Terapi Saraf Terjepit PELD Lebih Unggul

Terapi Saraf Terjepit PELD Lebih Unggul Herniated nucleus pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal masyarakat dengan nama saraf terjepit merupakan gangguan saraf di tulang belakang yang menimbulkan gejala mengganggu, seperti nyeri pinggang hingga baal atau kelemahan pada bagian lengan atau tungkai. Pada tahap lanjut, saraf terjepit itu harus ditangani dengan operasi. Namun, di Indonesia, 9 dari 10 penderita saraf terjepit menolak untuk dilakukan tindakan operasi. Penolakan umumnya terjadi karena khawatir akan risiko yang terjadi, seperti infeksi, kembalinya nyeri punggung, hingga kerusakan saraf tulang belakang. Namun, sekarang ada pilihan prosedur bedah sayatan kecil, yakni Percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD) yang lebih minim risiko. Terapi Saraf Terjepit PELD Lebih Unggul. Hal itu diungkapkan dokter spesialis bedah saraf Mahdian Nur Nasution pada diskusi kesehatan di Jakarta, kemarin. Pakar penanganan nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Onta Merah Jakarta itu menjelaskan, PELD dilakukan melalui prosedur endoskopi. Dokter akan membuat sayatan kecil di kulit sebesar 7 milimeter sebagai akses masuknya peralatan operasi langsung menuju foramen. “Foramen merupakan area yang kaya akan persarafan. Di lokasi ini juga tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf yang menimbulkan rasa nyeri pada pasien,” jelas Mahdian. Dahulu, kata Mahdian, pada teknik operasi konvensional, untuk dapat mencapai daerah saraf yang terjepit, seorang dokter harus melakukan banyak sayatan. Mulai sayatan di kulit, sayatan di otot, pemotongan tulang lamina, menyisihkan saraf-saraf, dan terakhir mengoreksi saraf yang menjepit. Tahapan yang harus dilakukan “Tahapan yang harus dilakukan tadi tentunya akan mengakibatkan trauma jaringan. Dengan teknik endoskopi, hal itu tidak dilakukan lagi.” Teknik operasi konvensional, lanjut Mahdian, juga mengakibatkan perdarahan yang lebih banyak, risiko infeksi pun lebih besar. Selain itu, pemotongan tulang lamina pada teknik konvensional dapat mengakibatkan masalah instabilitas tulang hingga kekuatan tulang yang menurun di kemudian hari. “Pada teknik PELD, risiko kambuh kembali lebih kecil karena tidak mengganggu stabilitas tulang belakang,” kata Mahdian. Menurut dia, belum lama ini sebuah penelitian dilakukan untuk melihat efikasi PELD pada 100 pasien saraf terjepit berusia 15–84 tahun. Hasilnya, 97 pasien mengalami perbaikan cukup signifikan berdasarkan derajat nyerinya, dihitung berdasarkan skala 0 (tanpa nyeri) hingga 10 (paling nyeri). Dari yang tadinya berskala 8,2 turun menjadi 1,8 setelah tindakan PELD. Lama perawatan rata-rata selama 1,6 hari. “Tindakan PELD dilakukan dalam waktu sekitar 45 menit. Setelah tindakan PELD, pasien juga dapat beraktivitas seperti sediakala,” imbuh Mahdian.

