat dengan lokasi nyeri sebenarnya. Misalnya ada masalah area tulang leher, seringkali nyerinya menjalar hingga ke skapula (tulang belikat) atau lengan. Penjalaran nyeri dari punggung bawah atau pinggang, bisa terasa pada area bokong atau paha belakang, dan jarang sampai lutut. Sedangkan nyeri dari pinggang atas juga seringkali menjalar sampai pangkal paha, dan paha bagian depan. Sakit pinggang akibat organ dalam biasanya tidak memburuk dengan perubahan posisi seperti nyeri punggung bawah akibat syaraf kejepit. Nyeri radikuler. Cedera pada akar saraf dapat menimbulkan nyeri yang bersifat radikuler atau funikuler. Nyeri radikuler merupakan gejala utama yang muncul akibat adanya kompresi akar saraf (syaraf kejepit). Tipe Nyeri Radikuler Adalah Akar saraf sebenarnya tidak peka terhadap nyeri. Namun dengan adanya kompresi yang berlangsung kronis dapat memicu timbulnya edema (pembengkakan) dan juga peradangan (inflamasi) serta demielinisasi sehingga saraf akan menjadi peka terhadap kompresi. Perburukan nyeri saat tekanan semakin meningkat misalnya saat batuk, bersin dan menegang. Walau hampir mirip, penyebaran nyeri radikuler tidak sama sebenarnya dengan nyeri alih. Nyeri radikuler nyeri tajam, menusuk atau seperti terbakar. Kompresi sepanjang tulang belakang menyebabkan nyeri funikuler. Biasanya nyeri ini lebih terasa saat meregangkan tulang belakang misalnya fleksi leher atau mengangkat dan meluruskan kaki. 3. Nyeri otot. Nyeri ini terjadi saat otot-otot tulang belakang menegang akibat adanya cedera atau adanya perubahan tertentu pada tulang belakang. Ketegangan otot terus menerus dapat menimbulkan nyeri kronis yang biasanya terasa pada area sisi tulang belakang. Nyeri tekan pada otot-otot yang nyeri merupakan salah satu metode penegakan diagnosis akibat adanya ketegangan otot. Titik pemicu ini adalah penyebab terjadinya sindrom nyeri otot pada leher dan punggung tanpa adanya kelainan struktur tulang belakang. Terapi Sakit Pinggang Akibat Syaraf Kejepit Bila terdapat bantalan sendi yang bocor atau menonjol hingga menjepit saraf di area lumbar, dapat menimbulkan nyeri hingga ke kaki. Tidak hanya nyeri atau sakit pinggang, syaraf kejepit di area lumbar dapat menimbulkan rasa kebas, kesemutan hingga ke kaki, bahkan terancam lumpuh bila tidak mendapatkan penanganan yang sesuai. Pemeriksaan penunjang radiologis, seperti MRI, dapat memastikan diagnosis syaraf kejepit kemudian juga dengan pemeriksaan fisik secara langsung oleh dokter. PELD Mengatasi Syaraf Kejepit Kondisi syaraf kejepit bila tidak mendapatkan penanganan dapat melumpuhkan aktivitas. Untuk penanganannya yang terkini adalah dengan teknologi endoskopi PELD atau percutaneous endoscopic lumbar discectomy. Indonesia sudah dapat melakukan PELD yang salah satunya adalah Lamina Pain and Spine Center. Endoskopi PELD ini tanpa rawat inap dan sesudahnya Anda bisa langsung beraktivitas. Namun ingat, ada beberapa pantangan pasca-PELD, misalnya tidak boleh membungkuk, tidak boleh mengangkat beban berat, dan lainnya. Video bagaimana caranya mengatasi sakit pinggang berikut tipsnya
Pergelangan Tangan Sakit, Ini Beberapa Penyebab Dan Terapinya

Pergelangan tangan sakit merupakan kondisi medis pada pergelangan tangan akibat cedera atau penyakit tertentu. Pergelangan tangan yang terasa sakit juga terjadi akibat tekanan dari gerakan berulang pergelangan tangan, seperti pada pemain bulu tangkis atau pekerjaan lainnya. Sakit pergelangan tangan yang sakit dapat disebabkan banyak faktor, oleh karenanya memerlukan pemeriksaan seksama dokter untuk menentukan penyebab pasti nyeri. Dari anamnesis klinis tersebut, dokter selanjutnya dapat menentukan jenis pengobatan yang tepat untuk mengatasi nyeri pada pergelangan tangan pasiennya. Sakit Pergelangan Tangan, Ini Gejalanya Rasa nyeri pada pergelangan tangan dapat berupa nyeri seperti tertarik atau sakit yang tajam seperti tertusuk. Rasa sakit sifatnya bisa sementara atau berkepanjangan. Tingkat nyeri tiap orang juga berbeda, bisa ringan atau hanya pada saat menekuk pergelangan tangan, atau terasa sangat sakit yang menyebabkan penderitanya tidak dapat memegang benda. Tergantung dari penyebabnya, beberapa faktor dapat menyertai rasa sakit pada pergelangan tangan, seperti: Pegal, kesemutan, hingga mati rasa pada pergelangan tangan Jari-jari tangan mengalami pembengkakan Rasa kaku pergelangan tangan atau pangkal jari Pergelangan tangan mengalami kemerahan, dengan pembengkakan hingga memar Muncul pembengkakan pada pergelangan tangan Pergelangan tangan terasa hangat Demam Kapan Harus Ke Dokter? Tidak semua pasien dengan pergelangan tangan yang nyeri harus menemui dokter. Umumnya nyeri pada pergelangan tangan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 2 minggu. Tetapi, ketika nyeri sudah lebih dari 2 minggu namun tidak adaperubahan ke arah yang lebih baik, Anda sebaiknya ke dokter. Berikut ini beberapa kondisi yang juga membutuhkan konsultasi dengan dokter lebih lanjut, antara lain; Saat nyeri pergelangan tangan mengganggu aktivitas harian Anda Nyeri bertambah parah dari waktu ke waktu tanpa perbaikan Rasa kesemutan atau mati rasa pada tangan hingga pergelangan tangan yang tidak kunjung hilang atau lebih dari 2 minggu Sakit pada pergelangan tangan membuat Anda linglung atau pusing Kondisi tangan yang sakit berubah warna menjadi pucat hingga kebiruan Dari beberapa literatur medis yang ada penyebab sakit pergelangan tangan umumnya adalah osteoarthritis dan rheumatoid arthritis. Kedua penyakit