Serangan Epilepsi Pada Orang Dewasa

Epilepsi pada orang dewasa

Jakarta — Epilepsi pada orang dewasa memiliki dampak yang cukup besar pada aktivitas harian, psikologis maupun perilaku penderitanya. Epilepsi merupakan kondisi neurologis yang mengenai sistem saraf pusat dan ditandai dengan episode kejang disertai hilangnya kesadaran penderita. Penyebabnya adalah ketidakstabilan muatan listrik pada otak yang selanjutnya mengganggu koordinasi otot dan bermanifestasi pada kekakuan otot atau pun hentakan repetitif pada otot. Meskipun biasanya disertai hilangnya kesadaran, ada beberapa jenis kejang yang tidak disertai dengan hilangnya kesadaran. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999   Menurut International League Against Epilepsy (ILAE) tahun 2005, epilepsi didefinisikan sebagai kelainan otak yang ditandai oleh adanya kecenderungan untuk menimbulkan bangkitan epilepsi secara terus menerus. Arti bangkitan epilepsi disini adalah tanda dan/atau gejala yang timbul sepintas akibat aktivitas neuron di otak yang berlebihan dan abnormal. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan bila kejang sudah terjadi dua kali dan tidak terkait dengan kondisi medis apapun sebelumnya. Di Indonesia, prevalensi dan insiden epilepsi belum diketahui. Hasil penelitian kelompok Studi Epilepsi Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia di Indonesia (2013) didapatkan 2.288 orang dengan epilepsi (ODE) dengan pasien baru sebanyak 21,3%. Rerata usia pasien adalah usia produktif. Penyebab epilepsi tersering adalah cedera kepala, infeksi sistem saraf pusat (SSP), stroke, dan tumor otak. Dalam sebuah jurnal Epilepsia dipaparkan, penyakit ini dapat terjadi di segala usia. Bahkan orang dewasa yang tidak memiliki riwayat penyakit ini sebelumnya juga bisa mengalami epilepsi di kemudian hari (adult-onset idiopathic generalized epilepsy). Baca Juga : Pengobatan Penyakit Epilepsi Secara Umum Kategori Epilepsi Epilepsi dapat dikategorikan berdasarkan area otak mana yang terlibat saat kejang terjadi. Epilepsi lobus temporal, ditandai dengan kejang yang berasal dari lobus temporal otak. Epilepsi lobus ini bersifat fokal (parsial), tetapi kejang lokal dapat berkembang menjadi kejang umum yang mengenai seluruh otak. Epilepsi lobus, mengenai area frontal, atau bagian dahi. Epilepsi lobus oksipital, mengenai lobus di belakang tengkorak. Epilepsi lobus parietal (antara lobus frontal dan temporal), kejangnya cenderung menyebar ke area otak lainnya. Epilepsi neokortikal ditandai oleh kejang yang berasal dari neokorteks, area pada permukaan otak. Epilepsi tipe ini dapat bersifat parsial atau umum, dan seringkali tidak ada fokus (titik asal) yang jelas untuk kejang. Apa Penyebab Epilepsi pada Orang Dewasa Penyebab kejang epilepsi pada orang dewasa dapat berupa trauma, infeksi sistem saraf pusat (SSP), gangguan metabolisme, obat-obatan, tumor atau gangguan serebrovaskular (seperti arteriovenous malformation/AVM). Di sisi lain, kejang yang dimulai pada masa kanak-kanak lebih cenderung bersifat idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Selain itu, profil klinis dan penyebab kejang pada orang dewasa berbeda, sehingga pengobatannya pun berbeda dengan anak-anak. Menurut Dr. Jennifer Caudle (Rowan University-School of Osteopathic Medicine), beberapa faktor pemicu epilepsi yang lain adalah trauma pada kepala, infeksi meningitis, stroke, sklerosis multipel. Pahami Jenis Kejang Berdasarkan aktivitas di dalam otak, kejang pada epilepsi dibagi menjadi dua, yaitu menyeluruh (generalized) dan sebagian (parsial). A.Kejang Menyeluruh (terjadi akibat adanya impuls listrik pada seluruh bagian otak), terdiri dari: 1. Kejang Tonik Klonik/Grand Mal 2. Kejang Absence 3. Kejang Mioklonik 4. Kejang Klonik (sentakan berulang dan teratur pada kedua bagian tubuh pada saat yang bersamaan). 5. Kejang Tonik (terjadi kekakuan pada otot di seluruh tubuh). 6. Atonik (hilangnya tonus otot menyeluruh secara mendadak – khususnya pada tangan dan kaki). B.Kejang Sebagian, terdiri dari: 1.Kejang Simpleks (penderita tidak mengalami penurunan kesadaran), terbagi menjadi 4, yaitu: Motorik (terjadi kekakuan dan gerakan menyentak) Sensorik (timbul sensasi abnormal atau aura yang dapat mengenai kelima indera – penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan peraba). Otonom (memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi organ seperti jantung, lambung, usus, sistem saluran kemih, misalnya timbul gangguan mengendalikan proses berkemih, diare, dll) Psikologis (dikaitkan dengan ingatan, emosi, atau lainnya) Kejang Kompleks (terjadi penurunan kesadaran dan dapat melakukan gerakan berulang yang tidak bertujuan misalnya merasa gelisah, dan tidak bisa diam, berjalan kesana-kemari). Kejang yang Mengalami Perubahan (pada awalnya kejang sebagian, kemudian berubah menjadi kejang menyeluruh jenis tonik klonik). Dipaparkan oleh Epilepsy Foundation, untuk mendiagnosis epilepsi pada orang dewasa, lebih sulit. Karena kejang yang yang terjadi sering disalahartikan sebagai penyakit lain. Kadangkala aura yang timbul sebelum kejang, seperti halusinasi (bau, rasa, suara, penglihatan), disalahartikan dengan kondisi medis lainnya. Namun ada beberapa bentuk kejang lainnya, yang semua timbulnya secara berbeda. Penanganan Epilepsi pada Orang Dewasa Tujuan utama terapi epilepsi pada orang dewasa adalah mengupayakan penyandang epilepsi dapat hidup normal dan memiliki kualitas hidup optimal. Pengobatan merupakan langkah pertama dalam penanganan kasus epilepsi dan seringkali efektif untuk kendalikan kejang. Dosis biasanya dimulai dari dosis kecil dan dinaikkan secara bertahap sampai tercapai dosis terapi. Prinsip pengobatan epilepsi adalah monoterapi dengan target pengobatan 3 tahun bebas kejang bangkitan. Bila pemberian monoterapi tidak dapat mencegah bangkitan berulang, politerapi dapat diberikan dengan kombinasi obat. Jika kejang tidak berespons dengan obat antiepilepsi (OAE), dapat dipertimbangkan terapi nonfarmakologi yaitu tindakan bedah. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999   Meskipun dikatakan bedah memiliki efektivitas yang baik namun tidak dapat dilakukan untuk seluruh jenis epilepsi, hanya dapat dilakukan pada epilepsi lobus temporalis (biasanya epilepsi ini yang membandel, tidak respons dengan OAE). Harapannya pada orang dewasa dengan epilepsi bebas bangkitan tanpa efek samping. Untuk tercapainya tujuan tersebut diperlukan beberapa upaya, antara lain menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping/dengan efek samping yang minimal, dan menurunkan angka kesakitan dan kematian. (berbagai sumber*)

