Beauty is Pain, Ternyata ini Bahaya Menggunakan High Heels

Beauty is Pain, sebuah pepatah di sebagian kalangan wanita yang menganggap jika ingin tampil cantik harus melewati rasa rasa sakit. Sebagai salah satu contohnya adalah saat menggunakan high heels, bahaya nyeri harus Anda tanggung. Tak bisa di pungkiri, dengan bantuan high heels maka wanita tersebut akan menjadi lebih tinggi, anggun dan menarik. Namun sebenarnya pemakaian sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama. Lalu bagaimana dengan wanita karir yang bekerja menggunakan high heels? Disarankan untuk menggunakan sepatu hak tinggi yang memiliki tinggi tidak lebih dari 2 – 3 cm. Atau melepas sepatu high heels nya ketika sedang bekerja di depan monitor, dan menggunakan sendal yang tidak memakai heels untuk menghindari bahaya nyeri.   Perlu diketahui juga oleh para wanita yang sering menggunakan sepatu high heels mengenai resiko resiko yang mungkin terjadi jika menggunakan high heels terlalu lama, seperti nyeri. Berikut beberapa resiko akibat menggunakan hak tinggi lainnya. Baca juga : Nyeri pinggang saat hamil Bahaya Ini Intai Wanita Saat Menggunakan High Heels Radang Sendi Beberapa ruas tulang di telapak kakimu akan menekuk dalam waktu lama. Pemakaian high heels dalam jangka lama akan membuat sendi-sendi akan meradang dan menimbulkan rasa nyeri. Cidera Otot Ketika anda memakai sepatu hak tinggi, otot dipaksa untuk meregang mengikuti bentuk sepatu. Hal tersebut dapt membuat otot cidera dan rusak. Menyebabkan Nyeri dan Linu Pada Pinggul Ketika anda berjalan dengan sepatu hak tinggi, seluruh berat badan hanya akan ditumpu oleh  kaki. Yang mana, beban yang ditanggung tidak seimbang dengan penumpu. Hal tersebut bisa bikin cidera dibagian punggung bawah dan menyebabkan pinggul merasakan nyeri dan sakit. Menyebabkan Nyeri dan Tegang Pada Leher Penggunaan high heels dalam jangka lama juga bisa menyebabkan perubahan postur tubuh, yaitu pembusungan. Namun, saat badan anda membusung, dagu anda tidak ikut terangkat. Hal tersebut bisa menyebabkan sakit nyeri leher. Leher bagian belakang menjadi lebih menonjol, hal itulah yang menyebabkan Sebab Kerusakan Tulang Washington Post pernah mengatakan bahwa berjalan terlalu lama beralaskan sepatu hak tinggi bisa mengakibatkan retak pada tulang kaki, lebih parahnya bisa menyebabkan patah tulang.Ini dikarenakan beratnya beban yang ditanggung oleh tulang kaki, secara beransur ansur mengurangi kekuatan tulang tersebut. Dan lambat laun mengakibatkan kerusakan pada tulang kaki tersebut. So tentunya jika anda sudah mengetahui resiko resiko diatas, maka sebaiknya anda mulai mengurangi. Namun jika anda sudah terlanjur sering menggunakan, dan sudah timbul rasa.