ini menimbulkan gejala berkepanjangan. Periksakan kondisi Anda secara lebih baik ke dokter untuk dilakukan evaluasi dan terapi yang adekuat. Baca juga : Syaraf kejepit di leher Penyebabnya Apa Saja? Terdapat beberapa macam faktor yang menyebabkan pergelangan tangan sakit, diantaranya: Cedera pergelangan tangan bisa menyebabkan sakit yang sangat mengganggu aktivitas harian. Cedera pergelangan tangan dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya; Adanya benturan, keseleo, retak, atau patah terutama karena Anda terjatuh dengan posisi salah dan menjadikan tangan sebagai tumpuan. Aktivitas berulang dapat menyebabkan pergelangan tangan sakit. Aktivitas berulang dimaskud meliputi bermain tenis, menyetir, atau memainkan alat musik seperti biola. Penyakit tertentu. Selain cedera, ada beberapa penyakit yang dapat menyebabkan nyeri pergelangan tangan, antara lain: Rheumatoid arthritis. Rheumatoid arthritis atau dikenal sebagai (OA) disebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh. Penyakit radang sendi OA dapat terjadi pada satu atau kedua pergelangan tangan. Osteoarthritis. Osteoarthritis terjadi saat tulang rawan menipis. Orang yang pernah mengalami cedera pergelangan tangan lebih berisiko mengalami osteoarthritis. Carpal tunnel syndrome. Carpal tunnel syndrome terjadi akibat tekanan saraf pergelangan tangan. Rasa sakit akan bertambah berat saat pergelangan tangan ditekuk. Tendonitis. Tendonitis umumnya menyebabkan jaringan yang mengikat tulang dan otot (tendon) mengalami pembengkakan yang selanjutnya memicu rasa sakit. Kista ganglion. Kondisi ini umumnya terjadi pada sisi bagian atas pergelangan tangan. Rasa sakitnya kista ganglion meningkat ketika penderita melakukan aktivitas. Penyakit Kienbock. Kondisi ini menyebabkan kerusakan berkelanjutan dari tulang-tulang kecil di pergelangan tangan. Faktor Risiko Sakit pada pergelangan tangan dapat menimpa siapa saja. Setidaknya, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko sakit pada pergelangan tangan, antara lain: Sering melakukan olahraga yang mengakibatkan tekanan berulang pada pergelangan tangan, misalnya, golf, gimnastik, bowling dan sepak bola Melakukan aktivitas yang membutuhkan pengulangan pergerakan tangan, seperti menggunting rambut hingga menganyam Orang dengan riwayat penyakit diabetes, kegemukan, gondok, atau kehamilan Diagnosis Sakit Pergelangan Tangan Tahap awal pemeriksaan, dokter Anda menanyakan gejala, riwayat kesehatan, riwayat kecelakaan atau cedera sebelumnya. Selanjutnya, dokter mungkin melakukan pemeriksaan fisik pergelangan tangan penderita. Dokter memeriksa pergelangan tangan yang terlihat bengkak, atau bentuk yang tidak normal, atau saat dokter menyentuh area itu terasa hangat. Pasien kemungkinan akan diminta dokter menggerakkan pergelangan tangannya untuk melihat apakah ada penurunan kemampuan atau kekuatan tangan. Dokter kemungkinan meminta pasien menjalani pemeriksaan penunjang dengan beberapa metode berikut: Tes radiologi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan beberapa metode diantaranya Rontgen, CT scan, MRI, atau USG. Pemeriksaaan radiologi bertujuan mendapatkan gambaran kondisi tulang belakang dan jaringan sekitarnya secara detail, sehingga dokter mengetahui kondisi pasien secara lebih pasti. Artroskopi. Jika pemeriksaan radiologi belum dapat menentukan diagnosis. Pada prosedur ini, dokter menggunakan alat khusus bernama artroskop yang masuk ke dalam pergelangan tangan pasien. Alat ini berbentuk tabung kecil yang memiliki kamera mikro, melalui sayatan pada kulit pasien. Tes saraf. Dengan bantuan elektromiografi, terutama saat nyeri pergelangan tangan kemungkinan adalah carpal tunnel syndrome (CTS). Elektromiografi untuk memeriksa sinyal listrik oleh otot dan untuk mengetahui fungsi saraf pasien. Terapi Rasa Sakit pada Pergelangan Tangan Tidak semua pergelangan tangan yang nyeri membutuhkan pengobatan khusus. Pengobatan nyeri pada pergelangan tangan dapat berupa pengobatan mandiri, obat-obatan, serta operasi tergantung penyebab dan tingkat keparahan gejala. Berikut ini pengobatan untuk nyeri pergelangan tangan: Rehabilitasi mandiri Cedera pada pergelangan tangan ringan dapat sembuh sendiri, atau cukup kompres dengan es, bebat dengan perban elastis. Terapi Obat Dokter dapat memberikan obat pereda nyeri, seperti ibuprofen atau parasetamol, untuk mengurangi rasa nyeri pada pergelangan tangan pasien. Bidai Dokter mungkin melakukan pemasangan bidai atau gips, saat terjadi retak atau patah pada pergelangan tangan. Penggunaan bidai bertujuan sebagai penyangga tulang yang patah agar tidak bergerak. Operasi Jika nyeri pergelangan tangan akibat tulang retak, carpal tunnel syndrome, dan ketika tendon atau ligamen robek. Lamina pain and spine center menggunakan teknologi minimally invasive untuk mengatasi kondisi nyeri pergelangan tangan pasien. Pencegahan Pencegahan sakit pergelangan tangan sesuai dengan penyebab utamanya. Asupan kalsium, agar tulang lebih kuat dapat mencegah terjadinya nyeri pada pergelangan tangan. Orang dewasa umumnya memerlukan 1000-1200 mg kalsium per hari, sedangkan anak-anak membutuhkan sekitar 1300 mg kalsium per hari. Asupan kalsium bersumber dari susu, biji-bijian dan lainnya. Ada beberapa langkah untuk membantu mencegah nyeri pergelangan tangan diantaranya: Lebih hati-hati dalam beraktivitas yang menggunakan tangan secara berulang Gunakan alat pelindung pergelangan tangan saat melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera.