Makanan Penyebab Nyeri Sendi Ke-7 Bikin Gak Percaya

Gula picu radang sebagai makanan penyebab nyeri sendi

Radang sendi atau osteoarthritis (OA) merupakan kondisi bantalan tulang rawan (kartilago) antara sendi sudah mengalami kerusakan sehingga sendi pun menjadi nyeri dan bengkak. Konsumsi makanan yang tidak tepat malahan dapat menjadi penyebab timbulnya gejala-gejala OA, misalnya nyeri pada sendi, bengkak, kaku di pagi hari, sulit bergerak bebas, dan sulit tidur di malam hari akibat nyerinya. Menghindari makanan yang dapat menjadi penyebab nyeri sendi adalah cara terbaik yang bisa Anda lakukan di rumah sebagai salah satu upaya pencegahan. Baca juga : Makanan yang disarankan pasca operasi tulang belakang Makanan Penyebab Nyeri Sendi Berikut ini ada beberapa makanan yang sebaiknya jumlahnya kurangi atau hindari, yaitu: Gula Selain berkontribusi terhadap penambahan berat badan, gula juga dapat memicu pelepasan sel-sel tertentu yang memicu peradangan. Garam Garam dapat menyebabkan sel menarik air, sehingga dapat memperburuk OA. Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat memperburuk pembengkakan akibat OA. Makanan olahan atau kemasan sering mengandung kadar garam tinggi. Lemak trans Trans fatty acid dan lemak jenuh, yang misalnya terkandung dalam makanan olahan dan makanan matang, dapat memicu peradangan sebagai penyebab nyeri sendi. Monosodium glutamat (MSG) MSG merupakan zat aditif makanan yang sering sebagai penyedap rasa dan biasanya terkandung secara tersembunyi pada makanan-makanan siap saji seperti sup, dan sebagainya. Aditif lain, seperti pemanis, mungkin memiliki efek yang serupa. Asam lemak Omega-6 Bila asam lemak Omega-3 dapat membantu penderita artritis, namun asam lemak Omega-6 dapat meningkatkan produksi bahan kimia dalam tubuh yang bersifat inflamasi. Makanan yang mengandung Omega-6, misalnya minyak jagung, kuning telur, daging merah sebaiknya Anda hindari karena sebagai penyebab nyeri sendi. Alkohol Menurut Arthritis Foundation, alkohol dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat-obatan tertentu, misalnya obat anti nyeri. Interaksi dengan obat anti nyeri menyebabkan efektifitas obat menjadi terhambat. Selanjutnya memperparah kondisi nyeri sendi. Gorengan Makanan gorengan atau kita kenal sebagai gorengan. Menurut Arthritis Foundation makanan dengan tinggi asam lemak jenuh, seperti gorengan, donat, dapat memicu proses inflamasi pada tubuh yang dapat memperburuk nyeri akibat OA. Minyak yang untuk menggoreng dapat menyebabkan terjadinya reaksi kimiawi dalam tubuh dan dapat memicu meningkatnya kadar kolesterol. Apa Lagi yang Perlu Dilakukan Makanan dari tepung, misalnya roti putih, juga dapat memicu respons tubuh. Konsumsi makanan olahan – seperti pasta, sereal – terlalu banyak dapat membuat nyeri OA memburuk dan menjadi penyebab nyeri sendi. Aditif, seperti ragi, yang mengandung gluten mungkin juga bisa mempengaruhi nyeri akibat OA. Makanan yang dapat membentuk asam, misalnya daging merah, jeruk. Akumulasi asam dalam tubuh dapat menandakan kemungkinan adanya pembengkakan pada sendi. Penurunan berat badan dan aktivitas fisik intensitas rendah dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan menurunkan kadar kolesterol. Peneliti menemukan bahwa kadar kolesterol tinggi sering berhubungan dengan radang sendi. Profesor Ali  Mobasheri dari University of Surrey di Guildford (Inggris) mengatakan, kombinasi diet dan olahraga teratur perlu untuk menjaga sendi agar tetap sehat. Gaya hidup juga harus dipertimbangkan. Bukti menunjukkan, merokok dan minuman alkohol, secara negatif dapat mempengaruhi metabolisme tubuh di hati sehingga berisiko meningkatkan proses peradangan dan penyakit di dalam tubuh. Selain itu ada keterkaitan antara antara nyeri sendi, seperti frozen shoulder dengan spondilosis servikal dengan jenis makan yang dikonsumsi.  Frozen shoulder adalah gangguan berupa rasa nyeri dan kaku di area bahu. Gorengan, makanan pedas, berminyak, asupan daging berlebih, dan makanan olahan (permen, roti, dan produk gandum olahan) merupakan pantangan makanan frozen shoulder dan salah satu faktor yang memberatkan kondisi radang sendi. Jenis makanan tersebut dapat menyebabkan kadar asam di dalam darah meningkat sehingga ginjal tidak mampu mengatasinya. Oleh karena itu asam ini menjadi salah satu faktor penyebab peradangan/inflamasi pada sendi-sendi. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi customer relation officer Lamina Pain and Spine Center. (**)

Nyeri pada Jari Tangan, Apa Saja Penyebabnya?