Kenali Bedanya Saraf Terjepit dan Sakit Punggung Biasa

Saraf Terjepit merupakan kondisi di mana terjadi penonjolan pada bantalan tulang sehingga menekan saraf. Dalam istilah medis, ini dinamakan herniated nucleus pulposus atau HNP. Menurut pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, saraf terjepit paling sering diderita mereka yang berusia 41-60 tahun di area punggung. Dari data RS Cipto Mangunkusumo tahun 2002 yang dikumpulkan oleh perhimpunan dokter saraf, diketahui bahwa prevalensi kasus saraf terjepit punggung adalah 18,37 persen dari pasien yang datang ke poli saraf. “Keluhan nyeri punggung merupakan kedua tertinggi setelah nyeri kepala yang angkanya mencapai 34,8 persen,” kata Mahdian di Jakarta, Selasa, 12 September 2017. Gejala saraf terjepit bisa dikenali dengan salah satu betis atau keduanya mengecil, atau disebut dengan gembur.   Kemudian, ada rasa seperti tertusuk jarum di pinggang, bahkan bisa terasa sampai kaki. Ada kelemahan pada punggung bawah yang membuat salah satu kaki berat sehingga susah berjalan. Bisa juga terjadi nyeri lokal pada daerah saraf kejepit, seperti pada punggung, leher atau pinggang. Pinggang bawah pasien juga akan mengalami mati rasa atau baal. Dan ada rasa terbakar atau panas, padahal ketika diraba daerah tersebut tidak panas. “Muncul pegal, nyeri, dan panas, kemudian dia juga tidak kuat berdiri lama, atau berjalan sepanjang 50 meter saja tidak kuat. Itu ciri-ciri saraf terjepit,” ujar Mahdian. Baca juga : Penyebab Saraf Terjepit Pada fase lanjut, saraf kejepit bisa membuat penderitanya tidak bisa menahan buang air kecil. Karena sudah menyerang sistem kemihnya sehingga sering ngompol atau bahkan tidak bisa buang air kecil. Begitu pula dengan buang air besar, pasien tidak bisa mengontrolnya karena saraf otonomnya sudah rusak. Faktor Saraf Terjepit dan Sakit Punggung Pasien pun mau tidak mau harus memakai popok disposable atau kateter. Penyebab paling sering saraf terjepit punggung, kata Mahdian, adalah faktor usia atau penuaan. Saraf terjepit punggung merupakan penyakit degeneratif yang muncul akibat faktor usia. “Penggunaan otot punggung untuk beban yang terlalu berat sehingga memengaruhi pinggang. Apalagi kalau jarang berolahraga, memaksakan mengangkat yang berat-berat bisa merusak pinggang,” lanjut Mahdian. Selain itu, trauma kecelakaan, baik kecelakaan kendaraan bermotor atau saat berolahraga, dan terjadi benturan langsung pada pinggang bisa sebabkan bantalan tulang rusak. Faktor lainnya adalah obesitas, di mana pinggang sebagai penopang utama setengah berat tubuh harus menahan beban yang kelewat berat. “Makanya orang yang berlebih berat badannya yang dikorbankan adalah bantalan tulang dan lututnya, karena menopang berat badan yang berlebih. Dia punya risiko tinggi HNP,” imbuh Mahdian.   Pekerjaan, posisi duduk dan duduk terlalu lama juga bisa menjadi faktor risiko Saraf Terjepit. Selain itu, faktor genetik juga bisa mempengaruhi, meskipun hanya kecil sekali. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi customer relation Lamina pain and spine center melalui Hp/Wa pada kontak website. 