Jangan Menaruh Dompet Disaku Belakang Celana Anda

Hampir semua pria selalu Menaruh Dompet Disaku Belakang belakang, dikarenakan ukuran dompet pria yang cenderung lebih kecil dibandingkan dompet wanita tentunya hal ini dilakukan karena dinilai lebih simple untuk kemudahan jika harus membayar sesuatu tidak perlu membuka tutup tas, cukup mengambil dengan cepat dari saku celananya, untuk menyimpan barang, dan cenderung dirasa lebih aman daripada meletakan di saku baju. Namun belum banyak pria yang mengetahui adanya resiko dibalik kemudahan ini, salah satunya adalah resiko terganggunya saraf. Para ahli telah memberikan hasil penelitian bahwa orang yang terbiasa duduk dengan dompet di saku belakang celananya beresiko untuk merusak saraf saraf kuncinya atau yang lebih dikenal sebagai hip-pocket syndrome atau wallet-neuropathy. Ternyata posisi dompet saat diduduki dapat menekan saraf di belakang tubuh dan apabila anda selalu meletakan dompet anda disaku belakang celana anda setiap hari, maka hal ini dapat memicu keluhan berupa sakit punggung bagian bawah, rasa sakit dan mati rasa pada pergelangan kaki atau bagian bawah kaki, dan yang lebih parah adalah rasa sakit saat berjalan, duduk, maupun berbaring. Posisi yang Salah Ternyata hal ini diakibatkan karena pada saat Menaruh Dompet Disaku Belakang belakang. Tanpa anda sadari  posisi duduk menjadi miring sehingga terjadi ketidakseimbangan yang melibatkan otot, tulang, dan sistem saraf. Pada saat yang sama panggul berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan. Namun yang terjadi justru kurva kompensasi tulang belakang menjadi tidak sejajar. Kemudian mempengaruhi pergeseran bahu dan menyebabkan nyeri pada leher, punggung, dan bahu. Melihat begitu banyak resiko yang dapat dialami. Ada baiknya kaum pria mulai tidak menyimpan dompet di saku belakang celana demi kesehatan saraf dan tubuh pada umumnya. Alangkah lebih baiknya segera konsultasikankarena anda akan ditangani oleh dokter spesialis bedah saraf.

Tips Mudah Untuk Ibu Hamil Saat Kaki Sering Kram

Ibu hamil yang memasuki trimester akhir seringkali mengeluhkan perubahan fisiknya. Perubahan fisik ibu hamil dapat memicu beberapa gangguan kecil yang membuat ibu hamil tidak nyaman. Saat bangun tidur, posisi yang tidak berubah selama beberapa waktu atau berjalan terlalu jauh kadang-kadang membuat ibu hamil kesemutan hingga kram pada kaki. Normalkah ibu hamil mengalaminya dan bagaimana cara mengatasi ketidaknyaman kaki yang sering kram saat masa hamil? Disamping itu, rasa tegang yang dialami oleh otot betis membuat ibu hamil mengalami ketidaknyaman. Ini dapat juga dikarenakan perut yang semakin besar sehingga membuat pembuluh darah balik yang berada di pangkal panggul merasa tertekan sehingga menyumbat peredaran darah ke kaki. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999 Pencegahan Kaki Kram Saat Hamil Kondisi seperti ini yang mengakibatkan sirkulasi darah menjadi lebih lambat di daerah kaki dan mengakibatkan kram pada ibu hamil. Berikut adalah beberapa pencegahan yang bisa anda lakukan : Konsumsi air putih yang cukup sehingga dapat membantu menghindari diri dari dehidrasi dan juga melancarkan darah. Mulailah mengatur makanan yang mengandung mineral dan kalsium yang cukup. Kalsium yang bisa anda dapatkan dari susu, yogurt dan sayuran hijau dapat mengurangi kram yang terjadi tiba-tiba. Hindari menggunakan sepatu yang berhak tinggi. Sepatu dengan hak tinggi akan memberikan tekanan pada ujung kaki dan juga betis sehingga beresiko kram kaki. Hindari  berdiri terlalu lama, selama kehamilan beban anda menjadi dua kali dibandingkan keadaan normal sehingga berdiri terlalu lama akan memicu kram kaki. Lakukan peregangan kaki, sesekali anda dapat memutar persendian searah jarum jam ataupun sebaliknya sehingga dapat meningkatkan mobilitas dan fleksibilitas. Untuk membuat anda nyaman selama kehamilan tips di atas dapat membantu anda untuk mengatasi dan melakukan pencegahan kram pada kaki. Baca juga : ICD 10 HNP  Jika Anda, keluarga atau rekan Anda memiliki berbagai keluhan nyeri, jangan berhenti untuk memberikan dukungan, karena dukungan dan masukan positif merupakan hal yang sangat penting bagi proses kesembuhan pasien. Jangan ragu untuk konsultasikan nyeri Anda bersama Klinik Nyeri dan Tulang Belakang. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999