nyeri pada jari tangan

Jakarta — Nyeri pada jari tangan tentu dapat mengusik gerakan sendi dan aktivitas harian pun dapat terkena imbasnya. Berikut ini ada beberapa kondisi yang ditengarai sebagai biang keladi timbulnya nyeri pada jemari tangan. Cedera Nyeri Pada Jari Tangan Cedera pada tangan atau jemarinya mungkin sering terjadi. Biasanya seringkali dialami oleh para olahragawan atau para pekerja yang menggunakan peralatan tertentu. Nyerinya tersebut bisa disebabkan oleh jatuh, tersandung, atau menekuk jari secara berlebihan.   Cedera terutama pada jari tangan menimbulkan nyeri, bengkak, dan jari tidak dapat bergerak dengan bebas. Bahkan pada kasus berat, bisa sampai dislokasi atau fraktur hingga kerusakan pada tendon atau ligamennya. Prinsip RICE dapat dilakukan untuk membantu mengatasi cedera ringan: Istirahatkan jari sebisa mungkin sampai mereda nyerinya. Berikan kompres dingin beberapa kali sehari selama kira-kira 20 menit. Balut jari yang nyeri namun jangan terlalu kencang. Posisikan jari kira-kira setinggi jantung supaya dapat meredakan pembengkakan. Bila dicurigai kemungkinan adanya fraktur atau dislokasi, usahakan tidak menggerakkan jari dan segera konsultasikan dengan dokter. Nyeri Pada Jari Tangan Karena Trigger Finger Istilah medis kondisi ini adalah stenosis tenosinovitis. Tenosinovitis adalah inflamasi pada tendon dan tendon sheath, keduanya ini terkait dengan kejadian nyeri selama pergerakan. Inflamasi dapat dialami  tendon otot yang mengendalikan pergerakan (misalnya menekuk) jari-jari tangan – seperti ibu jari dan jari telunjuk – dan pergelangannya. Trigger finger atau jari ‘macet’ adalah kondisi jari tangan terkunci dalam posisi tertekuk, dan jari yang biasanya terkena serangan ini adalah jari kelingking, jari manis dan jari tengah. Gejala atau tanda dari trigger finger adalah: nyeri dan bengkak pada bagian dasar jari sulit menekuk atau meluruskan jari terdapat suara krepitasi (‘krek’) pada saat menggerakkan jari bila memburuk, jari akan membengkok dan tidak dapat lagi digerakkan Pekerjaan dan hobi yang melibatkan penggunaan tangan (memegang/mencengkeram benda terus menerus), dan penyakit-penyakit tertentu (diabetes, artritis rematoid) merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terkena trigger finger. Penanganan yang bisa dicoba antara lain mengistirahatkan jari, misalnya dengan bebat. Dokter akan menganjurkan beberapa gerakan untuk meluruskan jari yang diharapkan membantu mengurangi kekakuan dan memperbaiki mobilitas jari yang kaku. Bila kondisi ini menimbulkan gejala yang sangat mengganggu atau semakin berat, dokter akan mempertimbangkan dilakukannya suntikan kortikosteroid untuk membantu meredakan nyeri dan peradangannya. Nyeri Pada Jari Tangan Karena Carpal Tunnel Syndrome Mengenai saraf median yang berada di terowongan karpal (pergelangan tangan). Bila saraf ini tertekan atau membengkak akibat gerakan berulang secara terus menerus dalam waktu lama, dapat menimbulkan nyeri, kesemutan, dan mati rasa pada tangan atau jari jemarinya. Awalnya nyeri ini dirasakan di jari dan dapat mengalir hingga ke lengan. Gejala dapat memburuk dan beberapa penderitanya dapat merasakan kelemahan di tangan dan kesulitan memegang benda atau melakukan gerakan tertentu. Penanganannya bergantung pada derajat keparahan gejala, antara lain menggunakan bebat, perubahan gaya hidup (menghindari aktivitas yang dapat memperburuk gejala), melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid atas resep dokter, dan suntikan kortikosteroid. Bila tidak ada perbaikan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan bedah.   Kista ganglion Kista ganglion adalah benjolan yang berisi cairan dan dapat terjadi pada tendon atau sendi di pergelangan tangan atau jari. Besarnya bervariasi dan terasa kenyal atau padat. Benjolan ini biasanya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya namun kadangkala dapat menimbulkan nyeri dan kesemutan. Jika saja benjolan ini menyebabkan jari sulit bergerak, dokter akan mempertimbangkan dilakukannya drainase cairan benjolan atau tindakan operasi. Infeksi Luka pada tangan dan jari-jarinya seringkali dapat menyebabkan infeksi, yang gejalanya adalah nyeri yang semakin berat, bengkak, kulit berwarna kemerahan, demam, atau timbul nanah dari luka tersebut. Penanganannya bergantung berat ringannya luka atau infeksi. Bisa saja dokter akan mempertimbangkan pemberian obat-obatan. Untuk mencegah kemungkinan timbulnya infeksi, dapat dilakukan cuci/bilas luka dengan air bersih yang mengalir, gunakan sabun antiseptik, keringkan, dan tutup dengan plester/kasa Radang Sendi Osteoartritis atau artritis dapat mengenai beragam sendi, termasuk tangan dan jari-jarinya. Nyeri (yang memburuk saat beraktivitas), bengkak, kulit kemerahan, sendi terasa kaku atau tidak dapat bergerak bebas, merupakan beberapa gejala akibat radang sendi. Penanganannya mencakup latihan peregangan secara teratur, menjaga berat badan tetap ideal, melakukan terapi fisik (atau program rehabilitasi medik atas anjuran dokter), mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid yang diresepkan dokter, kompres hangat/dingin dan bila memburuk bisa dipertimbangkan tindakan seperti injeksi steroid. Artritis Rematoid Peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (autoimmune disease). Seringnya menyerang pergelangan tangan dan jari, terutama jari tengah, namun juga bisa mengenai bagian lainnya. Gejalanya dapat berupa nyeri, bengkak, deformitas (kelainan bentuk) dan kekakuan otot. Sendi-sendi tangan mengalami perubahan bentuk tampak seperti jari-jari yang membengkok dan dapat disertai dengan rasa kebas atau kesemutan. Dokter akan meresepkan obat antara lain obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs) untuk memperlambat progresivitas penyakit dan menyelamatkan sendi dan jaringan lain dari kerusakan permanen. Nyeri Pada Jari Tangan Karen Gout Gout adalah bentuk radang sendi yang terjadi ketika tubuh kelebihan asam urat, yang tersimpan  jaringan tubuh, termasuk sendi. Bagi kebanyakan orang gejala pertamanya adalah rasa sakit yang luar biasa dan pembengkakan terutama pada sendi ibu jari kaki, pergelangan kaki, lutut, siku, pergelangan tangan, dan jari-jari tangan. Menurut American Rheumatism Association, gout dapat menimbulkan kristal urat yang khas dalam cairan sendi, kemerahan di sekitar sendi yang meradang, sendi ibu jari kaki terasa sakit atau membengkak, timbulnya tophus di tulang rawan sendi dan kapsula sendi seperti jari, tangan, kaki, siku, atau tendon Achilles di sepanjang bagian belakang pergelangan kaki, pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja), dan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah, yaitu >5 mg/dl (laki-laki) dan >6 mg/dl (perempuan). Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan menurunkan kadar asam urat dengan melakukan olahraga secara teratur dan mengurangi konsumsi makanan yang dapat meningkatkan kadar asam urat, seperti jeroan Fenomena Raynaud Fenomena Raynaud dapat timbul akibat penyempitan pembuluh darah ke ekstremitas (biasanya tangan), sebagai respons terhadap suhu dingin atau stres. Ketika pembuluh darah menutup, jari-jari menjadi dingin dan putih, kemudian biru, dan mati rasa atau sakit. Ketika pembuluh terbuka kembali, tangan menjadi kemerahan. Faktor risiko timbulnya fenomena ini dikaitkan dengan penyakit tertentu (skleroderma, lupus), pekerjaan tertentu (misalnya menggunakan alat yang bergetar secara terus menerus), dan terpapar zat-zat tertentu, misalnya rokok, obat-obatan tertentu, bahan kimiawi (misalnya vinil klorida). Nyeri Pada Jari Tangan

Mana Yang Tepat Kompres Hangat atau Dingin Untuk Nyeri

Kompres hangat atau dingin untuk nyeri

Jakarta — Nyeri akibat peradangan bisa datang kapan saja. Untuk membantu meredakannya, ada tindakan yang cukup mudah dilakukan di rumah yaitu dengan kompres hangat atau dingin di area yang terasa nyeri. Selain mudah dan praktis, kompres hangat dan dingin ini juga bisa dijadikan sebagai pelengkap untuk membantu mengatasi nyeri yang ringan. Namun kadangkala bingung untuk memilih antara kompres hangat atau dingin/es. Berikut paparan yang dilansir oleh Cleveland Clinic. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999 Kompres dingin Manfaat sensasi dingin dengan kompres ini, antara lain membantu mengecilkan (konstriksi) pembuluh darah, meredakan peradangan, menghilangkan nyeri, dan mencegah timbulnya memar. Biasanya bermanfaat pada cedera yang kurang dari 6 minggu. Baca juga : Cara obati nyeri lutut Manfaatnya dapat dirasakan pada: Gout yaitu radang sendi pada kaki atau tangan, untuk membantu meredakan nyeri saat kambuh dan menghilangkan nyeri. Otot kaku, yang biasanya dirasakan pada otot paha, punggung, dan betis, untuk membantu meredakan rasa nyeri, kemerahan, dan pembengkakan. Tendinitis yaitu iritasi akut pada tendon yang melekat pada sendi, misalnya bahu, siku, lutut, pergelangan tangan, untuk membantu meredakan nyeri dan peradangan. Sakit kepala atau migrain. Suhu dingin dapat membantu meredakan nyeri berdenyut akibat sakit kepala. Kompres Hangat Untuk Nyeri Kompres ini dapat membantu memperbaiki atau meningkatkan aliran darah ke bagian tertentu. Karena darah berfungsi untuk membawa serta oksigen dan zat gizi lainnya, kompres hangat dapat membantu mempercepat proses penyembuhan nyeri. Suhu hangat ini dapat membuat otot menjadi rileks sehingga dapat menurunkan sensasi rasa nyeri. Manfaatnya antara lain pada: Radang sendi (artritis) atau cedera yang menetap lebih 6 minggu. Untuk membantu membuat otot menjadi rileks sehingga tidak terasa kaku lagi. Bisa juga dengan mandi air hangat. Sakit kepala yang disebabkan oleh saraf atau pembuluh darah pada kepala atau otot di leher. Keseleo yang dapat disebabkan oleh ketegangan atau robeknya ligamen pada sendi, misalnya pada lutut, kaki dan pergelangannya, siku, dan sebagainya. Kompres hangat membantu menghilangkan nyeri dan untuk meredakan proses peradangan/inflamasi Tendinosis yaitu iritasi dan kekakuan kronik pada tendon yang melekat pada sendi. Suhu hangat dapat membantu meredakan kekakuan otot setelah proses inflamasi teratasi. Ide Kompres Hangat dan Dingian untuk Nyeri Untuk membantu redakan nyeri, ada banyak cara untuk membuat kompres ini, antara lain: Kacang polong, daging yang sudah dikemas dalam plastik, masukkan ke dalam freezer. Es batu. Handuk yang dibasahi dengan air dingin kemudian letakkan pada area dahi dan pelipis Mandi air hangat Heating pads Heating wraps Yang perlu diingat, sebaiknya kompres hangat tidak dilakukan pada cedera akut atau yang baru saja terjadi karena dapat meningkatkan risiko peradangan dan memperlambat proses penyembuhan. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999   Untuk kompres dingin, misalnya dengan es batu, sebaiknya dibungkus dengan handuk kecil terlebih dahulu dan baru letakkan di area yang nyeri. Kompres hangat atau dingin, jangan lupa untuk selalu memerhatikan warna kulit di bagian yang Anda akan kompres. Hentikan kompres bila ada perubahan warna kulit atau hilang rasa pada kulit. Untuk kasus nyeri kronik, mungkin kompres ini tidak cukup untuk meredakan nyeri. Konsultasi ke dokter masih merupakan langkah yang tepat agar nyeri ini tuntas. (berbagai sumber/HA)

