Biaya Endoskopi Tulang Belakang, Teknologi Terkini Di Klinik Lamina

JAKARTA – Mendengar istilah saraf kejepit atau syaraf terjepit, siapapun pasti akan gentar. Bagaimana mungkin, saraf yang bertugas menggerakkan organ seperti kaki dan tangan bisa terhimpit bantalan antar tulang belakang. Sehingga mengalami lemah, kebas bahkan tak mampu bergerak? Adalah tindakan endoskopi terapi terkini untuk mengatasinya. Meski tergolong teknologi baru biaya endoskopi lebih terjangkau apabila bersanding dengan operasi konvensional. Endoskopi merupakan teknologi dalam bidang kedokteran, yang menggunakan bantuan kamera untuk melihat organ tubuh yang terdampak atau bermasalah. Termasuk teknologi endoskopi tulang belakang, selain jenis endoskopi lain yang ada di bidang kedokteran saat ini. Mengerikan, karena mau tak mau aktivitas harian juga akan terganggu. Belum lagi membayangkan proses pengobatan yang lama dan menghabiskan banyak biaya untuk endoskopi atau terapi lain. Padahal tak harus demikian. Di Klinik Lamina Pain and Spine Center dengan berbagai pilihan pengobatan nyeri saraf dan tulang belakang paling mutakhir, masalah tersebut bisa selesai dalam waktu paling lama 45 menit saja! Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA 0811 1443 599 Usia tindakan endoskopi pasien juga bisa langsung pulang, tanpa rawat inap yang menghabiskan biaya. Dengan anestesi atau pembiusan lokal dan sayatan dalam ukuran beberapa milimeter saja, pasien bisa punya harapan lebih besar untuk bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Baca juga : Pengalaman anggota DPR RI lakukan tindakan endoskopi PELD Berdasarakan masing-masing kasus, masalah saraf kejepit di Lamina bisa tertangani dengan beberapa metode antara lain; Injeksi intra artikular, yakni suntikan kortikostedroid untuk mengurangi nyeri Radiofrekuensi Abalasi (RF) yakni penggunan gelombang radio untuk menghilangkan nyeri Penggunaan laser pada Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD) Bedah endoskopi pada Percutaneus Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD) Jenis Hingga Biaya Endoskopi di Klinik Lamina Ada beberapa jenis endoskopi di Klinik Lamina, bahkan untuk kasus saraf kejepit di area leher atau servikal di Lamina, sudah bisa dilakukan Percutaneous Endoscopy Cervical Discectomy (PECD) yang dilakukan dari leher depan (anterior). Baca juga : Endoskopi PECD Dr Mahdian Nur Nasution, SpBS yang mengomandoi Klinik Lamina sudah berhasil melakukan prosedur ini hingga beberapa kali sejak tahun lalu dengan hasil sukses. Selain itu ada juga tindakan endoskopi PSLD Klinik Lamina untuk masalah stenosis tulang belakang dan tentunya endoskopi PELD dengan biaya terjangkau daripada operasi terbuka di Rumah Sakit (RS). Tulang belakang adalah bagian terpenting dalam tubuh manusia. Selain fungsinya yang penting tulang belakang juga berisiko mengalami cedera. Bisa hanya karena salah posisi saat tidur, atau karena salah teknik saat mengangkat beban berat atau berolah raga. Ada banyak kegiatan sehari-hari yang bisa menyebabkan stres di saraf dan tulang belakang yang bisa menyebabkan masalah jangka panjang. Orang dalam usia berapa saja kini bisa terserang masalah tulang belakang. Jika pada orang berusia lanjut masalah tulang belakang bisa terjadi karena proses penuaan, hasil pengamatan menyebutkan orang yang berusia lebih muda juga bisa terserang karena postur yang salah, penggunaan gadget dan obesitas. Masalah tulang punggung yang paling signifikan adalah spinal stenosis (penyempitan ruang di tulang belakang, sehingga membebani akar saraf). Saat ini teknologi endoskopi PELD sudah hadir dengan biaya yang masih cukup terjangkau dengan kiaran 80 – 90 juta. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA 0811 1443 599 Dulu, penanganan untuk kedua keluhan ini melibatkan pembedahan invasif yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Kini dengan inovasi prosedur pembedahan minimal invasif pasien punya lebih banyak harapan. Para ahli bedah saraf seperti para ahli di Lamina Pain and Spine Center bisa memperbaiki masalah saraf dan tulang belakang itu dengan menggunakan sayatan yang lebih kecil. Keuntungan Endoskopi Prosedur endoskopik, termasuk teknik bedah minimal invasif yang dilakukan melalui lensa atau kamera kecil. Teknik ini tak hanya mengurangi risiko kerusakan jaringan yang lebih besar, tapi juga cocok buat pasien berusia lanjut yang mungkin mengidap diabetes dan hipertensi (tekanan darah tinggi). Keuntungan sayatan bedah yang sangat kecil (kurang dari 1 centimeter) dan penggunaan kamera resolusi tinggi kini semakin membaik untuk waktu pemulihan bagi pasien. Bedah endoskopi tulang belakang disebut bisa menyelesaikan kasus bone spurs (tulang taji), membuka saraf dan menyembuhkan dan menghilangkan berbagai keluhan seputar herniated diskus atau saraf kejepit dengan sayatan akurat yang tak lebih besar dari diameter uang logam. Para ahli telah lama mengamati bahwa bedah endoskopi tulang belakang memberikan tingkat kesuksesan sampai 90 persen. Termasuk pula di Lamina Pain and Spine Center seperti yang disampaikan para ahli yang telah menjalankan prosedur ini seperti misalnya Dr. Mahdian Nur Nasution. Baca juga : Endoskopi PECD atau leher pertama oleh tim dokter Klinik Lamina Para ahli medis masa kini semakin banyak yang menyarankan layanan bedah endoskopik untuk saraf dan tulang belakang untuk pasien yang mengalami nyeri punggung dan kaki yang parah. Prosedur ini juga menjadi rekomendasi untuk pasien yang ingin bisa cepat kembali ke aktivitas sehari-hari seperti semula. Bisa juga untuk pasien yang telah mengalami kegagalan dalam penanganan dengan prosedur pembedahan lain sebelumnya. Penelitian Tentang Endoskopi Dalam studi Global Endoscopy Device Industry terindikasi bahwa ‘pasar’ untuk pengobatan nyeri pungung dengan endoskopi pada CAGR diharapkan meningkat 6,2 persen selama 2018-2023. Hal itu mengingat bahwa memang ada peningkatan prevalensi atau angka kejadian pada penyakit yang membutuhkan endoskopi. Untuk diagnosis dan teknologi tingkat tinggi dalam sektor layanan kesehatan. Artinya semakin banyak pasien yang lebih memilih bedah minimal invasif seperti endoskopi, karena memangkas biaya tanpa rawat inap. Sebagai informasi, CAGR (Compound Annual Growth Rate) adalah terminologi spesifik dalam bidang investasi yang berisi