Sistem Saraf Perlu Asupan Vitamin D Yang Cukup Dan Tepat

Sistem saraf dan tulang belakang perlu gizi yang cukup

Tulang belakang dan saraf perlu gizi cukup agar dapat bekerja dengan baik. Sistem saraf berfungsi untuk mengirim, menerima dan mengartikan informasi atau pesan dari semua bagian tubuh. Informasi ini perlu untuk beraktivitas atau agar kerja organ tubuh berlangsung dengan baik. Sebenarnya, sistem saraf memonitor dan mengkoordinasikan tindakan secara otomatis seperti berjalan kaki yang secara sadar kita putuskan untuk melakukan, dan tindakan tanpa sengaja, seperti pernapasan dan pencernaan, yang terjadi tanpa keputusan spesifik. Jadi saraf ini bisa seperti kabel yang mentransmisikan gerak ke seluruh tubuh. Agar kerja semua organ tubuh berlangsung dengan baik, tulang belakang dan saraf perlu gizi cukup yang sesuai karena kebutuhannya dapat berbeda-beda. Kenali Sistem Saraf  Sistem saraf manusia terbagi menjadi beberapa bagian, yakni : Saraf motorik mengkoordinasikan gerakan tubuh yang disadari yang akan langsung merangsang otot Anda. Sensorik bereaksi terhadap rangsangan dari luar dan memungkinkan Anda merasakan sensasi seperti panas, dingin dan nyeri. Saraf otonom mengatur fungsi yang tak disengaja seperti detak jantung, berkeringat dan pencernaan, serta mempengaruhi aktivitas organ dalam. Kecukupan asupan gizi ternyata juga penting bagi tulang belakang dan  sistem saraf. Berikut beberapa jenis vitamin dan mineral yang penting bagi tubuh kita, antara lain ; Vitamin D Untuk Kesehatan Sistem Saraf Mempertahankan dan mengatur kesehatan/kekuatan tulang dan gigi serta fungsi struktur tubuh lainnya. Proses penyerapan kalsium dari usus agar tulang tidak mudah keropos dan membantu membangun kembali tulang yang baru. Dibutuhkan untuk enzim yang memperkuat kolagen (komponen utama tulang dan jaringan ikat) Membantu fungsi  sistem saraf dan otot (sistem neuromuskular) Vitamin ini bisa Anda dapatkan dari paparan sinar matahari yang menghasilkan vitamin D pada kulit. Seiring dengan proses penuaan, kemampuan Anda mendapatkan vitamin D dari sinar matahari ini juga akan berkurang. Hal inilah yang membuat Anda perlu asupan dari luar atau dari makanan, seperti ikan (salmon, tuna, sarden) dan makanan yang sudah terfortifikasi dengan vitamin D, misalnya susu, sereal, yogurt). Kurang paparan sinar matahari dan kurangnya asupan makanan yang terfortifikasi vitamin D maka kemungkinan Anda memerlukan suplementasi vitamin D. Perlu tahu pentingnya kecukupan nutrisi baik zat gizi, vitamin, dan mineral. Bila Anda termasuk kelompok orang-orang yang proses pembentukan tulang baru sama cepatnya dengan kehilangan massa tulang. Nah dalam kelompok ini, kekurangan nutrisi bisa memperburuk kondisi ini. Minuman berkafein, dapat meningkatkan hilangnya kalsium melalui urin. Minuman soda tinggi akan fosfor yang juga mengganggu metabolisme dan kekuatan tulang. Tulang juga perlu magnesium yang sama fungsinya dengan kalsium untuk menjaga tulang tetap kuat, karena magnesium dalam tubuh, separuhnya ada di tulang. Nutrisi ini perlu untuk memindahkan kalsium ke dalam tulang dan membantu mengaktifkan vitamin D. Magnesium (Mg) Magnesium ini dapat hilang melalui urin yang disebabkan oleh stres, minuman beralkohol dan obat-obatan tertentu, tekanan darah tinggi. Proses perbaikan tulang membutuhkan jumlah magnesium yang biasanya jauh lebih tinggi daripada kebutuhan harian yang direkomendasikan. L-lysine Merupakan salah satu asam amino untuk mengaktifkan proses penyerapan kalsium. Kalsium akan banyak hilang melalui ginjal jika kadar L-lysine Anda tidak cukup. Lysine (lisin) adalah salah satu elemen penting untuk membangun jaringan kolagen untuk membangun dan membentuk tulang, bersamaan dengan kalsium dan magnesium. Untuk mencukupi kebutuhan tubuh, mungkin perlu suplementasi terutama Anda yang jarang terpapar sinar matahari (kebanyakan bekerja/beraktivitas dalam ruangan) dan yang memiliki gaya hidup sedentari (jarang olahraga) yang sering mengonsumsi kopi dan minuman soda. Gizi ini juga memiliki peran pada proses inflamasi atau peradangan dalam tubuh. Bagaimana peran gizi atau nutrisi terhadap inflamasi atau peradangan? Peran Nutrisi atau Gizi Terhadap Inflamasi Peradangan (inflamasi) seringkali muncul dengan kemerahan, rasa hangat, dan nyeri yang terjadi bersamaan atau setelah cedera. Tubuh akan merespons dengan cara yang sama ini, misalnya setelah insisi tindakan atau hanya gigitan serangga hingga infeksi tenggorokan atau peradangan sendi. Proses penyembuhan luka dan berperang atasi infeksi merupakan beberapa cara mengaktifkan inflamasi ini. Pada orang-orang tertentu tidak merasakan nyeri padahal sudah terjadi kerusakan jaringan yang luas. Kondisi lainnya, seperti osteoartritis, penyakit kandung empedu atau penyakit degeneratif pada bantalan tulang, bisa menimbulkan nyeri yang bervariasi dari ringan hingga berat. Jaringan-jaringan di berbagai struktur tubuh yang terlibat akan mengalami inflamasi. Proses inflamasi bergantung berapa banyak elemen kimiawi yang terlibat atau disebut dengan inflammatory mediators yang keluar dari sel-sel darah putih jenis tertentu, yang termasuk bagian dari sistem imun. Sel darah putih ini akan menuju ke area target yang menimbulkan beragam reaksi, salah satunya perubahan jaringan yang dapat diartikan sebagai inflamasi. Awalnya, proses ini adalah bentuk respons perbaikan tubuh bila ada cedera pada jaringan. Kemudian inflamasi ini bisa berubah menjadi kronis dan menjadi penyebab cedera lebih lanjut lagi. Agar Terhindar Nyeri, Tulang Belakang dan Saraf Perlu Gizi Cukup Proses perbaikan tubuh bergantung pada kecukupan atau baiknya asupan nutrisi. Buruknya asupan nutrisi dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya peradangan yang merusak sendi tulang belakang. Inflamasi dapat mengganggu aneka jaringan yang bekerja menopang tulang dan struktur tulang lainnya (misalnya jaringan ikat) secara bersamaan. Beberapa hasil studi menunjukkan kerusakan sendi yang cepat akan dialami oleh penderita osteoartritis (OA) karena memiliki bahan inflamasi kimiawi dalam tubuh yang lebih banyak vs tanpa OA. Nyeri tulang belakang bisa muncul atau tidak muncul pada orang-orang yang mengalami perubahan pada tulang dan kartilago di tulang belakang. Contohnya, hasil rontgen menunjukkan adanya penonjolan bantalan tulang, atau tulang keropos, namun tanpa adanya nyeri. Nyeri dan perubahan jaringan ini karena proses inflamasi yang berlangsung. Inflamasi atau peradangan ini yang menstimulasi (merangsang) tumbuhnya pembuluh darah yang baru pada jaringan sendi dan tumbuhnya saraf-saraf baru di area sekitar kartilago sendi. Hal inilah yang menjadi penyebab nyeri tulang belakang timbul secara bersamaan dengan inflamasi yang tengah terjadi. Dengan menghentikan proses inflamasi dapat membantu menghilangkan nyeri dan mencegah kerusakan sendi lebih jauh. Sistem Saraf Perlu Gizi Cukup Kecukupan gizi atau nutrisi bergantung pada beberapa faktor, misalnya usia, tingkat aktivitas dan lain sebagainya. Untuk berapa banyaknya, konsultasikan dengan dokter Anda. Beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko timbulnya nyeri dan inflamasi, antara lain : Kurangnya asupan asam lemak omega 3, dari ikan laut Kurangnya asupan buah dan sayuran dalam porsi makanan harian Defisiensi vitamin D dari paparan sinar matahari atau kurangnya asupan makanan yang telah terfortifikasi Memiliki faktor risiko untuk mengalami kekurangan vitamin D (lanjut usia, warna kulit gelap, pemakaian tabir surya, obesitas, penyakit

