Adalah Interventional Pain Management, Tekan Nyeri Hingga Titik Nadir

Interventional pain management adalah

Interventional pain management adalah pengelolaan kondisi nyeri pada pasien dengan kompleksitas tertentu yang berbeda dari satu pasien ke pasien lain. Apalagi, dahulu tidak ada standar yang pasti mengenai penanganan nyeri, terutama nyeri kronik sehingga kemampuan setiap dokter dalam menangani nyeri juga berbeda-beda. Akibatnya, pengelolaan nyeri menjadi tidak optimal dan gagal meningkatkan kualitas hidup penderitanya.   Untuk mengisi celah ini, interventional pain management hadir. Menurut American Society of Interventional Pain Physicians (ASIPP), interventional pain management (IPM) adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang diagnosis dan pengobatan gangguan nyeri. Yaitu dengan menerapkan teknik-teknik intervensi dalam menangani nyeri subakut, kronik, persisten, dan nyeri yang sulit diatasi, baik secara independen maupun bersama dengan modalitas terapi lainnya. Baca juga : Sciatica Interventional pain management dilakukan oleh dokter spesialis anestesi, neurologi, bedah saraf, orthopaedi Atau terapi fisik dan rehabilitasi, yang melakukan pelatihan di bidang manajemen nyeri. Mula-mula, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan mengevaluasi riwayat medis pasien, serta melakukan sejumlah pemeriksaan tambahan. Jenis Interventional Pain Management Adalah Setelah didapatkan kesimpulan, barulah dokter membuat rencana pengobatan. Rencana pengobatan tersebut umumnya mengombinasikan terapi intervensi, rehabilitasi fisik dan okupasi, serta dukungan psikososial. Terapi intervensi yang dapat dilakukan di klinik Lamina dengan IPM di antaranya adalah: Radiofrequency Ablation Musculoskeletal injection USG guided Epidural block steroid injection Epidural RACZ catheter Simpathetic block Spinal cord stimulation Jika Anda, keluarga atau rekan Anda memiliki berbagai keluhan nyeri, jangan berhenti untuk memberikan dukungan, karena dukungan dan masukan positif merupakan hal yang sangat penting bagi proses kesembuhan pasien.   Dikatakan oleh dr. Ade Sri Wahyuni, Sp.KFR, seiring dengan redanya nyeri, pasien tentu akan tidur lebih nyenyak, lebih nyaman bersosialisasi, dan kualitas hidupnya meningkat. Teknik IPM dipercaya dapat menjadi alternatif dan cocok bagi mereka yang sudah lelah berobat dengan pengobatan nyeri konvensional tanpa membuahkan hasil. Menurut studi yang dilakukan oleh SG2 sebagai salah satu organisasi intelijen dalam bidang kesehatan, hanya 25% pasien nyeri kronik yang mendapat terapi konvensional mengalami penurunan nyeri. Sedangkan dengan program interventional pain management, penurunan nyeri dapat dirasakan oleh 60% pasien. Bahkan, kebutuhan obat antinyeri dapat diturunkan hingga 75%.

