Penderita Saraf Kejepit Harus Rutin Olahraga Yoga?

Penderita saraf kejepit tidak boleh olahraga? Kata siapa? Nah, ini dia banyak orang yang menyangka jika penderita saraf kejepit hanya boleh istirahat berbaring saja. Tidak boleh aktivitas apalagi olahra, hal ini salah ya. Mungkin, yang benar sebaiknya hindari lebih dulu melakukan aktivitas dan olahraga yang berat. Apalagi sampai memberikan tekanan yang berlebihan pada punggung yang sedang mengalami sakit. Sakit punggung adalah salah satu keluhan yang banyak masyarakat rasakan dari usia muda hingga tua. Saraf kejepit merupakan salah satu penyebab nyeri punggung paling sering. Olahraga Yoga bisa menjadi pilihan untuk meredakan sakit punggung. Termasuk akibat saraf terjepit atau dalam istilah medisnya adalah herniated nucleus pulposus (HNP). Jika HNP yang terjadi akibat posisi membungkuk dan menyebabkan ada bagian saraf yang tertekan, sehingga menyebabkan nyeri maka olahraga Yoga bisa jadi solusinya. Yoga akan membantu meringankan nyeri melalui gerakan merelaksasi otot, atau menguatkan struktur jaringan sekitar saraf yang mengalami masalah. Berikut pose Yoga yang bisa membantu meringankan keluhan nyeri pada penderita saraf kejepit. Gerakan Yoga Bagi Penderita Saraf Kejepit Trikonasana Pose yoga ini bisa kamu lakukan jika kondisi syarat yang terjepit belum terlalu parah atau telah mereda. Gerakan trikonasana akan membantu menyelaraskan tulang punggung, susunan saraf, fleksibilitas pinggul, dan lain-lain. Lakukan selama 15 detik pada setiap gerakan dan kamu bisa mengulangi hingga 3-4 kali. Ustrasana Bisa membantu membebaskan saraf dan juga melatih kelenturan tulang punggung, pingggang, serta kekuatan paha agar bisa menopang tubuh lebih kuat dan berdiri tegak. Lakukan selama 30-45 detik. Upavistha konasana Pose ini akan membantu menjadikan bagian pinggang menjadi lebih fleksibel, serta memberi sensasi lengkungan yang tepat bagi area punggung bawah. Lakukan selama 60 detik. Setu bandha sarvangasana Pose ini bisa membantu membuat tulang punggung kembali pada lengkungan awalnya. Hal ini akan membuat saaraf siatika terasa nyaman akibat tekanan yang mereda. Lakukan selama 3-5 menit. Savasana Merupakan gerakan penutup yang wajib kamu lakukan untuk memberi kesempatan tubuh merangkum semua manfaat dari gerakan Yoga yang sudah kamu lakukan. Jika mengalami kondisi nyeri punggung atau pada masalah tulang belakang lainnya, silakan berkonsultasi dengan dokter ahli kami di Klinik Lamina Pain and Spine Center.
Kencur Bisa Jadi Obat Syaraf Kejepit, Benarkah?

Obat syaraf kejepit tradisional atau berupa herbal masih menjadi pilihan alternatif bagi sebagian kalangan masyarakat. Salah satunya adalah penggunaan tanaman kencur sebagai obat syaraf kejepit. Namun, benarkah demikian? Sebelum mengetahui lebih lanjut manfaat kencur ini, ketahui lebih dulu tentang penyakit saraf terjepit, yang sayangnya seringkali dianggap sepele dan hanya keluhan nyeri biasa. Apa itu penyakit saraf terjepit? Saraf terjepit dalam istilah medisnya hernia nukleus pulposus (HNP), merupakan kondisi saat bantalan ruas tulang belakang alami pergeseran dan membuat saraf tulang belakang mendapatkan tekanan. Hal tersebut penyebabnya bisa karena usia, riwayat keluarga yang memiliki penyakit ini, melakukan gerakan berulang dalam jangka waktu yang lama, postur tubuh yang salah saat duduk atau mengambil barang yang jatuh, dan mengangkat beban berat. Penyakit saraf terjepit ini, biasanya menimbulkan rasa nyeri yang parah pada bagian saraf yang terserang. Paling umu, keluhan ini menyerang tulang belakang bawah atau lumbal (pinggang) . Penderita biasanya akan merasakan nyeri paling hebat pada bagian bokong, paha, dan betis. Sementara, itu beberapa kasus keluhan ini juga bisa menyerang pada bagian leher meskipun tak sebanyak kasus saraf kejepit pinggang. Jika menyerang leher, biasanya penderita akan merasakan nyeri pada bagian bahu, leher, dan lengan. Pengobatannya pun berdasarakan lokasi saraf yang terjepit dan tingkat keparahan penyakit. Lalu, efektifkah mengonsumsi kencur sebagai pilihan obat syaraf kejepit? Simak penjelasan berikut ini. Bagaimana bisa kencur menjadi obat syaraf kejepit? Kencur atau tanamana Kaempferia galanga merupakan salah satu jenis tanaman herba yang termasuk dalam keluarga jahe (Zingiberaceae) yang dikenal dapat dijadikan ramuan rumahan atau obat tradisional. Kencur kaya akan kandungan minyak atsiri dan senyawa alkaloid yang dipercaya berkhasiat sebagai obat. Selain itu, ada juga kandungan lainnya, seperti pati, asam metil kanil, sineol, etil ester, asam sinamat, dan lainnya. Tak hanya itu, kencur juga memiliki kandungan yang bersifat antiradang, antioksidan, antinyeri, dan antibakteri. Nutrisi lainnya