Drop Foot, Penyebab, Faktor Risiko, dan Penanganannya

Drop foot

Drop foot adalah kondisi saat tidak dapat mengangkat kaki sehingga saat berjalan jari kaki akan tampak terseret. Agar dapat mengangkat kaki, kemungkinan penderitanya akan mengangkat paha atau mengangkat lutut lebih tinggi dari biasanya. Drop foot atau kaki terkulai ini berasal dari lemahnya atau kelumpuhan otot-otot yang berfungsi untuk mengangkat kaki. Foot drop dapat terjadi hanya pada satu kaki atau kedua kaki secara bersamaan yang bisa menyerang segala usia. Drop foot biasanya timbul saat ada masalah pada persarafan di tulang belakang bagian bawah, kaki atau tungkai atau juga otot-otot pada tungkai dan kaki. Beberapa jenis pekerjaan yang mengharuskan posisi tertentu dalam waktu lama misalnya berlutut, jongkok, berisiko tinggi alami jepitan saraf yang kemungkinan dapat memicu timbulnya drop foot. Faktor risiko lain adalah kebiasaan seperti duduk dengan melipat/menekuk kaki dapat mengakibatkan kompresi atau jepitan saraf peroneal di daerah lutut yang bisa saja di kemudian hari menyebabkan drop foot. Kenali Tanda Drop Foot Berikut tanda-tanda adanya kemungkinan drop foot antara lain : Alas kaki selalu terlepas saat berjalan Sering tersandung akibat lemahnya otot kaki Sering jatuh karena kelemahan otot kaki dan jari Agar dapat melangkah, paha perlu pasien angkat agar kaki tidak terseret atau tergesek lantai Agar tidak jatuh, kaki seperti mengayun melingkar ke depan Sulit saat menaiki tangga Kebas/ baal yang kemungkinan terasa pada area depan dan/atau lingkar luar kaki, serta dan/atau kaki bagian atas Terjadi pada salah satu kaki, terutama bila penyebabnya adalah syaraf kejepit di pinggang atau kaki Keseimbangan akan hilang saat berdiri tanpa pegangan sambil mata terpejam (Romberg’s sign) Drop Foot Karena Jepitan Saraf Tulang Belakang Kemungkinan penyebabnya adalah: Radikulopati: jepitan saraf pada L5 Neuropati: kerusakan saraf tepi/perifer Pleksopati lumbosacral: kerusakan kelompok saraf di area lumbar dan sacral Fraktur (patah) tulang belakang dan kerusakan saraf Rasa kebas/baal dan/atau nyeri di area tertentu kaki dan tungkai bergantung pada saraf mana yang mengalami jepitan. Yuk simak secara lengkap penyebabnya berikut ini: Radikulopati L5 atau jepitan saraf L5 yaitu area lumbar (pinggang) dan sacral yang menimbulkan: Kelemahan sendi pergelangan kaki sehingga tidak dapat menggerakkan kaki ke atas dan ke bawah Tidak dapat menggerakkan pergelangan kaki ke kiri dan kanan Tidak dapat menggerakkan tungkai (dari paha) ke dalam atau ke luar Nyeri yang menjalar dari punggung bawah/pinggang hingga ke kaki Neuropati peroneal umum atau jepitan pada saraf peroneal yang menyebabkan: Kelemahan mengangkat sendi pergelangan kaki dan tidak dapat memutar pergelangan kaki ke arah luar Kebas/baal di area luar dan sisi kaki bawah dan bagian atas punggung telapak kaki Neuropati sciatica, adanya jepitan pada saraf sciatica sehingga menyebabkan: Kelemahan menggerakkan pergelangan kaki ke atas atau ke bawah, memutar pergelangan kaki kea rah luar atau ke dalam saat lutut tertekuk Nyeri dan/atau kebas di paha bagian belakang, sisi tungkai, dan bagian atas telapak kaki Neuropati saraf peroneal bagian dalam yang menimbulkan kelemahan saat mengangkat pergelangan kaki ke atas dan kebas/baal pada kulit di area ibu jari kaki dan jari kaki kedua Dalam sebagian besar kasus kelemahannya terlihat dari tidak mampunya mengangkat pergelangan kaki ke atas Penyebab lain drop foot adalah kelemahan atau kelumpuhan otot-otot pretibial (betis), dan otot fleksor pada panggul. Radikulopati dan Drop Foot Selain di L5, radikulopati juga bisa terjadi dari ruas L4 dan/atau S1. Apa penyebab radikulopati ini? Penonjolan bantalan tulang antara ruas tulang belakang (herniasi nucleus pulposus/HNP). Penonjolan ini akan menjepit saraf di area sekitarnya. Stenosis spinal atau penyempitan rongga ruas tulang belakang akibat adanya tulang yang tumbuh secara abnormal (taji tulang) atau akibat proses degeneratif (penuaan), sehingga menekan saraf tulang belakang Spondilolistesis, pergeseran tulang akibat proses degenerasi atau adanya tekanan yang berlebihan sehingga menjepit saraf. Selain itu, kaki terkulai ini juga bisa terjadi ketika persarafan di tungkai dan/atau kaki mengalami kerusakan akibat kondisi sistemik atau kelainan genetik, misalnya diabetes, vaskulitis (peradangan pembuluh darah) dan neuropati herediter (keturunan). Penyebab lainnya namun jarang, misalnya tumor, sumbatan pembuluh darah dan perdarahan di otak. Penanganan dan Pemeriksaan Drop foot perlu evaluasi oleh pakar medis agar mendapatkan diagnosis yang akurat dengan penanganan yang sesuai dengan penyebab utamanya. Untuk mendiagnosis gangguan ini sangat kompleks mengingat tanda yang muncul seringkali overlapping dengan penyakit lain. Penanganan drop foot bertujuan untuk mengurangi atau menyembuhkan gejala atau tanda pada penderitanya, dan yang paling penting adalah memperbaiki fungsi kaki secara keseluruhan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mereview riwayat  medis Anda dan kemungkinan memerlukan pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan radiologis. Drop foot biasanya akan sembuh dalam beberapa hari hingga minggu bila penyebab utamanya tertangani dengan baik. Contohnya, jika penyebabnya adalah HNP atau syaraf kejepit, maka setelah jepitan ini sudah hilang, harapnya gerakan kaki dapat membaik. Jepitan pada syaraf tulang belakang ini kini dapat diatasi dengan teknologi terbaru yaitu percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD) yang hanya butuh waktu sekitar 45 menit dengan pembiusan lokal dan tidak perlu rawat inap. Teknologi ini sudah dapat dilakukan di Indonesia, salah satu pelopor tindakan ini adalah di Lamina yang dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf berpengalaman dalam bidang endoskopi ini. Jika penyebab utama dibiarkan dan tidak ditangani sedini atau sebaik mungkin, drop foot ini akan disertai dengan nyeri, kesemutan, kebas/baal yang tentu akan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dokter akan menanyakan: Berapa lama kelemahan ini terjadi Kondisi medis atau penyakit penyerta seperti diabetes, multiple sclerosis Cedera pada tulang belakang, panggul, tungkai atau kaki Menurunnya kekuatan otot di bagian lainnya Penanganan drop foot di Lamina Pain and Spine Center bisa berupa tindakan nonbedah dan lainnya. Mungkin bisa dimulai dengan obat-obatan tertentu disertai dengan terapi fisik atau rehabilitasi medis. Bila hal ini tidak ada perubahan, maka dokter kemungkinan akan merekomendasikan tindakan lain yang disesuaikan dengan penyebabnya. Waspadai Tanda Penyerta Ini Bila  mengalami tanda-tanda berikut ini, jangan tunda lagi untuk segera ke dokter: Kelemahan otot yang berat sehingga tidak lagi bisa menggerakkan kaki ke segala arah Nyeri dan baal berat Demam Mual Menurunnya nafsu makan dan/atau berat badan Terganggunya kontrol buang air besar dan/atau buang air kecil