ratio geometrik progres dari sebuah bisnis. CAGR memang bukan istilah akunting, tapi sering untuk menggambarkan elemen bisnis. Mulai dari keuntungan, tingkat produksi atau layanan, pengguna yang terdaftar, dan sebagainya berbading dengan industri di sektor serupa. Baca juga : Endoskopi PELD Menurut Dr. Dae Won Cho, MD, konsultan bedah tulang belakang di Himchan UHS Spine and Joint Center, tiap pasien memang semestinya punya pilihan. Untuk penanganan keluhan nyeri punggungnya berdasarkan usia, penyebab nyeri, durasi, pengalaman menjalani treatmen sebelumnya dan karir. Tapi menurut Won Cho, saat ini prosedur yang paling kuat hasilnya adalah bedah endoskopi. Karena bisa di berbagai gejala dan situasi terkait tulang belakang. Namun menemukan ahli yang tepat adalah hal kedua yang juga penting selain memutuskan untuk melakukan bedah endoskopi untuk tulang belakang. Lamina Pelopor Bedah Minimal Tulang Belakang Di Lamina Pain and Spine Center saat ini banyak ahli yang bisa melakukan bedah endoskopi untuk
PELD Terapi Syaraf Kejepit Metode Baru Sembuhkan Anggota DPR RI

Ada persepsi yang salah pada sebagian orang yang menganggap dunia medis di luar negeri selalu lebih baik dari Indonesia. Padahal tak selalu demikian. Pada beberapa kasus setelah sempat melanglang buana mencari pengobatan syaraf kejepit. Akhirnya kesembuhan malah di dapat di tanah air di tangan dokter ahli asal Indonesia pula dengan metode PELD. Itu terjadi pada Nanang Samodra, anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrat yang didiagnosis mengidap Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit sejak beberapa tahun lalu. Perjalanan Nanang mencari kesembuhan cukup panjang dan tidaklah mudah. Beliau bahkan sempat berburu pengobatan sampai ke Penang Malaysia dan China. “Untuk mengetahui metode pengobatan mereka,” kata Nanang. Untuk satu dan lain hal menurut Nanang, pengobatan di kedua negara tersebut tidak masuk logikanya. Nanang sempat pula mencoba menahan rasa nyerinya dengan terapi akupunktur meski akhirnya nyerinya datang lagi. ‘Petualangan’ Nanang mencari kesembuhan mulai membuahkan hasil saat dia berselancar di internet dan menemukan Arfa Pain and Spine Center, RS Meilia Cibubur, Depok yang sejak 19 Februari 2019 berganti nama menjadi Lamina Pain and Spine Center. Dibawah komando dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, Nanang kemudian menjalani prosedur Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD). Tentang Penanganan HNP dengan PELD Menurut Dr Mahdian, HNP alias herniasi diskus atau saraf terjepit bantalan di antara ruas tulang belakang yang meleset atau pecah dari posisi semestinya seperti yang Nanang alami adalah penyebab utama keluhan nyeri pinggang dan sciatica. Untungnya perkembangan teknologi medis dunia yang telah semakin maju, ini juga yang ada pada tim Klinik Lamina itu telah mengalami evolusi. Dulu kasus seperti ini mungkin harus dengan pembedahan terbuka (laminektomi) dengan sayatan bisa mencapai 5-10 centimeter. Dengan teknologi terbaru Endoskopi PELD yang tergolong bedah minimal invasif, sayatan hanya perlu 5-7 milimeter saja. Sayatan yang minimalis bukan hanya menguntungkan dari segi penampilan. “Tapi juga berarti lebih minim risiko komplikasi, mulai dari perdarahan, kelumpuhan, kerusakan saraf dan jaringan. Semuanya lebih minimal. Prosedurnya juga hanya perlu waktu 30-60 menit saja,” kata Dr Mahdian. Berbagai literatur medis menyimpulkan karena sayatan yang mungil pula pasien jadi lebih cepat pulih, anastesi lokal yang aman, dan yang terpenting pasien tidak memerlukan rawat inap. Tak heran prosedur Endoskopi PELD sangat tepat bagi mereka yang takut menjalani operasi terbuka. Untuk urusan Endoskopi PELD untuk HNP, Dr. Mahdian menjadi dokter Indonesia paling banyak melakukan prosedur ini dan sukses. Bahkan hingga 23 Oktober 2018, tercatat Dr. Mahdian sudah melakukan sebanyak 170 tindakan Endoskopi PELD. “Ini juga yang membuat yakin para pasien melakukan tindakan endoskopi PELD untuk saraf terjepit,” kata dokter Mahdian menjelaskan. “Tinggal menunggu waktu, tindakan Endoskopi PELD tidak menutup kemungkinan sebagai gold standart terapi pada kasus saraf terjepit akibat penojolan atau pecahnya bantalan sendi tulang belakang,” kata Dr. Mahdian. Profesionalitas Mengalahkan Keraguan Saat menemukan Klinik Lamina Nanang dan Titin Nanang Samodra, istrinya tak langsung membuat keputusan. Ada terbersit keraguan dalam hatinya. “Kok settingnya klinik ya? Khawatir pelayanan tidak professional, belum lagi spanduk lain yang menempel di depan klinik yang bermacam-macam,” kata Nanang Samodra mengenang. Keraguan Nanang mulai pupus saat melihat berbagai video dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang. “Ternyata pelayanannya sangat profesional, perawat dan customer servicenya ramah demikian juga pelayanannya,” Nanang menjelaskan. Bahkan kini di Klinik Lamina Pain and Spine Center, RS. Meilia, tak ada istilah antrian. Karena tiap pasien akan dilayani secara khusus oleh Patient Relation Officer (PRO) yang akan mengurus semua kebutuhan administrasi sampai Anda bertemu dengan dokter untuk konsultasi dan penanganan. Semua proses pengobatan Nanang berjalan cepat dan mulus. Pasca tindakan Endoskopi PELD pun, nyeri berangsur hilang. “Kebas di kaki kanan dan nyerinya hilang sama sekali,” Nanang Samodra menjelaskan. Jikapun ada sedikit nyeri usai tindakan, intensitasnya hanya 25% saja. Pengakuan Nanang sebagai pihak pertama yang merasakan sensasi dari mulai rasa sakit, menjalani Endoskopi PELD hingga akhirnya sembuh total oleh istrinya Titin Nanang Samodra. “Kesehatannya semakin membaik, cara berjalannya tak lagi miring tapi tegak seperti orang umumnya. Berjalan jauhpun sudah tanpa keluhan. Kini jika berada di lift tidak lahi perlu mencari sandaran,” kata Titin. Nanang sendiri berharap, penderita HNP seperti dirinya tak perlu lagi takut dengan tindakan Endoskopi PELD. Karena tak hanya kondisinya kini lebih baik, segala ketakutan bahwa tindakan untuk saraf kejepit bisa berisiko kelumpuhan, impotensi, dan perburukan pasca tindakan bedah minimal invasif tulang belakang, yang ditakutkan banyak orang kini terbantahkan. PELD Pertama di Lamina Pain and Spine Center Anda mengalami keluhan dan kondisi seperti Nanang Samodra? Ingin mendapat informasi lebih banyak seputar Endoskopi PELD? Anda bisa melakukan konsultasi via WhatsApp di nomor yang tertera di halaman ini. Informasi seputar kesehatan saraf dan tulang belakang sampai pembuatan janji untuk konsultasi dengan dokter di Klinik Lamina di RS. Meilia, Mampang Prapatan dan RS. Bunda Menteng bisa Anda lakukan sekaligus dari nomer tersebut. (***)