yang terkandung pada kencur, antara lain mineral. Misalnya ada fosfor, kalium, magnesium, kalsium, zat besi, zink, dan selenium. Kencur ternyata juga kaya akan kandungan vitamin K, vitamin B, vitamin C, dan folat. Baca Juga: Obat Saraf Terjepit Yang Bisa Meringankan Rasa Sakit Bagaimana cara mengolah kencur sebagai obat syaraf kejepit? Apakah kencur efeketif untuk mengobatai syaraf kejepit? Sampai saat ini, belum ada penelitian terkait manfaat kencur sebagai obat syaraf kejepit. Namun, kencur sering menjadi obat tradisional atau rumahan karena memiliki efek antinyeri dan antiradang. Itu sebabnya, beberapapenderita saraf kejepit ada yang merasakan berkurang rasa sakitnya ketika mengonsumsi kencur. Namun ingat, tanaman ini belum tentu bisa menyembuhkan penyakit tersebut. Jadi, tetap harus melakukan pemeriksaan ke dokter saraf atau dokter spesialis bedah saraf. Lalu, bagaimana cara mengolah kencur untuk membantu mengatasi nyeri/sakit? Kamu bisa mengonsumsi kencur olahan yang sudah menjadi suplemen atau jamu. Namun jika ingin membuat sendiri, kencur bisa kamu olah dengan cara menumbuk bagian rimpang dan daunnya hingga halus. Selain itu, bisa juga kamu sangrai kemudian rebus bersama-sama dengan bahan lainnya. Perlu kamu ingat sekali lagi, sebaiknya lakukan pemeriksaan segera ke dokter ahli jika sudah mengalami keluhan nyeri parah. Semakin cepat mendapatkan penanganan yang tepat, semakin kecil risiko komplikasi yang mungkin bisa terjadi kemudian hari. Jika terlambat penanganan, bisa saja penyakit saraf terjepit ini membuat penderitanya alami kelumpuhan. Baca Juga: Pengobatan Syaraf Kejepit di Jakarta dengan Teknologi Terkini Endoskopi
Cara Mengatasi Saraf Terjepit Leher Tanpa Operasi

Bagaimana cara mengatasi saraf terjepit leher? Hal ini harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Saraf terjepit terjadi ketika saraf pada tubuh mendapatkan tekanan yang berlebihan. Akibatnya, saraf tersebut mengirimkan sinyal peringatan ke otak dan muncul rasa nyeri, kesemutan, dan lemah. Kerusakan saraf ini bisa terjadi pada sekitar tulang belakang, yakni area leher yang juga dapat menyebabkan cervical radiculopathy. Saraf terjepit pada leher ini dapat menyebabkan rasa nyeri. Nyeri leher menjadi keluhan yang paling umum terjadi pada sebagian masyarakat modern. Sebagian besar keluhan ini terjadi karena postur tubuh yang tidak tepat saat bekerja, penggunaan ponsel atau gadget dengan postur tubuh yang salah. Mungkin keluhan ini cukup sering terjadi, namun masalahnya tidak semua orang mengetahui penyebabnya karena cukup beragam. Nyeri leher bisa disebabkan banyak hal termasuk juga cedera, masalah mekanikal atau otot leher, saraf kejepit atau arthritis. Lalu bagaimana cara kita mengetahui jika keluhan nyeri yang terasa karena saraf terjepit? Apa Saja Gejala Saraf Terjepit Leher? Sensasi terbakar pada tangan. Alami mati rasa pada lengan dan tangan. Kesemutan pada lengan dan tangan. Kelemahan yang terasa pada bagian lengan. Rasa sakit bertambah ketika menggerakkan leher atau kepala. Pada beberapa kasus, area leher membengkak. Bagaimana Cara Mengatasi Saraf Terjepit dengan Keluhan Nyeri? Meski serangan nyeri leher sedang berlangsung dan membuat tak nyaman, cobalah untuk tetap bergerak aktif sebisa mungkin. Lakukan aktivitas normal biasa. Nyeri leher tidak mengharuskan seseorang untuk beristirahat total. Karena umumnya nyeri leher tidak mengharuskan istirahat total. Belum lagi biasanya nyeri ini bisa hilang dengan sendirinya dalam hitungan pekan. Untuk penanganan nyeri leher sederhana Anda bisa mencoba beberapa hal berikut: – Mengonsumsi obat yang dijual bebas seperti ibuprofen. – Kompres panas dan atau dingin. Mulai dengan dengan kompres dingin di hari pertama, lalu kompres panas di hari berikutnya. – Tetap berusaha aktif bergerak, namun hindari latihan high impact. – Cukup tidur dan istirahat. – Peregangan otot leher. Lakukan latihan gerakan leher perlahan dari kiri ke kanan berulang-ulang. – Mintalah orang terdekat Anda atau terapis memijat lembut area yang sakit. – Jika nyeri sendi telah lama berlangsung, berkonsultasilah dengan dokter ahli. Nyeri ini sangat tergantung pada penyebab rasa nyeri. Namun tak semua pengidap nyeri sendi bisa dengan cepat-cepat sembuh. Orang-orang dengan leher yang lemah, cenderung lebih mudah terkena masalah leher. Olahraga yang dititikberatkan pada penguatan bagian tubuh ini akan sangat bermanfaat. Jika nyeri leher Anda berhubungan dengan kebiasaan hidup yang tak aktif bergerak atau Anda terbiasa untuk menghabiskan banyak waktu di meja kerja, ada baiknya Anda mereview ulang tentang posisi duduk dengan postur terbaik. Cari waktu untuk beristirahat sejenak dan batasi waktu untuk menatap layar komputer.