Leher Kaku Dan Sakit Apa Penyebab Dan Cara Mengatasinya?

Leher kaku dan sakit seringkali membuat orang yang mengalaminya sulit menengok. Kadang perlu memutar tubuh secara menyeluruh saat menengok ke salah satu sisi. Leher adalah salah satu bagian tubuh yang paling banyak bergerak selama melakukan aktivitas harian. Pergerakan leher sepanjang hari ini tanpa sadar dapat memunculkan risiko cedera. Adanya keterbatasan pada stabilitas tersebut dengan ditambah dengan padatnya aktivitas Anda membuat risiko cedera yang akan dialami leher semakin besar. Leher kaku dan sakit biasanya berakibat munculnya rasa nyeri dan sulit menggerakkan leher, terutama saat mencoba memutar leher atau menengok ke sisi kiri atau kanan. Dan kadang dengan sakit kepala, nyeri leher, nyeri pada bahu dan/atau nyeri pada lengan. Biasanya kondisi ini akan mereda dengan sendiri. Namun bagaimana mengelola gejala yang dirasakan atau leher kaku dapat berefek pada tingkat nyeri, lamanya penyembuhan, dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Mungkin saja penyebabnya adalah berupa ketegangan otot, atau kondisi lain yang lebih serius, seperti kerusakan saraf atau cedera tulang belakang hingga yang lebih ekstrem kemungkinan adanya saraf kejepit leher. Leher juga bekerja sebagai penghubung antar beberapa organ tubuh. Jadi, leher kaku dan sakit di sebelah kanan bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya, termasuk bahu, lengan, punggung, rahang, atau kepala. Gejala yang timbul biasanya berupa ketegangan di area belakang leher bagian atas, punggung bagian atas, rasanya tegang, kadang kesemutan, atau bahkan mati rasa. Jadi, penyebab leher kaku dan sakit ini perlu pasti, agar dokter juga dapat menyusun rencana penanganannya sesuai dengan kondisi Anda masing-masing. Penyebabnya Apa? Berikut beberapa penyebab yang perlu Anda ketahui: Ketegangan otot, akibat beragam aktivitas yang membatasi pergerakan kepala dalam waktu cukup lama, sehingga otot-otot di leher dan sekitarnya melemah, timbullah leher kaku dan sakit. Tidur tengkurap, dapat meningkatkan risiko terjadinya leher kaku dan sakit, dan bantal yang terlalu tinggi saat tidur juga dapat membuat posisi kepala dan tubuh tidak sejajar. Postur tubuh yang tidak baik, misalnya duduk membungkuk dalam waktu lama Kecemasan atau stres Whiplash injury (cedera lecutan), akibat gerakan leher terlalu cepat (dadakan) yang terjadi saat kecelakaan atau terkena pukulan keras baik saat bekerja maupun berolahraga. Masalah degeneratif, terjadi akibat proses penuaan atau masalah kesehatan lainnya, misalnya pengapuran, saraf kejepit, peradangan, atau fraktur. Kemungkinan Penyebab Lain adalah Syaraf Kejepit Leher Saraf terjepit leher, spondilosis, atau fibromialgia menjadi penyebab tersering leher kaku dan sakit. Berdasarkan ICD 10 HNP atau Hernia nukleus pulposus pada leher terjadi ketika bantalan sendi yang seperti jel (nukleus pulposus) di antara tulang belakang menonjol atau robek sehingga menjepit saraf di tulang belakang. Orang mengenalnya dengan istilah syaraf kejepit atau saraf terjepit leher. Nyeri akan terasa di leher, pundak, lengan hingga menjalar ke jari-jari tangan yang disertai dengan kebas atau kesemutan. Mengobati syaraf kejepit di leher (servikal) bisa dengan teknologi Percutaneous Endoscopic Cervical Discectomy (PECD). PECD ini bertujuan untuk menghilangkan penonjolan bantalan sendi yang menjepit saraf tulang belakang, sehingga saraf tidak lagi terjepit dan nyeri akan berangsur reda. Ketegangan Otot Levator Scapula Sejauh ini, penyebab tersering adalah ketegangan otot atau keseleo. Di area leher dan bahu terdapat otot levator scapula yang sebenarnya rentan terhadap cedera. Bagian otot ini terletak di leher bagian samping belakang leher, yang menghubungkan tulang leher dan bahu, serta dikendalikan oleh saraf C3 dan C4. Otot levator scapula merupakan otot yang memanjang ke bawah dari bagian leher dan menempel di sudut atas tulang belikat. Otot ini salah satu fungsinya adalah menjaga posisi tulang belikat tetap sejajar dengan kepala dan leher. Jadi tulang belikat yang bergerak aktif dapat membuat otot ini tidak bisa menjaga posturnya jadi timbullah ketegangan leher dan bahu. Waspada Gejala Lain Penyerta Leher Kaku Dan Sakit Jika setelah seminggu belum juga menunjukkan perbaikan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Terlepas dari sudah berapa lama berlangsung, segera konsultasikan dengan dokter, jika dengan beberapa gejala berikut ini : Demam, yang kemungkinan menandakan adanya infeksi Sakit kepala, terutama ada perbedaan dalam durasi, intensitas, dan gejala penyerta lainnya Mual dan/atau muntah Fatigue Perubahan status mental seperti merasa kebingungan Masalah pada koordinasi, seperti merasa pusing atau mengalami kesulitan berjalan atau menulis Turunnya berat badan tanpa penyebab yang jelas Cara Mengatasi Leher Kaku Dan Sakit Minum obat pereda rasa nyeri resep dokter Kompres area leher dengan air hangat Lakukan peregangan khusus agar otot-otot sekitar leher dan punggung atas menjadi lebih relaks Hindari melakukan aktivitas yang banyak menggunakan leher dan punggung bagian atas, misalnya mengemudi