Leher Terasa Sakit? Apa yang Segera Perlu Dilakukan

leher terasa sakit

Apa yang perlu dilakukan bila leher terasa sakit? Tulang pada leher terdiri dari 7 tulang yang disebut vertebra servikal. Ketujuh tulang ini saling terhubung satu sama lain oleh sendi faset dan otot leher, yang memungkinkan kepala dapat bergerak ke segala arah. Di antara masing-masing tulang terdapat bantalan sendi atau diskus intervertebralis. Saraf akan keluar dari sumsum tulang belakang di setiap levelnya. Impuls saraf akan mengalir sepanjang saraf ini, untuk mengirimkan sensasi, seperti sentuhan atau rasa nyeri, ke otak. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999 Sedangkan tulang berfungsi untuk menopang/menyangga kepala dan melindungi sumsum tulang belakang, tempat dimana saraf utama berada. Tips Bila Leher Sakit Leher terasa sakit biasanya dapat timbul seiring dengan waktu dan mungkin penyebabnya adalah radang sendi atau penyakit degeneratif, dan kadangkala dipicu oleh postur tubuh yang buruk, menurunnya kekuatan otot, stres, dan bahkan kurang tidur. Hal ini dijelaskan Dr. Zacharia Isaac, Harvard Medical School. Beberapa tips sehat yang dianjurkan Dr. Isaac, untuk mengatasi leher yang terasa sakit : Hindari tubuh dalam posisi yang tidak sehat. Sebaiknya istirahat dengan berdiri dan berjalan-jalan sesering mungkin, agar leher tidak tetap berada di posisi yang tidak sehat. Buat penyesuaian ergonomis di tempat kerja. Posisikan monitor setinggi mata sehingga Anda dapat melihatnya dengan mudah. Gunakan headset pada handphone. Bisa juga dengan meletakkan tablet/laptop di atas bantal. Jika menggunakan kacamata, sebaiknya kontrol teratur ukurannya dengan dokter spesialis mata. Hindari menggunakan bantal saat tidur terlalu banyak karena dapat membatasi gerakan leher saat tidur. Letakkan bantal pada lekukan alami yang berada tepat di tengah belakang antara leher dan bahu. Atau gulungan handuk juga bisa digunakan untuk menyangga leher saat tidur. Mengenal kemampuan diri sendiri. Misalnya sebelum memindahkan benda berat pertimbangkan risikonya pada otot leher dan punggung Anda. Sebaiknya mintalah bantuan untuk memindahkannya. Tidur cukup. Sulit tidur dapat meningkatkan risiko nyeri sendi dan nyeri otot. Melatih Otot Bila Leher Terasa Sakit Menurut Arthritis Research (Inggris) ada beberapa latihan peregangan dan penguatan otot leher yang bisa dilakukan, untuk membantu meningkatkan kekuatan otot, meringankan kekakuan, dan memperbaiki ruang gerakan. Latihan peregangan dan penguatan otot berikut sebaiknya dilakukan dua kali sehari agar leher tidak terasa sakit lagi. Gerakkan kepala ke depan. Dorong dagu Anda ke depan. Tahan selama lima detik. Kembalikan kepala ke posisi semula dan dorong ke belakang, pertahankan dagu Anda tetap tinggi. Tahan selama lima detik. Ulangi gerakan ini lima kali. Miringkan kepala (ke kiri dan kanan). Miringkan kepala ke arah bahu Anda. Tahan gerakan ini selama lima detik. Kembalikan kepala Anda ke tengah dan ulangi gerakan ini ke sisi satu lagi. Ulangi lima kali di setiap sisi. Menundukkan kepala. Bisa dilakukan sembari duduk atau berdiri. Jangan lupa untuk menjaga postur tubuh tetap tegak. Yang terbaik adalah duduk jika Anda mengalami gangguan keseimbangan. Perlahan tundukkan kepala hingga dagu mendekat dada. Tahan selama lima detik dan ulangi lima kali. Memutar leher. Putar kepala ke satu sisi (seperti gerakan menengok) dan pertahankan dagu tetap tegak. Tahan selama 5 detik. Kemudian lakukan ke sisi yang lain. Ulangi lima kali untuk masing-masing sisi. Tetap aktif merupakan salah satu kunci hidup dengan radang sendi karena dapat menjaga sendi tetap lentur, dapat mengurangi rasa nyeri dan membantu memperkuat otot dan tulang. Selain itu, penanganan lain untuk nyeri pada leher adalah fisioterapi, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), penyangga leher (neck collar), akupunktur, dan injeksi kortikosteroid. Penanganan dan latihan untuk leher terasa sakit sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu supaya sesuai dengan kondisi nyeri yang Anda rasakan. (*) Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999 Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Lamina Pain & Spine Center sebagai satu-satunya klinik syaraf kejepit terlengkap di Indonesia pada nomor telpon dibawah ini.