Cuma 45 Menit, Metode Ini Bisa Atasi Saraf Kejepit Tanpa Sakit

Saraf Kejepit Tanpa Sakit. Kondisi saraf kejepit merupakan salah satu penyebab nyeri pinggang bawah. Gejalanya bisa berupa nyeri seperti di tusuk jarum pada bagian pinggang hingga kaki, rasa baal, cepat pegal setelah beraktivitas, tidak bisa menahan kencing hingga berat di salah satu atau kedua kaki. Informasi & Pendaftaran Telpon 021-7919-6999 Sebagian besar kondisi saraf kejepit dipengaruhi oleh faktor usia yakni memasuki 41 tahun ke atas. Beberapa kebiasaan pun turut memicu kondisi saraf kejepit seperti angkat beban terlalu berat, trauma saat kecelakaan, duduk berjam-jam lamanya hingga obesitas yang menyebabkan beban di pinggang berlebihan. Menanggapi hal tersebut dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang mengatakan pengobatan nyeri pinggang bisa berupa konsumsi obat oral maupun operasi. Sayangnya metode operasi tidak banyak dipilih pasien, karena kekhawatiran risiko lumpuh usai dilakukan pembedahan. Menjawab kebutuhan tersebut, ia mengatakan bahwa ada metode operasi baru yang bersifat minimal invasive dan cukup dilakukan selama 45 menit tanpa rawat inap yakni teknik PELD. Pasien juga tidak akan mengalami rasa nyeri selama proses operasi dan sesudahnya, karena tidak membutuhkan jahitan. “Tujuannya adalah mengambil bantalan tulang yang terjepit sehingga memicu rasa nyeri. Waktu operasi cepat pasien nggak perlu nginap, karena hanya membutuhkan waktu 45 menit. Satu hingga dua minggu setelahnya sudah bisa beraktivitas kembali,” ujar dia pada temu media di Jakarta, Selasa (13/9/2017). Meski biayanya tidak murah, Mahdian menjamin biaya yang dikeluarkan sebanding dengan perbaikan rasa nyeri yang dialami pasien. Bahkan ia menyebut jika dibandingkan dengan operasi konvensional yang membutuhkan rawat inap dan waktu pemulihan yang lama, teknik PELD relatif lebih terjangkau. “Kalau dibandingkan operasi biasa, kan harus berhari-hari di rumah sakit. Jadi kalau dibandingkan harganya kurang lebih sama. Tapi mobilisasi dengan operasi PELD lebih cepat. Seminggu dua minggu pasien sudah bisa beraktivitas lagi. Berbeda dari Teknik Konvensional Bandingkan dengan operasi biasa satu bulan harus istirahat di rumah,” tambah dia. Hal ini dibenarkan Amaro Siama, salah satu pasien yang telah menjalani operasi PELD. Lelaki berusia 45 tahun ini mengeluh nyeri pinggang kanan hingga kaki sejak 10 tahun yang lalu. Selama ini ia hanya membawa keluhannya ke tukang urut hingga refleksi berharap nyerinya hilang begitu saja. Sayangnya nyeri yang dirasakan Amaro semakin hebat dan memutuskan untuk membawanya ke dokter. Berdasarkan hasil MRI Amaro memang mengalami saraf kejepit. Ia pun memilih operasi ini karena tidak membutuhkan sayatan dan bisa pulih lebih cepat. “Setelah operasi Alhamdulillah sudah enakan jadi saya langsung bisa menggerakan kaki kanan. Kalau diangkat sebelumnya sakit. Setelah dioperasi sudah nggak terasa sakit. Berulang-ulang saya coba gerakkan nggak sakit,” ceritanya merinci. Amaro mengakui pernah menjalani pekerjaan yang membutuhkan aktivitas mengangkat beban berat belasan tahun yang lalu. Kini ia lebih banyak di kantor yang menuntutnya duduk berjam-jam lamanya. Ia menyadari kebiasaan hidupnya ini yang memicu timbulnya nyeri pinggang. Tanya Jawab Saraf Kejepit Hubungi 021-7919-6999