Restless Leg Syndrome Gejala, Penyebab dan Penanganannya

Restless leg syndrome atau RLS merupakan gangguan sistem saraf (neurologis) yang menimbulkan dorongan besar tak tertahankan atau tidak terkontrol untuk menggerakkan kaki yang sebelumnya disertai dengan rasa tidak nyaman di area kaki. Setelah tertidur, kaki akan mulai tersentak sehingga dapat membuat Anda terbangun sehingga kualitas tidur Anda menjadi berkurang karena tidur tidak nyenyak dan menambah rasa lelah di keesokan harinya. Dorongan menggerakkan kaki ini biasanya diawali dengan adanya sensasi yang tidak nyaman di kaki (betis atau paha), seperti: Terasa seperti ada yang bergerak/merangkak Kesemutan Ditusuk-tusuk jarum Menarik kaki Kram Terasa gatal Penyebab Restless Leg Syndrome Beberapa penyebab yang diduga dapat menyebabkan restless leg syndrome, antara lain: Kehamilan Gagal ginjal stadium akhir Kekurangan zat besi (restless leg syndrome terjadi pada orang-orang dengan anemia defisiensi zat besi) Reaksi simpang obat Kekurangan asam folat, vitamin B12 dan magnesium Polineuropati (gangguan fungsi atau struktur mengenai banyak saraf tepi) Masalah pada endokrin seperti diabetes, hipotiroid Masalah pada ruas tulang belakang Parkinson Amiloidosis Asupan kafein tinggi Obesitas Obat-obatan tertentu Kriteria Berdasarkan International Restless Legs Syndrome Study Group (IRLSSG), terdapat 5 kriteria yang menandakan Anda positif mengalami RLS, yaitu: Dorongan untuk menggerakkan kaki, biasanya (tidak selalu) dengan rasa tidak nyaman di kaki Dorongan untuk bergerak atau sensasi penyerta yang tidak nyaman, mulai atau memburuk selama beristirahat, misalnya berbaring atau duduk. Butuh dorongan untuk bergerak dan sensasi penyerta yang tidak nyaman, agak berkurang saat berjalan, membungkuk, meregangkan tubuh, dan lainnya, minimal berlangsung selama beraktivitas. Dorongan untuk bergerak dan sensasi penyertanya yang tidak menyenangkan, memburuk di malam hari (sore) dari pada siang hari. Atau hanya terjadi di malam hari. Semua gejala di atas tidak sebagai gejala utama dari kondisi medis atau perilaku tertentu. Namun bisa juga dengan myalgia, sumbatan pembuluh vena, tungkai bengkak, kram, kebiasaan menggoyangkan/mengetuk kaki. Tanda lain kemungkinan Anda mengalami restless leg syndrome antara lain: Respons positif terhadap pengobatan dengan dopamin Tungkai bergerak selama bangun atau tidur Memiliki riwayat keluarga akan RLS Tidak mengantuk di siang hari Perjalanan klinis dapat berupa: Kronik persisten, bila tidak tertangani, gejala minimal dua kali per minggu dalam 1 tahun terakhir. Intermiten: kurang dari dua kali seminggu selama setahun terakhir, minimal lima kali terjadi. Restless leg syndrome dapat terjadi pada segala usia namun tersering pada usia pertengahan atau lanjut. Perempuan berisiko lebih tinggi vs perempuan. Selain itu RLS ini dapat menyebabkan penurunan kualitas tidur karena rasa tidak nyaman dan dorongan untuk menggerakkan kaki menimbulkan insomnia sehingga kualitas hidup bisa terganggu. Area yang sering mengalami restless leg syndrome ini biasanya tungkai bawah, sekitar betis. Langkah Sehat Hindari Restless Leg Syndrome Terdapat beberapa langkah yang bisa Anda lakukan agar terhindar dari restless leg syndrome ini, antara lain ; Kurangi atau hindari minuman berkafein sebelum tidur Lakukan olahraga secara teratur Berhenti merokok Sebelum tidur, mandi dengan air hangat Saat terjadi ‘dorongan’ menggerakkan kaki, coba dengan berjalan kaki, memijat tungkai, atau memikirkan/melakukan hal lain. Kompres hangat atau kompres dingin di area kaki Penanganan Seperti Apa? Penanganan restless leg syndrome bergantung pada intensitas gejala. Utamakan dalam perbaikan kualitas hidup karena RLS dapat menyebabkan insomnia atau terganggunya kualitas tidur di malam hari. Penyakit penyerta juga harus diatasi seperti diabetes, hipertiroid, dan lainnya. Baca juga : Dislokasi tempurung lutut Ada beberapa langkah sehat atau non-obat (jika gejalanya tergolong ringan) untuk membantu menangani RLS ini bisa dengan beberapa cara, antara lain: Berolahraga secara teratur, seperti bersepeda/sepeda statis atau berjalan kaki, dan hindari olahraga berat dalam beberapa jam sebelum tidur. Melakukan kebiasaan tidur yang baik, seperti hindari membaca, menonton televisi atau menggunakan komputer atau telepon sambil berbaring di tempat tidur. Usahakan tidur 7 hingga 9 jam Kurangi asupan minuman berkafein, berhenti merokok Bisa menggunakan bantal pemanas, kompres dingin, atau memijat kaki, meregangkan kaki Mandi dengan air hangat Kurangi stres sebanyak mungkin, coba meditasi, yoga, mendengarkan musik ringan Suplementasi zat besi. Jika tes darah menunjukkan kadar zat besi Anda rendah, mungkin dokter akan merekomendasikan suplemen zat besi.