Spondilosis Servikal Salah Satu Penyebab Nyeri pada Leher

spondilosis servikal

Spondilosis servikal – Leher merupakan salah satu bagian penting tubuh manusia yang ditopang oleh tulang belakang, dan memiliki banyak otot dan jaringan lainnya. Tidak seperti bagian lainnya – yang juga penting – posisi leher ini lebih terbuka dan berisiko untuk alami cedera. Gerakan aktivitas harian yang sudah dilakukan bertahun-tahun dapat menyebabkan tekanan yang terus menerus pada leher. Bila ada nyeri di bagian ini, seringkali berkaitan dengan bagian lain yang terhubung dengan leher, seperti bahu, punggung, rahang, dan kepala.   Nyeri di leher dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kaku otot, saraf terjepit, radang sendi leher atau artritis leher/osteoartritis servikal/spondilosis servikal, cedera (whiplash), stenosis spinal, dan tortikolis. Selain itu, infeksi lainnya seperti tuberkulosis, osteomielitis, meningitis juga bisa menimbulkan nyeri pada leher. Nyeri leher akibat fibromialgia dan reumatik polimialgia, bisa timbul akibat buruknya posisi leher saat tidur atau bekerja/olahraga yang dapat mengenai otot-otot di seputar leher. Spondilosis Servikal Salah satu penyebab nyeri leher adalah artritis atau dikenal dengan istilah spondilosis servikal/ osteoartritis servikal, merupakan salah satu peradangan yang mengenai bagian leher mencakup tulang, sendi dan bantalannya. Spondilosis servikal biasanya dialami oleh kisaran usia paruh baya dan lanjut usia. Seiring bertambahnya usia, tekanan harian yang berulang pada tulang belakang dan cedera kecil sekalipun dapat memengaruhi kesehatan bantalan sendi di bagian tersebut. Perubahan yang mungkin terjadi meliputi: Kehilangan cairan: Diskus intervertebralis pada usia dewasa muda yang sehat, 90 persennya adalah cairan. Dengan bertambahnya usia, kandungan cairan menurun, sehingga bantalan sendi menipis. Jarak antara tulang belakang menjadi lebih kecil, dan menjadi kurang efektif sebagai bantalan. Kerusakan pada struktur bantalan sendi. Saat kartilago sudah menipis, maka antara tulang akan bergesekan sehingga memicu tumbuhnya tulang secara berlebihan atau disebut dengan osteofit (spur/taji). Bila kondisi ini berlanjut, timbul inflamasi dan nyeri. Belum lagi ditambah dengan serpihan tulang dapat ‘melayang’ dalam cairan sinovial yang ada di lapisan sendi, sehingga semakin memicu timbulnya peradangan dan rasa tidak nyaman. Usia, obesitas, kerja/aktivitas fisik yang berlebihan, atau cedera/jatuh (baik ringan maupun berat) merupakan beberapa faktor risiko timbulnya kondisi ini. Baca Juga : Radiofrekuensi Ablasi Atasi Nyeri Punggung dalam Hitungan Menit Gejala Spondilosis Servikal Jika spondilosis servikal disebabkan oleh tekanan pada ruas tulang belakang (stenosis servikal), dapat menekan tulang belakang atau dikenal dengan mielopati servikal, yang menimbulkan gejala (bisa di satu sisi atau kedua sisi): Kesemutan, mati rasa, dan/atau kelemahan pada lengan, tangan, paha, atau pergelangan kaki Kurang koordinasi dan kesulitan berjalan Refleks abnormal Spasme/tegang otot Kehilangan kendali atas kandung kemih dan usus besar (inkontinensia) Gejala ini biasanya membaik atau mereda dengan istirahat.   Spondilosis servikal merupakan salah satu jenis kelainan progresif yang paling sering terjadi di leher saat tubuh menua. Menurut American Academy of Orthopedic Surgeons, kondisi ini dialami oleh sekitar lebih dari 85 persen lansia (usia lebih dari 60 tahun). Faktor Penyebab Spondilosis Servikal Apa Saja? Seperti yang dilansir Medical News Today, beberapa penyebabnya antara lain: Proses degeneratif dan kondisi kesehatan tertentu seperti peradangan, saraf terjepit, fraktur servikal (patah tulang leher), radang sendi (artritis), degenerasi bantalan sendi tulang leher. Posisi tidur yang salah Nyeri leher yang nonspesifik, misalnya keseleo, buruknya postur tubuh saat melakukan pekerjaan atau jenis olahraga tertentu. Stres atau kecemasan yang dapat membuat ketegangan pada otot sekitar leher. Cedera whiplash (seperti kecelakaan mobil) atau mengalami pukulan keras tiba-tiba Radikulopati Penyebab spondilosis servikal (namun jarang) antara lain artritis rematoid, kanker, cedera berat, infeksi, dan kelainan tulang Trik Sehat Redakan Nyeri di Rumah Beberapa cara untuk membantu meredakan nyeri, yaitu Minum obat pereda nyeri yang diresepkan dokter Kompres hangat di bagian leher yang terasa nyeri Mengurangi stres Memperbaiki postur tubuh saat duduk, berdiri dan berjalan Menjaga posisi leher saat tidur Melakukan latihan tertentu Opsi Penanganan Dokter akan memberikan beberapa opsi penanganan bergantung dari derajat nyeri yang dirasakan atau kerusakan. Opsi tersebut dapat berupa injeksi obat tertentu secara langsung ke bagian leher, relaksan otot, dan fisioterapi. Tindakan bedah dapat dipertimbangkan bila gejalanya semakin memburuk atau menetap, seperti mati rasa, kelumpuhan, hilangnya kontrol buang air kecil dan buang air besar, atau kerusakan dapat memburuk bila tidak dilakukan tindakan bedah. Baca juga : Penyebab nyeri leher Jenis operasi akan bergantung pada masalah dan lokasinya. Seorang dokter dapat mengidentifikasi area yang terkena dampak dengan teknologi pencitraan, seperti sinar-X. Dulu operasi tulang belakang menjadi solusinya. Namun kini sudah ada pilihan lainnya yaitu endoskopi.   Menurut American Association of Neurological Surgeons, endoskopi merupakan tindakan invasif minimal dengan risiko yang juga minimal karena sayatan lebih kecil, pemulihan lebih cepat, dapat dilakukan dengan anestesi lokal, dan pasien dapat langsung pulang setelah dilakukan monitoring di hari yang sama. Beberapa opsi lain penanganannya, antara lain: Modifikasi aktivitas atau olahraga. Misalnya yang tadinya sering berenang dengan gaya dada – memerlukan gerakan memutar leher – perlu diganti dengan gaya renang lainnya. Perubahan ini disesuaikan dengan aktivitas masing-masing. Istirahat Terapi fisik atau rehabilitasi dengan program yang sudah disesuaikan dan dibuat oleh dokter rehabilitasi medik, atau dengan kompres hangat atau dingin. Obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang diresepkan oleh dokter Menggunakan penyangga leher (cervical collar) Radiofrekuensi ablasi (radiofrequency ablation/RFA) yang merupakan prosedur invasif minimal dengan memblok saraf agar tidak mengirimkan sinyal rasa nyeri ke otak. Suntik kortikosteroid Namun, sebagian besar spondilosis servikal  tidak perlu dioperasi. Bila Tidak Ditangani Menurut riset yang pernah dipublikasikan di BMJ (2007), dampak kondisi ini dapat berupa: Stenosis spinal, yaitu penyempitan kanal tempat beradanya saraf tulang belakang dan menimbulkan nyeri di leher atau punggung hingga kaki, baik berupa mati rasa atau kelemahan otot. Radikulopati servikal, perubahan bantalan sendi atau tulang dapat menjepit saraf sehingga menimbulkan rasa nyeri, mati rasa. Mielopati, bila saraf tulang belakang mengalami kompresi atau terjepit, sehingga timbul nyeri dan mati rasa pada kaki/tangan, koordinasi tangan terganggu, kesulitan berjalan atau gangguan keseimbangan, hingga gangguan fungsi buang air kecil. Skoliosis, hasil riset menunjukkan kemungkinan ada kaitan antara proses degeneratif sendi faset dengan skoliosis. Perubahan ini bisa memperburuk gejala lainnya. Herniasi diskus (penonjolan bantalan sendi) – akibat adanya tekanan berulang atau berlebihan pada tulang belakang. Osteoporosis