Tips Tips Menjaga Kesehatan Tulang Belakang

Memelihara kesehatan tulang belakang merupakan sesuatu yang penting, terutama untuk orang yang sering merasakan sakit di daerah punggung, yang dikarenakan terlalu lamanya berkendara, maupun duduk didepan laptop untuk bekerja. namun apa sih yang dimaksud dengan tulang belakang itu sendiri? Tulang belakang merujuk kepada susunan ruas tulang di bagian belakang yang bertindak memberi sokongan kepada tubuh untuk berada dalam keadaan tegak. Ia merupakan susunan ketulan tulang yang membentuk tulang belakang yang terdapat pada semua vertebrat. Tulang belakang terbentuk dari serangkaian tulang yang disebut segmen (vertebrae), diantara segmen-segmen tersebut terdapat sendi dan bantalan yang terdiri dari lapisan berstruktur (disc). Tulang belakang ini juga berfungsi untuk melindungi saraf-saraf tulang belakang. Ruas tulang belakang manusia berjumlah 33 buah. Tulang-tulang tersebut membentuk suatu kesatuan memanjang yang membentuk sumbu tubuh dan menopang tengkorak. Tips Menjaga Kesehatan Tulang Belakang Begitu pentingnya fungsi dari tulang belakang, maka alangkah baiknya untuk kita menjaga kesehatan tulang belakang, menjaga kesehatan tulang belakang dapat dilakukan dengan berbagai langkah mudah, dan tidak memerlukan biaya yang mahal. Berikut tips-Tips Menjaga Kesehatan Tulang Belakang: Olah raga secara rutin sekitar 20-30 menit. Olah raga dengan rutin bisa membantu kesehatan tulang belakang anda. Pastikan posisi duduk tegak sekitar 90 derajat. Selain itu juga, posisi laptop ataupun komputer harus sejajar dengan wajah kita. Hindari kebiasaan duduk dengan posisi kaki menyilang. Latihan peregangan. anda dapat melakukan kegiatan ini dengan cara menempelkan dagu keleher dan stretcing tubuh anda kebelakang. Memperhatikan pola makan harian anda dengan  menu yang seimbang. perhatikan juga apakah ada kandungan kalsium pada menu makanan yang anda konsumsi. Tidak boleh mengangkat telepon sambil melakukan aktivitas yang lain. seperti (kepala kekiri ataupun kekanan). Harus dibiasakan tidak membawa beban yang berat ditas anda. Untuk pria, tidak boleh menyimpan dompet disaku belakang. kebiasaan tersebut bisa membuat tulang panggul menjadi tidak seimbang. Hentikan merokok, sebab efek nikotin pada saat merokok bisa mempengaruhi aliran darah terhadap tulang belakang. Jika Tips Tips Menjaga Kesehatan Tulang Belakang diatas sudah dilakukan namun masih merasakan sakit, segera konsultasikan dengan dokter spesialis  kami Jangan ragu untuk mengonsultasikan nyeri Anda bersama Arfa Pain and Spine Care