Terapi Infrared, Tujuan dan Manfaatnya Pada Penderita Nyeri

Terapi infrared adalah salah satu jenis terapi dalam bidang kedokteran spesialis kesehatan fisik dan rehabilitasi yang menitikberatkan pada penggunaan gelombang elektromagnetik. Karakteristik terapi gelombang infrared dengan panjang gelombang 106 – 770 nm, pada spektrum gelombang cahaya yang dapat terlihat dengan gelombang micro. Tujuan terapi infra red atau terapi infra merah adalah sebagai pemanasan struktur muskuloskeletal yang terletak pada bagian terluar kulit hingga penetrasi 0,8 – 1mm. Prinsip Terapi Infrared Terapi infrared memberikan pemanasan superfisial pada kulit yang sedang melakukan terapi sehingga menimbulkan efek fisiologis menyembuhkan kondisi penyakit. Efek fisiologis berupa aktifasi reseptor panas superfisial pada kulit. Selanjutnya dapat merubah transmisi atau konduksi saraf sensoris ketika menghantarkan nyeri sehingga nyeri berkurang. Pemanasan menggunakan terapi infra merah menyebabkan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga meningkatkan aliran darah dan memberikan oksigenasi yang cukup pada daerah yang sedang terapi. Kondisi ini selanjutnya meningkatkan aktivitas enzim-enzim metabolisme dan membuang sisa metabolisme sehingga membantu proses penyembuhan jaringan secara lebih cepat. Baca juga : Pantangan syaraf kejepit Terapi infrared ini juga memberikan rasa nyaman dan rileks sehingga mengurangi nyeri karena ketegangan otot terutama otot superfisial. Terapi infra merah juga meningkatkan daya regang atau ekstensibilitas jaringan lunak sekitar sendi seperti ligamen dan kapsul sendi sehingga meningkatkan pergerakan sendi terutama sendi superfisial seperti tangan dan kaki. Indikasi Terapi Infrared Ada beberapa indikasi terapi infrared atau infra merah secara medis, antara lain adalah pada kasus; Nyeri otot, sendi dan jaringan lunak Kekakuan sendi atau gerak sendi Ketegangan atau spasme otot Peradangan kronik dengan pembengkakan Terapi pada kasus luka pada kulit Terapi infra merah merupakan salah satu jenis terapi aman dalam bidang kedokteran fisik dan rehabilitasi. Namun demikian ada beberapa kontraindikasi terapi infrared. Orang dengan kontraindikasi di bawah ini sebaiknya menginformasikan kepada dokter atau fisioterapis sebelum terapi. Kontra indikasi absolut terapi infra merah meliputi: Kelainan sistem pembekuan darah Kelainan pembuluh darah vena atau peradangan pembuluh darah, seperti thrombophlebitis Gangguan sensorik seperti perubahan sensitifitas meraba maupun rasa seperti suhu Gangguan mental Orang dengan penyakit tumor ganas atau kanker Pasien yang sedang menjalani modalitas terapi infrared pada mata Kontra indikasi relatif terapi infra merah, meliputi: Trauma atau peradangan akut Ibu hamil Gangguan peredaran darah Gangguan regulasi suhu tubuh Edema atau pembengkakan Kelainan fungsi jantung Tertanamnya metal pada tubuh atau pasca operasi ortopedi Pasien dengan luka terbuka pasca trauma Kerusakan fungsi pada saraf Efek Samping Terapi Infra Merah Umumnya terapi infra merah jarang menimbulkan efek samping. Meski terjadi, efek samping terapi infra merah sering kali bersifat reversibel setelah terapi berhenti dalam waktu 2 – 3 hari. Selain itu efek samping terapi infra merah yang dapat terjadi meliputi : Luka bakar derajat ringan Peradangan ringan Nyeri pasca terapi Alergi pada kulit Perdarahan Tidak sadarkan diri Prosedur Terapi Sebelum terapi infra merah, pasien diminta menggunakan baju longgar untuk memudahkan proses terapi. Saran untuk menggunakan baju tanpa lengan atau baju longgar yang nyaman. Untuk tubuh bagian bawah sebaiknya menggunakan rok longgar yang nyaman atau celana pendek. Sebaiknya Anda tidak menggunakan lotion ataupun obat-obatan gosok yang dapat menyebabkan iritasi kulit pada saat diberikan pemanasan dengan terapi infrared. Prosedur lain terapi infrared di Lamina Rehab antara lain ; Dokter memeriksa kembali daerah yang akan mendapatkan terapi dan melakukan wawancara mengenai kelainan yang terjadi pada pasien, serta kemungkinan kontraindikasi terapi dan riwayat alergi panas. Dokter menjelaskan tujuan terapi infrared sesuai kondisi pasien yang sangat individual Bila Anda mempunyai kulit yang sensitif dan kering, sebaiknya beritahukan kepada dokter Dokter memposisikan bagian yang akan mendapatkan terapi senyaman mungkin. Bagian yang akan mendapatkan terapi tidak tertutupi pakaian sehingga terapi infrared langsung mengenai kulit, untuk mendapatkan hasil optimal Dokter akan melakukan pengaturan dosis waktu dan posisi terapi infra merah Anda tidak boleh menatap langsung lampu terapi infra merah Bila panas dari terapi infra red berlebihan segera komunikasikan dengan dokter Anda Timer dari alat terapi infrared akan berbunyi ketika waktu terapi sudah selesai Meski terapi sudah selesai, Anda tidak disarankan berdiri atau duduk. Selanjutnya Anda dapat berbaring beberapa saat untuk mengembalikan aliran darah Dokter akan kembali melakukan pemeriksaan setelah terapi infra red dilakukan. Siklus Terapi Inframerah Siklus terapi infrared bergantung pada tujuan dan respon penderita. Jumlah terapi yang diberikan tergantung klinis pasien untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selanjutnya, dengan tujuan meningkatkan elastisitas jaringan lunak diperlukan 6 kali terapi dengan frekuensi 2-3 kali per minggu dengan durasi terapi 30 menit. Selanjutnya kombinasi dengan aktivitas atau latihan olahraga tertentu dapat meningkatkan efektifitas terapi infra merah.