Nyeri Punggung Usai Melahirkan Tidak Hilang ? Segera Cek ke Dokter

Ketika sedang mengandung, menjadi hal yang umum ketika ibu sering mengeluh nyeri di area punggung. Namun jika Nyeri Punggung Usai Melahirkan Tidak Hilang ? Segera Cek ke Dokter. Biasanya, kondisi itu tidak akan dirasakan lagi oleh ibu setelah mereka melahirkan si kecil. Seperti diungkapkan dr Sri Wahyuni SpKFR dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang atau yang saat ini dikenal sebagai Lamina Pain and Spine Center. “Wanita hamil pasti posturnya akan berubah di mana tulang belakang akan lebih melengkung untuk mengimbangi perut yang makin besar,” jelasnya. Namun, setelah melahirkan kondisi tulang biasanya akan kembali normal. “Nyeri punggung pada ibu hamil sifatnya fungsional, artinya setelah melahirkan umumnya sudah tidak dirasa dan bisa diatasi dengan men-stretching otot belakang dan otot perut,” terang dr Ade di Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Jakarta, Jl Warung Jati Barat No 34, Jakarta Selatan. Namun, lanjut dr Ade, jika nyeri punggung tetap dirasa bahkan setelah ibu melahirkan, perlu dicek kembali apakah ada penyakit penyerta yang muncul sejak sebelum hamil dan berpengaruh pada nyeri di punggung, apakah ada kelainan tulang belakang, atau setelah 9 bulan mengandung memang struktur tulang belakang mengalami perubahan.   Jangan ragu untuk mengonsultasikan nyeri Anda bersama Lebih lanjut, nyeri punggung usai melahirkan selain disebabkan oleh meningkatnya beban tubuh, seperti disebutkan diatas. Kondisi ini juga dapat disebabkan adanya peregangan otot perut, bertambahnya berat tubuh, serta adanya perubahan hormonal yang terjadi selama masa kehamilan. Nyeri punggung usai melahirkan dapat disebabkan karena posisi tubuh dan adanya kontraksi selama persalinan> hal lain yang juga dapat berperan belum terbiasanya menggendong Si Kecil, terutama pada ibu-ibu muda yang baru melahirkan anak pertamnya. Hingga permasalah pada postur tubuh ketika menyusui yang kurang tepat. Lantas, cara apa saja yang bisa dilakukan para ibu, untuk mengatai hal ini? Berikut ini beberapa tipsnya. Cara Mengatasi Nyeri Punggung Usai Melahirkan Sakit punggung usai melahirkan dapat hilang dengan sendirinya kurang dari satu bulan pasca melahirkan. Namun, pada beberapa kondisi diperlukan trik khusus untuk mengatasinya, diantaranya: Olahraga Olahraga, selain baik untuk kesehatan ternyata bermanfaat mengurangi risiko sakit punggung pada waktu hamil. Olahraga juga dapat mengembalikan kekuatan otot. Kondisi ini selanjutnya membuat para ibu muda, atau ibu pasca melahirkan terhindar dari nyeri punggung yang sangat mengganggu. Beberapa jenis olahraga yang bisa dijadikan pilihan untuk mengatasi nyeri punggung usai melahirkan adalah dengan cara renang atau melakukan yoga. Saat Anda melahirkan dengan operasi caesar, berolahraga memang tidak disarankan para akhi. Paling tidak selama 6 minggu pasca melahirkan. Sebelum melakukan aktivitas olahraga, sangat disarankan untuk Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Tujuannya memastikan keamanannya aktivitas yang dilakukan. Perhatikan posisi menyusui yang Baik dan Benar Menyusui dengan posisi tepat akan mengurangi dan mencegah risiko nyeri punggung usai melahirkan. Jika memungkinkan, Ibu disarankan untuk duduk pada kursi yang memiliki sandaran lengan. DIsamping juga menggunakan bantal sebagai penyangga punggung Ibu saat sedang melakukan proses menyusui. Hal ini bermanfaat untuk mengatasi rasa tidak nyaman akibat nyeri punggung. Pastikan juga posisi kaki Ibu yang sedang menyusui menyentuh lantai, tidak menggantung. Mandi menggunakan Air Hangat Untuk mengatasi nyeri punggung usai melahirkan, Anda dapat mencoba mandi dengan air hangat. Dari beberapa literatur yang ada Air hangat bermanfaat untuk merelaksasi otot yang tegang. Supaya aman, pastikan suhu air yang Anda gunakan tidak terlalu panas. Kondisi ini berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, buat senyaman mungkin suhu airnya. Saat sedang malas untuk mandi, Anda dapat menggunakan air hangat atau bahkan air dingin untuk mengatasi nyeri punggung. Usahakan kompres mengunakan kain yang halus atau lembut sehingga tidak menyebabkan iritasi pada kulit Anda. Hindari Mengangkat Beban Berat Pasca melahirkan, hindari kegiatan atau aktivitas mengangkat beban atau benda-benda di sekeliling rumah yang berat. Terlebih jika Anda melahirkan melalui operasi caesar, hindari aktivitas initerutama saat jahitan luka di perut belum kering. Jika memang tetap harus mengangkat atau mengendong pastikan punggung Anda tetap pada posisi yang tepat saat mengangkat beban, yakni pada posisi badan lurus. Dengan lutut yang di tekuk dan sebagai tumpuan untuk mengangkat benda atau beban berat tersebut. Peregangan Sebelum Tidur Atasi Nyeri Punggung Usai Melahirkan Peregangan atau relaksasi sebelum tidur, dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya; peregangan tubuh, latihan pernapasan, hingga melakukan pijatan di punggung. Disisi lain melakukan kegiatan peregangan sebelum tidur dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tidur Anda. Saat nyeri punggung usai melahirkan terasa sangat mengganggu atau bahkan menghambat aktivitas sehari-hari. Dengan sudah melakukan beberapa cara diatas, Anda disarankan untuk melakukan perawatan ke pada dokter. Ini dilakukan guna menyingkirkan penyebab lain seperti masalah syaraf terjepit. Atau saat nyeri punggung yang Anda alami disertai demam. Dokter akan melakukan langkah terbaik untuk mengatasi nyeri punggung yang anda alami baik dengan pemberian obat, atau menyarankan untuk melakukan fisioterapi hingga pemeriksaan penunjang lain seperti radiologi, guna mengetahui penyebab utama nyeri punggung usai melahirkan yang Anda alami.   Terakhir diperbarui: 29 Februari 2020 Ditinjau oleh: dr. Sri Wahyuni SpKFR