4 Cara Mencegah Carpal Tunnel Syndrome Penyebab Tangan Sakit

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) terjadi akibat saraf median yang melintang melewati struktur pergelangan tangan membentuk terowongan (carpal tunnel), mengalami tekanan berlebihan. Biasanya kondisi ini menyerang orang-orang yang bekerja sebagai penulis, kasir, dan pekerjaan lainnya yang mengandalkan kemampuan tangan. Lalu, jika begitu bagaimana jika saya bekerja dengan mengandalkan tangan? Adakah cara untuk mencegah risiko alami CTS ini? Tips mencegah carpal tunnel syndrome Melakukan gerakan tangan berulang, seperti mengetik, memotong, mencangkul dan gerakan lainnya dapat menyebabkan masalah pada saraf tangan. Hal ini dapat mengakibatkan jempol, jari tengah, telunjuk, telapak atau pergelangan tangan akan menimbulkan sensasi seperti tertusuk jarum, mati rasa, atau kesemutan. Semua gejala tersebut bisa menyebar hingga ke lengan atas dan mengganggu aktivitas harian. Agar terhindar dari carpal tunnel syndrome, berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan. Baca Juga: Profesi yang Rentan Alami Carpal Tunnel Syndrome 1. Luangkan waktu untuk istirahat saat bekerja Mencegah CTS berarti mencegah tekanan yang berlebih pada saraf. Saat kamu melakukan gerakan menekuk, mengetik atau memutar tangan dalam waktu lama, jangan lupa untuk beristirahat. Hal ini akan memberikan kesempatan bagi otot sekaligus saraf berisitirahat dari adanya tekanan yang berlebihan. Jika memungkinkan, lakukan gerakan dengan tangan yang berbeda secara bergantian. Jangan hanya mengandalkan satu tangan saja. 2. Memperbaiki posisi tidur Meski gangguan menyerang tangan dan pergelangan jari, posisi tidur ternyata juga bisa memengaruhi risiko carpal tunnel syndome. Posisi tidur tengkurap dengan kepala menumpu pada tangan akan membuat pergelangan tangan mendapatkan banyak beban dan tekanan, sehingga lebih berisiko alami CTS. Untuk mencegah kondisi CTS, kamu perlu mengurangi tidur di malam hari dengan posisi tersebut. Namun, jika secara tanpa sadar kamu tidur dengan posisi tersebut sebaiknya ubah posisi tidurmu. Biasanya, tangan akan memberikan sinya sepertli rasa kesemutan saat mendapatkan tekanan yang berlebih. Ada baiknya, kamu tidur dengan psosisi telentang dengan tangan berada di samping tubuh. 3. Jaga postur tubuh dan tangan saat bekerja Jika kamu bekerja dengan banyak mengandalkan tangan, sebagian besar waktu duduk depan layar komputer/laptop maka sebaiknya menjaga postur tubuh saat duduk. Lalu, bagiamana caranya? Duduk, berjalan, dan berdiri dengan posisi bahu tetap lurus. Postur tubuh yang membungkuk cenderung membuat tangan dan lengan akan merenggang jauh ke depan. Hal ini bisa meningkatkan risiko CTS. Lalu, saat kamu duduk bekerja depan layar komputer/laptop, letakkan keyboard pada posisi yang tepat. Artinya, jangan sampai membuat jari terlalu melebar atau menekuk saat sedang mengetik. Selanjutnya, jangan biarkan pergelangan tangan melayang di udara saat mengetik. Jika kamu bekerja dengan sebagian besar waktu memegang ponsel, letakkan ponsel di depan tubuh dengan jarak tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh. Hindari juga memegang pena terlalu erat karena bisa menyebabkan otot dan saraf menegang lebih cepat. 4. Melakukan latihan peregangan untuk pergelangan tangan Sisihkan waktu saat bekerja untuk melakukan latihan peregangan pada pergelangan tangan. Tujuannya, agar otot dan saraf pada pergelangan tangan menjadi lebih rileks serta mencegah terjadinya CTS. Berikut adalah beberapa langkah latihan peregangan tangan yang bisa kamu coba. Gerakan meremas jari selama 15 detik. Putar pergelangan tangan keluar dan ke dalam, masing-masing selama 15 detik. Meluruskan lengan dan menghadap ke tembok. Kemudian, menekuk punggung tangan ke bawah hingga kamu bisa melihat buku-buku tangan bagian dalam. Tempelkan tangan ke tembok dan tahan selama 5 detik. Selanjutnya luruskan tangan dan buka telapak tangan. Kemudian, tempelkan bagian telapak tangan bagian dalam pada tembok dan tahan posisi ini selama 5 detik. Nah, semoga setelah melakukan keempat tips ini bisa membantu kamu meredakanya nyeri atau mencegaha CTS pada tangan ya. Jika kondisi nyeri tak kunjung membaik setelah melakukan peregangan segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat ya. Baca Juga: Pengobatan CTS Tanpa Operasi