Sendi Leher Berbunyi ‘Krek’ Apakah Berbahaya?

Sendi leher berbunyi ‘krek’ mungkin sering Anda alami. Kadangkala saat menggerakkan sendi-sendi atau meregangkan otot setelah bekerja seharian atau merasa pegal – sadar atau tidak sadar – terdengar bunyi gemeretak atau ‘krek’. Bunyi ini dikenal dengan krepitus. Mungkin Anda sering menyaksikan teman atau kerabat yang sering membunyikan leher, buku-buku jari tangan, atau pinggang, hingga berbunyi ‘krek’ dan sepertinya kebiasaan tersebut menimbulkan kelegaan tertentu atau menghilangkan rasa pegal yang ada. Krepitus adalah bunyi seperti ‘krek’ yang kadang timbul saat Anda menggerakkan sendi, termasuk leher. Di antara tulang leher terdapat sendi facet yang menghubungkan sendi-sendi di area ini. Di setiap permukaan tulang terdapat kartilago atau tulang rawan. Sendi facet ini memiliki cairan sinovial – layaknya di lutut – yang melubrikasi (melumasi) sendi-sendi. Pada ruas tulang belakang juga terdapat rongga spinal. Nah krepitus ini bisa timbul saat kesemua struktur tersebut saling bergesekan sehingga menimbulkan bunyi. Kenali Penyebab Sendi Berbunyi ‘Krek’ Beberapa faktor berikut kemungkinan dapat menyebabkan sendi berbunyi ‘krek’: Perubahan tekanan artikuler. Gelembung udara terbentuk dan bocor ke dalam cairan sinovial, sehingga berbunyi ‘krek’. Bunyi ‘krek’ ini hampir sama terjadi saat Anda menggemeretakkan buku jari tangan. Berbunyi krek bisa timbul baik saat Anda bergerak alami maupun senggaja menggemeretakkan sendi atau saat melakukan gerakan tertentu dalam program rehabilitasi medik. Ligamen atau tendon yang bergerak sekitar tulang. Ligamen atau tendon ini melekat di tulang, jadi dalam beberapa kasus saat menggerakkan ligament atau otot dapat menimbulkan bunyi. Bunyi ini juga bisa timbul akibat otot atau jaringan sekitarnya terlalu tegang atau kadar elastisitasnya sudah berkurang seiring dengan proses penuaan. Tulang saling bergesekan. Karena sendi facet juga berdegenerasi akibat adanya pengapuran, maka jaringan tulang rawan (kartilago) semakin menipis sehingga tulang bisa bergesekan dan berbunyi ‘krek’. Kondisi ini bisa juga terjadi di area tulang belakang lainnya. Menggemeretakkan Sendi Leher Hingga Berbunyi Krek Menggemeretakkan ini bisa menjadi kebiasaan kurang baik yang tadinya, mungkin mulai secara perlahan dan lambat laun menjadi perilaku yang tidak disadari bagi Anda yang sering melakukannya. Caranya dengan memutar ruas leher atau memiringkan leher ke kiri dan kanan beberapa kali untuk mengurangi nyeri, dan mengurangi rasa pegal atau ketegangan otot. Tahukah Anda ruas tulang leher merupakan bagian yang sangat penting sebagai penyangga kepala (dengan berat kira-kira 4-6 kg) dan selalu terjaga agar tetap seimbang. Penyeimbangan ini membutuhkan struktur ruas leher yang stabil yaitu sendi, bantalan tulang, ligamen, dan otot. Tambah lagi pada area leher ini terdapat aneka struktur penting lainnya yang harus terlindungi dari dampak membunyikan sendi leher secara agresif, yaitu pembuluh darah arteri (arteri karotid interna), dan ujung-ujung saraf dan persarafan di area ini. Gerakan membunyikan sendi, bukan menghilangkan pegal justru dapat berisiko menimbulkan ketegangan/kekakuan yang tidak perlu di area jaringan ini. Anda yang sering membunyikan sendi leher, secara perlahan dapat mengendurkan ligamen-ligamen di area leher sehingga berisiko dapat mengganggu keseimbangan atau kestabilan ruas tulang leher atau masalah lainnya yang lebih lanjut seiring dengan waktu. Satu poin yang harus menjadi perhatian, saat membunyikan sendi leher, sulit juga untuk menargetkan area mana yang terasa kaku atau pegal. Berarti Anda bukan menyelesaikan masalah agar tidak pegal lagi, namun malah bisa kemungkinan menyebabkan masalah yang baru. Penyebab Sendi Leher Berbunyi ‘Krek’ Bunyi ‘krek’ (krepitus) di leher biasanya dapat muncul oleh karena : Cedera atau ketegangan otot-otot leher akibat duduk dan tidur dalam posisi yang tidak semestinya Duduk di depan komputer dalam waktu lama Postur tubuh yang kurang baik Otot yang kurang fleksibel, lemah atau kaku/tegang Whiplash injury (cedera lecut), akibat kecelakaan mobil Penyebab lainnya dapat berupa: Terlepasnya udara yang terperangkap dalam cairan sendi secara tiba-tiba Ligamen penyambung tulang menegang saat tertekan Jaringan tulang rawan yang sudah tidak lagi rata (akibat usia atau penuaan) sehingga menimbulkan bunyi saat bergesekan Kondisi medis tertentu: osteoarthritis, rheumatoid arthritis, osteofit (taji tulang), cedera, dll Krepitus atau bunyi ‘krek’ ini