Sacroiliac Joint Pain Cirinya Adalah Nyeri Dari Pinggang Hingga Paha

Nyeri dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, bahkan setelah duduk santai hendak melakukan aktivitas lain. Meski bisa disebabkan berbagai kondisi kesehatan, salah satu yang paling umum menyebabkan nyeri khas semacam ini adalah masalah sendi sacroiliac atau sacroiliac joint pain. Nyeri atau pain pada sacroiliac (SI) joint atau sendi sacroiliac adalah sendi paling bawah pada susunan ruas tulang belakang manusia, yang menghubungkan antara sakrum dengan panggul. Tugas utama sacroiliac joint adalah menopang berat tubuh bagian atas terutama saat berdiri, berjalan, atau posisi duduk dengan mengangkat kaki. Nyeri pada sendi sacroiliac bisa menjalar ke pantat, paha, pangkal paha atau punggung bagian atas. Dan umumnya di picu saat Anda memulai berdiri, dengan nyeri pada salah satu sisi pinggang. Nyeri ini lebih berat terasa di pagi hari dan berangsur-angsur lebih ringan pada siang hingga malam hari. Data menunjukan sebanyak 15-30% populasi dunia, mengalami nyeri sendi sacroiliac. Inflamasi menjadi penyebab utama nyeri pada sacroiliac joint, pemicu kondisi ini adalah ketika Anda olahraga terlalu berat (over activity) atau terjatuh.   Tanda yang umum diperlihatkan penderita nyeri sendi sacroiliac adalah langkah kaki pincang. Arthritis sendi juga dapat memicu kondisi ini, salah satu yang paling banyak mempengaruhi tulang belakang adalah ankylosing spondylitis bahkan jika tidak segera ditangani dapat merusak sendi SI. Penuaan juga menjadi salah satu yang dapat memicu kerusakan sendi sacroiliac. Pada mereka kelompok wanita hamil, sendi SI juga dapat mengalami masalah, serta dipengaruhi aktivitas hormon tertentu. Terapi Nyeri Sacroiliac Joint Pain Adalah Pain atau nyeri sacroiliac joint, dapat diatasi dengan berbagai modalitas terapi, salah satu yang paling gampang adalah dengan menghindari kegiatan yang dapat memicu terjadinya nyeri/ inflamasi. Seperti dengan menghentikan aktivitas olahraga; sepak bola, futsal atau olahraga fisik lainnya. Terapi fisik dapat juga dilakukan dengan beberapa gerakan peregangan ringan dengan tujuan menguatkan otot dan membuatnya lebih fleksibel. Terapi panas dan dingin juga dapat membantu mengatasi nyeri ini. Dokter mungkin memberikan beberapa obat anti inflamasi untuk mengatasi nyeri sendi sacroiliac. Dapat juga diberikan suntikan kortison untuk mengurangi inflamasi pada sendi. Teknik lain dilakukan untuk membaalkan jaringan saraf sekitar sendi juga terbukti memberikan manfaat. Proloterapi dalam beberapa penelitian juga memiliki efektivitas yang baik sebagai terapi nyeri sendi sacroliliac.   Pada beberapa kasus, pasien mungkin dianjurkan melakukan pembedahan, terutama saat modalitas terapi lain tidak lagi efektif mengatasi nyeri sendi sacroiliac. Untuk informasi lebih lanjut terkait hal ini Anda dapat menghubungi Lamina Pain and Spine Center melalui HP/Wa tercantum di kontak.  

Radio Frekuensi Ablasi, Teknologi Terkini Penghilang Nyeri

Radio frekuensi ablasi atau RFA adalah

Radio frekuensi Ablasi (RFA) merupakan sebuah tindakan medis yang digunakan untuk menghilangkan nyeri. Alat radiofrekuensi ablasi bersumberdaya listrik, memproduksi gelombang radio digunakan untuk menghantarkan panas pada jaringan saraf, dengan tujuan mengurangi nyeri pada berbagai area tubuh. Tindakan radio frekuensi ablasi umumnya dilakukan di klinik atau rumah sakit. Hebatnya tindakan medis ini adalah pasien tidak diharuskan melakukan rawat inap, pasien boleh pulang segera pasca tindakan. RFA diindikasikan untuk mengobati pasien dengan nyeri kronis, seperti nyeri pinggang, nyeri leher atau nyeri yang diakibatkan oleh penyakit arthritis sendi, baik diakibatkan oleh trauma maupun faktor degeneratif (penuaan). Terapi radio frekuensi ablasi tidak bersifat permanen dalam menghilangkan nyeri yang dialami pasien. Namun dapat bertahan minimal 12 bulan hingga beberapa tahun, tergantung dari kondisi dan penyebab nyeri. Lebih dari 70% pasien yang diobati dengan teknologi ini, mengaku cukup puas dengan hasil yang didapatkan. Anda tak perlu khawatir, RFA merupakan terapi yang aman untuk mengatasi nyeri. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, dikatakan bahwa terapi ini sangat baik ditoleransi pasien, dengan angka komplikasi yang cukup rendah. Komplikasi yang mungkin timbul berupa perdarahan atau infeksi di lokasi suntikan. Dan umumnya dapat diminimalisir oleh dokter atau klinik yang sudah berpengalaman. Persiapan Sebelum dan Sesudah Tindakan Radio Frekuensi Ablasi terdapat beberapa persiapan yang dilakukan tenaga medis sebelum pasien melakukan tindakan radio frekuensi ablasi, beberapa diantaranya; Pasien ditempatkan di meja tindakan, baik sesuai dengan posisi setengah duduk atau berbaring Pasien dapat diberikan sedasi secara intravena Sebelum tindakan radio frekuensi ablasi dilakukan, bagian tubuh yang akan diterapi harus dibersihkan untuk menimimalisir risiko infeksi Dokter selanjutnya akan memberikan suntikan anastesi pada wilayah atau kulit yang akan dilakukan tindakan radio frekuensi ablasi Untuk memudahkan tindakan, dokter akan menggunakan bantuan pencitraan radiologi C-arm dan zat warna kontras sebagai guiding jarum radiofrekuensi ablasi Saat jarum radiofrekuensi telat tepat pada posisi saraf yang akan dilakukan tindakan ablasi, aliran listrik melalui elektrode akan dihantarkan generator radio frekuensi ablasi ke lokasi saraf yang dituju Tindakan ini mungkin dilakukan pada saraf sekitar yang lain Efek samping Radio Frekuensi Ablasi Efek samping yang mungkin muncul pada pasien setelah terapi ini dilakukan masih tergolong ringan, meliputi; rasa tidak nyaman, bengkak di daerah tindakan, namun umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah 2 atau 3 hari. Sama seperti tindakan medis lain, pada beberapa kondisi, terapi ini mungkin tidak bisa dilakukan, seperti pada mereka dengan penyakit infeksi aktif seperti HIV/AIDS. Sebelum dokter melakukan Radiofrekuensi Ablasi, pasien disarankan untuk berpuasa minimal 6 jam sebelum tindakan. Baca juga : Sakit tulang belikat Jika anda sedang mendapatkan terapi insulin, pada penderita diabetes, dokter mungkin akan merubah dosis insulin beberapa hari sebelum tindakan dilakukan. Pasien juga tidak diperbolehkan mengendari kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin minimal 1 x 24 jam setelah prosedur dilakukan. Biaya Terapi Radiofrekuensi Ablasi Terkait biaya terapi radiofrekuensi ablasi masih sangat terjangkau, jika dibandingkan tindakan operatif untuk mengatasi nyeri pada pasien. Biaya terapi radiofrekuensi ablasi juga tergantung dari lokasi tindakan apakah di lutut, di tulang belakang atau di wajah pada kasus trigeminal neuralgia. Prosedur ini hanya membutuhkan suntikan anestesi lokal, dapat juga diberikan sedatif ringan untuk memberikan kenyamanan pada pasien selama prosedur RFA dilakukan. Jadi tak perlu lagi anda ragu datang ke dokter. Nyeri dapat ditangani dengan hasil yang baik dengan bantuan alat radiofrekuensi ini.