Kenali Pekerjaan Penyebab Carpal Tunnel Syndrome

pekerjaaan penyebab carpal tunnel syndrome

Berdasarkan National Institute of Neurological Disorders and Stroke (USA), penyebab carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan dampak dari berbagai faktor.  Yang menekan saraf median dan tendon di terowongan carpal (carpal tunnel), dibandingkan dengan adanya masalah tersendiri di saraf itu sendiri. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999 Faktor-faktor tersebut mencakup: Gerakan tangan berulang. Posisi tangan yang tidak biasa atau janggal. Posisi kuat menggenggam kuat. Tekanan mekanis pada telapak tangan. Carpal tunnel syndrome (CTS) dapat terjadi saat saraf median tertekan terus menerus karena saraf tersebut berada di bagian pergelangan tangan (dalam terowongan karpal) sehingga menimbulkan rasa nyeri, kesemutan, kelemahan otot hingga mati rasa di tangan atau pergelangannya. Bahkan menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), risiko CTS itu dikaitkan dengan aktivitas kerja yang memerlukan kerja yang keras, berulang, getaran, atau penggunaan tangan dan pergelangan dalam jangka waktu lama dan dalam posisi yang janggal. Industri dengan tingkat CTS tinggi mencakup pekerjaan manufaktur pakaian jadi, mengolah makanan, dan melakukan pekerjaan administratif. Berdasarkan data yang dianalisis, dilaporkan industri dengan tingkat CTS tertinggi adalah tekstil, kain, membuat aksesori pakaian dan manufaktur pakaian lainnya, dan penyembelihan/pemrosesan daging hewan. Pekerjaan Penyebab Carpal Tunnel Syndrome Untuk pekerjaan tertentu yang berisiko sebagai penyebab carpal tunnel syndrome Dr dr Wawan Mulyawan SpBS, SpKP, menjelaskan. Antara lain sekretaris, programmer, pembuat asesoris (kalung, gelang), dan koki/tukang masak/sering memotong sayuran, daging, dan lainnya. Baca juga : Carpal Tunnel Syndrome Intai Para Gamer Pekerjaan lainnya adalah kasir, penata rambut, perajut, penjahit, pembuat adonan kue secara manual, pemerah susu, pekerjaan dengan cat semprot, berkebun (seperti mencabuti rumput), pelukis, musisi (misalnya pemain gitar), tukang pijat, pengemas daging, dan tukang kayu Selain pekerjaan, ada beberapa faktor risiko terkait kesehatan yang mempermudah timbulnya CTS, antara lain artritis, peradangan kronis, diabetes, gout, amiloidosis, hipotiroidisme, tumor atau kista dalam pergelangan, fraktur/dislokasi pergelangan tangan, kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral, dan menopause Tidak hanya itu saja, ada beberapa faktor yang bersifat individual (misalnya besar dan bentuk pergelangan tangan dan bentuk saraf median), juga bisa menyebabkan kemungkinan timbulnya CTS. Bagaimana Cara Mengenali CTS? Untuk mengetahui CTS atau bukan, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti: Tes Tinel, dokter mengetuk saraf median di pergelangan tangan. Bila dirasakan kesemutan pada salah satu jari atau lebih, kemungkinan ada masalah pada saraf median Tes Phalen, pasien menyatukan punggung tangan dan menekuk pergelangan tangan selama satu menit. Bila timbul kesemutan pada jari, mungkin ini tanda CTS Elektromiografi, elektroda diletakkan di lengan bawah dan arus listrik dialirkan melalui pasien. Kemudian diukur berapa cepat saraf median mengalirkan pesan ke otot. Solusi Lain CTS Salah satu solusi CTS adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup. Bila gejala yang dirasakan disebabkan oleh aktivitas berulang, sebaiknya luangkan waktu untuk beristirahat dan melakukan peregangan tangan dan jari. Informasi & Pendaftaran Telepon 021-7919-6999 Untuk meredakan proses inflamasi pada CTS dapat dibantu dengan mengonsumsi makanan dengan  kandungan antioksidan yang tinggi, antara lain paprika, bayam, salmon, kenari, nanas, dan kurkumin/kunyit. Selain itu, makanan yang mengandung vitamin B juga perlu dikonsumsi karena beberapa studi menunjukkan kadar rendah riboflavin (B2) dalam darah, kemungkinan dikaitkan dengan peluang terjadinya CTS dan penyakit lainnya.

Carpal Tunnel Syndrome Atau CTS Intai Gamers Berdasarkan ICD 10

Carpal tunnel syndrome atau CTS icd 10

Jakarta – Permainan atau games secara online sangat digemari oleh segala usia, baik laki-laki dan perempuan. Bahkan para eksekutif muda pun tak luput dari godaan besar untuk ikut berpartisipasi. Tidak jarang pula mereka bermain secara bersamaan dan dalam waktu yang tidak singkat pula. Ini mendorong ICD 10 membuat klasifikasi sindrom klinis akibat permainan, termasuk carpal tunnel syndrome atau CTS. Kebiasaan ngegame dapat mempengaruhi masalah kesehatan tertentu akibat perilaku bermain yang tidak mengenal waktu. Masalah kesehatan yang terkait dengan perilaku gamer ini juga mencakup aspek kesehatan lainnya, seperti aktivitas fisik yang tidak mencukupi, pola makan yang tidak sehat, masalah penglihatan atau pendengaran, masalah muskuloskeletal, kurang tidur, perubahan perilaku (agresif dan depresi), dan fungsi psikososial.   Bahkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), gangguan kesehatan yang disebabkan oleh permainan, baik online maupun offline, telah masuk dalam edisi ke-10 International Classification of Diseases (ICD-10) sebagai sindrom klinis akibat adanya pola perilaku dan intensitas permainan sehingga menyebabkan beban nyata atau gangguan signifikan dalam fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan atau pekerjaan. Pertama kalinya, adiksi (atau kecanduan) terhadap permainan virtual klasifikasi oleh WHO sebagai perilaku adiktif. Gamer dan ICD 10 CTS Salah satu dampak bermain dalam waktu yang cukup lama yang disampaikan ICD 10 adalah rasa nyeri pada tangan dan pergelangannya atau Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Carpal tunnel syndrome atau mudahnya saraf tangan terjepit ini bisa menjadi penyakit yang cukup menghantui para gamer. Tanda kondisi ini dengan membengkaknya tendon pada tangan akibat penggunaan berulang secara berlebihan atau juga bisa oleh buruknya ergonomi pergelangan tangan (memposisikan pergelangan tangan pada suatu posisi yang tidak biasa dalam waktu yang lama) saat ‘tenggelam’ di permainan ini. Carpal tunnel atau terowongan karpal sendiri merupakan ruang terbuka di dalam pergelangan tangan yang dikelilingi oleh tulang dan ligamen tempat saraf median berjalan. Saraf median ini bercabang dari bahu ke bawah (ke lengan kanan dan kiri) dan berfungsi mengendalikan gerakan dan sensasi kelima jari tangan. Menurut salah satu ahli bedah ortopedi di Amerika Serikat, Dr. Dana Tarandy, sebagian besar awalnya mereka mengeluhkan mati rasa dan kesemutan, yang terasa di ibu jari, telunjuk, dan tengah. Namun terkadang, keluhan itu sampai ke jari manis karena adanya persarafan ganda dengan saraf lain (saraf ulnaris). “Rasa sakit juga bisa menjadi hebat, seperti terbakar, sehingga otot menjadi lemah bila kondisi saraf tangan kejepit ini sudah berlangsung lama dan tidak teratasi dengan baik.” Rerata gejala tersebut dapat berlanjut hingga malam hari dan kekuatan untuk menggenggam pun menurun. Dalam kasus yang parah, penderita dapat kehilangan massa dan kekuatan ototnya, hingga berisiko tidak dapat membedakan antara panas dan dingin. Aktivitas ringan lainnya pun, seperti menulis, mengetik yang membutuhkan kerja bareng secara halus (kontrol dan koordinasi) antara jari tangan, juga mengalami kesulitan. Saraf tangan terjepit ini merupakan salah satu dari 3 jenis penyakit yang paling sering timbul pada ekstremitas atas. Yang lainnya adalah tendosinovitis (trigger finger dan sindrom De Quervan); dan epikondilitis (20%). Penanganan CTS Berdasarkan ICD 10 Ada beberapa pilihan untuk menangani saraf kejepit di tangan ini, yaitu bedah dan nonbedah. Metode nonbedah efektif pada pasien dengan CTS ringan hingga sedang. Bisa juga pada pasien tanpa kelemahan (atrofi) otot, tidak adanya denervasi (dengan jarum elektromiografi), dan gangguan konduksi saraf yang ringan. Baca juga : Pekerjaan yang rentan alami carpal tunnel syndrome Ibu hamil dengan CTS jarang memerlukan perawatan bedah. Pada sebagian besar, dapat sembuh secara spontan. Berbagai metode nonbedah meliputi: penggunaan korset/brace, terapi ultrasonik, laser, pemberian obat oral, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), vitamin B6 oral, injeksi kortikosteroid lokal, dll.   Manfaat jangka pendek dapat dengan penggunaan steroid oral, bebat pergelangan tangan, terapi ultrasound lokal, yoga, dan mobilisasi tulang karpal. Untuk CTS sedang hingga berat, dapat dapat dilakukannya tindakan bedah untuk mengurangi tekanan pada saraf median. Prognosis CTS dengan terapi konservatif maupun operatif cukup baik, namun risiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. Bila terjadi kekambuhan, prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat kembali lakukan. Penyebab Hingga Pencegahan CTS Berdasarkan ICD 10 Kondisi ini kemungkinan oleh sejumlah posisi yang terjadi dalam waktu lama dan berulang. Misalnya saat menekan tombol “tembak” pada pengontrol game dengan ibu jari yang terus menerus dan berulang. Setelah berjam-jam kemudian, pangkal ibu jari dapat membengkak. Bila berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini akan menjepit saraf median di pergelangan tangan. Atau menahan posisi tangan pada sudut yang ‘tidak biasa’ di atas keyboard untuk menekan tombol gerakan saat memainkan permainan serupa. Pergelangan tangan bisa membengkak dan kemudian menjepit saraf median. Strategi terbaik untuk para gamer agar terhindar dari CTS, adalah: Sering beristirahat Melakukan peregangan Perhatikan postur tubuh, seperti punggung tegak, telapak kaki menapak di lantai Kompres pergelangan tangan dengan es selama 10-15 menit setiap satu jam Perhatikan posisi tidur, menjaga pergelangan tangan tidak menekuk Dampak Bermain Games yang Lainnya Ternyata tidak hanya CTS yang mengincar para gamer. Masalah kesehatan di bawah ini juga bisa dialami mereka, antara lain: Nyeri punggung Nyeri leher Kenaikan berat badan (akibat duduk lama terus menerus) Ketegangan/gangguan pada penglihatan/mata Sakit kepala/pusing Untuk informasi lebih lanjut Anda bisa menghubungi care line officer Lamina Pain and Spine Center melalui Hp/WA di kontak kami. Terimakasih.