Penyebab Kanker Tulang Belakang Adalah Multiple Myeloma

Penyebab kanker tulang belakang

Kanker penyebab nyeri tulang belakang cukup beragam. Salah satunya adalah multiple myeloma. Multiple myeloma (MM) adalah salah satu jenis kanker darah yang menyerang sel darah putih yang berada di dalam sumsum tulang belakang. Sel darah putih bekerja sebagai penyerang utama saat bakteri atau kuman memasuki tubuh. Saat sel darah putih yang menjadi kanker, berarti kemampuan berperangnya saat melawan musuh akan menurun dan juga berdampak pada tulang belakang. Penyakit ini biasanya timbul di sumsum pada tulang yang aktif, seperti tulang belakang dan panggul. Ketika sel darah putih ini berkembang menjadi sel-sel myeloma, maka dapat memicu timbulnya tumor ganas (maligna) yang disebut plasmasitoma. Plasmasitoma ini bisa berbentuk satu tumor padat, tapi kalau multiple myeloma bisa berarti lebih dari satu tumor. Karena suatu alasan yang belum jelas, sel plasma dapat tumbuh tidak terkontrol; ketika ini dilakukan, sel plasma ini sudah sama sebagai myeloma cells. Myeloma ini dapat memadati sumsum tulang dan merusak tulang Efek MM, Kanker Penyebab Nyeri Tulang Belakang Multiple myeloma adalah kondisi medis yang perlu perhatian ekstra, karena dampak panjangnya dapat merusak tulang sehingga menimbulkan kelemahan tulang dan nyeri kronik. Selain itu juga bisa menyebabkan fraktur-fraktur berkelanjutan bahkan saat myelomanya sudah mereda atau dalam stadium remisi. Tumor yang lunak ini juga dapat menekan saraf di sepanjang tulang belakang, yang bila berlangsung lama Anda juga akan mengalami kerusakan sistem persarafan dan timbul tanda/gejala seperti kesemutan/kebas di area saraf tulang belakang yang mengalami kerusakan. Multiple myeloma penyakit yang cukup kompleks dengan penyebab pasti yang belum pasti. Gejala akibat kanker darah ini tidaklah sama di setiap penderitanya, bahkan ada yang tanpa gejala. Walau MM ini dapat menimbulkan masalah di seluruh bagian tubuh, Menurut Multiple Myeloma Research Foundation, kanker darah ini menyebabkan hilangnya massa tulang dengan derajat yang berbeda-beda. Kerusakan tulang yang terjadi seringnya berhubungan dengan kanker utama yang mengenai tulang belakang, panggul, dan tulang rusuk. Dengan gejala nyeri dan gangguan pada struktur tulang belakang. Kanker Penyebab Nyeri Tulang Belakang  Multiple myeloma bisa berdampak pada semua bagian tubuh, dan secara signifikan dapat menimbulkan permasalahan di tulang belakang. Seperti nyeri punggung, osteoporosis, fraktur tulang belakang, dan syaraf terjepit sehingga dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. 1. Nyeri pada Leher dan/atau Punggung Tulang yang terasa nyeri merupakan gejala utama multiple myeloma penyebab kanker dan sering terdapat pada tulang belakang. Tulang belakang ini bisa melemah, padahal kekuatan struktur sangat diperlukan untuk menyangga leher dan punggung. Gejala yang muncul seperti nyeri leher/ punggung di titik plasmasitoma (kanker di punggung atau tulang belakang), atau nyerinya bisa di sepanjang tulang belakang. Plasmasitoma adalah tumor padat ganas sel darah putih. 2. Fraktur Tulang Belakang Multiple myeloma dapat melemahkan kekuatan tulang-tulang, berarti risiko patah atau fraktur menjadi lebih tinggi. Penyebab kanker ini juga menyebabkan kolapsnya tulang belakang atau disebut dengan fraktur kompresi yang menimbulkan rasa nyeri luar biasa. Jika fraktur kompresi ini terjadi di lebih dari satu ruas tulang, seiring dengan waktu, dapat menimbulkan kelainan bentuk (deformitas) tulang belakang, misalnya kifosis. 3. Kanker Tulang Belakang Penyebab Osteoporosis Kerusakan dan penipisan tulang akibat MM dapat menimbulkan osteoporosis, yakni tulang menjadi keropos dan lebih mudah patah. Jepitan pada syaraf tulang belakang, Mielopati adalah istilah lain untuk saraf tulang belakang yang mengalami kompresi atau jepitan. Syaraf kejepit ini dapat akibat kerusakan tulang belakang atau kerusakan pada bantalan antar ruas tulang belakang sehingga menjepit jaringan sekitarnya. Gejala yang timbul dapat berupa kelemahan otot, kebas, kesemutan atau kelumpuhan. 4. Hiperkalsemia Hiperkalsemia adalah berlebihnya kadar kalsium dalam darah akibat meningkatnya aktivitas osteoklas yang bertugas memecah tulang sehingga kalsium banyak lepas ke dalam darah. Kondisi ini bisa terdeteksi dengan tes darah sebagai salah satu tes untuk mengindikasikan MM. Hiperkalsemia ini menimbulkan tanda berupa haus berlebihan, sering berkemih dan/atau nyeri di area perut. Tulang memiliki siklus remodeling yaitu tulang ‘tua’ akan hancur dan diganti dengan yang baru. Kanker ini menghasilkan protein tertentu yang mencegah kerja sel-sel pembangun kekuatan tulang. Dua jenis utama sel bertanggung jawab untuk metabolisme tulang, yaitu osteoblas (bekerja dengan membentuk tulang baru), dan osteoklas (yang memecah tulang). Dengan tumbuhnya sel myeloma akan mengganggu kerja normal dari osteoklas dan osteoblas. Osteoklas akan lebih cepat merusak tulang, sehingga osteoklas akan tumbuh lebih banyak sehingga tulang banyak yang rusak. Pertumbuhan sel myeloma akan mengganggu cara kerja osteoklas dan osteoblas yang secara bersama memberi sinyal osteoklas untuk mempercepat pelarutan tulang. Pada saat yang sama, sel-sel myeloma akan mengalahkan osteoblas, dan pembentukan tulang baru terhalangi. Akibatnya, tulang kehilangan kekuatannya dan menimbulkan nyeri dan rentan patah dan keropos (osteoporosis). Kerusakan tulang belakang ini bisa menekan saraf di sepanjang tulang belakang (syaraf kejepit) dan hiperkalsemia. Penanganannya Seperti Apa? Tulang belakang yang rapuh dapat kolaps atau fraktur kompresi. Tulang yang fraktur ini menekan saraf, yang menyebabkan rasa kebas, kelemahan otot dan rasa seperti tertusuk jarum. Untuk fraktur kompresi, dapat dengan terapi : Kifoplasti (kyphoplasty). Semen sintetik masuk ke ruas tulang belakang yang keropos melalui tube dengan balon. Setelah semen mengeras, tulang yang keropos dapat kembali utuh. Vertebroplasti (vertebroplasty), dokter akan menyuntikkan semen melalui jarum ke tulang belakang yang keropos/retak. Setelah itu, mungkin dokter akan merekomendasikan anda mengenakan korset tulang belakang atau neck collar untuk mengurangi gerakan. Selain itu, dokter juga akan meresepkan obat antinyeri. Myeloma dapat menjadi kondisi yang menyakitkan namun ada beberapa cara guna mengelola nyeri tersebut sebelum mengganggu aktivitas. Ikuti rencana pengobatan yang dokter rekomendasikan antara lain ; Minum obat anti nyeri (resep dokter) Masase (pijat) Kompres panas atau kompres dingin Melakukan aktivitas fisik, terapi fisik atau rehabilitasi sesuai dengan program dokter Pemeriksaan Penunjang Multiple Myeloma Untuk mendiagnosis MM, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti: Tes darah dan urin, yang membantu mendeteksi protein M yang dihasilkan oleh sel-sel myeloma. Aspirasi dan biopsi sumsum tulang belakang Radiologis seperti rontgen, magnetic resonance imaging (MRI) dan CT scan. Secara signifikan MRI dan CT scan dapat memberikan gambaran struktur tulang belakang secara detail bila ada fraktur kompresi atau jepitan saraf.

Kaki Sering Kram, Ini 13 Makanan Yang Baik Untuk Mengatasinya

Makanan pencegah kram otot kaki

Kram otot kaki bisa menimbulkan nyeri pada kaki atau betis. Tidur pun menjadi terganggu oleh ulah si kram otot kaki ini. Ternyata jenis makanan tertentu bisa sebagi pencegah kram otot. Apa saja makanan itu, yuk kita simak artikelnya lebih lanjut. Kram otot kaki bisa disebabkan oleh aktivitas berlebihan, dehidrasi dan kekurangan kadar mineral tertentu. Salah satu pencegah kram adalah mengonsumsi makanan yang kaya akan kalium, natrium, kalsium, dan magnesium atau dikenal sebagai elektrolit yang berperan dalam menjaga kerja otot. Untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh akan elektrolit, Anda bisa menemukannya di dalam beberapa makanan berikut ini. Kram pada Otot Pencegah an Dengan Makanan Ini Beberapa makanan berikut ini dapat digunakan sebagai pencegah terjadinya kram, makanan tersebut diantaranya adalah; 1. Pisang Bisa Mencegah Kram Otot Kaki Buah pisang merupakan makanan memiliki kandungan kalsium, kalium dan magnesium gunanya sebagai pencegahan, mencukupi kadar  nutrisi dalam tubuh agar kram otot kaki atau betis tidak berulang. 2. Alpukat Buah berwarna hijau ini sarat dengan nutrien atau zat gizi yang dapat membantu mencegah kram otot. Kaya dengan kalium dan magnesium, alpukat merupakan makanan dengan kandungan dua mineral sebagai elektrolit dan berperan penting menjaga kerja dan mencegah kram otot. Bila Anda mengalami ketidakseimbangan elektrolit, misalnya setelah bekerja berat, maka risiko terjadinya kram bisa saja meningkat. 3. Semangka Kemungkinan kram juga bisa disebabkan dehidrasi (kurangnya cairan dalam tubuh). Agar otot bekerja dengan baik memerlukan cairan yang adekuat, dan kekurangan cairan dapat mengganggu sel-sel otot berkontraksi sehingga memicu kram kambuh atau timbul lagi. Buah semangka kaya dengan kandungan airnya (hampir 92%) sehingga cocok untuk menjadi makanan yang membantu mencukupi kebutuhan cairan tubuh pencegah kram. Kalium dan magnesium juga ada di dalam buah ini. 4. Air Kelapa, Makanan Pencegah Kram Kelapa ini menjadi salah satu pilihan atlet untuk membantu rehidrasi atau mencukupi kebutuhan akan elektrolit. Air kelapa merupakan sumber elektrolit karena mengandung kalsium, kalium, natrium, magnesium dan fosfor – yang membantu menurunkan risiko terjadinya kram. Salah satu studi pada 10 atlet laki-laki yang merehidrasi dengan minuman berelektrolit yang mirip dengan air kelapa setelah olahraga berat, mereka lebih jarang mengalami kram otot dibandingkan dengan hanya minum air putih biasa. 5. Ubi Ubi merupakanan sumber makanan mengandung kalium, kalsium, dan magnesium yang penting untuk fungsi atau kerja otot pencegah kram. Sekitar 200 gram ubi membantu memenuhi kebutuhan kalium sekitar 20% dan kebutuhan magnesium sekitar 13%. 6. Greek Yogurt Yogurt ini merupakan produk makanan olahan susu yang mengandung tinggi kalium, fosfor, dan kalsium – berperan sebagai elektrolit dalam tubuh bagus untuk pencegah kram. Selain itu, juga kaya dengan protein yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan otot. Baca juga : Makanan untuk syaraf kejepit Agar dapat bekerja dengan baik, otot memerlukan kalium. Itu sebabnya bila kadar kalsium Anda rendah kemungkinan dapat memicu kondisi tertentu yang berkaitan dengan kerja otot, seperti kram dan ketidakaturan detak jantung. Mengonsumsi yogurt ini setelah kerja/olahraga berat dapat membantu menggantikan nutrien-nutrien yang hilang sehingga kram otot akibat olahraga dapat dicegah dan mempercepat proses pemulihan otot. 7. Kaldu Rebusan Tulang Bisa dibuat dengan merebus tulang seperti tulang sapi kurang lebih 8 jam atau senyaman Anda, agar dapat menghasilkan kaldu yang kental. Kaldu yang dihasilkan mengandung magnesium, kalsium, dan natrium untuk membantu mencegah timbulnya kram otot sebagai sumber makanan pencegah kram. 8. Pepaya Buah negara tropis ini memiliki kandungan kalium dan magnesium yang tinggi. Sekitar 300 gram pepaya dapat menyumbang 15% kalium dam 19% magnesium. Selain itu, buah ini juga mengandung vitamin C dan A. 9. Daun bit Daun bit mengandung beberapa gizi yang berperan dalam kerja otot dan bisa membantu mencegah kram otot. Kandungannya antara lain kalium, magnesium, vitamin B dan nitrat (membantu/memperbaiki kerja pembuluh darah sehingga memperlancar aliran darah ke otot). 10. Salmon Kaya Kalium dan Magnesium  Ikan ini tinggi kandungan proteinnya dan lemak sehat, serta vitamin B, kalium, magnesium, fosfor. Selain itu  salmon juga kaya akan zat besi yang diperlukan untuk produksi sel-sel darah sehat. Oksigenasi jaringan otot, dan aliran darah sehingga dapat membantu mencegah kram otot. Vitamin D juga ada dalam salmon. Kadar cukup vitamin ini dalam darah penting untuk perbaikan fungsi otot dan bila kekurangan dapat menimbulkan nyeri otot, kram dan kelemahan otot. 11. Sarden Walau ikan ini kecil namun kaya dengan nutrisi yang diperlukan untuk mencegah dan menyembuhkan kram otot, seperti kalsium, zat besi, fosfor, kalium, natrium, vitamin D dan magnesium. Selenium juga ada dalam ikan ini, yaitu mineral yang berperan juga dalam kerja otot. Kadarnya yang rendah dapat menyebabkan kelemahan otot atau masalah otot lainnya. 12. Susu Sudah tidak asing lagi bahwa susu kaya akan kalsium, kalium dan natrium. Juga mengandung tinggi protein yang membantu proses perbaikan jaringan otot setelah bekerja/berolahraga berat. Susu juga membantu melindungi otot dari risiko kram. 13. Tomat Buah berukuran kecil ini tinggi akan kandungan kalium dan air. Tomat yang dibuat jus dapat membantu Anda mendapatkan 15% kalium dan juga menjaga kadar air dalam tubuh agar kram tidak terulang. Tomat banyak ditanam di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, dengan kandungan kalium ini, tomat merupakanan makanan yang pencegah terjadinya kram. Untuk mendapatkan buah ini, Anda hanya tinggal berburu di tukang sayur atau minimarket terdekat. Konsumsi dalam bentuk segar dengan juice lebih disarankan, untuk menghilangkan rasa asam yang berlebihan juice tomat bisa ditambah dengan sirup atau gula.