Peran Terapi Intervensi pada Nyeri Kanker

Peran Terapi Intervensi pada Nyeri Kanker. Nyeri pada penderita kanker kerap menjadi momok. Pasalnya, sebagian besar penderita kanker akan mengalami nyeri sewaktu-waktu. Mungkin karena penekanan saraf akibat massa kanker itu sendiri, maupun sebagai efek samping terapi seperti kemoterapi, pembedahan, dan obat-obatan. Bahkan, nyeri ini dapat menetap meski penderita tersebut telah dinyatakan bebas dari kanker. Derajat nyeri yang berkaitan dengan kanker dapat bervariasi dari penderita satu ke penderita lain. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti jenis, stadium kanker, dan kepekaan pasien terhadap nyeri. Nyeri ini umumnya dapat dikendalikan melalui berbagai cara dan obat. Semakin cepat diterapi, kemungkinan nyeri teratasi juga semakin besar. Berkat guidelines penatalaksanaan nyeri kanker yang dipublikasikan oleh WHO dan pemahaman mengenai berbagai modalitas analgesik, penanganan nyeri pada penderita kanker telah jauh lebih baik dibanding dahulu. Berdasarkan step ladder WHO, nyeri yang bersifat ringan hingga sedang dapat diterapi menggunakan obat-obatan anti inflamasi nonsteroid. Sedangkan nyeri derajat sedang hingga berat dapat diatasi dengan pemberian obat dari golongan narkotik seperti kodein, morfin, dan lain-lain. Sayangnya, studi menunjukkan bahwa penerapan step ladder WHO tidak adekuat pada sekitar 14% penderita nyeri kanker. “Pada pasien ini, nyeri tidak dapat diatasi meski telah dilakukan kemoterapi, operasi, radiasi, dan pemberian obat-obatan pereda nyeri,” ujar Prof. dr. Darto Satoto, SpAn(K), pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Jakarta. Karena itu, kehadiran terapi intervensi sebagai pilihan terapi nyeri yang efektif tidak kalah pentingnya. Terapi intervensi nyeri pada kanker Menurut studi, 10-20% pasien nyeri kanker yang memiliki respons rendah terhadap terapi opioid atau bermasalah dengan efek sampingnya, dapat memperoleh manfaat dari prosedur intervensi yang bertujuan untuk memutuskan sinyal nyeri dari saraf tepi ke otak. “Terapi ini juga dapat membantu mengurangi kebutuhan dan efek samping terhadap obat analgesia, terutama golongan narkotik,” jelasnya. Ada dua teknik intervensi yang dilakukan untuk mengatasi nyeri kanker, yaitu teknik destruktif dan teknik non-destruktif. Teknik destruktif merupakan teknik perusakan jaringan saraf guna menghentikan impuls nyeri secara irreversible. Teknik destruktif yang dapat digunakan di antaranya pemberian agen farmakologis, radiofrekuensi, dan pembedahan. Sedangkan teknik non-destruktif merupakan teknik untuk menghentikan impuls nyeri secara reversible melalui obat-obatan atau rangsangan elektrik. Teknik destruktif umumnya dapat dilakukan hanya satu kali (meskipun mungkin memerlukan pengulangan di kemudian hari). Dengan demikian, teknik ini lebih menguntungkan dari segi biaya dan kenyamanan. Akan tetapi, teknik ini dapat menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan lain di luar sasaran. Sedangkan teknik non-destruktif dapat berupa prosedur yang dilakukan secara berkala, pemberian infus terus-menerus, atau melalui perangsangan saraf. TEKNIK NON-DESTRUKTIF Penyuntikan atau pemasangan infus berisi obat anestesi lokal, dengan atau tanpa steroid, untuk menghambat impuls dan meredakan nyeri secara reversibel. Teknik ini dapat dilakukan pada saraf perifer, lapangan perifer, maupun pada sumsum tulang bergantung pada area yang ingin dimanipulasi. Obat dapat disuntikkan secara berkala atau secara kontinyu melalui kateter atau pompa infus. Teknik ini dapat dicoba jika nyeri tidak lagi dapat diatasi dengan pemberian obat opioid dan analgesik sistemik. Selain itu, ia juga dapat dilakukan jika pemberian obat secara sistemik ditakutkan akan menimbulkan efek samping. ·Neuraxial analgesia Merupakan teknik yang menargetkan cornu dorsalis sumsum tulang melalui