Penyebab Punggung Sakit Bertahun-Tahun Kini Bisa Sembuh
Penyebab Punggung Sakit Bertahun-tahun punggung sakit merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Penyebab punggung sakit ini bisa bermacam-macam seperti, masalah tulang belakang dengan arthritis sendinya, herniasi diskus atau bantalan sendi tulang belakang, kekakuan otot umumnya membuat putus asa penderitanya. Meski ada masa rasa nyeri hilang, tapi pada masa lainnya rasa mengganggu itu punggung sakit sekaligus kebas, lemas dan kesemutan di tangan atau kaki bisa muncul kapan saja. Call Center Lamina 021-7919-6999 Jikapun berobat pasien yang menjalani treatment sering khawatir prosesnya akan memakan waktu yang lama setelah tindakan atau saat masa pemulihan. Di Klinik Lamina Pain and Spine Center, keluhan pasien seperti ini menjadi perhatian besar kami. Ada banyak pilihan pengobatan dan treatment yang sebagian besar dilakukan dengan teknik minimal invasif. Pilihan Layanan Untuk Pengobatan Sakit Punggung Sehingga pasien tak perlu lama menjalani penanganan, waktu istirahat lebih singkat, sayatan kecil dan ada beberapa kasus pasien yang malah bisa langsung pulang tanpa rawat inap. Pilihan layanan utama untuk punggung sakit di Lamina, mulai dengan teknik laser pada Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD), dengan endoskopi pada Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD) dengan radiofrekuensi ablasi (RF) atau dengan Injeksi Intra Artikular. Masing-masing treatment tentu disesuaikan dengan kondisi pasien. Saat ini untuk Injeksi Intra Artikular bisa dilakukan hanya dalam waktu sekitar 15 menit saja, untuk RF dan dan PLDD bisa sedikit lebih lama. Tapi meski lebih lama untuk PELD yang lebih rumit pun sudah bisa dilakukan dalam waktu 45 menit saja! Bahkan untuk nyeri akibat herniasi diskus (Herniated Nucleus Pulposus — HNP) di leher atau servikal, di Lamina ada layanan Percutaneous Endoscopy Cervical Discectomy (PECD) yang dilakukan dari arah leher depan (anterior). Uniknya lagi Dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS saat ini menjadi salah satu dari sekitar 10 dokter di Indonesia yang bisa melakukan teknik ini. Dengan tingkat keberhasilan yang cukup memuaskan bisa dikatakan jumlah pasien yang telah ditangani Dr. Mahdian cukup membuat optimis dalam perkembangan teknologi medis ini di Indonesia ke depannya. Biasanya sebelum bicara tentang pilihan pengobatan yang bisa dilakukan, pasien akan dijelaskan tentang apa saja sebab-sebab munculnya punggung sakit. Setidaknya sekali dalam seumur hidup seseorang pernah mengalaminya. Akibatnya penderita sering jadi kehilangan hari kerja, tak produktif bahkan ada yang sampai tahap mobilitasnya terganggu. Konsultasi Dengan Staf Ahli Lamina di 021-7919-6999 14 Jenis Penyebab Punggung Sakit punggung sakit bisa dikatakan kronis jika berlangsung selama 12 minggu atau lebih, menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Berikut 14 jenis penyebab punggung sakit. Usia Terkilir dan keseleo Herniasi diskus Arthritis Kehamilan Cedera traumatis Endometriosis Fibromialgia Masalah di kaki Bone spurs atau taji tulang Kanker Kelebihan berat badan atau obesitas Perokok Kecemasan dan depresi Untuk berbagai sebab punggung sakit itu bisa jadi dokter akan bekerja sama dengan spesialis terkait untuk menentukan pilihan pengobatan yang terbaik. Di Klinik Lamina Pain dan Spine Center, Anda akan menemui para dokter yang sangat memahami kondisi ini sehingga saat konsultasi Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat dengan menggunakan teknologi terkini. (***)
PLDD Teknologi Laser Baru Atasi Saraf Kejepit Anda

PLDD – Syaraf kejepit sering kali menyebabkan nyeri pada bagian punggung dan ini merupakan keluhan yang umum terjadi pada seseorang. Anda tak sendiri, karena diperkirakan tiap orang sekali dalam hidupnya pernah mengalaminya. Penyebabnya juga bermacam-macam. Namun begitu diagnosis mengalami nyeri karena Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit, banyak yang merasa seakan dunia runtuh padahal teknologi laser PLDD sudah hadir. Ini karena yang dibayangkan adalah proses pengobatan yang memakan waktu yang lama dan banyak biaya. Padahal tak harus demikian. Di Lamina Pain and Spine Center, Anda bisa mendapatkan pilihan terapi PLDD dan layanan terapi mutakhir lain dengan efek negatif paling minimal. Kata kunci utamanya adalah terapi prosedur minimal invasif yang terdiri mulai dari Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD), Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD), Radiofrekuensi Ablasi (RF) dan Injeksi Intra Artikular. Baik RF dan injeksi dilakukan untuk meredakan nyeri pada kasus yang tidak terlalu berat. Sementara keuntungan Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD) maupun Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD), di antaranya sayatan atau luka bekas operasi yang minimal, recovery pasca tindakan cepat, efek samping PLDD/ komplikasi paska tindakan ringan, tanpa membutuhkan rawat inap. PLDD Laser Untuk HNP Laser PLDD adalah teknologi kedokteran mutahir yang lebih dikenal sebagai teknologi laser untuk HNP. “Sebagai teknologi minimally invasive, laser disektomi dapat dilakukan secara rawat jalan. Keunggulan lainnya, pasien terbebas dari sindrom nyeri paska operasi, tindakan lebih hemat/ biaya laser PLDD, angka keberhasilan tinggi,” kata pakar nyeri dari Lamina Pain and Spine Center, Dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS. Mahdian menjamin keamanan penggunaan laser PLDD untuk mengatasi masalah saraf terjepit karena herniasi bantalan sendi tulang belakang sudah diakui secara luas. Prosedur ini bahkan sudah dilakukan di banyak negara dengan total pasien yang ditangani mencapai lebih dari 80 ribu orang. “Rasa nyeri saat berjalan, kebas, kesemutan saat bangun dari tidur atau duduk yang selama ini dikeluhkan pasien juga akan hilang, setelah tindakan dilakukan.” Tindakan PLDD dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitar, baik otot, ligamen maupun