Kram Kaki Kiri, Apa Penyebab dan Bagaimana Meredakannya?

Kram kaki kiri pada malam hari

Kram kaki kiri bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Kram kaki kiri kadangkala dibarengi dengan kram kaki kanan. Namun biasanya, kram pada kaki baik kiri atau kanan lebih sering dialami oleh orang-orang di usia sekitar 50 tahun (pernah merasakan kram, dan sepertiganya sampai terbangun di tengah malam, dan 15% kram terjadi satu kali dalam seminggu). Kram dalam dunia kedokteran merupakan spasme (kejang) pada otot akibat saraf yang menjadi ‘daya’ kontraksi pada otot area tersebut bekerja tanpa henti. Biasanya kram ini sering dialami oleh orang-orang yang memiliki masalah pada kakinya, misalnya telapak kaki yang datar (flat foot), kelainan metabolik, atau kondisi neurologis (Parkinson, neuropati/kerusakan saraf). Tetapi jangan salah, kram kaki kiri ini juga bisa loh dialami oleh Anda yang sehat. Dehidrasi, ketidakseimbangan kadar elektrolit dalam tubuh (kekurangan kadar kalium dan magnesium) dapat meningkatkan risiko Anda mengalami kram pada kaki kiri atau kanan. Jika Anda pernah kram pada kaki kiri atau kanan, pasti sudah tahu rasanya seperti apa. Otot pada betis, kaki atau paha terasa tertarik atau kaku dan bisa berlangsung beberapa detik hingga menit. Saat otot tersebut sudah kembali relaks, kadang nyerinya timbul. Kaki kram bisa saja terjadi saat Anda masih terbangun, namun seringnya terjadi di malam hari. Kram pada kaki kiri atau kanan terutama mengenai otot gastrocnemius (otot betis) yaitu otot yang terbentang dari pergelangan kaki hingga lutut. Namun otot lainnya juga bisa terkena, seperti otot quadriceps (paha depan) dan hamstring (paha belakang). Penyebab Kram Kaki Kiri dan Kanan Apa Saja? Faktor penyebab kram pada kaki kiri maupun kanan cukup beragam, antara lain: Masalah anatomi kaki, misalnya telapak kaki datar, atau bentuk kaki yang abnormal, tendon yang pendek Aktivitas dan posisi/postur tubuh, misalnya duduk terlalu lama, postur tubuh janggal atau berdiri di dalam waktu yang lama, atau aktivitas atau olahraga yang terlalu keras Kondisi neurologis, seperti saraf terjepit, Parkinson, amyotrophic lateral sclerosis (ALS) Gangguan metabolisme, misalnya kadar magnesium rendah, dan ketidakseimbangan kadar garam (natrium) akibat berkeringat berlebihan Obat-obatan tertentu, seperti kontrasepsi oral, statin Gangguan sirkulasi darah, misalnya anemia, peripheral artery disease Gaya hidup sedentari (kurang aktivitas fisik), seperti sering duduk lama Olahraga berat Duduk dengan kaki ditekuk Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) Perlu Perhatian Ekstra Sekitar 50-60% orang dewasa pernah mengalami kram pada kaki kiri maupun kanan, begitu juga ibu hamil (sekitar 40%). Kram belum tentu diartikan Anda memiliki penyakit tertentu. Bila kram Anda dibarengi dengan hal berikut, segerakan untuk konsultasi dengan dokter: Terbangun beberapa kali di tengah malam akibat kram Kram ini membuat Anda tidak dapat tidur dengan nyenyak Kram pada kaki disertai dengan kram di bagian tubuh lainnya Kram disertai dengan ketidaksembangan elektrolit atau cairan tubuh Disertai dengan nyeri, kaki bengkak dan/atau perubahan warna kulit Saat kram, coba perhatikan berapa lama dan hal-hal lain yang menyertainya. Saat Kram, Ini yang Bisa Anda Lakukan Posisi tidur dapat menyebabkan pemendekan otot betis sehingga rentan mengalami kram pada betis/ kaki. Kram bisa diatasi dengan cara berikut: Pijat kaki agar otot menjadi relaks Lakukan peregangan. Saat betis terasa tertarik, coba luruskan kaku dan tarik jari kaki perlahan ke arah tulang kering Berjalan dengan tumit untuk mengaktifkan otot-otot yang bersebelahan dengan betis supaya relaks Berdiri, dan letakkan kaki di lantai kemudian tekan kaki ke lantai Jalan, dan goyangkan kaki yang terasa nyeri/kram Kompres dingin Setelah kram hilang, tinggikan kaki sedikit dengan bantal di bawah lutut Risiko Kram Kaki Kiri Perlu Dikurangi Kurangi risiko terjadinya kram dengan: Batasi asupan minuman berkafein Minum air putih secukupnya atau sesuai dengan usia, tingkat aktivitas, terutama jika Anda sedang dalam pengobatan dengan antidiuretik Lakukan peregangan ringan pada kaki sebelum tidur Kenakan alas kaki yang nyaman terutama di bagian tumit saat beraktivitas Kosongkan area tempat tidur di bagian kaki, agar kaki dapat bergerak dengan bebas saat tidur Bersepeda statis, dapat mengendurkan otot-otot kaki sebelum Anda tidur Mengubah posisi tidur. Hindari posisi tidur yang menyebabkan kaki menghadap ke bawah atau tengkurap. Sebaiknya tidur dengan posisi telentang Penyebab Lain Kram Kaki Kiri Kompresi saraf atau syaraf tulang belakang yang terjepit (stenosis lumbar) juga dapat memicu timbulnya nyeri seperti kram, pada kaki. Nyeri ini bisa memburuk bila Anda berjalan jauh. Berjalan dengan posisi tubuh yang agak condong ke depan (bungkuk) dapat mengurangi rasa nyeri pada kaki. Beberapa faktor berikut ini juga dapat meningkatkan risiko Anda alami kram kaki, antara lain: Proses penuaan dapat menyebabkan massa otot semakin berkurang/menurun, sehingga otot lebih mudah kram. Dehidrasi, atlet yang fatigue (atau kelelahan yang berlebihan) dan dehidrasi (kekurangan kadar cairan dalam tubuh) yang berpartisipasi dalam olahraga di iklim yang panas dapat memicu timbulnya kram otot. Kehamilan Kondisi medis tertentu, misalnya diabetes, atau adanya masalah pada saraf, hati, dan tiroid