pemberian obat yang disuntikkan secara epidural atau intratekal. Obat yang digunakan pada neuraxial analgesia umumnya berasal dari golongan opioid (misalnya morfin), obat anestesi lokal (misalnya bupivacaine), atau gabungan keduanya. Teknik ini terbukti pada sejumlah studi dapat menurunkan kebutuhan obat pereda nyeri sistemik pada pasien dengan nyeri kanker derajat berat dan cukup populer. “Untuk mendapatkan efek jangka panjang, teknik ini dapat dikombinasikan dengan pemasangan implant kateter,” jelasnya. Perangsangan sumsum tulang Merupakan teknik penanaman elektroda secara perkutan di dalam rongga epidural setinggi daerah spinal yang hendak diatasi nyerinya. Elektroda ini akan menghantarkan stimulus yang menurunkan sensasi nyeri di daerah yang dituju. Meski demikian, teknik ini belum banyak digunakan pada penderita kanker. TEKNIK DESTRUKTIF Teknik destruktif merupakan teknik ang didesain untuk mendapatkan efek analgesia yang lebih permanen. Meski demikian, perlu diingat bahwa saraf yang mengalami kerusakan cenderung tumbuh atau sembuh dalam waktu beberapa bulan, sehingga ada kemungkinan nyeri timbul kembali. Penggunaan agen farmakologis Agen yang digunakan biasanya adalah ethanol 50-100% dan phenol 3-12%. Untuk mengurangi rasa nyeri, larutan alkohol yang akan disuntikkan dapat dicampur terlebih dahulu dengan obat anestesi lokal. Penyuntikan bahan kimia ini akan menyebabkan iritasi dan kerusakan sel-sel saraf, baik pada membran protein, lapisan myelin, hingga akson dan sambungan saraf. Bahan ini dapat disuntikkan secara intratekal untuk menghentikan hantaran sinyal nyeri ke otak. Radiofrekuensi Pemberian arus radiofrekuensi sebesar 50-500kHz ke dalam jaringan saraf akan menimbulkan panas ang dapat mengakibatkan ablasi atau kerusakan jalur yang menghubungkan saraf tepi dan saraf pusat.  Pada radiofrekuensi konvensional, arus ini dihantarkan melalui ujung jarum yang diletakkan pada saraf yang menjadi sasaran, kemudian dipanaskan paa suhu 80-90°C selama 60-90 menit. Pembedahan Penghantaran sinyal dari saraf tepi kesaraf pusat data dihambat dengan memutuskan hubungan keduanya melalui pembedahan. Meski demikian, teknik ini jarang dilakukan. Teknik pembedahan yang dapat dilakukan di antaranya myelotomi midline untuk kanker yang menimbulkan nyeri visceral dan perusakan akar dorsal pada sumsum tulang belakang. Meski sebagian besar penderita nyeri kanker dapat ditanganni dengan baik melalui obat pereda nyeri tradisional, ada sebagian pasien yang tidak dapat menikmati fase bebas nyeri. Bisa karena terapi tidak adekuat, atau karena ditakutkan timbulnya efek samping pemberian obat analgesia secara sistemik. Pada pasien-pasien ini, penggunaan teknik intervensi membuktikan pentingnya penanganan nyeri secara multimodal dan peranan dokter ahli di bidang nyeri sangat diperlukan.   Tentang Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Jakarta, hadir sebagai klinik yang menawarkan solusi pengobatan berbagai macam penyakit nyeri dan tulang belakang. Klinik Nyeri dan Tulang Belakang merupakan klinik pertama di Indonesia yang menggunakan peralatan modern sebagai penunjang diagnostik dalam penanganan nyeri. Klinik nyeri yang berdomisili di Jakarta ini dibangun dengan konsep yang kuat berprinsip NO MORE PAIN yang berorientasi terhadap kesembuhan pasien. Para pencetus dan pendiri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang merupakan para dokter spesialis, yang bersama-sama ingin menghadirkan wadah pengobatan dan konsultasi bagi masyarakat penderita nyeri. Dengan mengedepankan kualitas, Klinik Nyeri dan Tulang Belakang hadir ke masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran bahwa nyeri adalah penyakit yang harus dihilangkan. Seperti tertuang dalam visi dan misinya sebagai pusat pengobatan nyeri dan tulang belakang, diharpakan JPSC mampu memberikan pelayanan terbaik terhadap