Pengobatan Syaraf Kejepit di Jakarta Dengan Teknologi Terkini Endoskopi

Klinik Lamina Pain and Spine Center merupakan pusat pelayanan masalah nyeri dan tulang belakang atau tempat pengobatan syaraf kejepit di Jakarta yang berpengalaman. Selama ini keluhan nyeri dan masalah tulang belakang, menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami gangguan beraktivitas, bahkan jika telat mendapatkan penanganan, dapat menyebabkan kelumpuhan pada penderitanya. Kendati demikian, masih ada sebagian masyarakat ketika mengalami kondisi ini merasa takut untuk melakukan pengobatan secara medis karena takut jika harus melakukan prosedur operasi besar. Ketakutan inilah yang kemudian menjadi salah satu perhatian penting dalam layanan di klinik Lamina Pain and Spine Center. Sebagai pusat pengobatan syaraf kejepit di Jakarta, Lamina Pain and Spine Center menggunakan endoskopi tulang belakang dengan teknik minimal invasif sebagai penanganan saraf terjepit. Sejak beberapa tahun terakhir penggunaan pembedahan minimal invasif untuk tulang belakang semakin banyak dipertimbangkan karena memiliki risiko kerusakan jaringan dan trauma yang minimal, biaya pengobatan lebih rendah, serta penurunan kebutuhan rawat inap. Selain menggunakan teknik minimal invasif , penanganan syaraf kejepit dilakukan oleh dokter spesialis bedah berpengalaman. Hal inilah yang mungkin bisa menjadi pertimbangan pasien saat memilih tempat pengobatan syaraf kejepit di Jakarta. Baca Juga: Dokter Syaraf Kejepit Yang Bagus Adalah Dokter Spesialis Syaraf Kejepit Adalah… Syaraf kejepit adalah kondisi saat bantalan antar-tulang belakang menonjol sehinggan menekan saraf sekitarnya. Kondisi ini dalam istilah medisnya dikenal sebagai hernia nucleus pulposus (HNP). Saat mengalami kondisi ini, tubuh akan mengirimkan sinyal berupa rasa nyeri. Prevalensi terjadinya kasus HNP pada beberapa negara berkembang sekitar 15-20% dari total populasi. Penyakit ini terutama menyerang pada usia 30-50 tahun dan puncaknya pada 40-45 tahun. Sementara itu, rasio HNP antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1. HNP paling sering ditemukan pada tulang belakang lumbal (punggung bawah/pinggang), dan hanya sebagian kecil yang ditemukan pada tulang servikal (leher). Menurut Jordan, Konstantinou, O’Dowd (2009), pada pasien yang berusia antara 25-55 tahun, 95% HNP terjadi pada tulang belakang lumbal pada daerah L4-L5 atau L5-S1, sedangkan L4 ke atas terjadi pada seseorang yang berusia lebih dari 55 tahun. Lebih lanjut, pada 40% pasien berusia dewasa tua, nyeri punggung bawah mengganggu aktivitas sehari-hari dan 20% penderita mengalami gangguan tidur. Selanjutnya, sebanyak 25% diantaranya membutuhkan rawat inap untuk evaluasi lebih lanjut. Gejala Syaraf Kejepit Gejala ini bergantung pada lokasi saraf yang terjepit, bisa pada leher, pinggang hingga bokong, namun yang paling umum adalah munculnya rasa nyeri pada area saraf yang terjepit. Terkadang, pada kondisi yang ringan bisa tidak menimbulkan gejala yang biasanya dampak dari adanya bantalan sendi hanya menonjol sedikit. Namun saat bantalan tulang yang sudah menonjol ini menekan saraf maka gejala mulai timbul dan yang paling umum adalah nyeri. Kadang yang tergolong ringan bisa tidak menimbulkan gejala. Biasanya hal ini dampak dari adanya bantalan sendi hanya menonjol sedikit. Namun saat bantalan tulang yang sudah menonjol ini menekan saraf maka gejala mulai timbul dan yang paling umum adalah nyeri. Nyeri biasanya bersifat tajam, seperti terbakar atau seperti tertusuk jarum. Kesemutan, baal/kebas, kelemahan otot pada saraf yang terjepit bahkan bisa juga menyebabkan kelumpuhan. Ragam Penyebab Bantalan tulang belakang berperan sebagai penyerap kejutan yang terdiri dari dua bagian, yaitu annulus fibrosus (cincin luar) dan nukleus pulposus (bagian isi cincin yang bersifat kenyal). Bagian nukleus pulposus inilah yang bisa bocor atau menonjol keluar yang menekan saraf sehingga memicu HNP. Kelainan bentuk ruas tulang belakang, mengangkat beban berat dengan posisi yang tidak tepat, pernah mengalami cedera/jatuh, kegemukan, postur tubuh salah saat bekerja yang berulang dalam waktu lama merupakan beberapa faktor penyebab saraf