Penyebab Disfungsi Ereksi Pada Pria, Salah Satunya Syaraf Kejepit

Syaraf kejepit penyebab disfungsi ereksi

Syaraf kejepit bisa jadi penyebab disfungsi ereksi pada laki-laki, terutama bila kondisi syaraf kejepitnya tidak tertangani dengan baik. Itu sebabnya syaraf kejepit perlu dikenali gejala dan penyebabnya, serta mendapatkan penanganan yang tepat. Seperti kita ketahui, tulang belakang memegang peran yang penting sekali, yaitu sebagai ‘penjaga’ tubuh agar tetap tegak dan juga sebagai pelindung persarafan yang ada di sepanjang tulang belakang. Antar tulang belakang terdapat bantalan sendi – bentuknya seperti jel – yang bekerja sebagai alat peredam goncangan (shock absorber) dan menjaga tulang di area tersebut tidak saling bergesekan. Bantalan tulang ini disebut juga nukleus pulposus, yang bila menonjol atau merembes keluar dari cincinnya, disebut dengan herniasi nukleus pulposus (HNP) atau syaraf kejepit yang dapat menimbulkan nyeri. Selain nyeri, pada laki-laki yang mengalami syaraf kejepit bisa mengalami gangguan ereksi atau penyebab disfungsi ereksi. Saraf tulang belakang terdiri dari saraf-saraf atau bundel serat saraf yang memanjang ke bawah hingga punggung bawah dan berfungsi sebagai ‘jembatan’ agar pesan dari otak ke berbagai area tubuh tersampaikan. Serta terkirim dengan baik, sehingga memungkinkan pergerakan atau aktivitas seluruh organ berlangsung dengan baik. Mengingat saraf tulang belakang ini sebagai ‘kurir’ penyampai pesan. Maka saat terjadi cedera pada area ini dapat menyebabkan gangguan persarafan dan fungsi area tubuh tertentu dapat juga terganggu. Cedera, Syaraf Kejepit Dan Disfungsi Ereksi Cedera pada tulang belakang yang sampai mengenai persarafan area itu bisa oleh jatuh atau kecelakaan kendaraan dan lainnya. Trauma bisa mengganggu penyampaian informasi baik yang dari otak maupun yang menuju ke otak, sehingga berisiko menimbulkan penurunan kemampuan pada gerakan (motorik) dan pada ‘rasa’ (sensorik). Cedera ringan mungkin belum berdampak pada persarafan baik sensorik atau motorik. Namun pada cedera saraf tulang belakang yang berat, dapat terjadi kerusakan saraf yang menyebabkan nyeri, kelemahan, mati rasa, dan paralisis mendadak atau lumpuh. Dan sebagai penyebab disfungsi ereksi. Nyeri pada tulang belakang sebaiknya tidak  Anda anggap sepele. Nyeri di area ini penyebabnya sangat multifaktor, seperti: Proses penuaan yang menyebabkan perubahan degeneratif tulang belakang Cedera secara bertahap pada otot-otot punggung bagian bawah akibat postur yang tidak baik saat beraktivitas atau bekerja Teknik mengangkat beban berat yang tidak benar atau penggunaan berlebihan yang kronis Kelebihan berat badan (obesitas) Penyakit tertentu, misalnya tumor, infeksi TB pada tulang belakang Peradangan sendi HNP atau syaraf kejepit Kenali Tanda dan Gejala Cedera Saraf Tulang Belakang Secara umum, gejala berikut bisa muncul akibat cedera saraf tulang belakang: Nyeri seperti tertusuk atau terbakar Kebas/baal Kesemutan Sulit mengontrol buang air besar atau buang air kecil Kesulitan berjalan atau lumpuh Hilangnya kemampuan Kekakuan Terganggunya aktivitas seksual atau sebagai penyebab disfungsi ereksi (DE) pada laki-laki Ada kondisi medis tertentu yaitu sindrom cauda equina oleh tekanan pada sekumpulan akar saraf (cauda equina) di bagian bawah saraf tulang belakang. Selain cedera (akibat jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor) dan HNP, sindrom cauda equina ini juga dapat oleh luka tusuk/ tembak, peradangan sendi (spondilitis ankilosa). Tumor, komplikasi akibat kanker, efek samping obat-obatan tertentu, dan lainnya. Akar saraf (cauda equina) ini bertanggung jawab untuk sensasi dan berperan dalam fungsi kandung kemih, usus, organ seksual, dan kaki. Itu sebabnya sindrom cauda equina perlu mendapatkan penanganan yang tepat. Syaraf Kejepit Penyebab Disfungsi Ereksi (DE) Secara tidak langsung, syaraf kejepit dapat menjadi penyebab disfungsi ereksi pada laki-laki. Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk melakukan hubungan seksual. Kadang-kadang disebut sebagai impotensi, meskipun istilah ini sekarang lebih jarang. DE dapat menjadi pertanda kemungkinan adanya masalah kesehatan tertentu yang menjadi penyebabnya dan perlu mendapatkan perhatian medis. Akibat syaraf kejepit ini bisa menyebabkan mati rasa di area perineum (saddle anesthesia) antara kaki dan hilangnya sensasi saat melakukan aktivitas seksual. Hilangnya kontrol motorik di area genital ini juga dapat membuat laki-laki tidak dapat mencapai ereksi. Saraf penis oleh sistem saraf otonom (parasimpatik dan simpatik) dan saraf somatik (sensorik dan motorik). Serabut saraf parasimpatik yang menuju penis berasal dari segmen S2-S4 sedangkan yang simpatik berasal dari segmen T4-L2 yang bergabung dengan cabang saraf lain dan mempersarafi otot-otot penis. Saraf sensorik pada penis yang berasal dari reseptor sensoris pada kulit dan glans penis bersatu membentuk saraf dorsalis penis yang bergabung dengan saraf perineal lain untuk membentuk nervus  pudendus. Persarafan inilah yang berperan dalam timbulnya ereksi. Untuk mendapatkan diagnosis penyebab DE ini selain dari pemeriksaan fisik, juga perlu pemeriksaan penunjang lainnya seperti rontgen, MRI, untuk melihat ada tidaknya syaraf terjepit pada tulang belakang. Tangani Syaraf Kejepit Penanganan disfungi ereksi bertujuan untuk menentukan penyebab dan perlakukan penanganan yang tepat terhadap penyebab utamanya, bukan hanya untuk gejalanya saja. Bila dari hasil pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya saraf terjepit di ruas tulang belakang yang mungkin menjadi salah satu penyebabn disfungsi ereksi. Dokter akan merekomendasikan teknologi terkini atasi syaraf kejepit yaitu percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD), atau percutaneous stenoscopic lumbar decompression (PSLD) atau percutaneous laser disc decompression (PLDD). Kini fasilitas atau teknologi menangani saraf terjepit tanpa operasi ini sudah ada di Indonesia. Salah satunya adalah di Klinik Lamina dengan dokter bedah saraf yang berpengalaman di bidang nyeri dan tulang belakang. Agar keluhan Anda teratasi, jangan ragu untuk datang berkonsultasi dengan kami. Kami juga melakukan protokol standard kesehatan selama fase new normal ini. Kenali Penyebab Disfungsi Ereksi Penyebab disfungsi ereksi antara lain: Vaskulogenik: hipertensi, diabetes melitus, hiperlipidemia Neurogenik: penyakit degeneratif, cedera saraf tulang belakang, HNP, tumor, polineuropati Anatomi: hipospadia, mikropenis, penyakit La Peyronie Hormonal: hipogonadisme, hipo/hipertiroid, hipo/hiperkortisol Obat-obatan Psikogenik Trauma/cedera