struktur tulang belakang. Dari beberapa penelitian yang dilakukan tingkat efektivitas penggunaan laser untuk mengatasi masalah saraf terjepit sangat bervariasi. Antara 78 – 85 persen jika dilihat dari gejala yang dirasakan pasien, dengan follow-up rata-rata 17-26 bulan pasca tindakan. Demikian PELD yang tingkat keberhasilannya juga sangat tinggi. Dengan tingkat keberhasilan dan kesembuhan yang sedemikian tinggi ada baiknya jika Anda saat ini mengidap saraf kejepit tak lagi perlu percaya dengan mitos-mitos berikut: 1. Nyeri punggung pasti berarti ada masalah dengan saraf tulang belakang Anda. Tidak selalu. Karenanya luangkan waktu untuk berkonsultasi dengan dokter di Lamina. Karena dalam beberapa kasus memang nyeri punggung berasal dari saraf tulang belakang. Tapi bisa juga karena ternyata dari postur yang buruk, kekakuan otot, stres dan sebagainya. Sehingga bisa jadi yang Anda butuhkan hanya pengobatan yang tepat, rehabilitasi medik, penggunaan brace atau bahkan hanya tirah baring yang cukup. Baca juga : Endoskopi PELD 2. Anda akan baik-baik saja begitu nyeri hilang Nyeri punggung memang bisa kembali lagi, tapi jika tidak ditangani dengan tepat oleh dokter ahlinya. Tapi di Lamina Anda akan mendapatkan paket lengkap termasuk perawatan pasca tindakan hingga Anda benar-benar bisa mendapat kualitas kesehatan maksimal seperti dengan laser PLDD. Sebagai pendukung Anda akan diminta untuk menjaga kesehatan dengan mengatur gaya hidup yang lebih sehat. 3. Olah raga akan memperburuk kondisi nyeri punggung. Olah raga yang tepat bisa membantu Anda meredakan nyeri punggung. Misalnya dengan menguatkan otot perut akan mengurangi beban tulang belakang dan pada akhirnya akan mengurangi rasa nyeri di punggung. 4. Saya bisa bertahan dengan rasa nyeri ini, saya tak akan mengeluh. Sebagian orang cenderung mengabaikan rasa sakit selama rasa itu tak mengganggu aktivitas keseharian mereka. Ini adalah ide yang buruk. Karena sebuah penelitian menyebutkan bahwa semakin Anda mengabaikan rasa nyeri maka angka mortalitas Anda akan meningkat 13 persen. 5. Nyeri punggung adalah normal seiring proses penuaan. Ya benar bahwa nyeri akan lebih mungkin muncul seiring waktu, mulai karena tulang dan otot yang mulai rapuh hingga semakin sedikitnya kita beraktivitas. Tapi faktanya banyak juga orang yang bebas rasa nyeri meski usianya terus bertambah karena terus menjaga gaya hidup sehat. Nah, jika HNP terlanjur muncul, jangan tunda lagi segeralah berkonsultasi dengan dokter-dokter ahli Lamina. 6. Mengangkat benda berat pasti bisa menyebabkan nyeri punggung. Bukan masalah mengangkat beban beratnya, namun bagaimana Anda menggerakkan tubuh Anda untuk mengangkatnya. Anda mungkin sudah mengalami masalah postur yang buruk dan kekakuan otot yang memicu nyeri punggung Anda. Jika berkonsultasi dengan dokter di Lamina, segala kemungkinan akan masalah nyeri punggung Anda akan dibahas sehingga pengobatan yang paling tepat dan efektif bisa Anda dapatkan. 7. Istirahat akan membuat nyeri hilang. Ya, istirahat satu atau dua hari bisa jadi akan meringankan nyeri punggung Anda. Namun istirahat lebih dari masa itu malah bisa membuat kondisi Anda semakin buruk. Jadi paling tepat adalah berkonsultasi dengan dokter, menemukan solusi terbaiknya dan beristirahat sesuai dengan anjuran dokter. Pada akhirnya latihan fisik tetap diperlukan untuk menguatkan kembali otot-otot (***)
Diskus Intervertebralis Sintetik Mulai Dicoba pada Hewan

JAKARTA — Dari seluruh bagian tubuh manusia, diskus intervertebralis atau bantalan sendi bisa dibilang sebagai bagian yang cukup unik dan spesial. Karena jika rusak tak bisa diperbaiki sendiri oleh tubuh. Sementara fungsinya sebagai penahan kejutan saat manusia bergerak sangatlah penting. Diskus intervertebralis terdiri dari bagian yang keras, cincin yang elastis serupa karet dari kolagen yang pusatnya berbentuk seperti jeli. Diskus ini di setiap sendi manusia akan jadi tumpuan yang membal untuk tulang dan sendi. Diskus ini juga bisa bergerak melintir, sifatnya elastis. Namun seiring proses penuaan diskus bisa aus dan rapuh. Karena desain alami tersebut, diskus sering tak bertahan lama. Diskus intervertebralis atau tulang belakang manusia bisa aus dan mengakibatkan nyeri luar biasa. Nyeri punggung bawah menjadi penyebab disabilitas di dunia paling tinggi di dunia tahun 2017, menurut Institute for Health Metrics and Evaluation di the University of Washington. Dalam kasus yang berat, pasien harus menjalani pengangkatan diskus intervertebralis, namun ini membuat mereka kehilangan kelenturan dan sering tak puas dengan hasil penanganannya. Satu dari tiga pasien kembali untuk pembedahan ulang. “Ini merupakan keajaiban teknik dalam tubuh,” kata Robert L. Mauck ahli biomedikal engineer di University of Pennsylvania. Mauck dan koleganya sedang dalam upaya untuk membuat diskus intervertebralis sintetik di laboratorium untuk menggantikan diskus yang rusak di tulang belakang. Sejauh ini mereka telah mencobakannya pada kambing dan tikus. Pengembangan Diskus Intervertebralis Sintetik Pada tahun 2018, tim peneliti di universitas tersebut mempublikasikan penelitian yang menurut mereka merupakan harapan untuk mendapatkan solusi yang lebih baik: diskus sintetik yang dikombinasikan dengan materi dari sel hidup. Sejauh ini, para peneliti berhasil mencangkokkan diskus intervertebralis baru pada tikus dan kambing. Namun hasilnya berfungsi seperti diskus sungguhan, kata ahli bedah ortopedi Penn Medicine, Harvey E. Smith. Smith bertindak sebagai pemimpin klinis penelitian ini. “Ini adalah struktur yang hidup,” kata Smith. Kambing yang menerima pencangkokan memperlihatkan gerakan yang cukup banyak dan lentur setelah pencangkokan dilakukan diantara 2 ruas tulang lehernya. Hasilnya membuat para peneliti terkesan, termasuk tim peneliti yang juga melakukan kajian yang sama, Lawrence J. Bonassar, profesor teknik biomedikal Cornell University. “Jelasnya, ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tapi hasil sementara sangat memuaskan,” kata Bonassar yang timnya berhasil melakukan pencangkokan dengan materi berbeda pada sejumlah anjing. Tentang Diskus Intervertebralis Buatan Perlu lebih dari 12 tahun bagi tim dari Penn untuk mencapai hasil pencangkokan sesuai yang diharapkan pada kambing ini. Penelitian itu juga