kejepit pinggang. Usia, tumor pada ruas tulang belakang, infeksi tuberkulosis pada tulang belakang, fraktur kompresi akibat keroposnya tulang belakang akibat osteoporosis, dan bergesernya ruas tulang belakang (spindololistesis) juga bisa menyebabkan saraf kejepit pinggang. Cara Mencegahnya Meskipun tidak selalu bisa mencegahnya, kamu bisa melakukan beberapa langkah pencegahan faktor risiko yang dapat memicu HNP, misalanya: Rutin olahraga, misalnya berenang Menghindari aktivitas yang memberikan beban atau tekanan pada punggung Menjaga berat bada ideal Menjaga postur tubuh saat duduk, berdiri maupun tidur Lakukan peregangan jika mengharuskan bekerja dengan duduk dalam waktu lama setiap 30 menit sampai 1 jam Menghindari merokok Pengobatan Syaraf Kejepit di Jakarta Seperti penyakit lainnya, mendiagnosis HNP dapat dilakukan melalui anamnesis (wawancara), pemeriksaan fisik dan neurologis, dan pemeriksaan penunjang (jika perlu) seperti MRI, CTScan. Dokter akan menyesuaikan dengan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang radiologis sehingga dapat menyusun program terapi. Pengobatan untuk mengatasi nyeri, mungkin dokter akan meresepkan obat atau bisa juga dengan menggabungkan pengobatan ini dengan program rehabilitasi medik atau fisioterapi sesuai dengan keluhan. Jika pengobatan tersebut tidak membuahkan hasil perbaikan, kemungkinan dokter harus melakukan tindakan medis yang serius seperti operasi. Pengobatan syaraf kejepit di Jakarta, khususnya di Lamina Pain and Spine Center menggunakan PELD dan PSLD. Metode tersebut untuk menghilangkan penonjolan bantalan sendi yang menekan atau menjepit saraf tulang belakang, sehingga dapat memperbaiki keluhan yang terasa terkait saraf kejepit pinggang. Sementara itu, PECD ini untuk mengobati HNP Servikal atau syaraf kejepit leher. Membandingkan dengan teknik operasi dulu, teknologi ini memiliki banyak keunggulan. Misalnya hanya dengan bius lokal, memerlukan sayatan yang sangat minim, waktunya lebih singkat, proses pemulihan lebih cepat. Baca Juga: Cara Menyembuhkan Syaraf Kejepit Leher, Pinggang Hingga Bokong
Penyebab Saraf Terjepit Saat Hamil, Cek Yuk!

Penyebab saraf terjepit cukup beragam dan salah satu faktor risiko pemicunya adalah kehamilan. Hal ini terjadi karena bertambahnya beban tubuh selama kehamilan. Rasa nyeri akibat saraf terjepit selama masa kehamilan bisa bertambah parah jika kondisi ini tidak isegara mendapatkan penanganan yang tepat dan baik. Penyebab Saraf Terjepit Saat Hamil Saat kehamilan semakin besar, hormon relaksin bertambah sebagai persiapan panggul untuk melahirkan. Peningkatan hormon ini dapat mengendurkan ligamen sehingga pusat gravitasi tubuh bergeser dan menyebabkan syaraf kejepit. Hal inilah yang kemudian akan memberikan sensasi nyeri yang menusuk pada bagian bokong dan belakang kaki. Saraf terjepit saat hamil berhubungan dengan hernia nukleius pulposus (HNP), yakni kondisi pergeseran diskus sehingga pecah atau merosot. Kendati demikian, kejadian HNP penyebab saraf terjepit saat hamil hanya 1:10.000 sehingga kemungkinannya sangat kecil. Selain perubahan hormon, berat badan janin yang seiring waktu akan bertambah, juga bisa menjadi faktor pemberian tekanan ekstra pada saraf skiatik yang berawal dari tulang belakang dan bercabang hingga kaki. Kondisi inilah yang akan membuat sendi dan otot yang telah menegang menjadi tidak stabil dan mengganggu kenyamanan sang ibu hamil. Baca Juga: Penyebab Syaraf Terjepit Akibat Obesitas dan Asupan Nutrisi yang Tak Seimbang Penanganan Saraf Terjepit Saat Hamil Jika kondisi nyeri bersifat ringan, biasanya dapat teratasi dengan cara menyesuaikan postur tubuh atau olahraga. Namun, pada ibu hamil dengan kondisi nyeri punggung yang lebih parah, mungkin perlu mendapatkan penanganan yang serius dan spesifik. Dalam hal ini, ada beberapa tips penanganan HNP pada masa kehamilan, antara lain: 1. Istirahat selama 1-2 hari Beristirahat dapat membantu meredakan pembengkakan dan nyeri pada bantalan tulang belakang. Selama istirahat, ibu hamil bisa mencoba melakukan bedrest dengan menggunakan bantalan kaki. Posisi tidur seperti ini akan membantu mengurangi lengkungan berlebihan pada pinggang dan pinggul yang menjadi penyebab timbulnya rasa nyeri serta kejang pada otot punggung. 