Nyeri Leher Tak Kunjung Sembuh, Ini Pilihan Terapinya

Leher manusia tersusun dari ruas-ruas tulang belakang dari tengkorak hingga badan bagian atas. Strukturnya cukup kompleks, meliputi: tulang, otot, ligamen, sendi, dan bantalan sendi. Kompleksitasnya ini selanjutnya membuat leher sangat rentan terhadap terjadinya nyeri. Saat nyeri leher yang Anda alami tak kunjung sembuh, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Data yang ada menunjukan kondisi ini Tak Kunjung Sembuh, 10% dari populasi orang di dunia ini, mengalami nyeri leher.   Duduk terlalu lama, menatap layar komputer/ gadget  secara terus-menerus, trauma, penuaan dan osteoarthritis menjadi penyebab utama. Beberapa penyakit seperti meningitis, atau kanker juga dapat menyebabkan terjadinya nyeri leher. Meski dapat hilang dengan sendirinya setelah 2-3 minggu terutama pada nyeri derajat ringan hingga sedang, jika nyeri leher Anda menetap bahkan menjadi lebih parah disertai pembengkakan, atau menurunnya kekuatan tangan ketika mengangkat beban, segera konsultasikan dengan dokter. Selain sulit menggerakan leher, nyeri leher juga seringkali ditandai dengan munculnya nyeri kepala, berulang pada penderitanya. Dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik dan menggali informasi untuk mengetahui riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat ada tidaknya pembengkakan di daerah leher, atau kelemahan otot. Pasien selanjutnya diminta melakukan beberapa gerakan kepala, ke samping, belakang ke depan. Tidak menutup kemungkinan dokter juga meminta pasien melakukan beberapa pemeriksaan imaging untuk mengetahui penyebab nyeri leher meliputi; X-ray, CT-scan, dan MRI. Pemeriksaan laboratorium, seperti blood test dapat juga dilakukan untuk mengetahui kemungkinan inflamasi, atau infeksi yang berkontribusi pada terjadinya nyeri. Terapi Nyeri Leher yang Tak Kunjung Sembuh Dokter mungkin memberikan beberapa jenis obat penghilang rasa sakit, seperti relaksan otot, antidepresan tricyclic. Obat ini memiliki efikasi yang lebih baik sebagai penghilang nyeri dibandingkan obat-obatan pereda nyeri yang di jual bebas di pasar. Selain melakukan rehabilitasi fisik, dengan tujuan peregangan leher. Baca juga : Nyeri Lutut saat Squat Dokter mungkin menyarankan Anda untuk melakukan terapi steroid. Suntikan steroid diberikan di sekitar saraf yang mengalami nyeri, atau otot, untuk membantu mengurangi rasa sakit. Saat ini beberapa pakar nyeri dunia juga merekomendasikan terapi menggunakan radiofrekuensi untuk mengatasi nyeri leher.   Pembedahan jarang dilakukan pada kasus nyeri di leher, pembedahan dapat dilakukan jika diketahui pasien mengalami penekanan saraf, akibat herniasi diskus vertebralis tulang servikal. Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), juga dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri leher. Terapi ini dilakukan dengan cara mengalirkan gelombang listrik ringan melalui sebuah probe ke daerah yang mengalami nyeri. Hubungi dokter-dokter Lamina Pain and Spine Center untuk segera atasi kondisi nyeri leher Anda, nyeri yang tak kunjung sembuh tentu akan menyiksa. Terakhir diperbarui: 07 Mei 2020 Ditinjau oleh: dr Yulianto