Pseudogout Timbulkan Nyeri Hingga Bengkak pada Sendi

Pseudogout adalah

Pseudogout adalah penyakit yang menyebabkan rasa sakit yang terjadi mirip dengan penyakit asam urat (Gout), namun berbeda dari faktor penyebabnya. Pseudogout disebabkan oleh pengendapan kristal kalsium pirofosfat dihidrat di sendi yang menimbulkan nyeri dan hilang timbul. Perbedaan antara pseudogout dengan asam urat adalah asam urat terjadi karena penumpukan uric acid di sendi sedangkan pseudogout disebabkan penumpukan calcium pirofosfat. Keduanya merupakan kondisi artritis pada sendi akibat akumulasi zat tertentu pada sendi. Gejala Pseudogout Gejala yang terjadi berbeda beda, ada yang mengalami penyakit pseudogout biasanya anda akan merasakan nyeri di lutut, pergelangan tangan, bahu, atau sendi-sendi besar lainnya. Namun dalam beberapa kasus penyakit, penderita tidak merasakan nyeri, bahkan beberapa orang yang memiliki endapan kristal dalam jumlah besar tidak merasakan nyeri. Pengendapan kristal kalsium pirofosfat ini dapat diketahui dengan rontgen. Dimana akan nampak endapan berwarna putih dari kristal kalsium pirofosfat. Pengobatan yang dapat dilakukan adalah meminum obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen) banyak digunakan untuk mengurangi nyeri dan peradangan.   Namun jika pengobatan yang telah anda lakukan belum membuahkan hasil, sebaiknya Segera lakukan konsultasi dengan Klinik Lamina, karena ditangani langsung dengan  dr Mahdian Nur Nasution SpBS yang merupakan dokter spesialis tulang belakang yang sudah berpengalaman atasi keluhan nyeri dengan teknologi intervensi. Baca juga : Bahaya Syaraf Kejepit Apa yang meningkatkan risiko? Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena pseudogout meliputi: Usia yang semakin tua. Risiko mengalami pseudogout meningkat seiring dengan bertambahnya usia Cedera sendi. Cedera sendi, seperti cedera serius atau operasi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini pada bagian itu Kelainan genetik. Dalam beberapa keluarga, kecenderungan untuk mengalami penyakit ini disebabkan oleh faktor keturunan. Mereka cenderung terserang penyakit ini di usia yang masih muda Ketidakseimbangan mineral. Risiko terserang penyakit ini lebih tinggi pada mereka yang kadar kalsium atau zat besi dalam darahnya terlalu berlebih atau terlalu sedikit mengandung magnesium Kondisi medis lainnya. Pseudo gout juga dikaitkan dengan kelenjar tiroid yang kurang aktif atau kelenjar paratiroid yang terlalu aktif   Pseudogout, seringkali dihubungkan dengan beberapa kondisi kesehatan lain seperti diantaranya; Penyakit tiroid seperti hipertiroid  dan hiperparatiroid Hemofilia atau gangguan pembekuan darah Amyloidosis, penumpukan abnormal protein di dalam jaringan tubuh Hemochromatosis, penyakit dimana tingkat zat besi dalam darah yang abnormal  

Wajarkah Sakit Pinggang Pada Ibu Hamil Muda?

Nyeri pinggang hamil muda

Proses kehamilan merupakan sebuah tahapan kehidupan yang sangat membahagiakan bagi kaum wanita yang sudah melalui proses pernikahan, tetapi wajarkah rasa sakit pinggang pada ibu yang hamil muda? Seiring dengan semakin berkembangnya janin didalam kandungan, semakin tak sabar untuk menunggu kehadiran sang buah hati. Namun selama proses hamil muda tersebut, tak jarang para ibu sering mengeluh mengenai sakit yang dirasakan disekitar pinggang. Terutama ketika kandungan semakin membesar, rasa nyeri tersebut menjadi lebih sakit, bahkan rasa nyeri tersebut dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Penyebab Nyeri Pinggang pada Hamil Muda Setidaknya faktor penyebab rasa nyeri tersebut dapat dibagi dua, yaitu dari faktor internal, dan eksternal tubuh. Faktor internal sendiri dikarenakan hormon estrogen dan relaksin dalam tubuh yang meningkat. Sehingga mengakibatkan jaringan otot dan sendi-sendi di tubuh jadi melunak/ lentur dan memungkinkan ligamen di daerah panggul menjadi longgar. Pergeseran pada sendi dan mengendurnya ligamen ini dapat mempengaruhi beban kerja dari tulang belakang. Apabila hal ini tidak ditoleransi dengan baik, maka terjadilah sakit pinggang saat hamil. Faktor internal lain yang juga berperan adalah bertambahnya berat badan Ibu hamil. Pada kehamilan yang normal, pertambahan berat badan dapat mencapai 11 hingga 15 kilogram. Pada kondisi ini tulang belakang harus menopang berat tubuh yang bisa memicu sakit pinggang. Selain itu, berat bayi yang tumbuh juga dapat memberikan tekanan pada pembuluh darah dan saraf di punggung sehingga bagian pinggang wanita hamil muda rentan mengalami sakit. Sementara untuk faktor eksternal ditambah lagi jika para ibu sering melakukan kesalahan posisi tubuh ketika beraktifitas atau salah posisi tidur. Kondisi ini semakin memicu rasa sakit di daerah pinggang ataupun punggung. Baca juga : Piriformis syndrome Faktor eksternal lain yang menyebabkan nyeri pinggang pada ibu hamil muda adalah pemisahan pada otot. Saat rahim mengembang, dua otot paralel (otot abdominis rektal) yang berada dari tulang rusuk ke tulang kemaluan, dapat terpisah. Saat kondisi ini terjadi, perasaan sakit pada punggung dan pinggang akan semakin intens, pada wanita yang hamil muda. Segera lakukan konsultasi dengan Klinik Lamina Pain and Spine Center, karena ditangani langsung dengan  dr. Mahdian Nur Nasution SpBS yang merupakan dokter spesialis tulang belakang yang sudah berpengalaman. Lihat video edukasi terapi nyeri di Lamina Klinik.  