2. Pijatan lembut Melakukan pijatan lembut pada bagian punggung bawah bisa membantu meredakan peradangan dan rasa tidak nyaman pada sekitar saraf skiatik. Pemijatan ini bisa menggunakan bola tenis. Jika usia kehamilan menginjak trimester pertama, bisa melakukan pemijatan dengan tidur telentang dan meletakkan bola tenis pada punggung bawah. Namun, jika perut sudah semakin besar, melakukan pijatan bisa sambil duduk. Namun, sebaiknya sebelum melakukan hal ini, cobalah konsultasikan dengan dokter kandungan atau dokter spesialis saraf lebih dulu, untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. 3. Hindari duduk terlalu lama Duduk terlalu lama selama masa kehamilan dapat memicu timbulnya rasa sakit atau nyeri pada bagian punggung bawah, termasuk juga saraf terjepit. Jika memang harus duduk, hindari duduk terlalu lama dengan cara melakukan peregangan atau jalan santai selama 10 menit setiap 1-2 jam sekali. Berjalan kaki santai selama beberapa menit dapat membantu meregangkan tegangnya otot pada area bokong dang punggung bawah/pinggang. 4. Melakukan peregangan Beberapa gerakan peregangan dapat membantu meringankan nyeri akibat saraf terjepit saat hamil. Faktanya, peregangan akan membuat otot punggung lebih lentur hingga mampu menopang berat tubuh dengan lebih baik. Namun, untuk peregangan yang cocok pada ibu hamil, sebaiknya konsultasikan dengan dokter lebih dulu dan lakukan dengan pendampingan tenaga medis. Baca Juga: Cara Pencegahan Saraf Terjepit, Ikuti Langkah Ini
Tindakan PELD Pada Penderita Saraf Kejepit

Percutaneous Endoscopic lumbar discectomy (PELD) merupakan teknik minimal invasif untuk menghilangkan herniasi diskus lumbal atau saraf kejepit punggung bawah. PELD memiliki keuntungan daripada prosedur bedah/operasi standar seperti operasi terbuka atau microdiscectomy. Penggunaan pembedahan minimal invasif untuk tulang belakang semakin banyak. Penggunaan pembedahan minimal invasif ini menjadi pertimbangan dengan lebih sedikitnya risiko komplikasi kerusakan jaringan dan penurunan lama rawat inap. Prosedur ini pertama kali Kambi dan Schaefer jelaskan pada tahun 1973 sebagai diskektomi perkutan. Prosedur ini membutuhkan sayatan kulit kecil dan dilakukan dengan anestesi lokal. Penyakit Saraf Kejepit Penyakit hernia nukleus pulposus (HNP), merupakan penyakit yang terjadi saat bantalan ruas tulang belakang bergeser dan menekan saraf tulang belakang. HNP atau dalam istilah ‘saraf kejepit’. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala nyeri punggung bawah. Karakteristik gejala penyakit Saraf kejepit biasanya menyerang usia 30-50 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Hampir 80% dari populasi mengalami serangan nyeri punggung bawah sekali seumur hidupnya. Dalam diagnosis banding yang luas dari nyeri punggung bawah, penyebab paling umum adalah degenerasi intervertebral yang menyebabkan herniasi nucleus polposus. Sebagian besar kasus HNP bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi, bila nyeri berlangsung hingga berbulan-bulan, dokter dapat memberikan pengobatan yang jenisnya sesuai dengan tingkat keparahan gejala pada pasien. Tindakan PELD Untuk Pasien Saraf Kejepit PELD merupakan metode pembedahan yang minimal invasif dan efektif untuk penanganan HNP dengan risiko komplikasi yang minimal. PELD dapat menjadi pertimbangan sebagai penanganan untuk menangani saraf kejepit dengan keunggulan yang lebih baik daripada operasi terbuka. Pada penelitian tahun 2018 di India, melibatkan 614 pasien yang menjalani PELD, rata-rata lama waktu tindakan ialah 45 menit. Sementara itu, pada penelitian tahun 2020 di Beijing menemukan perbedaan yang signifikan antara pasien yang menjalani PELD dan operasi terbuka. Seperti, durasi operasi, jumlah pendarahan dan lama rawatan pasien yang mana rata-rata durasi operasi pasien PELD 94.5 menit dan 148 menit untuk pasien operasi terbuka. Baca Juga: Biaya Operasi Endoskopi HNP Penanganan saraf kejepit dengan metode PELD dapat kamu temukan di klinik Lamina Pain and Spine Center. Memiliki dokter spesialis bedah saraf berpengalaman dan profesional. Klinik Lamina telah menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara dalam menangani kasus saraf kejepit dengan jumlah lebih dari 1600 tindakan endoskopi tulang belakang.