melibatkan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu. Penelitian itu juga melibatkan Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat, karena selama ini militer paling tinggi jumlah penderita degenerasi diskus dan nyeri punggungnya, kata Mauck. Pengemudi bis dan truk juga berisiko tinggi mengalami degenerasi diskus, seperti pula para perokok. Asap rokok membahayakan pembuluh darah dan diskus sekaligus sehingga mudah aus. Begitu diskus aus, pecah dan luruh biasanya pengidap akan merasa nyeri yang sangat. Demikian pula jika ada saraf yang terjepit saat diskus mengalami herniasi. Saraf-saraf terdekat bisa mengalami tekanan ini, menyebutkan nyeri hingga ke kaki yang disebut sciatica. Jika diskus yang bermasalah berada di leher, nyeri yang muncul bisa menjalar hingga ke lengan. Dalam beberapa kasus diskus pecah dan herniasi, nyeri punggung bisa berlangsung hingga bertahun-tahun. Namun bisa pula hilang dalam hitungan bulan, meski pencitraan dari MRI mungkin sama antara pasien yang masih mengalami nyeri dan tidak. Banyak orang yang berusia lanjut dengan diskus yang mengalami degenerasi tak pernah mengalami nyeri sama sekali. “Saya pernah bertemu dengan pasien berusia 60 tahun yang diskusnya sudah diangkat dan dia tak mengalami nyeri sama sekali,” kata Smith. Tindakan Fusi Untuk mereka yang mengalami nyeri terkait dengan kasus diskus, opsi fusi yakni dengan mengangkat diskus yang rusak dan memasukan sepotong tulang untuk mengganjal. Dekompresi saraf terjadi tapi sendi mungkin tak lagi bisa bergerak, jadi mungkin ada stres tambahan di tulang belakang. Pilihan yang lain adalah mengganti diskus dengan metal atau plastik. Cara ini membuat pasien bisa lebih banyak bergerak, tapi ada risiko bahan tersebut mengalami kerapuhan yang bisa memicu reaksi imun seperti peradangan. Meski penggantian diskus sintetik mirip penggantian materi seperti di tulang pinggul dan lainnya tapi hasilnya tak selalu sama. “Di tulang belakang, partikel materi yang lepas tak punya tempat untuk keluar,” kata Smith. Karenanya digunakan materi biodegradasi untuk membuat diskus pengganti. Pada kambing yang mendapatkan diskus pengganti itu selama dua bulan kondisinya terus membaik. Gerakannya bisa cukup maksimal, dan diskus berfungsi layaknya diskus alami. Langkah selanjutnya para ahli akan mencoba memasangnya pada tulang punggung bawah kelinci. Masih bertahun-tahun lagi kala implan itu bisa dipasangkan pada manusia. Pada saat itu para ahli mungkin bisa menemukan masalah tulang belakang ini kenapa bisa memunculkan nyeri pada satu orang tapi tidak pada orang lain. “Nyeri punggung itu seperti influenza,” kata Smith. “Banyak orang yang mengalaminya. Kita tahu bagaimana mengatasinya. Tapi kita tetap ingin mencari akar masalahnya.” (***)
Waspada Tulang Belakang Terasa Sakit dan Dada Sesak

JAKARTA — Jangan pernah sepelekan tulang belakang terasa sakit dan dada sesak, Anda harus Waspada. Apalagi jika muncul saat bernapas. Bisa jadi itu adalah sinyal kondisi medis yang lebih serius. Ada kalanya rasa sakit punggung diserati pegal sebegitu tajamnya, penyebab paling mungkin adalah peradangan, infeksi di dada atau tulang belakang dan kanker paru-paru. Nyeri punggung saat bernapas juga merupakan kedaruratan, seperti misalnya serangan jantung atau emboli paru-paru. Terutama pada orang yang mengalami napas pendek atau nyeri dada. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA Link Berikut Apa saja yang menyebabkan tulang belakang terasa sakit dan dada sesak saat bernafas? Apakah kondisi ini harus segera dikonsultasikan ke dokter? 1. Skoliosis Skoliosis bisa menyebabkan nyeri punggung saat bernafas. Ini adalah kondisi di mana posisi tulang punggung melengkung tidak pada posisi idealnya. Kondisi ini bisa menyerang orang dari berbagai usia, meski umumnya muncul pada remaja dan dewasa muda. Baca juga : Nyeri punggung kanan ini beberapa penyebabnya Pada sebagian orang, tulang belakang bisa begitu bengkoknya sampai meningkatkan tekanan ekstra pada paru-paru sehingga penderita sulit bernapas. Gejala skoliosis termasuk: Nyeri punggung. Rasa lemah dan kebas di tangan dan kaki. Posisi bahu, pinggul dan rusuk yang tak seimbang. Kesulitan berdiri dengan tegak. Masalah berjalan Napas pendek. Penanganan skoliosis tergantung pada seberapa jauh lengkung yang terjadi pada tulang belakang. Untuk orang dengan lengkung ringan hingga moderat, dokter mungkin akan menyarankan penggunaan brace atau korset. Sementara untuk kasus yang lebih berat, mungkin pembedahan adalah solusinya. 2. Serangan Jantung, Sebabkan Tulang Belakang Terasa Sakit dan Dada Sesak Pada beberapa kasus, nyeri punggung saat bernapas bisa merupakan gejala dari serangan jantung. Ini adalah masalah yang mengancam jiwa dan membutuhkan bantuan medis segera. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung tiba-tiba tersumbat oleh gumpalan darah. Beberapa gejalanya adalah: Nyeri punggung. Rasa tertekan dan penuh di dada. Nyeri di salah satu atau kedua lengan. Nyeri rahang. Napas pendek. Kepala terasa ringan. Pusing dan muntah-muntah. Orang yang mengalami gejala ini sebaiknya segera mengunjungi ahli medis. Penanganan sangat tergantung pada tipe dan tingkat serangan jantung. Ketika serangan jantung sangat berat, dokter mungkin akan melakukan kateterisasi melalui pangkal paha atau pergelangan tangan untuk membuka arteri yang tersumbat. Baca Juga : Nyeri Bahu Akibat Frozen Shoulder ini Terapinya 3. Obesitas Membawa beban berat bisa memberikan beban tambahan untuk punggung, sendi dan bagian tubuh lain. Sebagian orang yang mengalami obesitas akan merasa sangat tak nyaman saat bernapas, nyeri saat menarik napas dalam. Menurunkan berat badan, dengan diet membatasi kalori dan olah raga rutin bisa meredakan nyeri punggung dan sendi. Tapi jika kesulitan menjaga kesehatan dengan mengelola berat badan sendiri, penderita obesitas harus berkonsultasi dengan dokter. Karena ada kemungkinan ada masalah terkait hormonal seperti misalnya rendahnya fungsi tiroid. 