biasanya tidak membahayakan, dan beberapa studi tidak menunjukkan adanya bukti dapat merusakan sendi dan meningkatkan risiko terjadinya pengapuran sendi atau artritis. Tanda pasti bunyi ‘krek’ itu hanya krepitus adalah dengan mengulangi gerakan yang menimbulkan bunyi tersebut apakah terulang lagi. Jika tidak, kemungkinan bunyi krek itu adalah krepitus – gelembung udara memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk terbentuk lagi. Kapan Sendi Leher Bunyi ‘Krek’ Harus ke Dokter? Selain terbentuknya gelembung udara, kemungkinan penyebab lain berbunyi krek atau krepitus ini juga dapat disebabkan oleh kerusakan atau disfungsi sendi leher. Kerusakan ini bisa saja muncul oleh cedera akut atau menipisnya sendi leher atau pengapuran sendi. Ada beberapa tanda yang perlu Anda kenali bila krepitus tidak hanya sekadar gelembung udara, yaitu: ‘Krek’ berulang setiap saat Anda bergerak arah tertentu Disertai dengan nyeri dan pembengkakan Timbul setelah cedera atau kecelakaan, atau tindakan pembedahan area leher Timbul gejala pusing, keliyengan, baal, kesemutan Berbahayakah? Menggemeretakkan atau membunyikan area leher bisa saja berisiko bila Anda melakukannya dengan cara yang memaksa atau terlalu sering. Membunyikan leher ‘krek’ dengan memaksa atau berlebihan kemungkinan dapat berisiko menjepit saraf-saraf di area leher. Bila ini terjadi, akan timbul nyeri luar biasa dan sulit menggerakkan leher. Bila terlalu keras, juga dapat menekan otot dan sendi di sekitar area leher, sehingga semakin sulit leher bergerak. Mungkin Anda merasa ingin sering membunyikan sendi leher yang disebabkan oleh hipermobilitas area ini, akibat sendi ini memiliki jangkauan gerak yang lebih luas dari biasanya. Bila dilakukan dalam jangka panjang, ligamen-ligamen di area ini kemungkinan dapat meregang secara permanen sehingga menciptakan ketidakstabilan terus menerus area ini dan Anda pun kemungkinan berisiko mengalami pengapuran. Ingat, leher merupakan ‘rumah’ bagi banyak pembuluh darah yang pentin. Dalam beberapa kasus saat membunyikan leher terlalu keras atau terlalu sering dapat mencederai salah satu pembuluh darah yang berada di leher. Selain itu, juga bisa berisiko terjadinya bekuan darah sehingga menyumbat aliran darah ke area otak. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Klinik Lamina melalui Whatsapp atau nomer telepon tertera dalam kontak. Terimakasih
Cara Kerja USG Sebagai Alat Pemeriksaan Penunjang Medis

Cara kerja USG atau ultrasonografi sebagai pemeriksaan penunjang akan membantu dokter untuk menegakkan diagnosis sehingga dapat menyusun perencanaan pengobatan kondisi medis yang mungkin Anda alami. Alat bantu diagnostik di bidang kedokteran ini bermanfaat untuk menampilkan gambaran struktur bagian dalam tubuh manusia yang bekerja dengan menggunakan teknologi gelombang suara frekuensi tinggi. Jadi USG membantu memastikan jenis kelainan, organ yang mengalami masalah dan lokasinya secara akurat. Cara Kerja USG Istilah USG ini mungkin sudah cukup akrab di telinga. Namun banyak yang tidak paham bagaimana sih cara kerja dan pemeriksaan USG ini dapat untuk ‘melihat’ organ tubuh apa saja? Alat USG terdiri dari monitor dan transducer. Transducer USG merupakan alat yang cara kerja nya memindahkan pantulan gelombang suara menjadi bentuk gambar yang akan tampil atau muncul di layar monitor. Hasilnya disebut dengan sonogram. Alat ini berfungsi sebagai transmiter gelombang suara berfrekuensi tinggi, yang mengarah ke organ-organ maupun cairan dalam tubuh di area tertentu. Gelombang suara tersebut akan terpantul kembali dalam bentuk sinyal listrik yang nantinya akan diterjemahkan oleh mesin menjadi gambar yang dapat terlihat melalui layar monitor secara real-time. Selain metode yang berbeda, ada beberapa jenis teknik USG berdasarkan teknologi yang digunakan. Perbedaannya terlihat berdasarkan hasil yang muncul pada layar monitor. USG 2 Dimensi menghasilkan gambar yang berwarna hitam putih dan cenderung lebih datar. Meski gambar yang dihasilkan tidak terlalu jelas dan menyerupai sketsa, USG ini masih mampu memperlihatkan kondisi organ dalam tubuh. USG 3 Dimensi dapat menampilkan gambar yang lebih real dari pada 2 D. USG 4 Dimensi memiliki kemampuan dan hasil gambar yang lebih baik dibandingkan 2D atau 3D. Gambar 4D ini pun paling jelas jika dengan 2D atau 3D. Cara Kerja Ultrasonografi Atau USG Ultrasonografi (USG) dapat berguna pada beberapa organ tubuh: Perut (abdomen) – untuk mengevaluasi nyeri, mual, muntah, benjolan di area perut. Beberapa organ tersebut