Berikut Faktor Penyebab Saraf Kejepit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP)

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau lebih dikenal dengan saraf kejepit merupakan gangguan pada tulang belakang, lebih tepatnya pada bagian bantalan tulang belakang. “Sebanyak 50 persen orang di dunia pernah mengalami nyeri pinggang bawah atau nyeri tulang belakang, yang merupakan gejala dari saraf kejepit,” tukas dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS. Ia menambahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh RS Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2002, prevalensi nyeri pinggang bawah merupakan tertinggi kedua yaitu sebanyak 18,37 persen setelah nyeri kepala dengan angka 34,eight persen. Penyakit degeneratif yang umumnya menyerang pada usia 41-60 tahun tersebut muncul karena bantalan tulang (diskus) pada daerah tersebut mengalami gangguan sehingga melenceng dari tempat semula dan menekan saraf karena menonjol. Gejala paling umum dari penyakit tersebut adalah mengecilnya bentuk betis. Selain itu, muncul rasa nyeri seperti ditusuk jarum pada bagian pinggang hingga kaki. Akibatnya, penderita menjadi kesulitan berjalan karena rasa nyeri disertai sensasi terbakar atau mati rasa yang muncul pada daerah saraf terjepit seperti leher atau pinggang bawah. Dengan demikian, penderita pun tak tahan bila terlalu lama berdiri atau berjalan. Gejala jangka panjang dari masalah saraf tersebut juga berimbas pada saluran kemih. Dimana penderita tak bisa mengontrol buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB). Terlalu lama, atau sebaliknya, tak bisa BAK atau BAB sebelum kantong kemih penuh. Faktor yang menyebabkan Hernia Nucleus Pulposus Ada beberpa faktor yang menyebabkan saraf kejepit, selain menuanya usia. Pertama, penggunaan otot punggung yang berlebihan, seperti mengangkat beban yang terlalu berat dengan posisi kurang tepat karena tak terbiasa. “Untuk mereka yang terbiasa bekerja di sawah misalnya, memacul atau mengangkat timbunan padi yang berat adalah hal biasa. Namun mereka yang tinggal di kota tentu akan keberatan,” dr. Mahdian memberi contoh. Kecelakaan yang menyebabkan trauma juga bisa memicu saraf kejepit .Misalnya kecelakaan kendaraan bermotor atau saat berolahraga, yang langsung berbenturan dengan pinggang. Obesitas atau kelebihan berat badan juga berperan dalam gangguan saraf satu ini. Pinggang dan lutut yang menopang beban berlebih membuat bantalan tulang bekerja ekstra saat berdiri atau beraktivitas.