4. Kanker paru-paru, Tulang Belakang Sakit dan Dada Terasa Sesak Batuk berat yang kronis bisa jadi adalah gejala awal dari kanker paru-paru. Menurut American Cancer Society, kanker paru-paru sering kali tak bergejala awal kemunculannya. Namun ada kalanya nyeri dada yang semakin parah saat bernapas dalam atau batuk jadi salah satu ciri khasnya. Baca juga : Nyeri punggung belakang ini solusi mengatasinya Jika kanker menyebar ke organ lain, bisa jadi penderita akan merasakan nyeri tulang pula khususnya di punggung dan pinggul. Juga tumor di paru-paru bisa menekan saraf di tulang belakang, menyebabkan pasien merasa sulit bernapas sekaligus nyeri punggung. Beberapa gejala lain dari kanker paru-paru misalnya: Batuk kronis. Mengeluarkan darah saat batu atau lendir berdara. Infeksi saluran napas yang berulang. Napas pendek. Mudah bersin. Suara serak. Sulit menelan. Kehilangan berat badan tanpa sebab. Kehilangan selera makan. Penanganan atau cara mengobati kanker paru-paru sangat tergantung pada berbagai faktor, yakni: Tipe kanker paru-paru. Lokasi, ukuran dan tingkat keparahan kanker. Kesehatan pasien secara keseluruhan. Penanganan atau cara mengobati di antaranya pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi. 5. Kifosis Kifosis adalah kondisi di mana tulang belakang melengkung ke depan sehingga postur membungkuk ke depan. Kondisi ini bisa muncul saat pertumbuhan masa remaja, karena cedera tulang belakang atau akibat proses penuaan. Kifosis juga bisa menyebabkan nyeri punggung, pembengkakan dan masalah ketidakseimbangan. Gejala kifosis bisa memburuk seiring waktu dan bisa menyebabkan kesulitan bernapas atau makan pada sebagian orang. Penanganan atau cara mengobati kifosis bisa termasuk terapi fisik, penggunaan korset, penggunaan obat anti-peradangan nonsteroidal seperti ibuprofen misalnya. Untuk kifosis yang parah dokter mungkin akan merekomendasikan pembedahan seperti misalnya fusi spinal. 6. Emboli pulmonari, Tulang Belakang Terasa Sakit dan Dada Sesak Emboli pulmonari atau emboli paru-paru muncul ketika gumpalan darah muncul di salah satu arteri yang menyuplai darah ke paru-paru. Kondisi ini bisa menyumbat aliran darah, malah bisa mengancam jiwa. Pengidap emboli pulmonari mungkin akan sering merasakan nyeri saat bernapas dalam, dan nyeri di punggung atas. Gejala lain emboli pulmonari misalnya: Sakit dada. Batuk dan mungkin batuk berdarah. Detak jantung yang cepat. Kepala terasa ringan. Kaki membengkak Emboli pulmonari adalah kondisi kedaruratan yang harus ditangani ahli medis begitu gejala-gejala tersebut muncul. Pilihan penanganan mulai dari penggunaan obat antikoagulan untuk memecah gumpalan darah dan prosedur bedah untuk mengangkat penggumpalan darah. 7.Pleurisy Pleurisy adalah peradangan di pleura, yang merupakan dua membran tipis yang membatasi dan melindungi rongga dada dan paru-paru. Peradangan ini bisa membuat sulit bernapas dan menyebabkan rasa tajam menusuk yang bisa menyebar sampai ke bahu dan punggung. Gejala lain dari pleurisy adalah napas yang pendek, batuk dan demam. Informasi Lebih Lanjut Hubungi Hp/WA Link Berikut Cedera, infeksi dan kanker bisa menyebabkan pleurisy, dan pada sebagian orang bisa memicu kondisi autoimun, seperti rheumatoid arthritisa atau lupus. Penanganan pleurisu tergantung pada penyebabnya. Misalnya dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakterial. Obat steroid bisa mengurangi peradangan dan meringankan nyeri. 8. Pneumonia Pneumonia atau radang paru-paru adalah infeksi yang disebabkan oleh kantong di paru-paru yang terisi cairan. Kondisi ini bisa muncul di satu atau kedua paru-paru. Sebabnya bisa beragam, tapi pengidap mungkin akan merasakan nyeri di dada, perut dan punggung saat bernapas atau batuk. Gejala lain dari pneumonia misalnya: Demam dan rasa dingin. Batuk dan dahak. Napas pendek Kehilangan selera makan. Bersin. Muntah-muntah Saat penyebab infeksi adalah bakteri, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik. Jika karena virus beberapa penanganan lain mungkin dibutuhkan. Pneumonia yang berat mungkin membuat pasien harus rawat inap. Cara
Nyeri Pinggang Saat Hamil 0 Sampai 9 Bulan
JAKARTA — Kebahagiaan menjalani kehamilan sering kali ‘diganggu’ oleh berbagai keluhan yang menyertainya. Meski sebagian besar calon ibu menerimanya dengan sabar, tetap saja keluhan seperti pening, lelah, kaki membengkak harus ditangani. Demikian pula dengan keluhan nyeri pinggang bawah saat hamil yang harus mendapat perhatian juga. Nyeri pinggang yang berkaitan dengan kehamilan biasanya menyerang punggung bawah. Berdasarkan sebuah review penelitian ditemukan bahwa nyeri punggung bawah menyerang setidaknya dua dari tiga wanita hamil. Nyeri pinggang saat wanita hamil juga bisa muncul di bagian tengah punggung yang dokter sebut sebagai nyeri lumbar atau lumbal. Ada pula wanita yang mengeluhkan nyeri di tulang ekor yang disebut sebagai nyeri posterior pelvic. Banyak faktor yang menyebabkan nyeri pinggang saat masa hamil. Termasuk di dalamnya faktor hormonal dan perubahan postur. Penyebab dan jenis nyeri punggung juga sangat beragam di antara wanita tergantung fase kehamilan. Penyebab Nyeri Pinggang Saat Hamil 0 -3 Hormonal Faktor yang bisa menyebabkan nyeri punggung pada trimester pertama adalah perubahan hormonal dan stres. Selama trimester pertama itu level progesteron meningkat tajam. Memang ini akan membuat otot dan ligamen di area pelvic atau panggul jadi lebih relaks. Tapi juga bisa berdampak pada stabilitas dan keseimbangan sendi.Hormon lain adalah relaxin yang membantu sel telur untuk tertanam di dinding uterus. Hormon ini juga memcegah terjadinya kontraksi selama masa awal kehamilan. Semakin mendekati masa kelahiran, relaxin akan menstimuli servik atau leher rahim melembut untuk proses kelahiran.Relaxin juga akan membuat ligamen dan sendi lebih relaks di area pelvic sehingga kanal kelahiran bisa mengembang selama masa kelahiran. Namun pada saat yang sama relaxin bisa mempengaruhi stabilitas ligamen di tulang belakang sehingga menyebabkan ketidakstabilan, perubahan postur dan nyeri punggung bawah. Stres Meski banyak yang mengatakan kehamilan mestinya jadi fase yang menyenangkan, faktanya juga bisa jadi sumber stres. Stres dalam kehamilan tak sekadar mempengaruhi suasana hati dan psikologis seseorang. Tapi juga bisa mempengaruhi fisik dengan cetusan berupa rasa lelah, sakit kepala, rasa kaku di tubuh dan nyeri otot. Penyebab Nyeri Pinggang Saat Hamil 4 – 6 Bulan Perubahan Postur Pada masa ini uterus akan terus mengembang seiring pertumbuhan janin. Demikian juga perubahan postur, berat badan, otot yang semuanya berujung pada nyeri punggung. Tubuh wanita hamil mungkin