Sciatica Adalah Penyebab Nyeri Pinggang Hingga Tumit

sciatica adalah

Mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui Sciatica, atau bahkan baru pertama kali mendengar istilah ini. Sciatica adalah nyeri yang menyerang saraf sciatic, yang merupakan saraf terbesar yang menjalar dari pinggang kebawah dan bercabang melewati kedua kaki dimulai paha, betis, tumit, hingga telapak kaki. Keluhan utama penderita sciatica adalah nyeri pinggang, nyeri punggung, nyeri di salah satu kaki dan memburuk ketika duduk, rasa terbakar di betis, bengkak atau kelemahan serta sulit menggerakan kaki. Derajat nyeri yang muncul berbeda pada masing-masing individu. Segera cari pertolongan medis jika nyeri yang dialami bertambah parah, atau disertai kelemahan pada tubuh bagian bawah, baal di paha atau ketika kehilangan kontrol saat berkemih atau buang air besar. Sciatica sering kali disebabkan karena iritasi atau inflamasi saraf sciatic di sekitar ruas tulang sakral dan lumbar.   Baca juga : Sciatica Saat Hamil Sciatica dapat diakibatkan oleh adanya herniasi diskus vertebralis, stenosis, spondylolisthesis (pergeseran ruas tulang belakang), dan spasme otot. Kondisi ini akan bertambah parah jika pasien memiliki kelebihan berat badan (over weight), atau mereka yang sering menggunakan sepatu berhak tinggi. Iritasi pada saraf sciatic juga dapat diakibatkan kehamilan, atau adanya tumor. Untuk menentukan diagnosis sciatic, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mempelajari riwayat kesehatan pasien. Beberapa gerakan tubuh pasien, akan membantu dokter menentukan diagnosis. Berikut Adalah Pemeriksaan Sciatica X-ray, CT-scan, MRI dan elektromiogram adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab sciatica. Terdapat beberapa modalitas terapi yang dapat dilakukan untuk pengobatan sciatica. Modalitas paling sederhana sciatica adalah istirahat total dari kegiatan sehari-hari selama 2 minggu berturut-turut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh dr Patrick Vroomen dan kawan-kawan yang sudah dipublikasikan di New England Journal of Medicine. Dari 183 pasien Sciatica, setelah istirahat selama 2 minggu sebanyak 60% pasien mengalami perbaikan gejala. Namun demikian, pada beberapa kasus yang berat, mungkin dibutuhkan terapi lebih lanjut untuk mengatasi masalah ini. Beberapa obat-obatan sciatica dapat diberikan dokter diantaranya adalah obat penghilang nyeri, relaksan otot, obat anti inflamasi, dan antidepresan.   Terapi lain yang saat ini banyak dilakukan adalah epidural injection, terapi ini dilakukan dengan cara menyuntikan kortison pada pasien. Pembedahan dapat juga dilakukan terutama pada pasien sciatica yang mengalami penjepitan saraf di daerah pinggang yang disebabkan herniasi diskus vertebralis di ruas tulang lumbar. Sciatica sesungguhnya bisa dicegah, menghindari trauma tulang belakang adalah langkah terbaik selain juga menjaga kesehatan sendi dan bantalan sendi tulang belakang. Rutin melakukan kegiatan olah raga ringan seperti yoga dan pilates dalam beberapa penelitian dikatakan dapat membantu mencegah terjadinya trauma tulang belakang.

Update Teknologi Pengobatan Nyeri Terkini tentang IPM

Interventional Pain Management Update Teknologi Pengobatan Nyeri Terkini Upaya Menekan Nyeri Hingga ke Titik Nadir. Setiap manusia tentu pernah mengalami nyeri, baik yang bersifat ringan maupun berat. Faktanya, nyeri merupakan keluhan tersering seseorang datang berobat ke dokter. Menurut data dari Institute of Medicine of The National Academies, ada 100 juta penduduk Amerika Serikat yang mengalami nyeri setiap tahunnya. Angka ini jauh melampaui jumlah penderita diabetes, penyakit jantung koroner, dan kanker dijadikan satu (± 61 juta penderita per tahun). Berdasarkan International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosi tidak menyenangkan yang dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan dan atau hal yang berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan. Karena itu, penanganan nyeri bersifat kompleks dan memerlukan pemeriksaan seksama. Penilaian dan Pengobatan nyeri yang tidak mumpuni dapat berujung pada nyeri yang tidak kunjung sembuh. Dan karena itu pula, setiap pasien yang mengalami trauma berat atau menjalani pembedahan perlu mendapatkan penanganan nyeri yang sempurna. Jika tidak, nyeri dapat menimbulkan respon stres metabolik (MSR) yang memengaruhi semua sistem di tubuh dan memperberat kondisi pasien. Derajat nyeri umumnya bersifat individual dan sangat dipengaruhi faktor genetik, latar belakang kultural, umur dan jenis kelamin. Namun terlepas dari itu, dikatakan oleh dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, pakar nyeri dari Arfa Pain and Spine Care, nyeri dapat menimbulkan dampak besar baik bagi penderita maupun orang-orang di sekitarnya. “Nyeri dapat menimbulkan gangguan tidur, penurunan produktivitas, tingginya angka bolos kerja, ketidakmampuan beraktivitas, hingga ketergantungan pada orang lain. Secara psikologik, nyeri berkepanjangan dapat memicu hadirnya depresi, kemarahan, dan ansietas; serta dapat mencetuskan kecanduan obat pereda nyeri,” tambahnya. Nyeri juga merupakan gangguan yang cukup banyak menghabiskan anggaran kesehatan. Sayangnya, pengobatan nyeri seringkali diabaikan dan hanya dianggap sebagai gejala, bukan sebagai penyakit tunggal yang perlu diobati.