Racz Catheter, Aman dan Efektif Menghilangkan Nyeri

Adhesiolysis epidural neurolisis yang juga dikenal sebagai racz catheter prosedur, merupakan sebuah tindakan medis yang dilakukan untuk mengambil jaringan parut yang menumpuk diruang epidural tulang belakang. Tindakan ini merupakan prosedur bedah minimal invasif, yang dikembangkan oleh Dr. Gabor Racz, pada akhir tahun 1980. Prosedur ini terbukti efektif dalam mengatasi nyeri punggung, nyeri leher, yang disebabkan oleh penumpukan jaringan parut. Penumpukan jaringan parut di ruang epidural inilah yang kemudian berdampak pada saraf-saraf tulang belakang dan mengakibatkan sensasi nyeri. Adhesi/ perlengketan kolagen di ruang epidural disebabkan oleh adanya inflamasi. Penumpukan jaringan parut dapat terjadi pada mereka dengan riwayat operasi tulang belakang sebelumnya. Racz catheter diindikasikan untuk mereka dengan penderita nyeri kronik yang telah mengalami kegagalan dengan terapi konvensional seperti suntikan steroid epidural.   Prosedur Racz Catheter Sebelum racz catheter prosedur dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan MRI untuk mengetahui saraf mana yang menyebabkan nyeri. Racz catheter prosedur hanya membutuhkan suntikan anastesi lokal. Setelah daerah yang disuntik obat anastesi mati rasa, dokter selanjutnya akan memasukan kateter, dengan panduan X-ray menuju ke ruang epidural, tepat dimana jaringan parut menumpuk. Baca juga : Endoskopi PECD Kateter ini digunakan untuk mengantarkan beberapa obat-obatan untuk melarutkan jaringan parut serta mengurangi peradangan atau iritasi saraf. Prosedur yang sama dilakukan dokter pada hari berikutnya untuk memastikan penumpukan jaringan parut telah hilang seluruhnya. Oleh dokter yang berpengalaman prosedur racz kateter hanya membutuh waktu 30-45 menit, pasien tidak harus melakukan rawat inap di rumah sakit. Paska tindakan, pasien mungkin merasa berat mengangkat kaki, dan mengalami perubahan sensoris. Namun tidak usah khawatir karena ini hanya bersifat sementara. Sedikit rasa nyeri juga mungkin muncul terutama dilokasi penyuntikan setelah efek obat anastesi lokal hilang. Penelitian Klinis Dalam beberapa penelitian, racz catheter dianggap aman dan efektif sebagai terapi penghilang nyeri. Prosedur ini mampu meminimalkan efek merusak dari penumpukan jaringan parut di ruang epiduiral tulang belakang, yang juga diketahui mengurangi efektifitas suntikan epidural steroid, dalam pengobatan nyeri tulang belakang. Bowel dan kawan-kawan dalam penelitiannya menyatakan racz catheter secara efektif melarutkan jaringan parut, sehingga membebaskan saraf dari tekanan. Trescot dan kawan-kawan dalam penelitiannya tahun 2007 juga menyatakan terapi ini mampu menghilangkan rasa nyeri lebih dari 70%. Dengan efektifitas terapi cukup panjang, hingga beberapa tahun, bergantung penyebabnya. Infeksi dan perdarahan di lokasi suntikan dapat terjadi setelah prosedur racz dilakukan. Namun angkanya cukup kecil, dan dapat diminimalisir jika dilakukan oleh dokter Lamina Pain and Spine Center yang berpengalaman.  