akan berubah lebih condong ke depan karena janin yang semakin membesar.Untuk menyeimbangkannya, secara spontan wanita hamil akan menarik tubuhnya ke belakang. Akibatnya akan ada ketegangan di otot punggung yang menyebabkan nyeri punggung bawah dan kekakuan otot. Peningkatan Berat Badan Peningkatan berat badan selama kehamilan bisa berkontribusi pada nyeri punggung bawah dan nyeri sendi. Secara keseluruhan juga bisa mempengaruhi kesehatan ibu dan janin.Oleh karena itu kesehatan ibu dan anak harus terus dipantau selama kehamilan. Perbandingan pertambahan berat badan ibu dan anak harus tetap seimbang dan sesuai dengan perhitungan berat badan sehat dan ideal untuk kondisi tersebut. Merenggangnya otot Perut memiliki dua bagian otot yang saling terhubung di bagian tengah persis. Otot ini membantu untuk menstabilkan saraf dan punggung.Selama kehamilan, pertumbuhan janin akan mendorong menekan otot perut, membuatnya merenggang dan dalam beberapa kasus menjadi robek. Kondisi ini disebut sebagai diastasis recti. Penyebab Nyeri Pinggang Saat Hamil 7 – 9 Bulan Pada trimester dua dan tiga pada beberapa wanita muncul tonjolan di perut yang merupakan tanda bahwa otot perut mereka terpisah untuk memberi ruang bagi bayi untuk tumbuh. Namun pemisahan otot ini akan membuat otot perut jadi lebih lemah. Akibatnya perempuan jadi lebih mudah mengalami cedera punggung, nyeri punggung bawah dan pelvik. Latihan penguatan otot punggung dengan latihan khusus untuk ibu hamil bisa membantu mengurangi nyeri punggung. Jadi meski nyeri punggung mungkin tak bisa dihindari selama kehamilan, namun ada cara mengembalikan kekuatan punggung selama dan setelah kehamilan. Misalnya: Melakukan peregangan rutin untuk punggung bawah. Tidur miring dengan mengganjal kaki dan bagian bawah perut dengan bantal. Menggunakan kompres hangat untuk membuat otot yang kaku lebih relaks dan mengurangi inflamasi. Melakukan perubahan postur, seperti saat berdiri ingat untuk berdiri dengan tegak, dan bahu yang tidak tertarik ke belakang. Mengunakan sabuk kehamilan untuk suport perut dan punggung. Saat duduk menggunakan bantal pendukung lumbar. Pijat kehamilan untuk membuat otot yang kaku lebih relaks, memperbanyak gerakan dan mengatasi stres. Mengurangi stres dengan meditasi, yoga pra kelahiran dan berbagai teknik untuk melatih ketenangan dan cukup tidur. Pencegahan Untuk mencegah nyeri punggung selama kehamilan, calon ibu bisa melakukan beberapa hal berikut: Menguatkan otot punggung dengan latihan khusus masa kehamilan. Menjaga berat badan ideal selama masa kehamilan. Berolah raga ringan sesuai anjuran dokter. Mengenakan sepatu flat dengan pendukung bagian betis. Menghindari berdiri terlalu lama. Tidak mengangkat barang terlalu berat. Jika mengambil barang lakukan dengan gerakan squat dan menggunakan kekuatan kaki bukan punggung. Membiasakan diri dengan postur yang baik. Menghindari tidur tengkurap Kapan Harus Menemui Dokter Wanita hamil yang mengalami nyeri punggung selama kehamilan harus segera melapor ke ahli kandungannya jika mengalami keluhan berikut: Nyeri yang sangat. Nyeri lebih dari dua pekan. Kram dengan interval yang teratur dan terasa semakin sering. Sulit sampai terasa sakit saat buang air kecil Kesemutan di kaki Pendarahan vagina Demam Sciatica di Masa Kehamilan Sciatica muncul sebagai hasil dari iritasi di saraf sciatica. Selama masa kehamilan, kondisi ini muncul karena pertumbuhan bayi dalam rahim menekan saraf sciatica. Salah satu gejalanya adalah nyeri punggung bahah yang menyebar dari bokong dan terus turun hingga ke kaki. Wanita hamil yang mengalami nyeri punggung lebih dari dua minggu sudah semestinya mendiskusikan masalah ini ke ahli saraf. Baca juga : Meredakan skiatika saat hamil Wanita hamil sebaiknya berdiskusi dengan ahli medis sebelum memutuskan untuk menjalani pengobatan baru, suplemen atau treatment naturopatik. (***)
Resiko Pengidap Diabetes Terserang Nyeri Punggung
Dalam artikel ini dibahas tentang resiko pengidap diabetes terserang nyeri punggung. Para pengidap diabetes berdasarkan sebuah penelitian, 35 persen lebih berisiko mengalami nyeri punggung bawah. 24 persen lebih berisiko mengalami nyeri leher dibanding mereka yang tidak mengalami diabetes. Penelitian itu dilakukan oleh University of Sydney. Penelitian dilakukan berdasarkan meta-analyses dari penelitian hubungan antara diabetes dan nyeri punggung dan leher dan dipublikasikan di PLOS ONE, Jumat (22/2). Sebagian besar orang dewasa pernah mengalami nyeri punggung bawah sepanjang hidup mereka. Hampir separuhnya juga pernah mengalami nyeri leher dalam berbagai tingkatnya. Saat ini diabetes menjadi penyakit kronis prevalensi yang terus meningkat. Diperkirakan 382 juta orang mengidap diabetes yang merupakan bentuk paling sering terjadi pada jenis penyakit metabolik. Hubungan Resiko Diabetes dan Nyeri Punggung “Ada bukti tentang hubungan sebab akibat dari resiko diabetes dan nyeri punggung dan leher,” kata penulis senior penelitian tersebut Associate Professor Manuela Ferreira dari University’s Institute of Bone and Joint Research. Para peneliti berharap akan ada penelitian lebih banyak untuk mendukung hasil penelitian ini. “Diabetes dan nyeri punggung bawah tampaknya memang berhubungan. Kami tidak bisa mengatakan mengapa, perlu ada penelitian lebih lanjut untuk melihat hubungan itu,” kata Ferreira. “Diabetes tipe 2 dan nyeri punggung bawah memiliki hubungan yang kuat dengan obesitas dan minimnya aktivitas fisik, jadi penelitian mendatang logisnya harus mencari hubungan ini. Analisis kami menambahkan bahwa pengendalian berat badan dan aktivitas fisik berperan penting dalam menjaga kesehatan.” Penelitian tersebut juga menemukan, obat-obatan diabetes bisa mempengaruhi rasa nyeri. Besar kemungkinan karena cara kerjanya yang mempengaruhi kadar gula dalam darah, dan hubungan ini semestinya juga diteliti. Penelitian ini juga menyarankan para profesional medis mempertimbangkan skrining untuk diabetes yang belum terdiagnosa pada pasien yang mengeluhkan nyeri leher dan punggung bawah. “Nyeri leher dan nyeri punggung dan resiko diabetes, makin banyak menyerang orang,” kata mitra penulis penelitian Associate Professor Paulo Ferreira dari Faaculty of Health Sciences. “Akan sangat menyenangkan jika lebih banyak sumber untuk menginvestigasi hubungan itu. Ini mungkin akan menjadi terobosan jika ada yang meneliti hubungan antara penangaan resiko diabetes dan serangan nyeri punggung dan sebaliknya.” (***)