Genicular Nerve Block and Ablation, Metode Baru Atasi Nyeri Lutut Kronis

Nyeri lutut adalah masalah kesehatan yang umum dijumpai pada berbagai usia. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari trauma olahraga, kecelakaan, proses degenerasi atau penuaan, hingga obesitas. Genicular nerve block solusi atasi nyeri lutut terkini Anda. Tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, nyeri lutut yang berlangsung lama dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderita secara keseluruhan. Penanganan nyeri lutut kronis cukup rumit. Pemberian obat-obatan, terutama obat  anti inflamasi nonsteroid (OAINS) kurang efektif dalam menangani kasus nyeri lutut jangka panjang dan dapat menimbulkan efek samping serius pada saluran cerna, jantung, dan ginjal.   Meski banyak juga kasus berat yang sembuh dengan operasi, tidak semua pasien dapat menjalani prosedur ini. Pilihan operasi dan penggantian sendi juga berisiko meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Bahkan, pada pasien berusia muda seringkali diperlukan operasi ulang  sehingga kurang disukai. Menurut dr. Sri Wahyuni, SpKFR, pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Buncit Raya “Saat ini, ada alternatif baru penanganan nyeri kronis pada lutut yang cukup efektif, yaitu genicular nerve block dan genicular nerve ablation. Terapi menggunakan radiofrekuensi ini mulai menanjak popularitasnya karena dapat mengatasi nyeri tanpa operasi, dapat dilakukan secara rawat jalan, efek samping minimal, dan pasien dapat cepat kembali beraktivitas setelah prosedur dilakukan. Terapi ini cocok untuk penderita radang sendi kronis yang tidak ingin atau tidak dapat dioperasi karena kondisi kesehatan tertentu. Ia juga efektif untuk meredakan nyeri sebelum dan nyeri yang menetap setelah operasi.” Jelasnya. Mengenal Genicular Nerve Block and Ablation Sendi lutut dipersarafi oleh berbagai cabang saraf yang dikenal dengan saraf genicularis. Saraf-saraf ini adalah saraf yang terutama menghantarkan nyeri pada lutut. “Saraf genicularis terletak di luar sendi sehingga mudah diakses melalui kulit dengan bantuan ultrasonografi (USG) maupun C-Arm. Perusakan atau ablasi pada saraf genicularis diharapkan dapat menghambat impuls nyeri,” paparnya. Manipulasi saraf genicularis dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah genicular nerve block, yaitu tindakan pemberian obat anestesi lokal pada cabang-cabang tertentu saraf genicularis. “Tindakan ini bersifat diagnostik, yaitu untuk menentukan apakah tindakan ablasi akan efektif untuk meredakan nyeri pada pasien tersebut. Jika dalam 24 jam setelah penyuntikan obat anestesi lokal terjadi penurunan nyeri hingga lebih dari 50%, barulah dilakukan tahap kedua, yaitu ablasi cabang saraf genicular,” paparnya. Tahap kedua dilakukan didahului dengan pemberian anestesi lokal, dilanjutkan pemanasan saraf menggunakan radiofrekuensi. Radiofrekuensi konvensional dilakukan pada suhu 70°C selama 90 detik, sedangkan cooled radiofrequency dilakukan pada suhu 60°C. Cooled radiofrequency memberikan lesi sferis dengan volume yang lebih besar dibanding radiofrekuensi konvensional. Setidaknya terdapat tiga saraf genicular utama yang menjadi target tindakan ablasi, yaitu cabang medialis superior, medialis inferior dan lateralis superior.  Cabang-cabang ini dipilih karena merupakan cabang saraf utama yang mempersarafi lutut dan letaknya berdampingan dengan periosteum tulang sehingga lokasinya mudah ditentukan. Hal ini meningkatkan angka keberhasilan tindakan. Studi menunjukkan bahwa perbaikan nyeri optimal terjadi mulai seminggu setelah prosedur dan bertahan selama 12 minggu. Bahkan, sejumlah pasien mengatakan manfaat dapat dirasakan hingga setahun setelah prosedur. “Tidak hanya efektif, efek samping tindakan ablasi juga sangat jarang ditemui. Tindakan dapat dilakukan secara rawat jalan, pasien dapat kembali bekerja sehari setelahnya,” ujar dr. Sri Wahyuni. Berbeda Dari Penyuntikan Sendi Selama ini, nyeri lutut kronis seringkali melibatkan terapi panjang dan lama tanpa membuahkan hasil. Tidak jarang pasien dianjurkan untuk menjalani prosedur penyuntikan sendi berulang yang cukup mahal, melibatkan obat-obat golongan steroid dan penambahan cairan sendi. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, penyuntikan ini juga harus dilakukan tepat pada rongga lutut sehingga dapat dikatakan angka keberhasilannya sangat bergantung kepada keterampilan dokter. Baca juga : Radiofrekuensi ablasi Sementara, tindakan genicular nerve block and ablation dilakukan pada cabang-cabang saraf lutut yang terletak di luar sendi dan tulang, sehingga lebih mudah dicapai dan memiliki angka keberhasilan yang cukup baik, terutama dengan bantuan ultrasonografi atau fluoroskopi. “Penggunaan ultrasonografi umumnya lebih disukai karena tidak memerlukan ruangan khusus dan tidak menimbulkan risiko radiasi,” ujar dr. Sri Wahyuni. Komplikasi pada prosedur ini jarang ditemui, terutama jika dilakukan dengan bantuan ultrasonografi atau fluoroskopi dan tindakan aseptik. Reaksi alergi terhadap obat anestesi mungkin dapat terjadi. Dan nyeri pasca tindakan umum dijumpai, tetapi dapat diatasi dengan pemberian obat anti nyeri. Komplikasi berupa parestesia dan kebas pernah ditemukan tapi sangat jarang.    