Hanya Gunakan Bius Lokal, Kenali Metode Terbaru Operasi Saraf Kejepit

Kabar gembira, kini ada Metode Terbaru Operasi Saraf Kejepit atau minimal invasif atau bedah minimal sayatan. Namanya Percutaneous Endoscopic Lumbar Disectomy (PELD). Terdapat dua prosedur operasi bedah minimal yang populer dan direkomendasikan pada kasus saraf kejepit yaitu mikrodistectomy dan PELD. Keduanya bertujuan menghilangkan tekanan herniasi diskus pada saraf sekitar tulang belakang.   Prosedur ini hanya mengakibatkan sayatan kecil pada kulit, memberikan manfaat dan kenyamanan pada pasien secara lebih baik di banding teknik bedah konvensional. “Selain luka sayatan yang minimal, pada pasien dengan kontra indikasi untuk dilakukan bius total, teknik ini dapat dilakukan dengan menggunakan bius lokal,” kata pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan, Selasa (12/9). Dengan teknik itu, pasien juga tidak harus berlama-lama di rumah sakit atau klinik karena dapat juga dilakukan one day care. Seperti namanya, PELD dilakukan melalui prosedur endoskopi. Dokter akan membuat sayatan kecil di kulit sebesar 7 mm, selanjutnya masuk ke dalam menuju foramen. “Foramen merupakan area yang kaya akan persarafan. Di lokasi ini juga tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf yang menimbulkan rasa nyeri pada pasien,” jelas Mahdian. PELD juga biasa disebut dengan teknik stich less surgery, karena teknik ini tidak membutuhkan jahitan setelah prosedur dilakukan. “Tidak seperti operasi lainnya, yang memerlukan jahitan di akhir prosedur,” tambah Mahdian. Baca juga : Bahaya Saraf Kejepit Dahulu pada teknik operasi konvensional, untuk dapat mencapai daerah saraf yang terjepit, seorang dokter harus melakukan banyak sayatan, mulai dari sayatan di kulit, sayatan di otot, sayatan atau pemotongan tulang lamina, baru kemudian meniyisihkan saraf-saraf dan terakhir mengkoreksi bantalan tulang yang menjepit. Tahapan yang harus dilakukan tadi, tentunya akan mengakibatkan trauma jaringan. “Dengan teknik endoskopi, hal ini tidak dilakukan lagi,” jelas Mahdian. Endoskopi PELD Operasi Saraf Kejepit dengan Risiko Kecil Teknik operasi konvensional juga mengakibatkan perdarahan yang lebih banyak, dibandingkan jika dilakukan dengan teknik endoskopi. Selain itu risiko untuk terjadinya infeksi pada teknik operasi konvensional juga lebih besar. Pemotongan tulang lamina pada teknik konvensional dikemudian hari dapat mengakibatkan masalah instabilitas tulang hingga kekuatan tulang yang menurun. “Teknik endoskopi juga tidak perlu memotong ligamen yang berfungsi sebagai penyangga tulang,” kata Mahdian.   Risiko kambuh kembali, juga lebih kecil pada metode terbaru operasi saraf kejepit. Teknik operasi endoskopi saraf kejepit karena tidak mengganggu stabilitas tulang belakang. Dengan teknik endoskopi risiko perlengketan juga tidak ada. Lama perawatan rata-rata selama 1 – 6 hari. Tindakan PELD dilakukan dalam waktu sekitar 45 menit. Salah satu pasien saraf kejepit yang menjalani operasi PELD, Sri Partinih (54) sudah mengalami saraf kejepit selama 2 tahun. Terakhir, saking sakitnya, Sri sampai pingsan. “Saya sudah ke mana-mana dari mulai fisioterapi dan ke berbagai dokter. Tetap enggak sembuh. Sampai terakhir 17 Agustus kemarin ketemu dokter Mahdian lalu dioperasi di RS Meilia Cibubur, saya beranikan diri katanya risikonya kecil. Dan sampai sekarang rasanya jauh lebih baik,” tutur Sri. Operasi Syaraf Kejepit dengan Endoskopi PELD Tak Perlu Ke Luar Negeri