HNP Syaraf Kejepit Leher Atasi Dengan PECD, Ini Dia Keuntungannya!

HNP syaraf kejepit bisa mengganggu aktivitas penderitanya, apalagi jika terjadi pada bagian leher. Gejala yang muncul dapat berupa nyeri pada sekitar atea leher, pundak, lengan, hingga ke jari. Tak hanya itu, bisa juga menimbulkan rasa kebas atau kesemutan atau melemahnya otot-otot dari lengan hingga jari. HNP syaraf kejepit terjadi saat ibantalan antar ruas tulang belakang bocor sehingga menekan saraf sekitarnya dan dapat menyebabkan munculnya nyeri pada lokasi saraf yang terkena. Mengangkat beban berat dengan posisi yang tidak tepat, pernah mengalami cedera/ jatuh, obesitas, postur tubuh yang salah merupakan beberapa faktor yang menjadi penyebab syaraf kejepit di leher. Pengobatan Minimally Invasive HNP Syaraf Kejepit Leher Dulu untuk masalah syaraf kejepit leher penanganannya dengan teknik operasi terbuka, yang bisa berisiko kemungkinan menimbulkan komplikasi. HNP syaraf kejepit sebagai penanganan awalnya adalah dengan pemberian obat dan juga fisioterapi. Namun, jika tak juga membaik, maka dokter spesialis bedah sarafdari Klinik Lamina, akan merekomendasikan tindakan pembedahan. Tindakan ini untuk menghilangkan penekanan saraf tulang belakang. Salah satu jenis terapi untuk hnp servikal yang dilakukan oleh dr. Mahdian dan tim adalah tindakan minimally invasive. Tindakan ini untuk menyembuhkan syaraf kejepit leher dengan terknologi terbaru. Berbeda dengan operasi hnp servikal terbuka, tindakan ini hanya membutuhkan sayatan sebesar 7 mm. Dengan beberapa keuntungan seperti pemulihan pasca tindakan cepat, efek samping seperti kelumpuhan minimal (<1%) dengan biaya yang lebih terjangkau. Teknologi bedah minimal atau endoskopi yang dimiliki Klinik Lamina, berasal dari Jerman, sehingga sangat tidak diragukan kualitas alatnya. Pengobatan HNP Syaraf Kejepit Leher di Klinik Lamina Sekarang penderita hnp servikal tidak perlu lagi melakukan pengobatan ke luar negeri atau dengan operasi terbuka. Di Indonesia teknologi ini sudah dapat dilakukan dengan percutaneous endoscopic cervical discectomy (PECD). Teknologi ini bisa memberikan harapan kesembuhan yang lebih baik daripada teknik lainnya. Cara mengobati hnp servikal dengan teknologi PECD ini bertujuan untuk menghilangkan penonjolan bantalan sendi yang menekan atau menjepit saraf tulang belakang. Harapannya, setelah bagian yang menonjol tersebut tidak ada, nyeri yang terasa pada berbagai area tubuh akan berangsur menghilang. Teknologi PECD ini bisa kamu temukan di Klinik Lamina Pain and Spine Center. Penanganan hnp syaraf kejepit leher dilakukan oleh dokter bedah saraf yang berpengalaman. Salah satunya adalah dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS yang merupakan dokter bedah saraf Indonesia pertama yang melakukan PECD. Berikut adalah keunggulan teknologi PECD: Sayatan sangat kecil Tidak menyebabkan kerusakan jaringan di sekitar leher Proses pemulihan pasca-tindakan lebih cepat Tanpa rawat inap Proses tindakan lebih cepat Berobat ke luar negeri memerlukan biaya tambahan lainnya, (seperti tiket pesawat, penginapan dan lainnya), sementara biaya tindakan endoskopi PECD di Klinik Lamina Pain and Spine Center bisa lebih hemat. Untuk informasi lebih jauh mengenai teknologi endoskopi PECD ini yang dapat menyembuhkan saraf terjepit leher, silakan hubungi Klinik Lamina Pain and Spine Center,
Gejala Syaraf Kejepit Pinggang Yang Paling Umum Terjadi

Gejala syaraf kejepit pinggang paling umum adalah munculnya rasa nyeri pada area pinggang. Namun, gejala ini terkadang sering disalahartikan sebagai keluhan nyeri pinggang biasa. Misalnya nyeri pinggang akibat terlalu sering mengangkat beban berat, duduk dan berdiri terlalu lama. Lalu, bagaimana cara membedakan gejala syaraf kejepit pinggang dengan nyeri pinggang biasa? Simak penjelasannya berikut ini. Apa itu syaraf kejepit pinggang? Syaraf kejepit pinggang atau hnp lumbal merupakan gangguan yang muncul saat bantalan ruas tulang belakang menonjol atau bergeser sehingga menekan saraf tulang belakang dan saraf tepi. Saat kondisi ini terjadi, orang yang mengalaminya akan merasakan gejala syaraf kejepit pinggang, seperti nyeri pinggang atau punggung bawah dan nyeri punggung atas. Rasa nyeri juga bisa menjalar ke paha dan kaki. Umumnya, saraf terjepit disebabkan oleh proses penuaan. Seiring dengan