Terapi Laser PLDD ‘Sahabat’ Nyeri Pinggang

terapi laser

Syaraf kejepit atau dikenal dengan sebutan HNP menjadi penyebab nyeri pada pinggang. Dulu tindakan bedah menjadi solusi pengobatan penyakit ini. Tindakan bedah dengan teknik konvensional itu terkadang tidak luput dengan risiko-risiko terkait, misalnya membutuhkan proses pemulihan yang lebih panjang. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini telah berkembang teknologi Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD) atau terapi laser untuk tulang belakang. Call Center Lamina 021-7919-6999 Teknologi PLDD ini mulai berkembang pada tahun 1990, namun di Indonesia baru berkembang pada awal tahun 2000-an dan diindikasikan untuk kasus-kasus HNP pada ruas tulang lumbar. Cara kerja PLDD dilakukan dengan anestesi lokal dan dipandu oleh computed tomographic (CT) dan fluoroskopi. Kemudian dokter akan memasukkan jarum berukuran 1 mm menuju bantalan sendi yang mengalami penonjolan yang menyebabkan saraf di area tersebut terjepit. Kemudian laser akan memberikan energi cahaya dan panas yang terfokus ke inti bantalan sendi, menguapkan kadar air di area tersebut sehingga mengubah atau mengurangi tekanan di antara bantalan sendi yang menyebabkan terjadinya nyeri dan inflamasi pada saraf sekitar. Ahli bedah dari Florida Spine Institute, Dr. Douglas Weiland, mengatakan dengan teknik bedah yang konvensional, pasien dengan masalah HNP harus menghabiskan waktunya dengan rawat inap dan dilanjutkan dengan pemulihan di rumah. Antara Terapi Laser dan Bedah Konvensional Dibandingkan dengan tindakan bedah konvensional, laser memiliki keunggulan berupa: Proses pemulihan lebih cepat Tidak perlu rawat inap Skar setelah tindakan cukup kecil (sekitar 7 mm) Risiko infeksi minimal Tidak melukai/mencederai jaringan sekitarnya (otot, ligament atau struktur tulang belakang lainnya) Waktu pelaksanaannya juga lebih singkat Ragam Penelitian Dalam sebuah jurnal Manipulative and Physiological Therapeutics (2008), terapi laser memiliki peran penting dalam penanganan HNP dan efektif untuk HNP akut pada ruas tulang lumbar. Studi lain, yang diterbitkan dalam Terapi Laser (2012), teknologi laser efektif untuk mengatasi nyeri akibat penonjolan bantalan sendi leher yang disebabkan oleh spondilosis. Studi ini juga menemukan, untuk menjaga dampak laser ini dalam jangka panjang, penderita biasanya dianjurkan untuk menjaga postur tubuh dalam melakukan aktivitas hariannya. Dari beberapa penelitian yang dilakukan tingkat efektivitas penggunaan laser untuk mengatasi masalah saraf terjepit sangat bervariasi. Selain itu, laser memiliki tingkat keberhasilan yang sama dengan teknik operasi terbuka atau laminektomi dalam mengatasi masalah saraf terjepit, hal ini ditulis dalam studi oleh Gibson dkk dalam Cochran Review. Terapi Laser dan Manfaatnya Menurut dr. Bruce Coren (salah satu pionir dalam terapi laser di Florida, Amerika Serikat) memaparkan ragam manfaat terapi laser antara lain membantu: Meredakan rasa nyeri. Dengan cara mengurangi sensitivitas saraf dengan menurunkan kadar bradikinin (unsur kimiawi dalam tubuh berperan dalam rasa sakit) dan melepaskan endorfin (penghilang rasa sakit alami tubuh) yang menghasilkan efek analgesik sehingga rasa nyeri dapat diturunkan/dikurangi. Memiliki efek antiinflamasi/penyembuhan. Dengan melibatkan adenosin trifosfat/ATP, aktivitas sel darah putih, memperbaiki arteri dan vena di sekitar tempat nyeri, dan meningkatkan asupan nutrisi dan oksigen serta superoksida dismutase sebagai antioksidan. Mempercepat proses perbaikan jaringan dan pertumbuhan sel (saat menembus ke dalam jaringan dapat membantu mempercepat reproduksi dan pertumbuhan sel. Sebagai hasil dari paparan sinar laser, sel-sel tendon, ligamen, saraf dan otot diperbaiki lebih cepat). Memperbaiki/meningkatkan aktivitas vaskular (membentuk kapiler baru di jaringan yang rusak sehingga mempercepat proses penyembuhan, dan menutup luka dengan cepat). Efektif dalam ‘memadamkan’ titik nyeri. Mengurangi pembentukan skar atau jaringan parut yang diakibatkan oleh cedera, luka. Penyembuhan luka lebih cepat (dengan memicu produksi kolagen yang berperan penting dalam penyembuhan jaringan. Kolagen merupakan protein esensial yang dibutuhkan untuk mengganti jaringan lama atau untuk memperbaiki cedera. Akibatnya, laser juka efektif pada luka terbuka dan luka bakar). Kapan PLDD Diperlukan? Dipertimbangkan bila nyeri masih berlangsung setelah pemberian obat atau fisioterapi. Terapi laser dapat dimanfaatkan dalam: nyeri punggung nyeri leher nyeri sendi neuropati perifer tendonitis keseleo/terkilir Terapi laser dapat digunakan sebagai pengobatan yang berdiri sendiri, atau diikuti dengan terapi latihan rehabilitasi. Namun perlu diketahui adalah tingkat penyembuhan individu dapat bervariasi. Penentuan tindakan laser ini perlu dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.  Konsultasi Dengan Staf Ahli Lamina di 021-7919-6999 Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Lamina Pain & Spine Center sebagai satu-satunya klinik syaraf kejepit terlengkap di Indonesia.