Nyeri Punggung Bagian Atas

Mungkin masih terasa asing bagi awam untuk mengetahui kemajuan teknologi kedokteran saat ini. Namun sebenarnya blokade nyeri pada punggung bagian leher atas sudah lama dikenal di dunia kedokteran. Seperti kita ketahui, nyeri merupakan suatu sensasi tubuh yang mengakibatkan ketidaknyamanan. Kondisi ini selanjutnya membuat pasien menderita, bahkan kehilangan produktivitas. Nyeri punggung adalah salah satu masalah kesehatan paling umum dijumpai, perubahan gaya hidup merupakan salah satu faktor utama yang berperan. Perlu dicatat bahwa terapi nyeri punggung atas sangat beragam. Dalam beberapa literatur medis dikatakan suntikan obat merupakan terapi yang lebih masuk akal daripada obat oral. Arti di balik suntikan yang lebih efektif adalah pemberian obat anti- inflamasi segera pada saat muncul ketidak nyamanan leher bagian atas. Nyeri punggung bagian atas seringkali datang tiba-tiba dan hilang dengan sendirinya. Meski demikian kondisi ini dapat muncul kembali dengan rasa sakit yang lebih hebat. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah cidera tulang. Dapat juga disebabkan masalah pada ligamen penghubung di sekitar sendi. Kondisi lainnya adalah masalah pada sendi facet. Nyeri pada sendi facet juga tergantung pada sendi mana yang terpengaruh.  Anda dapat merasa sakit jika sendi facet cidera. Cidera sendi facet kadang terasa hanya seperti tekanan otot. Dikatakan oleh dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, Pakar Nyeri dari Klinik Nyeri Tulang Belakang Jakarta, gangguan pada punggung bagian atas dapat menimbulkan nyeri berlebih dan berkepanjangan sehingga penderitanya tidak dapat bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan berujung pada kelumpuhan atau depresi. Penyebab Nyeri Punggung Bagian Atas Kerusakan sendi facet juga sering menjadi penyebab nyeri punggung bagian atas hingga leher. Kerusakan sendi facet merupakan penyebab nyeri leher yang umumnya berlangsung cukup lama dan dirasakan lebih dari 3 bulan sehingga sering dianggap sebagai nyeri kronis. Gejala yang Anda rasakan ketika mengalami cidera facet adalah sakit pada satu tempat atau lebih. Baca juga : Nyeri Punggung Sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan radiologi penunjang seperti X-ray hingga Magnetic Resonance Imaging (MRI). Cara terbaik untuk mendiagnosa dan terapi rasa sakit akibat cidera facet adalah menghambat sinyal rasa sakit pada syaraf cabang medial. Jika Anda, keluarga atau rekan Anda memiliki berbagai keluhan nyeri, jangan berhenti untuk memberikan dukungan atau semangat. Karena dukungan dan masukan positif merupakan hal yang sangat penting bagi proses kesembuhan pasien nyeri punggung atas. Jangan ragu untuk mengonsultasikan nyeri Anda di Klinik Nyeri dan Tulang Belakang atau saat ini dikenal sebagai Lamina Pain and Spine Center.