Terapi Obat-obatan Dan Bedah Seringkali Tidak Adekuat

Terapi obat-obatan dan bedah konvensional seringkali tidak adekuat atasi nyeri. Penanganan nyeri umumnya hanya berfokus pada penggunaan obat-obatan anti nyeri. Pada kasus-kasus yangan penyebab jelas seperti kanker, tumor, atau penyakit, terapi berupa tindakan bedah juga dapat dilakukan. Sayangnya, tidak semua kasus nyeri dapat diatasi dengan kedua modalitas terapi tersebut. Nyeri yang berlangsung lama atau nyeri kronis seringkali sulit untuk dikelola sehingga memerlukan obat. Obat dengan dosis tinggi atau obat golongan opioid yang perlu diawasi ketat penggunaannya. “Terapi nyeri dengan menggunakan obat-obatan berpotensi menyebabkan ketergantungan obat antinyeri, terutama mereka yang mendapat obat golongan opioid,” jelas dokter Lamina Pain and Spine Center, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS. Penggunaan obat-obatan golongan ini juga berpotensi menyebabkan kematian akibat overdosis. Pasalnya, menurut survei yang dilakukan oleh American Pain Foundation (2006). Lebih dari 51% responden merasa bahwa nyeri yang mereka rasakan belum atau hanya sedikit terkontrol. Baca juga : Piriformis sindrom Selain itu, 6 dari 10 pasien mengatakan bahwa nyeri dapat kambuh hingga beberapa kali sehari sehingga menurunkan kualitas hidup. Akibatnya, pasien seringkali menambah frekuensi atau dosis obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Obat-obatan Untuk Lutut Di Klinik Lamina untuk mengatasi nyeri sendi ada beberapa pilihan mulai dari suntikan kortikosteroid, Platelet-rich Plasma (PRP). Dan yang paling canggih adalah terapi Radiofrekuensi Ablasi (RF). Baca juga : Terapi PRP RF menggunkan gelombang radio yang aman dan cepat sebagai genicular nerve block (ablation) untuk memblok rasa nyeri sehingga tidak dikirimkan dari ujung saraf. Diharapkan pembaalan rasa nyeri ini bisa brelangsung sampai 24 bulan.   “Cukup dengan waktu total 15-20 menit diinjeksi dengan tiga jarum suntik, dengan dialirkan gelombang radio frequency itu, di mana jarum suntiknya ditempatkan pada tiga saraf di lutut yang mengatur sensasi nyeri ke otak,” kata Dr. Mahdian. Sebagai sebuah terapi yang menawarkan sensasi bebas nyeri, banyak keuntungan yang didapat. Mulai dari penyembuhan yang lebih cepat, tidak membuat takut pasien apalagi yang berusia lanjut dibanding bedah terbuka, dan hasil dari hilangnya rasa nyeri akan membuat pasien bisa bergerak lebih banyak dan lebih bebas.  

Hati-hati Herniasi Diskus Vertebralis, PELD Teknologi Terkini Bisa Jadi Solusi

Tulang belakang (spine) pada manusia tersusun dari 32 ruas tulang. Selain menyangga tubuh dan menopang berat kepala, tulang belakang berfungsi sebagai tempat melekatkanya otot dan saraf-saraf penting. Diantara ruas tulang belakang, terselip jaringan lunak yang disebut diskus intervertebra/ diskus spinal. Fungsinya sebagai peredam kejut dan menjaga fleksibilitas tulang belakang untuk memudahkan semua gerakan tubuh. Inti diskus vertebra, teksturnya lebih lembut dibandingkan sisi bagian luar. Fungsinya melindungi inti diskus yang berupa gel yang dalam istilah kedokteran disebut nucleus pulposus. Diskus invertebra, saat masih anak-anak memiliki cairan yang cukup banyak dan fleksibel menopang ruas-ruas tulang belakang. Seiring dengan bertambahnya usia, bagian dari proses penuaan, cairan diskus mengalami penurunan. Dampaknya anulus menjadi lebih keras dan gampang pecah. Dipicu aktivitas fisik berlebih atau trauma, diskus vertebra dapat mengalami kerusakan, berupa herniasi (tonjolan tak normal) sehingga disebut Herniasi Diskus Vertebralis. “Kondisi ini akan mengganggu saraf di sekitar tulang belakang, menimbulkan sensasi nyeri, baal atau kelemahan pada bagian lengan atau tungkai,” kata dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Onta Merah, Jakarta, Rabu (13/9/2017) Herniasi Diskus Vertebralis menyebabkan penekanan pada saraf, ini yang kemudian dikenal masyarakat sebagai saraf terjepit . “Herniasi diskus ruas tulang lumbar lebih sering terjadi, karena ruas tulang lumbarlah yang menopang berat tubuh dalam melakukan aktifitas sehari-hari,” ujarnya. Herniasi diskus juga dapat terjadi pada susunan ruas tulang cervical namun jumlahnya lebih sedikit. Herniasi Diskus Vertebralis sebenarnya terjadi pada 56% orang dewasa usia kerja (21-59 tahun). Namun 35% diantaranya bersifat asymptomatic, sehingga tidak menimbulkan gejala. Sisanya 20% memiliki gejala dari ringan hingga berat. “Yang datang ke klinik umumnya sudah berat, dan tidak bisa beraktivitas,” jelas dr. Mahdian. Tanda dan Gejala Jika seseorang mengalami herniasi diskus lumbar, gejala pertama yang muncul adalah rasa tidak nyaman seperti nyeri di daerah bokong, paha, dan betis.Sementara jika herniasi diskus terjadi pada ruas tulang cervical, gejala yang muncul berupa nyeri pada daerah lengan dan bahu. “Rasa sakit ini bisa muncul saat bersin, batuk atau ketika menggerakan tubuh dari satu posisi ke posisi lainnya,” ujar dr. Mahdian. Kesemutan dan mati rasa (baal) pada area tertentu tubuh yang terjadi berulang kali juga bisa menjadi tanda awal Herniasi Diskus Vertebralis. Dapat juga ditandai dengan melemahnya kekuatan otot. Gejala lain  yang dapat muncul akibat herniasi diskus terutama daerah lumbar adalah sindroma cauda equina. Meski jarang terjadi sindroma cauda equina dapat menyebabkan kelumpuhan permanen pada kedua kaki. Selain itu juga kesulitan buang air besar dan kecil, serta ganguan neurologi lainnya.