bertambahnya usia, piringan sendi akan kehilangan kadar air sehingga membuat piringan sendi menjadi rapuh, bergeser, dan kaku. Selain faktor usia, ada faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko hnp lumbal, misalnya melakukan olahraga berat, kegiatan yang berulang dan berlangsung lama seperti membungkuk, serta kelebihan berat badan. Apa yang membedakan gejala syaraf kejepit pinggang dengan nyeri pinggang biasa? Perbedaan antara keduanya adalah jenis nyeri, lokasi timbulnya nyeri, dan intensitas keparahan rasa nyeri. Pada nyeri pinggang bisa, gejala awalnya berupa munculnya rasa nyeri pada bagian punggung bawah, bawah tulang rusuk hinggang area pinggang. Mulanya, hanya akan terasa pegal pada bagian punggung bawah tapi semakin lama bisa seperti tertusuk dan menyebabkan sakit saat bergerak. Namun, kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya. Sementara pada hnp lumbal, gejala yang muncul akan lebih parah dan intens, seperti: Nyeri atau mati rasa, semakin sering pada satu sisi tubuh Nyeri yang menjalar hingga paha, kaki, tungkai Keluhan nyeri akan semakin parah saat malam hari atau saat melakukan gerakan tertentu Melemahnya otot Kesemutan Sensasi seperti terbakar pada area yang terkena Nyeri berkepanjangan dan tidak kunjung menghilang baca juga: lokasi tersering saraf kejepit pinggang atau leher? Bagaimana cara mencegahnya? Mencegah hnp lumbal bisa dilakukan dengan mengurangi aktivitas yang membebani tulang belakang, misalnya mengangkat beban berat. Selain itu juga melakukan peregangan/ latihan/olahraga untuk memperkuat otot perut, bokong dan punggung. Cara lainnya adalah mempertahankan berat badan ideal. Hal ini karena obesitas menjadi salah satu faktor risiko hnp lumbal. Ubahlah posisi duduk saat bekerja setidaknya setiap dua jam, jangan menyilangkan kaki dan posisi kaki menapak lantai. Hindari kebiasaan merokok. Jika kamu ingin mengangkat benda yang berat ada caranya agar tidak menyebabkan nyeri pinggan ini. Caranya dengan tubuh dalam posisi membungkuk lalu ambil bendanya.
Gejala Saraf Terjepit Leher dan Cara Menanganinya

Gejala saraf terjepit pada umumnya adalah munculnya rasa nyeri berdasarkan lokasi saraf yang terkena. Salah satunya adalah saraf terjepit leher atau hnp cervical, maka nyeri yang muncul berasal dari leher. Kemudian, keluhan bisa saja menjalar ke lengan. Terjepitnya saraf leher bisa disebabkan oleh kerusakan pada sendi tulang belakang. Pemicu kerusakan ini adalah trauma cedera atau faktor usia yang kemudian bisa menyebabkan akar saraf leher seperti terjepit. Berikut adalah beberapa gejala saraf terjepit leher. Gejala saraf terjepit leher Sensasi terbakar pada bagian lengan dan tangan Kebas dan kesemutan pada lengan dan tangan Melemahnya lengan Rasa sakit meningkat saat menggerakkan leher atau kepala Pada beberapa kasus, area leher alami pembengkakan Pada beberapa kasus, gejala hnp cervical bisa hilang dengan sendirinya. Namun, melansir dari laman Stanford Health Care kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa saraf sudah terjepit sepenuhnya. Kemudian, kondisi ini akan mengakibatkan fungsi saraf tidak bisa bekerja dengan baik dan mengganggu fungsi otot. Cara menangani gejala saraf terjepit leher Saat mengalami nyeri pada bagian leher, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan di rumah untuk membantu mengurangi gejala, seperti: 1. Istirahat yang cukup Istirahat yang ckup dan mengubah aktivitas harian. Misalnya mengurangi melakukan aktivitas yag memberatkan tulang belakang, dan lakukan peregangan setiap dua jam saat bekerja. 2. Kompres Kompres area yang terasa nyeri dengan kompres dingin dan hangat selama 15-20 menit juga bisa meringankan gejala saraf leher kejepit. 3. Minum obat Obat NSAID merupakan salah satu obat pertama yang bisa meredakan peradangan akibat saraf leher yang terjepit. Salah satu contoh obat NSAID adalah ibuprofen. 4. Konsultasi dokter Jika keluhan gejala saraf terjepit leher tak kunjung membaik atau kondisi semakin memburuk, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Untuk mendiagnosis penyakit hnp cervical ini, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik dan juga penunjang, seperti MRI, CT-Scan. Gejala hnp cervical akan sangat mengganggu aktivitas. Maka itu, ketika kamu mulai merasakan gejala, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.