Waspada Nyeri Sendi Saat dan Setelah Ibadah Haji

Waspada Nyeri Sendi Saat dan Setelah Ibadah Haji Tahun ini sebanyak 221 ribu jamaah haji asal Indonesia diterbangkan ke Tanah Suci, Makkah. Data Kementrian Agama Republik Indonesia, sebanyak 83 persen jamaah berusia diatas 50 tahun sedangkan usia di bawah 50 hanya 17 persen. “Di usia ini kesehatan seseorang mulai mengalami penurunan. Waspadai Nyeri Sendi Saat dan Setelah Ibadah Haji. Masalah nyeri lutut dan pinggang merupakan masalah yang umum diderita kelompok usia lanjut diatas 50 tahun,” ujar dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, Ahli Nyeri dari Klinik Onta Merah Pain and Spine Center, Jakarta dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (25/8). Tubuh manusia terdiri dari 206 tulang, dan 230 sendi baik yang menopang tubuh secara langsung dan tidak. Normalnya, pada usia muda baik tulang maupun sendi tidak mengalami masalah, tulang rawan sendi (cartilage) masih tebal melindungi dengan baik kapsul sendi serta jaringan sekitarnya seperti otot dan penghubung sendi. D Dengan bertambahnya usia, dipengaruhi beberapa faktor seperti pekerjaan, gaya hidup. Daerah sendi yang tadinya normal akan mengalami kerusakan. “Usia diatas 40 tahun, wanita kegemukan, pekerjaan dan aktivitas atau olahraga berlebih serta faktor genetik. Memiliki kontribusi terhadap kerusakan sendi,” kata Mahdian. Tak hanya di lutut, kerusakan sendi dapat terjadi di semua bagian tubuh seperti tulang belakang, pinggang, dan tangan. Pada perjalanan ibadah Haji dan umroh, thawaf dan sa’i merupakan rukun yang harus dikerjakan. Baik thawaf dan sa’i keduanya dilakukan dengan berjalan kaki. Satu putaran thawaf jika dilakukan di lantai dua masjidil haram jaraknya bisa mencapai jarak 1 km, jika dilakukan 7 kali putaran setidaknya jamaah haji menempuh jarak 7 kilometer. Belum lagi sa’i, prosesi untuk mengenang gerak Siti Hajar antara bukit Safa dan Marwah ketika kebingungan mencari air, jaraknya mencapai 500 m, maka untuk tujuh kali jalan tersebut jamaah harus berjalan hingga 3,5 kilometer. “Sebelas kilometer untuk prosesi thawaf dan sa’i, bagi mereka usia di atas 50 tahun. Masalah Sendi Apalagi yang memiliki masalah sendi dan faktor risiko seperti obesitas, tentunya dapat menganggu kenyamanan ibadah haji,” ujar Mahdian. Secara kasat mata, kerusakan sendi tidak bisa dilihat terlebih pada derajat ringan. Kemerahan dengan memar akan terlihat jika kerusakan sendi sudah terjadi pada derajat yang lebih berat. Seseorang dengan masalah sendi umumnya datang ke dokter dengan keluhan utama berupa nyeri. Dia mengatakan, nyeri kronik pada daerah sendi merupakan jenis nyeri yang paling sering terjadi pada seseorang. Angkanya sekitar 15 persen dari semua jenis nyeri, dengan penyebab paling umum berupa osteoartritis. Pada pemeriksaan laboratorium darah tepi, imunologi, dan cairan sendi, kondisi ini umumnya tidak memiliki kelainan kecuali osteoartritis yang disertai dengan peradangan. Untuk melengkapi diagnosis, kata dia, dokter biasanya melakukan pemeriksaan radiologis untuk mengetahui penyebab nyeri sendi. Dari pemeriksaan radiologis dapat diketahui adanya penyempitan celah sendi, kista tulang dan osteofit pada pinggir sendi. “Akivitas ibadah haji atau umrah, seperti thawaf dan sa’i maupun berjalan dari hotel menuju masjidil haram dengan jarak terlampau jauh dan sering (over use sendi) dapat meningkatkan resiko nyeri sendi, baik pada lutut atau bagian tubuh lain,” jelas dr. mahdian. Tak boleh diangap remeh Tak boleh diangap remeh, Jika nyeri ini tidak ditangani dengan baik, tentunya dapat mengganggu aktifitas ibadah. Dalam dunia kedokteran selain terapi, pencegahan nyeri juga dapat dilakukan. “Tujuannya tak lain untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Mereka dengan usia diatas 50 tahun, dengan keluhan nyeri sendi baik ringan atau sedang dianjurkan melakukan terapi intervensi dan untuk mencegah nyeri timbul saat ibadah haji,” ujarnya. Menurunkan berat badan, dan modifikasi gaya hidup baik dilakukan para jemaah haji atau umrah.“Selain meningkatkan fungsi sendi, modifikasi gaya hidup dengan menurunkan berat badan dapat mengontrol rasa nyeri yang hilang timbul pada penderita osteoartritis.”  