Postur Tubuh Ideal Untuk Anda Penderita Nyeri Dan Kaitannya

Postur tubuh tak ideal dan nyeri

Postur tubuh dan nyeri bisa disebabkan oleh tuntutan pekerjaan yang kadang mengharuskan seseorang berdiri atau duduk tidak ideal dalam waktu yang lama. Bagaimana postur tubuh dan nyeri ini bisa berkaitan? Tulang belakang atau punggung harus bekerja tanpa henti (non-stop) selama 24 jam. Bahkan saat tidur pun, tulang punggung juga harus bekerja menopang tubuh. Kerja punggung sebagai penopang atau penyangga juga berlaku saat duduk dan berdiri atau saat melakukan aktivitas harian. Akibat beratnya tugas tulang belakang atau punggung bawah atau pinggang. Maka area ini dapat dikatakan rentan mengalami nyeri yang seringkali disebut dengan low back pain (LBP). Faktor Penyebab Nyeri Penyebab nyeri punggung bawah atau pinggang adalah: Duduk terlalu lama dengan posisi yang salah Postur tubuh yang salah Aktivitas berlebihan Cedera Obesitas Duduk merupakan salah satu aktivitas yang sering dilakukan oleh setiap individu, baik saat bekerja maupun aktivitas harian lainnya, misalnya makan, menonton televisi dan lainnya. Selain itu, duduk juga bermanfaat untuk membantu menghilangkan letih dan mengembalikan kebugaran. Namun duduk terlalu lama bisa menimbulkan kelelahan punggung karena dapat membuat otot-otot punggung menegang. Sehingga timbul nyeri dan kemungkinan berisiko merusak jaringan lunak sekitarnya. Bila saja kondisi ini berlangsung lama dan didiamkan, bisa-bisa mengganggu bantalan sendi yang ada di antara ruas tulang belakang sehingga berisiko menyebabkan hernia nukleus pulposus atau syaraf terjepit. Anggap saja pada saat berdiri, tekanan pada bantalan sendi sebesar 100 persen. Pada saat duduk tegak, tekanan tersebut membesar hingga 140 persen. Nah posisi duduk dengan badan membungkuk, tekanan tersebut bisa semakin besar lagi hingga 190 persen. Tidak itu saja, postur tubuh tidak ideal  seperti membungkuk, dapat meningkatkan tekanan pada diskus hingga 300 persen dibandingkan dengan posisi tubuh berdiri. Bila saja hal ini berlangsung lama dan berulang bisa memicu timbulnya rasa baal, kebas, nyeri dan kelemahan otot. Postur Tubuh Tidak Ideal Cetuskan Nyeri Kegiatan mengangkat dan membawa beban merupakan salah satu penyumbang terjadinya cedera pada otot punggung. Apalagi bila kegiatan ini dilakukan dengan postur tubuh yang salah atau tidak ideal, maka beban itu akan memperberat kerja otot punggung dan sendi. Itu sebabnya orang yang bekerja dengan posisi membungkuk membutuhkan ketahanan otot yang besar. Karena posisi ini menyebabkan pembebanan pada tulang belakang sehingga meningkatkan risiko nyeri pada punggung. Nyeri pada punggung bawah atau pinggang paling banyak ditemukan di tempat kerja, terutama pada mereka yang beraktivitas dengan postur tubuh yang salah atau tidak ideal. Dari beberapa literatur, hampir sekitar 90% kasus nyeri punggung bawah bukan disebabkan oleh kelainan organik, melainkan oleh kesalahan postur tubuh tidak ideal saat bekerja. Pekerjaan mengangkat dan mengangkut beban berat mempunyai risiko tinggi untuk mengakibatkan nyeri punggung bawah karena kerusakan tulang belakang, bila berlangsung lama. Oleh karena itu perlu memperhatikan teknik mengangkat beban. Bekerja dalam posisi duduk itu bisa juga menimbulkan kelelahan pada otot perut dan pinggang, serta meningkatkan tekanan pada tulang belakang. Jika saat duduk juga dilakukan aktivitas mengangkat, maka pembebanan pada tulang belakang juga semakin besar sehingga timbul nyeri punggung bawah. Postur Tubuh dan Nyeri, Akibat Tidak Ideal Bebani Otot dan Sendi Terdapat beberapa faktor lain yang juga berperan terjadinya nyeri atau proses degenerasi diskus atau bantalan sendi area punggung bawah atau pinggang. Mencakup: kurangnya bergerak aktif; memiliki pekerjaan tertentu, misalnya mengoperasikan mesin yang bergetar; merokok; cedera; usia; dan penyakit infeksi Perubahan postur tubuh tidak ideal juga dapat memberikan tekanan pada bantalan sendi punggung bawah/lumbar yang bervariasi. Tekanan dan beban pada diskus yang terendah adalah saat berbaring dan akan sedikit meningkat saat berganti posisi dari telentang menjadi berbaring ke salah satu sisi. Jadi tekanan tertinggi pada bantalan sendi ruas tulang lumbar terjadi saat Anda dalam posisi duduk dan membungkuk ke depan (tidak tegak), Pada akhirnya, tekanan yang dibebankan ke bantalan sendi tulang belakang (lumbar/pinggang) muncul saat Anda duduk membungkuk sambil mengangkat benda (misalnya mengangkat tas). Otot-otot punggung akan bekerja keras menahan beban anggota gerak atas yang sedang melakukan pekerjaan. Akibatnya beban kerja bertumpu di daerah pinggang dan menyebabkan otot pinggang sebagai penahan beban utama. Akan mudah mengalami kelelahan dan selanjutnya akan terjadi nyeri pada otot sekitar pinggang atau punggung bawah. Namun juga terdapat keluhan lain pada sopir (menyetir dalam waktu lama) karena posisi duduk yang tidak benar. Yaitu menumpukan lengan pada setir dan menumpukan kaki pada pedal. Duduk Lama Bisa Membuat Punggung dan Leher Pegal Setelah duduk seharian di balik meja, apakah Anda masih merasa bugar seperti saat datang ke tempat kerja di pagi hari? Sepertinya tidak. Saat menghabiskan waktu seharian dengan posisi duduk dapat membuat tulang belakang menjadi nyeri dan kaku. Selain itu, duduk seharian juga bisa membebani otot-otot, bantalan tulang punggung dan leher. Posisi ini dapat menyebabkan kakunya otot-otot fleksor panggul, seperti otot iliopsoas dan terganggunya aliran darah ke otot-otot bokong (gluteus maksimus). Otot ini memegang peran penting untuk menyangga tulang belakang. Semakin lama duduk, postur tubuh pun cenderung tidak ideal, mulai selonjor padahal selonjoran ini bisa membuat ligamen tulang belakang menegang melebihi kemampuannya. Dan postur tubuh yang salah/ buruk dapat membebani ruas tulang belakang. Bila kondisi ini berlangsung lama dapat meningkatkan tekanan pada bagian terluar bantalan sendi sehingga meningkatkan risiko terjadinya menonjolnya bantalan sendi. Jaga Postur Tubuh Saat Bekerja Saat bekerja dengan komputer atau menulis di atas meja dengan duduk, lama kelamaan membuat posisi kepala condong ke depan atau membungkuk, sehingga postur bahu juga ‘membulat’ atau disebut dengan sindrom postur buruk. Misalnya Anda sudah merasa nyaman duduk di kursi empuk sehingga tak sadar sudah duduk dalam waktu lama, namun tahukah Anda hal ini tidak sehat buat tulang belakang? Untuk mencegah dampak buruk ini, coba lakukan peregangan dengan berdiri dan berjalan sekitar beberapa menit agar sendi, otot, tendon, ligamen juga dapat beristirahat dan luput dari nyeri. Duduk lama bisa menyebabkan nyeri punggung atau malah memperburuk nyeri yang sudah ada. Duduk adalah postur tubuh yang statis yang dapat meningkatkan tekanan pada punggung, bahu, lengan, dan kaki serta terutama otot-otot di ruas tulang belakang. Duduk yang membungkuk atau selonjoran membuat ligament dan struktur sekitar saraf dan tulang belakang teregang berlebihan. Aliran darah yang terganggu dan otot punggung pun meregang. Seiring waktu, postur yang buruk menyebabkan bantalan ruas tulang belakang menjadi aus/menipis dan kehilangan kemampuannya sebagai peredam kejut. Bila berlangsung lama, bantalan sendi ini akan menonjol sehingga