antara lain kandung empedu, hati, pankreas, limpa, ginjal dan pembuluh darah besar. Struktur-struktur yang mengandung udara (seperti lambung dan usus besar) tidak mudah melakukan evaluasi karena udara dapat mengganggu perpindahan gelombang suara. Panggul – untuk mengevaluasi bila ada nyeri pada panggul atau gangguan siklus menstruasi, tumor, kista atau kondisi lainnya yang berkaitan dengan organ reproduksi. Kehamilan – menilai usia dan posisi serta tumbuh kembang Lainnya: muskuloskeletal (menilai area bahu, panggul atau siku); payudara; dan mata. USG Doppler, untuk mendeteksi kelancaran dan arah aliran darah di area-area tubuh tertentu, seperti pembuluh arteri di leher dan pembuluh vena di kaki. Operator USG Modalitas pencitraan USG memiliki keunggulan dari pada modalitas pencitraan lain. Alat diagnostik ini juga lebih mudah dijangkau pasien dari pada alat lain. Selain itu USG memiliki tingkat kenyamanan, keamanan, dan potensi diagnostik yang cukup baik. Ilmu dalam kedokteran, utamanya yang berkaitan dengan kelainan tulang, otot, sendi serta jaringan lunak, banyak menggunakannya USG dengan cara kerja, tujuan dan fokus yang berbeda sesuai kebutuhan. Seperti ; Dokter spesialis reumatologi menggunakan USG untuk menegakkan diagnosis peradangan pada tendon dan sinovial (sendi dan selaput sendi). Alat ini juga dapat untuk melihat perubahan struktur tulang, tulang rawan hingga kemungkinan adanya peradangan sendi atau arthritis. USG juga dapat untuk memandu tindakan medis seperti penyuntikan serta mengevaluasi kondisi pasien pasca terapi. Dokter spesialis radiologi menggunakan alat ini untuk mengetahui atau memastikan diagnosis. Utamanya pada kelainan muskuloskeletal dengan atau tanpa terapi hingga tindakan intervensi. Dokter spesialis saraf, dokter menggunakan alat ini untuk mengetahui kelainan atau masalah saraf. Serta berguna untuk memandu tindakan intervensi seperti injeksi, hingga nukleoplasti atau tindakan medis lainnya. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, menggunakan USG dengan tujuan diagnosis hingga terapi seperti halnya dokter spesialis reumatologi, dokter spesialis radiologi dan dokter spesialis saraf. Klinik patela memiliki dokter spesialis rehabilitasi medik yang handal dan ahli di bidangnya. Meski demikian fokus utama pemeriksaan USG tidak terlepas dari penilaian fungsi-fungsi jaringan terutama setelah mendapatkan program terapi spesifik sesuai dengan guideline medis yang ada baik lokal maupun internasional. Persiapan Sebelum USG Pasien akan mengganti baju dengan baju yang ada di rumah sakit atau klinik, kemudian berbaring di meja khusus. Jelly pelumas khusus akan dioleskan di area tubuh yang akan mendapatkan pemeriksaan. Jelly pelumas khusus ini berguna untuk mencegah terjadinya gesekan dan membantu mentransmisikan gelombang suara. Untuk pemeriksaan daerah panggul, Anda akan mengonsumsi minimal 6 gelas air putih sejak 2 jam sebelum USG berjalan dan tidak buang air kecil. Khusus pemeriksaan daerah panggul, kondisi kandung kemih yang penuh. Organ empedu, hati, pankreas, dan limpa, Anda akan berpuasa selama 8 hingga 12 jam sebelumnya. Hal ini untuk mencegah adanya sisa makanan di lambung dan usus yang dapat menghalangi gelombang suara. Payudara, hindari pemakaian kosmetik di area payudara seperti bedak atau lotion. Hal ini untuk meningkatkan akurasi hasil pemeriksaan akhir. Setelah USG Seusai USG, cairan pelumas akan langsung hilang. Keseluruhan prosedur biasanya berlangsung sekitar 30 menit, bergantung area yang mendapatkan pemeriksaan. Anda akan bebas untuk melakukan kegiatan normal Anda setelah prosedur selesai. Pasca-USG tidak ada pantangan aktivitas namun bagi pasien yang mengkonsumsi obat penenang, anjurannya untuk tidak mengendarai kendaraan selama 24 jam. Hasil USG dapat langsung terlihat oleh pasien. Jika butuh rujukan dokter untuk analisa lebih lanjut, akan memakan waktu beberapa hari tambahan. Jika dengan pemeriksaan penunjang lainnya, keistimewaan USG adalah: Hemat biaya Tanpa nyeri Dapat menangkap gambar dari jaringan lunak dan organ yang tidak tertangkap sinar X Tubuh tidak terpapar radiasi Di Lamina Pain and Spine Center USG sebagai diagnosis ataupun panduan untuk melakukan tindakan medis tertentu, seperti pada pasien dengan nyeri lutut atau nyeri pada pergelangan tangan dan bahu. Cara kerja USG sangat efektif dan terbukti membantu dokter dalam mendiagnosis sebuah kondisi kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi customer relation officer Lamina, melalui Hp/WA pada kontak. Terimakasih