Atasi Nyeri Sendi Saat Ibadah Haji atau Umroh

Atasi Nyeri Sendi Saat Ibadah Haji atau Umroh Salah satu gangguan kesehatan yang paling umum dalam melaksanakan ibadah Haji dan umroh adalah Nyeri Sendi Saat Ibadah Haji atau Umroh akibat berjalan kaki dengan jarak yang lebih panjang daripada biasanya. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan bila nyeri sendi muncul dalam perjalanan ibadah di tanah suci menurut dr. Sri Wahyuni, SpKFR, Dokter Spesialis Rehabilitasi Arfa Pain and Spine Center di RS Meilia Jakarta. Istirahat sejenak Berhenti sejenak saat nyeri muncul, jika memungkinkan rebahkan badan Anda dan beristirahatlah. Pada kasus nyeri lutut, merebahkan badan sembari mengangkat kaki dengan posisi lutut lebih tinggi dari pinggang untuk mengurangi rasa nyeri. “Hindari aktivitas yang menggunakan lutut sebagai tumpuan utama seperti mengangkat beban berlebih, minimal 2 x 24 jam,” jelas dr. Sri dalam sebuah rilis yang diterima Metrotvnews.com. Kompres panas atau dingin pada daerah nyeri Ketika sudah kembali ke penginapan, lakukan kompres dingin (es) pada daerah yang mengalami nyeri minimal selama 15-20 menit, dua kali dalam sehari. Setelah 3 hari sudah melakukan kompres dingin, gantilah dengan kompres panas di hari ke-4. Lakukan setidaknya 10 hingga 15 menit dalam sehari. Kompresi Penggunaan perban elastis, sebagai kompresi terutama pada lutut juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri. “Pilih ukuran perban yang sesuai, tidak boleh terlalu kencang atau longgar,” jelas dr. Sri.Ia menambahkan, tetap gunakan perban saat beraktivitas, misalnya dalam perjalanan dari penginapan ke Masjidil Haram, dan lepaskan perban pada saat tidur atau mandi. Medikamentosa Penatalaksanaan secara medikamentosa untuk menghilangkan nyeri sendi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya pemberian obat inflamasi non-steroid (NSAID), suntikan asam hyaluronate, dan juga pencegahan dengan mengonsumsi suplemen kondroitin dan glukosamin.  

4 Hal yang Disarankan Ahli Saat Nyeri Sendi Muncul

Bertambahnya usia, lalu beberapa faktor seperti pekerjaan dan gaya hidup bisa menyebabkan sendi yang tadinya normal mengalami kerusakan. Salah satu gejalanya adalah Nyeri Sendi Muncul. Lantas apa yang harus dilakukan kali pertama kala nyeri sendi muncul? Berikut saran spesialis Rehabilitasi Arfa Pain and Spine Center dari RS Meilia, Jakarta, dr. Sri Wahyuni, SpKFR dalam keterangan persnya, Jumat. 1. Istirahat sejenak Berhenti sejenak saat nyeri muncul atau jika memungkinkan rebahkan badan dan beristirahatlah. Pada kasus nyeri lutut, merebahkan badan sembari mengangkat kaki dengan posisi lutut lebih tinggi dari pinggang dapat memperbaiki kondisi nyeri. “Hindari aktivitas yang menggunakan lutut sebagai tumpuan utama seperti mengangkat beban berlebih, minimal 2 x 24 jam,” jelas Sri. 2. Kompres panas atau dingin pada daerah nyeri Sembari beristirahat lakukan kompres dingin (ice) pada daerah yang mengalami nyeri minimal selama 15 – 20 menit, dua kali dalam sehari. Setelah 3 hari pasca nyeri muncul, dan sudah melakukan kompres dingin, pada hari ke empat ganti kompres panas, pada lokasi nyeri. Anda bisa menggunakan handuk yang dimasukan ke dalam air panas, peras airnya lalu tempelkan. Lakukan hal setidaknya 10 hingga 15 menit dalam sehari. 3. Kompresi Penggunaan elastic bandage, sebagai kompresi terutama pada lutut juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri. “Pilih ukuran bandage yang sesuai, tidak boleh terlalu kencang atau longgar. Gunakan bandage saat beraktifitas dan lepaskan bandage pada saat tidur atau mandi,” kata Sri. 4. Medikamentosa Penatalaksanaan secara medikamentosa untuk menghilangkan nyeri sendi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya pemberian NSAID, suntikan asam hyaluronate dan juga pencegahan dengan mengkonsumsi suplemen kondroitin dan glukosamin. “Ini bergantung dari berat ringannya kerusakan sendi yang dialamai pasien,” jelas dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, Ahli Nyeri dari Klinik Onta Merah Pain and Spine Center, Jakarta. Jangan ragu untuk mengonsultasikan nyeri Anda bersama Klinik Nyeri dan Tulang Belakang