Sakit Pinggang Saat Bersepeda, Ini Penyebab Utamanya

Sakit pinggang saat bersepeda

Saat bersepeda tiba-tiba pinggang Anda mengalami sakit, apakah tanda Anda mengalami masalah kesehatan tertentu? Yuks kita kupas lebih lanjut hubungan antara sakit pada pinggang saat bersepeda. Kita ketahui bersepeda dapat dimanfaatkan sebagai alat transportasi yang juga memiliki manfaat baik bagi kesehatan atau manfaat rekreasi, yaitu dengan menikmati suasana sekitar saat bersepeda di luar rumah. Bersepeda merupakan salah satu jenis aktivitas fisik dampak rendah (low impact) yang membantu Anda memiliki gaya hidup sehat. Mengupas Manfaat Bersepeda Ada beberapa manfaat yang dapat kita raih saat bersepeda, namun ketika bersepeda membuat Anda mengalami sakit pinggang, bisa jadi tanda ada yang salah. Beberapa manfaat yang kita bisa dapat dari bersepeda diantaranya; Membantu menjaga berat badan tetap seimbang. Bersepeda secara teratur dan terutama dengan intensitas tinggi, dapat membantu menurunkan kadar lemak tubuh sehingga berat badan bisa berada di kisaran ideal. Membantu meningkatkan fungsi tubuh bagian bawah dengan memperkuat otot-otot kaki, seperti paha depan, bokong, paha belakang dan betis. Olahraga ini membantu memperkuat otot-otot inti, seperti punggung dan perut. Jaga posisi tetap tegak dan menjaga posisi sepeda tetap dalam posisi stabil memerlukan kekuatan otot-otot inti. Otot-otot perut dan punggung yang kuat dapat dengan baik menyangga atau menopang tulang belakang, sehingga meningkatkan stabilitas dan Anda pun nyaman saat mengayuh sepeda. Membantu mengatasi atau meredakan stres, depresi dan ansietas (kecemasan). Dengan fokus pada jalanan dapat membuat Anda lebih berkonsentrasi atau sadar akan sekitar. Jika Anda merasa lelah, cobalah bersepeda selama 10 menit, karena olahraga atau aktivitas fisik dapat melepaskan endorfin yang membantu menekan atau mengendalikan stres. Membantu memperbaiki aliran darah, apalagi bila dilakukan di pagi hari – walau dengan intensitas rendah – dapat membantu membakar lemak. Memperbaiki ketahanan tubuh, dan membuat Anda enerjik serta meningkatkan laju metabolisme. Hal ini sesuai dengan hasil studi pada Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism (2020). Bersepeda rutin dapat membuat tubuh Anda menjadi aktif dan mengurangi gaya hidup sedentari atau tidak/jarang bergerak aktif. Memperbaiki keseimbangan, postur dan koordinasi tubuh. Saat bersepeda, tubuh akan menstabilkan diri dan menjaga sepeda tetap tegak, dengan cara ini akan membantu tubuh menjaga keseimbangan, koordinasi, dan posturnya. Bersepeda berdampak rendah pada tubuh (low impact aerobic), dan bisa menjadi pilihan bagi orang-orang yang ingin berolahraga tanpa membebani sendi-sendinya dan yang memiliki kekakuan sendi, terutama pada tubuh bagian bawah. Manfaat Bersepeda Untuk Bokong Terkait bentuk tubuh, dari beberapa literatur yang ada, ada manfaat bersepeda untuk bokong Anda. Untuk mendapatkan bentuk ideal bokong, bersepeda bisa dikombinasikan dengan olahraga lain seperti fitnes. Selain manfaat sepeda untuk membentuk bokong, bagus juga untuk membentuk bagian tubuh lain seperti paha pinggang dan kaki. Organ gerak apa yang dimanfaatkan pada aktivitas bersepeda? Tidak dipungkiri pertanyaan ini sering muncul dan ditanyakan masyarakat awam. Bersepeda membuat organ gerak seperti lengan, tangan dimanfaatkan pada aktivitas tersebut. Saat Bersepeda Picu Sakit Pinggang Mengingat betapa kerasnya kerja kedua kaki saat bersepeda, mungkin Anda akan berpikir dengan bersepeda justru dapat menyebabkan lutut cedera atau sakit pada pinggang atau punggung bawah. Para penelitian di Norwegia, menilai 116 pesepeda profesional dan melihat jenis cedera akibat pemakaian yang berlebihan. Dimana cedera pada punggung bawah/pinggang (45%), lutut (23%), mengalami nyeri punggung bawah/pinggang selama 12 bulan (58%). Dan nyeri punggung yang perlu perhatian medis (41%). Padahal olahraga ini direkomendasikan untuk Anda yang mengalami nyeri punggung. Sakit Pinggang Bisa Mengincar Anda Saat Bersepeda Jadi mengapa sakit pinggang seringkali melanda pesepeda yang menghabiskan waktu berjam-jam duduk di sadel sepeda saat mengayuh sepeda? Hasil salah satu studi menunjukkan, saat kita bersepeda, mengayuh pedal hingga kelelahan, otot hamstring dan otot betis menjadi lelah, memicu sakit pinggang. Baca juga : Dorsalgia Keletihan otot ini tampaknya dapat menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan dalam pola pergerakan otot. Yang kemudian memengaruhi otot punggung – khususnya, yang mungkin juga disebabkan area punggung bawah/ pinggang yang membungkuk dan posisi lutut yang terlalu melebar. Singkatnya, semakin lelah kaki saat bersepeda, maka semakin buruk dampaknya pada postur tulang belakang. Posisi Membungkuk Saat Bersepeda Picu Sakit Pinggang Studi lain juga melihat dampak posisi statis membungkuk (fleksi) pada otot-otot ekstensor punggung yang membantu mempertahankan postur dan stabilitas tubuh di punggung bawah. Hasilnya, setelah dalam kondisi fleksi dalam waktu lama/berkepanjangan, kekuatan otot-otot ini berkurang untuk menjaga stabilitas dan postur tulang belakang. Dugaan lain tentang terganggunya pola gerakan tulang belakang sebagai penyebab utama nyeri punggung bawah/pinggang pada pesepeda juga didukung oleh riset di Belgia. Menunjukkan pesepeda yang mengalami nyeri punggung bawah/pinggang. Cenderung bersepeda dengan tulang belakang bagian bawah (punggung bawah/pinggang) yang lebih fleksi (menekuk). Mereka ini juga cenderung mengalami peningkatan nyeri saat bersepeda selama 2 jam dibandingkan pesepeda yang sehat. Bersepeda jarak jauh dapat memberikan tekanan atau beban berlebihan pada panggul. Saat Bersepeda Muncul Sakit Pinggang, Cegah dengan Ini Nah untuk membantu mencegah terjadinya sakit pada pinggang saat bersepeda, perlu perhatikan langkah berikut ini, diantaranya: Sadel sepeda yang terlalu pendek, otot-otot paha depan akan bekerja keras dan membuat pinggul terdorong ke depan Sadel terlalu tinggi, otot hamstring akan bekerja keras Posisi lengan terlalu panjang akibat posisi sadel yang tidak tepat atau tidak sesuai. Posisi maju mundurnya sadel yang disesuaikan dengan posisi pedal Posisi setang sepeda juga perlu disesuaikan agar posisi tubuh tidak terlalu meregang untuk menggapai setang atau terlalu dekat. Posisi diatur sesuai kenyamanan dengan posisi saat siku sedikit ditekuk saat diletakkan di atas setang. Meskipun nyeri punggung bawah/nyeri pinggang seringkali muncul akibat fatigue (kelelahan) saat bersepeda, jadi sebaiknya Anda perlu memilih sepeda yang cocok. Memilih sepeda dengan geometri yang tepat dan memastikan posisi yang benar saat bersepeda merupakan dua faktor yang perlu diperhatikan. Agar saat bersepeda tidak membebani punggung bawah/pinggang, lutut, bahu dan leher. Nyeri di leher dan punggung atas ini seringnya disebabkan atau dipicu oleh teknik dan posisi saat bersepeda. Membungkuk sambil meletakkan siku di setang dalam waktu lama tidak hanya meningkatkan beban pada lengan dan bahu, tetapi juga pada leher. Berganti posisi dapat membantu mencegah terjadinya nyeri sehingga tidak membebani otot-otot dan sendi tertentu. Dilarang Bersepeda  Jika Anda memiliki cedera yang mungkin bisa memburuk dengan bersepeda, berarti tunda dulu aktivitas ini sampai diperbolehkan oleh dokter atau sudah pulih. Konsultasikan dengan dokter mengenai kondisi medis yang bisa terpengaruh oleh bersepeda. Pada orang-orang yang memiliki masalah pada keseimbangan, penglihatan, atau pendengaran mungkin

Nyeri Pada Leher, Penyebab, Gejala Dan Pemeriksaannya

Nyeri pada leher

Penyebab nyeri pada leher, perlu kita ketahui agar supaya tidak terjadi gangguan kesehatan dikemudian hari seperti kelumpuhan bila penyebabnya adalah saraf terjepit di ruas tulang leher. Tulang leher (servikal) memiliki struktur yang cukup kompleks dan memiliki fungsi atau peran penting yakni menopang kepala dan menjaga mobilitas kepala. Tulang leher memiliki 7 ruas tulang belakang yaitu C1 sampai C7. Ruas C7 atau ruas terakhir menghubungkan dengan ruas tulang torakal atau dada. Nyeri pada Leher, Sebabnya Apa? Nyeri pada leher terjadi akibat adanya interaksi yang kompleks antara otot, dan ligamen serta faktor lain yang berhubungan dengan beberapa hal seperti: Kontraksi otot Kebiasaan tidur dalam posisi yang salah Postur tubuh saat bekerja Stres Kelelahan otot Adaptasi postur akibat adanya nyeri yang berasal dari area selain leher misanya pada bahu, atau adanya perubahan degeneratif dari bantalan sendi servikalis dan sendinya. Klasifikasi nyeri pada leher berdasarkan diagnosis ICD 10 dan International Classification of Functioning, Disability, and Health (ICF) adalah: Nyeri pada leher dengan gangguan mobilisasi Nyeri pada leher dengan nyeri kepala Nyeri pada leher dengan gangguan koordinasi gerak Nyeri pada leher dengan nyeri yang menjalar ke bagian tubuh yang lain Nyeri Karena Ruas Tulang Pada Leher Yang Menyempit Penyempitan pada ruas tulang leher atau stenosis servikal dapat menjepit saraf tulang belakang dan menimbulkan nyeri, seringkali disebabkan oleh proses penuaan. Bantalan sendi di ruas tulang belakang bisa mengering dan menonjol (herniasi). Sebagai akibatnya, ruang antar tulang belakang akan menciut dan kemampuan bantalan sendi sebagai peredam kejut juga menurun. Dalam waktu yang bersamaan, tulang dan ligamen penyusun tulang belakang menjadi kurang fleksibel dan menebal. Nah, perubahan ini bisa mengakibatkan penyempitan di area tersebut. Ditambah lagi, perubahan akibat proses degeneratif (seiring dengan proses penuaan) dikaitkan dengan penyempitan sehingga tumbuh taji tulang yang menimbulkan nyeri saat bergesekan sehingga dapat menekan atau menjepit saraf tulang belakang. Bentuk jepitannya bisa disebabkan oleh menonjolnya bantalan tulang atau adanya tulang tumbuh membentuk taji (spur). Selain itu, juga bisa karena rongga tulang belakang area leher menyempit akibat menebalnya ligamentum flavum yang menekan saraf atau akar saraf di area sekitarnya. Usia, cedera, postur tubuh yang buruk dan penyakit-penyakit tertentu – seperti radang sendi (artritis) – dapat memicu timbulnya perubahan pada tulang dan sendi servikal sehingga berisiko mengakibatkan penonjolan bantalan sendi (syaraf kejepit atau herniasi nukleus pulposus/HNP). Cedera berat dan mendadak pada leher juga berperan dalam terjadinya syaraf leher terjepit, whiplash, kerusakan pembuluh darah, cedera tulang dan ligamen tulang belakang, dan bahkan dalam kasus yang ekstrem, dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Nyeri pada Leher, Ini Penyebabnya Penyebab umum nyeri leher yang lainnya: Posisi yang salah dalam jangka waktu yang lama, banyak orang jatuh tertidur di sofa dan kursi dan bangun dengan keluhan sakit leher. Bekerja pada postur yang salah dan posisi tertentu dalam jangka waktu yang lama Cedera atau penyakit pada suatu organ dan struktur yang terletak di dekat leher, misalnya saraf, pembuluh darah, kelenjar tiroid, kelenjar getah bening leher, sistem pencernaan, jalan napas, otot rangka leher dan saraf tulang belakang. Tekanan fisik dan emosional dapat menyebabkan otot tegang dan peregangan, sehingga timbul rasa sakit dan kaku pada otot. Penyakit degeneratif, misalnya spondilosis tulang leher. Infeksi pada berbagai struktur pada leher, yang meliputi infeksi tenggorokan, abses atau luka nanah di belakang faring, radang atau pembesaran kelenjar getah bening, radang tulang belakang, dan penyakit Pott atau tuberkulosis tulang belakang. Meningitis atau infeksi pada selaput lapisan pelindung otak , keganasan atau kanker kepala dan leher, pembedahan arteri karotis, fibromyalgia, radang pada sendi, radikulopati, penekanan pada saraf-saraf yang berasal dari tulang leher. Cedera akibat hentakan keras di area kepala-leher, kecelakaan mobil, cedera olahraga, dan juga fraktur. Kenali Gejala Stenosis Servikal Nyeri pada leher dengan beragam penyebab di atas dapat menimbulkan gejala-gejala berikut: Nyeri pada leher atau lengan Kebas dan kelemahan pada lengan atas hingga telapak Cara berjalan yang tidak stabil Spasme otot kaki Kehilangan koordinasi antara lengan, tangan hingga jari Kehilangan tonus otot di lengan dan/ atau telapak tangan Saat memegang benda, sering jatuh atau ketangkasan tangan menurun Nyeri pada leher yang Anda alami perlu segera dikonsultasikan dengan dokter bila: Terjadi setelah cedera berat pada kepala atau leher Demam atau sakit kepala yang membarengi nyeri leher Kaku kuduk sehingga sulit menunduk Kelemahan atau kebas pada lengan dan/atau kaki Nyeri tidak membaik setelah pengobatan sederhana Pemeriksaan Fisik dan Penanganannya Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan tanya jawab untuk mengetahui riwayat medis atau gejala yang dirasakan. Nyeri pada leher dapat bersifat kronis atau akut. Bisa langsung terasa di leher atau menjalar hingga lengan. Bisa juga dideskripsikan sebagai ringan atau berat, tajam atau tumpul, dan membaik atau memburuk dengan gerakan/posisi tertentu. Sakit kepala yang seringkali menyertai masalah pada ruas tulang leher dan bisa menjadi keluhan utama. Sakit kepala ini biasanya timbul setiap hari, di belakang kepala dan menjalar hingga ke pelipis. Biasanya ringan dan dapat mereda dengan obat pereda nyeri. Saat menjadi kronik, bisa memburuk dan sering disalahartikan dengan migraine. Kebas/baal pada lengan atau titik tertentu dimana saraf itu terkena. Kelemahan otot akibat beberapa otot tidak dapat bekerja seperti biasanya. Kelemahan otot lengan biasanya lebih terlihat dibandingkan dengan otot kaki. Ada tidaknya gangguan pada proses buang air besar, buang air kecil, cara berjalan dan keseimbangan juga menjadi petunjuk utama kemungkinan adanya cedera pada saraf. Selain itu, dokter juga akan menilai beberapa hal berikut ini: Menilai fungsi motorik dari hampir semua otot di kedua lengan dan kaki, dari kekuatan hingga ukuran (mengecilnya otot atau atrofi) Menilai fungsi sensorik misalnya dengan menusuk dengan ujung jarum, untuk mencari area yang dirasa kebas, kesemutan atau seperti terbakar. Aktivitas refleks pada lengan dan kaki bisa menggunakan alat tertentu untuk menilai fungsi saraf dan otot. Melihat gaya berjalan, ada tidaknya ketidakseimbangan otot Melihat koordinasi antara lengan dan kaki Menilai ruang gerakan dari tulang belakang baik aktif maupun pasif. Baca juga : Dokter syaraf kejepit yang bagus Berbagai masalah di area leher dapat menekan/menjepit akar saraf atau saraf tulang belakang dan menyebabkan nyeri pada leher. Jika nyeri berlangsung lama atau memburuk, pengobatan medis non-operatif mungkin dibutuhkan, seperti obat-obatan atau fisioterapi. Ketika pengobatan konservatif ini tidak membantu, maka pilihan terapi intervensi lainnya dapat menjadi pertimbangan dokter. Klinik Lamina Pain