Gejala Low Back Pain Akibat Masalah Sendi Facet

gejala low back pain

Setelah kita sebelumnya membahas mengenai apa itu facet joint syndrome, gejala, penyebab dan terapinya. Kini kita akan membahas lebih lanjut mengenai gejala nyeri punggung bawah (low back pain). Yang disebabkan karena masalah sendi facet, tulang belakang, yakni : Nyeri akibat facet joint syndrome dirasakan sesuai dengan area sendi facet yang mengalami masalah. Keluhan gejala dapat berupa nyeri leher, nyeri punggung bawah (low back pain). Ataupun nyeri pinggang dari masalah sendi facet tersebut. Nyeri leher atau nyeri punggung bawah (low back pain) umumnya dirasakan pada satu sisi atau kedua sisi dan tidak tepat berada di tengah tulang belakang. Pada kondisi akut, keluhan nyeri punggung bawah (low back pain) kadang memiliki gejala yang hampir sama dengan herniasi diskus invertebralis. Atau awam mengenalnya sebagai syaraf terjepit. Yang selanjutnya menyebabkan infeksi organ dalam perut, patah tulang maupun robeknya otot-otot di tulang belakang. Meski jarang, nyeri punggung bawah (low back pain) kadang dijalarkan hingga ke kaki. Arah Gejala Pergerakan Low Back Pain Karena Sendi Facet Nyeri leher atau nyeri punggung bawah (low back pain) akan bertambah berat ketika leher atau tubuh membungkuk ke belakang (menengadah), atau pada gerakan memutar, karena pada posisi ini akan terjadi penyempitan celah sendi facet dan penekanan pada sendi facet. Nyeri leher atau nyeri punggung bawah (low back pain) akan sedikit mereda ketika tubuh membungkuk ke depan, karena celah antar sendi facet akan melonggar dan mengurangi penekanan pada sendi facet. Perubahan posisi atau posisi berdiri lama dapat meningkatkan rasa nyeri punggung bawah (low back pain) yang timbul. Berdiri dapat meningkatkan tekanan atau beban pada sendi facet. Nyeri leher atau nyeri punggung bawah (low back pain) kadang memburuk di pagi hari dan membaik setelah bergerak dan melakukan aktifitas, namun pada mereka yang bekerja dengan posisi duduk lama/seharian dengan postur tubuh yang buruk, mungkin akan mengalami nyeri punggung bawah (low back pain) sepanjang hari.   Jika Anda, keluarga atau rekan Anda memiliki berbagai keluhan nyeri, jangan berhenti untuk memberikan dukungan. Karena dukungan dan masukan positif merupakan hal yang sangat penting bagi proses kesembuhan pasien. Jangan ragu untuk mengonsultasikan nyeri Anda bersama Klinik Nyeri dan Tulang Belakang.

Jangan Menaruh Dompet Disaku Belakang Celana Anda

Hampir semua pria selalu Menaruh Dompet Disaku Belakang belakang, dikarenakan ukuran dompet pria yang cenderung lebih kecil dibandingkan dompet wanita tentunya hal ini dilakukan karena dinilai lebih simple untuk kemudahan jika harus membayar sesuatu tidak perlu membuka tutup tas, cukup mengambil dengan cepat dari saku celananya, untuk menyimpan barang, dan cenderung dirasa lebih aman daripada meletakan di saku baju. Namun belum banyak pria yang mengetahui adanya resiko dibalik kemudahan ini, salah satunya adalah resiko terganggunya saraf. Para ahli telah memberikan hasil penelitian bahwa orang yang terbiasa duduk dengan dompet di saku belakang celananya beresiko untuk merusak saraf saraf kuncinya atau yang lebih dikenal sebagai hip-pocket syndrome atau wallet-neuropathy. Ternyata posisi dompet saat diduduki dapat menekan saraf di belakang tubuh dan apabila anda selalu meletakan dompet anda disaku belakang celana anda setiap hari, maka hal ini dapat memicu keluhan berupa sakit punggung bagian bawah, rasa sakit dan mati rasa pada pergelangan kaki atau bagian bawah kaki, dan yang lebih parah adalah rasa sakit saat berjalan, duduk, maupun berbaring. Posisi yang Salah Ternyata hal ini diakibatkan karena pada saat Menaruh Dompet Disaku Belakang belakang. Tanpa anda sadari  posisi duduk menjadi miring sehingga terjadi ketidakseimbangan yang melibatkan otot, tulang, dan sistem saraf. Pada saat yang sama panggul berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan. Namun yang terjadi justru kurva kompensasi tulang belakang menjadi tidak sejajar. Kemudian mempengaruhi pergeseran bahu dan menyebabkan nyeri pada leher, punggung, dan bahu. Melihat begitu banyak resiko yang dapat dialami. Ada baiknya kaum pria mulai tidak menyimpan dompet di saku belakang celana demi kesehatan saraf dan tubuh pada umumnya. Alangkah lebih baiknya segera konsultasikankarena anda akan ditangani oleh dokter spesialis bedah saraf.