Waspadai Penyakit-penyakit Ini Saat Usia Di Atas 30 Tahun

Banyak yang berpendapat saat usia di atas 30 tahun merupakan babak kehidupan kedua yang dijalani setiap orang. Karena itu, usaha yang lebih keras harus dilakukan agar Anda dapat menikmati masa-masa usia ini. Tidak hanya wanita, pria yang memasuki usia 30-an juga akan menghadapi beberapa masalah kesehatan yang jika diabaikan akan membuat kondisi semakin parah di usia lanjut nanti. Misalnya, jika Anda tidak memeriksa kebiasaan makan dari sekarang, kadar kolesterol yang tinggi akan menyebabkan penyakit seperti tekanan darah tinggi dan pada akhirnya mengakibatkan penyakit kardiovaskular. Di usia ini, khususnya wanita, tingkat metabolisme menurun dan mereka mengalami beberapa masalah seperti kenaikan berat badan dan mengakibatkan obesitas. Waspai Penyakit-penyakit ini saat Usia Di Atas 30 Tahun Selain itu, kulit mereka juga mulai kehilangan kolagen yang menyebabkan keriput serta garis halus. Karena perubahan pada tubuh wanita tersebut, mereka lebih rentan terserang beberapa penyakit saat berusia 30-an dibanding laki-laki. Jadi, ketika Anda memasuki usia ini, mulailah melakukan pencegahan. Buat perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari Anda, ubah kebiasaan makan Anda dan makan lebih banyak buah dan sayuran. Jangan lupa juga untuk istirahat yang cukup dan olahraga teratur. Agar Anda lebih waspada, berikut ini adalah daftar penyakit yang umum menyerang pada usia 30-an seperti dilansir Boldsky. Kanker payudara Wanita di usia 30-an memiliki risiko terkena kanker payudara. Benjolan yang tumbuh di dalam payudara wanita disebabkan oleh perubahan hormon dan bagian tubuh lainnya. Beberapa jenis penyakit ini tidak berbahaya, tapi jika bersifat kanker, dapat menyebabkan kematian. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dan pemeriksaan sendiri harus dilakukan. Kanker serviks Wanita yang berusia 30-40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks. Pemeriksaan pap dan panggul harus dilakukan setiap tahun untuk mengetahui apa yang terjadi dalam tubuh Anda. Osteoporosis Saat ini, lima dari 10 wanita mengalami osteoporosis. Seiring pertambahan usia wanita, tulang melemah dan menyebabkan dia menyerap jaringan tulang itu sendiri bukan dengan memproduksi yang baru. Melakukan olahraga teratur, makanan dan suplemen yang lebih baik sejak dini akan membuat Anda menua dengan lebih sehat. Diabetes tipe 2 Ini merupakan penyakit teratas yang banyak menyerang orang-orang di usia 30-an. Menurut statistik, 20 persen pria dan wanita menderita diabetes tipe 2 setelah berusia 30-an. Diabetes merupakan penyakit yang menjadi pemicu penyakit serius lainnya. Untuk menghindarinya, Anda harus menjaga gaya hidup sehat. Rheumatoid arthritis atau radang sendi Jika Anda bisa mengatasi masalah ini saat usia 30-an, saat berusia 60-an Anda akan lebih sehat. Ini merupakan penyakit autoimun yang dapat menyebabkan penyakit sendi yang parah, peradangan, bengkak, dan sebagainya. Karena penyebabnya masih belum diketahui, Anda harus mengatur kesehatan dengan menjaga pola makan, pengobatan, dan olahraga. Kanker testis Mungkin Anda berpikir ini adalah penyakit yang menyerang pria setelah usia 40 atau 50. Tapi ini adalah penyakit yang menyerang pria di usia 30an. Anda harus melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan pemeriksaan testis di usia ini. Tekanan darah tinggi Pola makan yang salah, kurang berolahraga, obesitas, stres, dan kecemasan menjadi penyebab utama timbulnya masalah kesehatan ini. Karenanya, cegahlah dengan menjalani gaya hidup yang sehat dan pengobatan yang dapat menjaga kesehatan Anda. Jangan abaikan masalah kesehatan Anda. Jangan ragu untuk mengonsultasikan nyeri Anda bersama Klinik Nyeri dan Tulang Belakang