Posisi Tidur yang Baik Untuk Nyeri Punggung

posisi tidur untuk nyeri punggung

Posisi tidur yang baik untuk nyeri punggung perlu diketahui guna membantu meredakan nyeri dan membaik saat bangun tidur keesokan harinya. Tidur merupakan salah satu sarana untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. Salah satu manfaat tidur adalah perbaikan otot-otot dan membantu memperkuat memori, menurut National Sleep Foundation. Bila kurang tidur akibat rasa nyeri atau tidur dengan posisi yang salah, kemungkinan dapat meningkatkan risiko mengalami kondisi-kondisi medis tertentu seperti penyakit jantung, obesitas. Itu sebabnya pastikan Anda tidur dengan posisi yang tepat yang dapat membantu mendapatkan kualitas tidur setiap malamnya. Berikut ini beberapa posisi tidur dengan sisi positif dan negatifnya. Telentang, Posisi Tidur yang Baik untuk Nyeri Punggung? Posisi berdiri atau duduk seharian dapat memberikan beban atau tekanan ekstra pada tulang belakang dan sendi-sendinya. Untuk membantu meredakannya, posisi tidur yang baik untuk nyeri punggung dapat mulai Anda perhatikan dan dicoba secara bertahap. Selain itu, berbaring telentang dapat membantu mengurangi tekanan pada bantalan tulang belakang dan posisi ini sangat bagus untuk pasien yang tulang belakangnya telah mengalami keausan (penipisan) atau kerusakan akibat proses penuaan. Itu sebabnya banyak ahli sepakat, posisi terbaik tidur bagi rerata orang dewasa adalah telentang. Tidur telentang juga dapat membantu menangkal efek membungkuk saat berada di belakang meja (bekerja) sepanjang hari. Saat membungkuk, tulang-tulang di lengan atas condong ke depan yang dapat mempertinggi risiko timbulnya nyeri pada bahu dan bisa mengganggu tidur anda. Dengan tidur telentang dapat mengurangi efek tersebut karena posisi bahu lebih terbuka. Tidur telentang dengan nyaman: Hindari memposisikan kepala terlalu tinggi. Pilih bantal yang datar. Tinggikan sedikit tubuh bagian atas Letakkan bantal yang ‘padat’ di bawah lutut untuk membantu mengurangi tekanan pada tulang belakang dan panggul. Pilih kasur yang cukup padat agar dapat menyangga tulang belakang dan sendinya dalam posisi yang netral. Miring Ke Salah Satu Sisi, Posisi Tidur yang Baik untuk Nyeri Punggung? Ada beberapa yang berpendapat lebih nyaman dengan tidur miring. Berikut beberapa masalah kesehatan yang dapat terbantu dengan tidur miring, antara lain: Refluks asam lambung. Nyeri punggung. Bagi Anda yang mengalami nyeri punggung akibat posisi berdiri dan berjalan dalam waktu lama, posisi tidur miring dengan sedikit menekuk lutut dapat membantu meredakan nyeri punggung. Stenosis lumbar (penyempitan ruas tulang belakang bagian lumbar atau pinggang) yang dapat terjadi seiring dengan proses penuaan atau akibat postur tubuh yang salah dalam waktu lama, misalnya membungkuk saat mendorong troli belanja, saat bekerja di belakang meja, karena terasa lebih nayman. Walau tidur miring ke salah satu sisi bisa membantu meredakan rasa tidak nyaman pada sendi dan tulang belakang, namun bila Anda mengalami bursitis, tidur dengan posisi ini justru dapat memicu nyeri. Tidur miring ke salah satu sisi lebih nyaman dengan: Pilih kasur yang padat agar dapat menopang tubuh dengan baik Gunakan bantal yang sesuai agar leher tidak dalam posisi terlalu menekuk. Bereksperimen dengan penempatan bantal. Bisa juga dengan meletakkan bantal antara kaki untuk membantu mengurangi tekanan pada punggung bawah, panggul dan lutut. Bisa juga dengan letakkan bantal di area pinggang untuk mencegah ‘tenggelam’ di kasur yang lunak. Tekuk lutut dan jaga posisi lengan sejajar dengan tinggi bahu. Posisi ini dapat membantu mengurangi tekanan atau beban pada tulang belakang dan bahu. Tengkurap, Posisi Tidur yang Baik untuk Nyeri Punggung? Anda penggemar posisi tidur ini? Coba pertimbangkan kembali deh. Posisi tidur tengkurap selain dapat membuat leher Anda dalam posisi menekuk berlebihan, tekanan beban juga berlebihan karena posisi leher yang tertekuk ke salah satu sisi yang nantinya kemungkinan dapat memicu masalah pada leher. Coba ganti posisi tidur Anda ini dengan tidur telentang atau miring ke salah satu sisi.  Jika Nyeri pada Leher Jika leher terasa kaku dan nyeri, mungkin bisa disebabkan oleh: Posisi tidur, misalnya tengkurap dengan posisi kepala menengok ke salah satu sisi dapat menyebabkan kekakuan leher. Pilihan bantal. Jika bantal terlalu tinggi atau terlalu rendah, dapat memengaruhi posisi netral tulang belakang. Temukan bantal yang tepat memang cukup sulit, ada yang memilih bantal dengan memory foam sehingga bisa menopang kepala dan leher dengan baik Otot yang kaku setelah beraktivitas seharian bisa terbawa hingga tidur di malam hari. Lakukan peregangan untuk membantu otot menjadi lebih relaks. Masalah lainnya bisa disebabkan oleh otot yang tegang, peradangan pada tulang leher (osteoartritis), atau bantalan antarruas tulang belakang menonjol (syaraf terjepit atau herniasi nukleus pulposus/HNP). Jika Nyeri pada Punggung Bawah Nyeri terutama nyeri punggung bawah atau pinggang, bisa disebabkan oleh hal lain yang bukan dipicu oleh posisi tidur yang salah. Mungkin hal lain yang bisa memicu nyeri area ini adalah osteoartritis tulang belakang, HNP, osteoporosis, sciatica, atau adanya infeksi. Postur Tubuh yang Baik Juga Perlu Posisi Tidur yang Baik untuk Nyeri Punggung Dengan menjaga postur tubuh dalam posisi netral dan relaks, maka tulang belakang juga akan merasakan hal yang sama. Jaga postur tubuh atau punggung tetap tegak, lutut relaks dan tulang panggul sejajar dengan bahu bisa membantu mencegah terjadinya nyeri atau kekakuan otot pada tubuh. Misalnya kaki dalam posisi lurus tidak menekuk 90 derajat, berarti Anda membantu mengurangi risiko ligamen lutut menjadi kaku atau tegang pada posisi menekuk. Kondisi tulang belakang yang netral juga simetris, sehingga mampu menjaga keseimbangan tubuh dengan baik.