Ketahui Derajat Scoliosis Adalah Cara Hindari Komplikasi

scoliosis adalah penyakit

Jakarta – Tulang belakang yang melengkung ke kiri atau ke kanan, menciptakan kurva berbentuk seperti huruf ‘C’ atau ‘S’ secara medis kondisi ini adalah scoliosis. Penyebab pasti skoliosis masih belum diketahui. Bila seseorang memiliki lengkungan lebih dari 45-60 derajat dan tidak ditangani, dapat mengalami nyeri pada punggung, terutama punggung bawah. Sifat kelainan scoliosis ini adalah progresif. Hal ini dikatakan oleh Dr. Gaurav Raj Dhakal, Associate Professor of Spine Surgery di National Academy of Medical Sciences. Penderita Scoliosis Utamanya Adalah Anak, Remaja, dan Dewasa Ketika skoliosis berlanjut hingga dewasa atau idiopatik dewasa, juga merupakan salah satu dari dua bentuk skoliosis yang paling sering dialami orang dewasa. Sedangkan bentuk skoliosis pada remaja seperti skoliosis idiopatik – tanpa diketahui penyebabnya. Bentuk skoliosis umum lainnya yang terlihat pada orang dewasa adalah skoliosis degeneratif.   Seperti namanya, jenis scoliosis ini biasanya berkembang saat usia dewasa sebagai akibat proses penuaan/ degenerasi asimetris dari bantalan tulang belakang. Yang selanjutnya menyebabkan miringnya tulang belakang dan membengkok membentuk kurva dengan derajat tertentu. Kondisi lain, seperti penyakit degeneratif atau fraktur kompresi tulang belakang akibat osteoporosis, juga dapat menyebabkan perubahan pada tulang belakang dan sehingga memicu scoliosis. Faktor yang Berperan pada Scoliosis Adalah Usia Ada beberapa tipe scoliosis yang patut Anda ketahui, diantaranya; Skoliosis infantil terjadi pada anak berusia tiga tahun kebawah. Skoliosis juvenil terjadi pada anak-anak antara usia empat dan sembilan tahun. Skoliosis idiopatik remaja terjadi antara usia 10 hingga 17 tahun. Menurut Neel Anand, dokter ahli bedah ortopedi di Cedars-Sinai Medical Center in Los Angeles, ada perbedaan tertentu antara skoliosis dewasa dan remaja yang dikaitkan dengan onset, diagnosis dan rekomendasi pengobatan. Memahami perbedaan-perbedaan ini dapat membantu mendapat gambaran lebih jelas tentang apa yang terjadi secara fisiologis di tulang belakang dan cara terbaik untuk mengatasinya. Menurutnya perawatan kedua jenis scoliosis – idiopatik dan degeneratif – memiliki tujuan yang sama yaitu mengembalikan dan mempertahankan keselarasan alami tulang belakang. Baca Juga : Kifoplasti Atasi Tulang Retak Hingga Patah Dalam Hitungan Menit di Klinik Lamina Kenali Derajat Kelengkungan Kurva kelengkungan kurang dari 15-20 derajat, ringan. Kurva kelengkungan 20-50 derajat, sedang. Kurva kelengkungan lebih dari 50 derajat, berat. Penanganan Scoliosis Adalah Pada tahapan ringan, perlu diamati kemungkinan bertambahnya usia selama periode tertentu. Pada tahap ini, tidak diperlukan penanganan khusus. Pada yang sedang mungkin membutuhkan brace (semacam korset) untuk mencegah kemungkinan kelengkungan bertambah. Sedangkan pada derajat yang sudah berat, atau hingga ke tulang  leher, cenderung tidak merespons dengan baik terhadap brace. Terapi dengan pembedahan perlu dipertimbangkan. Untuk skoliosis remaja, bedah biasanya dianjurkan setelah kelengkungan mencapai lebih besar dari 40 hingga 50 derajat atau cenderung akan terus berubah. Baca juga : Frozen shoulder adalah Di sisi lain, penanganan kondisi ini yang direkomendasikan untuk orang dewasa biasanya disesuaikan dengan ada tidaknya rasa nyeri, walaupun sebagian besar pasien dewasa tidak memerlukan pembedahan. Bahkan, seringkali ditemukan ringan pada orang dewasa – dan tidak mengalami gejala – pada saat dilakukan pencitraan atau saat pergi ke dokter untuk keluhan lain yang tidak berkaitan. Sayangnya, kelainan bentuk tulang belakang tidak akan hilang dengan sendirinya. Namun bisa dicoba dengan penggunaan brace, latihan atau terapi fisik. Untuk dewasa, jika nyerinya lebih mengganggu daripada kelainan bentuk tubuh itu sendiri, dapat dicoba dengan non bedah, seperti terapi fisik, akupunktur dan olahraga. Jika opsi non bedah gagal meredakan nyeri punggung akibat kelengkungan tulang, operasi mungkin dapat dipertimbangkan. Tes Sederhana Sebagian besar orang tua yang memiliki anak dengan kondisi ini, dapat melakukan pemeriksaan sendiri di rumah dan perhatikan bila: Dada bergeser ke satu sisi Satu tulang belikat menjadi lebih terlihat daripada yang lain Pinggang/ bahu/ pinggul tidak sama tinggi Disarankan juga, orangtua perlu melihat postur anak dari belakang sehingga dapat menemukan kemungkinan kelainan bentuk tulang belakang sedini mungkin. Apa Penyebabnya? Cacat lahir Cedera atau infeksi tulang belakang Idiopatik Tumor Anggota badan tidak sama panjang Masalah neuromuskular Cerebral palsy Penyakit tertentu yang diturunkan Sindrom Marfan (kelainan genetik yang langka dan mengenai jaringan ikat tubuh) Sindrom Rett (kelainan genetik langka yang bersifat neurologis) Spina bifida (cacat lahir yang mengenai tulang belakang dan biasanya terlihat saat lahir atau dikenal dengan neural tube defect) Dampak ke Depan Menurut Clear Scoliosis Institute, dijabarkan beberapa dampak, diantaranya : Sakit kepala Nyeri pada leher, punggung, pinggul, lutut, kaki Nyeri radikuler Masalah dengan pernapasan atau tidur Masalah pencernaan Aktivitas harian, seperti olahraga atau bahkan berjalan kaki, juga bisa terganggu Kaki melemah akibat kompresi saraf Kelainan bentuk punggung (deformitas) Tidak hanya itu, penyakit ini juga dapat memengaruhi postur tubuh yang simetris, karena ketidakseimbangan dalam bahu, pinggul, tulang belikat, dan tulang rusuk.   Jika kondisi ini sudah berlangsung lama dan tidak ditangani, dapat menimbulkan masalah peradangan sendi seperti osteoartritis dan perubahan degeneratif pada tulang belakang, pinggul, dan lutut. Pada kasus yang parah, fungsi organ juga dapat terganggu.