Lamina RS Meilia Harapan Baru Pasien Nyeri Punggung Teknologi Terkini

JAKARTA — Nyeri pungggung dan tulang belakang adalah salah satu keluhan yang berakibat disabilitas bagi sebagian besar pengidapnya. Jenis dan penyebabnya sangat beragam. “Bahkan bisa dikatakan yang disebabkan oleh HNP atau saraf kejepit hanya sekitar 10 persen saja,” kata Dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, pendiri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang. Dalam pembukaan Lamina RS Meilia Cibubur, Depok, Jawa Barat. Pada Selasa, 19 Februari 2019, di RS Meilia Cibubur telah diresmikan cabang Lamina Pain and Spine Center yang dipimpin langsung oleh sang pendirinya dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS bersama dr. Maridi Kartasasmita SpB selaku Direktur Utama RS Meilia Cibubur Dulu Klinik Lamina telah ada dengan nama Jakarta Pain and Spine Center sejak 2015 di Di Jalan Warung Jati, Mampang, Jakarta Selatan. Pada awal 2017, klinik ini berubah nama menjadi Klinik Nyeri dan Tulang Belakang. Lamina Pain and Spine Center adalah layanan kesehatan terpadu didukung oleh tim dokter spesialis bedah saraf, spesialis anastesi, spesialis rehabilitasi medik, spesialis saraf, spesialis orthopedi dan layanan fisioterapi profesional dalam satu atap (one stop service). Dengan disiplin ilmu kedokteran yang bervariasi tim ini mampu menangani semua kasus neurologi, tulang belakang, dan nyeri pada bayi, anak-anak dan dewasa dengan metode terkini dan termutakhir. Lamini RS Meilia Didukung Teknologi Modern Didukung peralatan diagnostik canggih seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI), CT-Scan, C-Arm, Transcranial Doppler (TCD), Electroenchepalogram (EEG), Carotic Ultrasound membantu proses diagnostik, memantau gangguan neurologik, dan mengatasi ganggung pada saraf, otak dan tulang belakang. Hingga saat ini Klinik Lamina telah menangani lebih dari 20.000 pasien, dengan gangguan neurologi, tulang belakang dan nyeri. Dukungan dokter sub spesialis bedah saraf, rehabilitasi medik dan anastesi serta dokter speslialis lain yang berpengalaman, diharapkan mampu memberikan hasil optimal penyembuhan masalah neurologi, tulang bekalang dan nyeri yang cepat dan aman. Lihat video pembukaan Lamina RS Meilia Cibubur, berikut. Dengan moto “Healthy Spine, No More Pain”, kami memiliki tujuan menjadi Pusat Layanan Kesehatan Nyeri dan Tulang Belakang di Indonesia dengan menjadikan Lamina Pain and Spine Center sebagai rujukan minimally invasive spine surgery (MISS). Lamina Pain and Spine Center memiliki logo yang sangat khas yang terinspirasi dari Lamina atau bagian rata dari lengkungan vertebral mirip helai daun, cincin tulang yang bersama badan vertebral mengelilingi dan membungkus sumsum tulang belakang dalam segmen dari kolom tulang belakang. Warna merah pada logo dipilih sebagai lambang keberanian, kekuatan, energi dan semangat. Warna hijau diambil sebagai lambang kesegaran, kedamaian dan keseimbangan dan warna biru lebih melambangkan kecerdasan dan rasa percaya diri. Seperti itu pulalah kami berharap bahwa Lamina Pain and Spine Center akan menjadi Center of Excellence bagi pengembangan teknologi medis di bidang saraf dan tulang belakang di Indonesia. (***)
Cara Meredakan Nyeri Punggung dan Insomnia Secara Bersamaan

Jika Anda mengalami nyeri punggung, mungkin hal pertama yang bisa Anda tanyakan pada diri sendiri adalah, “Bagaimana kabar tidur malam saya?”. Ya, memang pada kasus-kasus yang berat Anda tetap harus berkonsultasi dengan dokter. Anda perlu tahu kaitan dan cara meredakan nyeri punggung dan Insomnia. Jika ternyata beberapa malam tidur Anda kurang berkualitas, ada kemungkinan nyeri punggung bisa hilang dengan sendirinya saat insomnia tertangani. Hal ini ditemukan dari hasil penelitian terbari dari University of Sydney. Penelitian tersebut secara umum menyebut bahwa penanganan insomnia bisa mengurangi keluhan nyeri punggung khususnya yang berkaitan dengan masalah tidur. Di dunia tercatat nyeri punggung bawah menjadi penyebab disabilitas terbesar di dunia. Sedikitnya di dunia masalah ini menimpa 540 juta orang pada saat yang sama. Lebih dari 59 persen, pengidap masalah ini juga mengalami insomnia. Hubungan Timbal Balik “Bukti penelitian terbaru menyebutkan bahwa ada hubungan timbal balik antara masalah tidur dan nyeri. Artinya semakin buruk kualitas tidur seseorang, maka akan semakin sakit punggung. Sebaliknya makin sakit punggungnya semakin buruk pula kualitas tidurnya,” kata peneliti senior Dr. Milena Simic, peneliti fisioterapis di Fakultas Ilmu Kesehatan universitas tersebut. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Osteoarthritis and Cartilage, ini adalah merupakan hasil analisis 24 data penelitian yang diambil secara random dari percobaan klinis tentang masalah tidur dari lebih 1550 orang pengidap osteoarthritis dan nyeri punggung atau leher. Cara Meredakan Nyeri Punggung dan Insomnia Hasilnya menunjukkan bahwa pada orang dengan nyeri punggung, intervensi masalah tidur seperti dengan terapi perilaku kognitif dan pengobatan bisa memperbaiki masalah tidur sampai 33 persen dan memperbaiki masalah nyeri punggung sampai 14 persen dibanding dengan kelompok kontrol atau placebo. “Temuan ini menekankan pentingnya memperbaiki kualitas tidur pada pengidap masalah nyeri. Pada sebagian kasus, memperbaiki kualitas tidur bisa mengurangi rasa nyeri,” kata Dr. Simic. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti mengatakan para ahli medis harus mempertimbangkan kualitas tidur pasien yang mengeluhkan nyeri punggung dulu. “Temuan dalam penelitian ini menekankan pentingnya penanganan pada kondisi nyeri muskoloskeletal dalam kondisi terisolasi,” kata Paulo Ferreira, profesor dan penulis penelitian yang pada 2016 menemukan hubungan antara depresi dan nyeri punggung. “Depresi dan insomnia sama sama faktor risiko untuk munculnya nyeri punggung, dan orang-orang dengan depresi sering kali memiliki kualitas tidur yang buruk.” “Orang yang mengalami masalah nyeri pungung jika mereka tak menyebutkan masalah tidur, kecemasan dan depresi, mungkin kita akan kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan masalah intinya.” (***)